Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
14. Melamar Pekerjaan.


__ADS_3

"Terima kasih atas kerjasamanya, Mr. Werner," ucap seorang pria paruh baya berpenampilan necis pada Noah, sambil mengulurkan tangannya.


"Sama-sama, Mr. Anderson." Noah menerima jabatan tangan pria tersebut. Keduanya memang baru saja menandatangani kontrak kerjasama atas proyek pengadaan beberapa alat rumah sakit yang akan dibuat Werner Company untuk perusahaan milik Mr. Anderson.


Noah dengan sopan santun membungkukkan tubuhnya, tatkala Mr. Anderson pamit meninggalkan restoran lebih dulu.


"Jadwalku?" tanya Noah pada Celine, ketika Mr. Anderson tak lagi tampak di sana.


"Undangan makan malam dari Tuan Frankenstein, Tuan," jawab Celine sembari menatap tabletnya. Semua jadwal Noah setiap hari tersusun rapi di dalam sana.


"Batalkan!" titah pria itu.


"Baik, Tuan." Celine mengangguk patuh. Keduanya masuk ke dalam mobil untuk selanjutnya kembali ke kantor.


Di sepanjang perjalanan, Noah tengah sibuk memikirkan acara peresmian jabatan barunya yang akan dilaksanakan akhir pekan ini. Sebenarnya tak ada yang salah dengan acara tersebut. Semua persiapan sejauh ini berjalan dengan baik dan normal-normal saja. Namun, hanya satu yang mengganjal pikirannya sejak beberapa hari lalu, yaitu tentang kehadiran Bella sebagai istri yang akan dikenalkan Noah di depan khalayak ramai nanti.


Ada pergolakan batin antara ingin dan tak ingin Bella hadir di sana. Sebab bagi Noah, pernikahan yang dia jalani bersama Bella saat ini bukanlah pernikahan yang sebenarnya, jadi buat apa harus dipublikasikan di depan umum? Lagi pula, Noah sendiri tidak berniat untuk memperpanjang usia pernikahan mereka.


Pria itu memang tengah memikirkan cara agar bisa lepas dari Bella cepat atau lambat.


Oleh sebab itu, tak hanya sikap buruk saja yang Noah tunjukan pada Bella sebagai bagian dari bentuk kebencian yang telah bersemayam lama, tetapi juga hal-hal mendukung lainnya, seperti nafkah.


...**********...


Bella menghela napas panjang begitu melihat kotak penyimpanan uang yang dia miliki. Sebab semakin hari uang yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit kini mulai menipis.

__ADS_1


Mau bagaimana lagi, Bella terpaksa mengambil uang tersebut karena sejak tinggal berdua dengan Noah, pria itu sama sekali tidak memberinya uang bulanan. Jangankan uang bulanan, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja Bella harus mengandalkan uang tabungannya sendiri yang tidak seberapa itu.


Bella pernah sekali meminta pada Noah, karena persediaan makanan yang dia beli sudah habis. Namun, Noah malah membentaknya dan mengatakan, bahwa itu semua adalah urusan Bella.


Selama tinggal di sini, Noah memang hanya menganggap apartemen mereka sebagai tempat untuk tidur dan berganti pakaian saja. Selebihnya? Tidak ada. Bahkan untuk makan pun, pria itu melakukannya di luar rumah. Namun, kendati demikian, Bella masih saja sering membuatkan Noah sarapan pagi atau makan malam, meski setelahnya makanan tersebut akan terbuang sia-sia.


Bella sendiri menyadari betul, kalau dia tak bisa terus-terusan mengandalkan uang tabungannya semata. Gadis itu butuh pekerjaan. Akan tetapi, pekerjaan apa yang pantas untuk gadis, yang bahkan tidak mengenyam pendidikan SD hingga SMA-nya dengan benar layaknya sekolah umum? Terlebih, dia tak pernah bergaul dengan siapa pun di luar rumah.


Bella lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang.


...**********...


Kondisi di salah satu unit apartemen mewah bernomor 817 terlihat sangat tegang. Ada banyak pecahan piring yang tercecer di lantai meja makan akibat ulah Noah.


