Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
13. Hari Pertama.


__ADS_3

Bella menatap iba pantulan dirinya di cermin toilet. Ingin rasanya dia menertawakan dirinya sendiri setiap mengingat, bahwa status istri yang tersemat dalam dirinya tak lebih dari pengantin pengganti saja.


"Malang sekali nasibmu, Bodoh!" maki gadis itu pada dirinya sendiri.


Setelah mampu menenangkan diri, Bella pun keluar dari toilet dan pergi menuju meja keluarganya.


Namun, alih-alih mendapati keberadaan sang suami, Bella malah melihat Harold dan Jessica sedang berdebat sengit di sana.


"Pa, Ma, ada apa? Ke mana Kak Noah?" tanya Bella begitu sampai di depan mereka.


Jessica memandang Bella sinis. "Ini semua karena kau, Bella!"


"Jess!" seru Harold. Pria itu berdiri menghampiri sang putri. "Susul lah, dia sudah pulang duluan," kata Harold pada Bella. "Maafkan Papa, ya?"


Bella tersenyum lembut. "Tak ada yang perlu dimaafkan Pa. Terima kasih makan malamnya, aku akan menghubungi Papa nanti." Setelah berkata demikian Bella mencium pipi beliau, lalu pergi meninggalkannya dan Jessica.


Menggunakan taksi, Bella pulang menuju apartemennya dan Noah. Dia yakin pria itu akan pulang ke sana.


"Kenapa kau selalu saja terlihat membenci Bella? Ingat Jess, kalau bukan karena bantuan Nicholas dan Donna, kita pasti sudah hidup menggelandang di jalan!" seru Harold keras.


Jessica tertawa sinis. "Berlebihan sekali. Justru karena aku selalu mengingatnya, Harold, dan bukan mereka berdualah yang telah membantu kita. Kau yang harus ingat itu!" ungkap Jessica tak kalah keras.


"Oke, mereka memang tidak membantu kita dengan uang, tetapi siapa yang siang malam membantuku mengerjakan proposal dan mencari investor baru? Siapa juga yang sudah membantu menyembunyikan dirimu dan Noah, ketika tanpa sengaja kita berhadapan dengan kelompok Barron Regrets?"


Jessica terdiam mematung. Hati wanita itu terasa panas bila berdebat dengan sang suami. Rasanya sudah bertahun-tahun mereka tak pernah lagi membahasnya.


Ya, keduanya memang bersepakat untuk tidak membahas hal-hal itu lagi dan menguburnya dalam-dalam. Namun, entah mengapa Harold malah membicarakannya lagi.


"Bantuan tak harus selalu berupa harta benda, Jessica, dan kita seharusnya tak boleh melupakan semua itu." Harold memandang sang istri penuh kekecewaan, sebelum kemudian pergi meninggalkan restoran.


Jessica berteriak memanggil sang suami. Dia tak peduli pada tatapan mata beberapa pengunjung yang ada di sana.


...**********...


Bella tiba di apartemennya tak sampai satu jam kemudian. Kendati apartemen dalam keadaan gelap gulita, tetapi Bella tetap dapat melihat sosok Noah yang sedang duduk di meja makan sembari menatap sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


Bella perlahan berjalan masuk dan menyalakan lampu apartemen. "Kak," panggil gadis itu dengan nada hati-hati.


Noah tidak menjawab. Dia tetap sibuk menatap layar ponselnya dengan wajah frustrasi.


Begitu jarak antara dirinya dan sang suami semakin dekat, Bella pun akhirnya dapat mengetahui apa yang sedang dilihat Noah.


Apa lagi kalau bukan foto kebersamaan pria itu dengan Maria?


Tak mudah bagi Noah untuk melupakan perasaan cintanya pada Maria, kendati dia telah berjanji untuk memupuk rasa sakitnya agar bisa melupakan wanita itu.


Itulah mengapa Noah menyisakan satu foto termanis, di antara ribuan foto yang sudah dia hapus secara permanen di dalam gawainya.


Terlalu banyak kenangan akan kebersamaannya dengan Maria, membuat tingkat kesulitan yang dihadapi Noah juga lebih banyak.