Ini adalah kali keenam Noah melempar piring karena menolak tawaran makan dari Bella.


Gadis itu memang pantang menyerah. Berdalih tak ingin terus-terusan menjalani rumah tangga seperti ini, Bella merelakan dirinya lagi-lagi diperlakukan demikian oleh Noah.


Bella bersimpuh untuk mengumpulkan satu persatu pecahan piring tersebut, selagi Noah terus mengoceh tajam.


Melihat Bella tampak enggan mendengarkan ocehannya, membuat Noah geram. Pria itu berjalan mendekati Bella dan meng11njak tangannya yang sedang memunguti pecahan piring. Alhasil, lolongan kecil Bella terdengar memenuhi setiap sudut apartemen.


Bella merintih kesakitan, terlebih ketika kaki Noah tak kunjung menyingkir dari atas tangannya. "K—kak, sakit!"


Noah tidak bergerak meski Bella sudah memohon. Pria itu baru benar-benar mengangkat kakinya setelah dar4h keluar dari tangan gadis itu hingga membasahi lantai marmer apartemen mereka.

__ADS_1


"Inilah akibatnya bila kau terus berulah di hadapanku, brengsek!" Setelah berkata demikian, Noah pergi meninggalkan Bella. Namun, baru beberapa langkah berjalan, pria itu berhenti dan berbalik sambil berkata, "jangan pernah muncul di acara peresmianku nanti, atau kau akan terima akibatnya!"


Bella tak terlalu memerdulikan perkataan Noah, karena fokus pada tiga pecahan piring yang menancap di tangannya. Gadis itu harus menahan jeritan kesakitannya, ketika meloloskan pecahan-pecahan tersebut.


Tak ada yang lebih menyakitkan dari pada menjalani pernikahan seperti ini. Namun, entah mengapa Bella belum juga menyerah. Hatinya justru sedang berusaha meyakinkan diri, bahwa dia mampu membuat Noah menoleh ke arahnya, cepat atau lambat. Semua hanya butuh waktu dan Bella tak ingin mundur secepat itu.


Dia sadar, dirinya kini menjelma menjadi gadis tolol nan rapuh.


"Ya Tuhan, sakit sekali!"


...**********...


Hari ini merupakan hari penting dimana acara peresmian Noah sebagai CEO Werner Company dilaksanakan.


Seperti yang telah dikatakan Noah beberapa hari lalu, Bella benar-benar tidak diperkenankan datang ke acara peresmian tersebut.


Jangankan untuk pergi ke sana, keluar rumah pun Bella tidak diizinkan. Noah bahkan berkata, bahwa dia berhasil mengelabui Harold atas ketidakhadiran gadis itu.


Bella sebenarnya tidak keberatan. Dia tidak peduli orang-orang tidak mengetahui identitas dirinya sebagai istri dan menantu dari keluarga terpandang. Justru hal itu merupakan kesempatan bagus yang akan Bella manfaatkan.


Bella yang tidak bisa terus mengandalkan uang simpanannya, terpaksa melamar pekerjaan di kantor suaminya sendiri.


Hal tersebut mau tidak mau Bella lakukan demi memenuhi kebutuhannya sendiri, dan satu-satunya perusahaan yang memiliki kemungkinan terbesar menerima dirinya adalah Werner Company.


Werner Company memang terkenal tidak memberatkan syarat para pelamar. Oleh sebab itu, Bella mencoba mengajukan lamaran kerja di sana. Ada tiga bagian yang Bella ajukan, yaitu office girl, cleaning service, dan penjaga kantin. Kini Bella harus menghadiri wawancara kerja di tempat tersebut.

__ADS_1


Perihal identitas, gadis itu tak perlu merasa khawatir, sebab selain wajahnya yang tak pernah terekspos bersama keluarga Werner, Bella secara resmi juga tidak pernah mengubah nama keluarganya, kendati Harold sudah berkali-kali meminta.


Bella mengembangkan senyumnya. Dalam hati gadis itu sangat berharap dapat diterima bekerja di sana, agar tak perlu lagi repot-repot mencari pekerjaan lain, yang belum tentu mau menerima latar belakang dirinya.


__ADS_2