Bella memejamkan matanya sejenak, guna mencoba memahami perasaan sang suami. Sedetik kemudian seulas senyum simpul terbit di wajah cantik Bella, bersamaan dengan sentuhan tangannya pada pundak Noah.


Namun, bukannya sambutan baik yang didapatkan Bella, gadis itu justru mendapatkan sesuatu yang menyakitkan dari Noah.


"Jangan berani-berani menyentuhku, sialan!" maki Noah sembari menarik dan memelintir tangan Bella yang ada di pundaknya.


Noah berdiri dan menghempaskan tangan Bella kasar. Namun, kemudian pria itu mencengk3ram leher Bella dan memojokkannya hingga ke dinding ruangan.


"K—kak," ucap Bella terbata.


"Benar. Seharusnya aku tidak menerima pernikahan ini. Seharusnya kau menolak tawaran Papa! Mengapa kau malah menerimanya, mengapa?" teriak pria itu di telinga Bella.


Bella tak mampu menjawab. Bernapas saja dia sudah mulai kesulitan. Sekuat tenaga Bella berusaha melepaskan tangan Noah yang semakin menekan lehernya. Bella bahkan memvkuli lengan pria itu sekuat yang dia bisa, tetapi Noah tetap saja enggan melepasnya.


Noah mengikis jarak di antara mereka, hingga Bella dapat merasakan embusan napas pria itu di wajahnya. "Pernikahan ini adalah sebuah kesalahan, dan aku akan berusaha menyingkirkan kesalahan itu. Bersiaplah untuk menanggung segalanya, gadis sialan!"


Setelah mengatakan hal demikian, dengan kasar Noah menghempaskan Bella ke lantai, lalu pergi meninggalkannya.


Bella menangis sesenggukan. Batinnya lagi-lagi teriris akan perlakuan sang suami. Ini adalah malam pertama mereka tinggal berdua, tetapi Bella tidak menemukan perbedaan lain. Bella bahkan merasa lebih tersakiti, sebab orang yang melakukan ini adalah suaminya sendiri.


...**********...

__ADS_1


Wajah Maria terlihat sangat gusar belakangan ini. Sebab sudah dua hari Jason tak dapat dihubungi.


Pria itu memang sedang mengambil pekerjaan keluar kota selama beberapa hari, tetapi dia tak pernah menghilang tanpa kabar seperti ini.


Maria sudah berkali-kali menghubungi Ronald, manajernya, tetapi pria itu juga tak bisa dihubungi.


...**********...


Bella terbangun dari tidurnya pada pukul lima pagi.


Noah yang tidak membiarkan Bella tidur sekamar dengannya, membuat gadis itu terpaksa menyamankan diri di ruang televisi.


Berusaha melupakan kejadian semalam, Bella mulai melakukan aktivitasnya membersihkan rumah. Tak lupa, dia juga menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.


Bella hanya mampu menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi goreng telur, karena mereka memang belum berbelanja bahan-bahan makanan.


Selagi menunggu Noah turun, Bella melanjutkan kegiatan berbenahnya. Kali ini dia sibuk berkutat di laundry room.


Beberapa saat kemudian, Noah turun dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Bella bergegas menghampiri sang suami yang kini sedang sibuk memakai kaos kaki dan sepatunya di ruang televisi.


"Kak, sarapan dulu," ujar Bella.


Noah bergeming.


Bella berinisiatif membantu Noah memakai sepatunya. Gadis itu berlutut di hadapan Noah dan mengambil alih kaos kaki dan sepatu tersebut.


Noah terdiam dan membiarkan Bella melakukan tugasnya. Setelah selesai, tanpa berkata apa-apa Noah pergi melewati meja makan.


"Kak!" seru Bella. "Kalau tidak sempat sarapan di rumah, Kakak bisa membawanya ke kantor. Sebentar, aku akan menaruhnya di lunch box."


"Sudah kubilang untuk berhenti bertingkah! Sampai mati pun aku tak akan pernah memakan makanan sampahmu itu!"


Bella tersentak mendengar perkataan tajam Noah. Gadis itu tetap memaksakan sebaris senyum untuk sang suami, yang kini telah pergi meninggalkannya begitu saja.


Sepeninggal Noah, Bella menyandarkan tubuhnya di dinding, sambil mengambil napas dalam-dalam dengan mata terpejam.

__ADS_1


__ADS_2