Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
54. Keputusan Bella.


__ADS_3

Bella merebahkan diri di ranjang Noah. Tepat pada bagian yang selalu ditempati pria itu. Wangi khas tubuh Noah langsung menyergap indera penciuman Bella.


Ada setitik kerinduan yang terselip di hati Bella setiap mengingat sosok Noah. Meski tak ada kenangan manis yang menghiasi rumah tangga mereka, Bella tetap tak bisa memungkiri perasaannya dulu.


Ya, dulu. Sebab saat ini, Bella sama sekali tidak tahu bagaimana perasaannya pada Noah.


Beberapa bulan yang lalu Bella pernah terlibat pembicaraan serius dengan Harold, ketika pria itu jauh-jauh datang mengunjunginya.


Sang ayah rupanya menawarkan Bella untuk hidup lebih lama di sana. Dia juga meminta Bella untuk melupakan Noah dan menata kembali kehidupannya sesuai yang dia inginkan.


"Noah akan keluar dari penjara saat musim salju tiba. Papa tak bisa menghilangkan Noah dari hidup kita, tetapi Papa juga tak ingin kau terbelenggu dalam ikatan menyakitkan. Selepas keluar dari penjara, Noah akan Papa kirim jauh ke luar kota."


"Papa ingin membuangnya?"


"Tidak Sayang. Papa hanya takut kau lah yang merasa terbuang, jika Noah tetap kembali ke rumah sementara dirimu ada di sini."


Itu lah sebagian perbincangan yang bisa Bella ingat.


Alih-alih menjawab penawaran sang ayah, Bella justru meminta untuk kembali ke rumah. Gadis itu butuh lebih banyak waktu untuk memikirkan masak-masak segala keputusan, sekaligus perasaannya.


Benarkah dia memang tidak lagi mencintai Noah, atau hanya sekadar menepis perasaan yang ada?


...**********...


Ada suasana yang cukup berbeda di dalam salah satu bilik sel bernomor 1250.


Penghuni tahanan berjumlah delapan orang tersebut terlihat sibuk membantu merapikan penampilan seorang pria. Dari mulai mencukur janggut dan kumis, memotong rambut menggunakan silet yang diselundupkan salah seorang teman sel, lalu memilihkan pakaian terbaik yang dia punya.


"Wah, kau memang sangat tampan, Noah!" puji Erick, teman satu selnya yang selama ini selalu membantu Noah beradaptasi.


Butuh waktu bagi Noah untuk dapat diterima di ruangan sempit ini. Ketika masuk ke sana pertama kali hampir seluruh penghuni sel memperlakukan Noah tidak manusiawi. Wajah dan tubuh Noah bahkan tak lepas dari puukulan mereka. Namun, pria itu tak pernah membalas sedikit pun. Dia membiarkan semua itu terjadi sebagai hukuman atas perilakunya pada Bella dulu.


Kini tiga tahun telah berlalu. Noah akhirnya bisa menghirup udara bebas.


"Jadi, kau sudah menentukan akan memulai hidup baru di mana?" tanya Richard, pria berusia 60 tahun yang menjadi penghuni tertua di sel mereka.


Noah mendudukkan diri di sebelah Richard, sembari sibuk menata barang-barang seadanya.


"Aku tidak tahu," jawab Noah singkat.


"Kau benar-benar tak ingin kembali pada keluarga lamamu?" tanya Richard sekali lagi.


Noah terdiam. Tangannya terlihat mencengkeram kuat pakaian yang dia pegang. "Tidak!" Keputusannya untuk meninggalkan keluarga Werner sudah bulat. Kendati menyakitkan, Noah akan tetap memilih pergi, karena sejak awal tempat itu memang bukanlah tempatnya.


Richard memegang pundak Noah. "Di mana pun kau berada, kuharap keberuntungan selalu menyertaimu, Noah."

__ADS_1


Noah mengalihkan pandangannya pada Richard, dan mengucapkan terima kasih pada mantan dokter tersebut.


...**********...


Tidak banyak barang yang Noah bawa keluar. Dia meninggalkan beberapa untuk teman-teman satu selnya, termasuk barang-barang berharga yang sempat disita sipir ketika masuk ke dalam sel dulu.


Walau Noah masih belum tahu harus memulai hidupnya dari mana, langkahnya tetap mantap menyusuri jalanan bersalju, menuju satu-satunya pintu keluar lapas. Yang jelas, dia harus menunaikan satu hal, yaitu pergi sejauh mungkin dari kota ini. Kota yang penuh akan kenangan pahit dan memilukan.


Noah menganggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih, tatkala petugas lapas membukakan pintu gerbang dan mempersilakan pria itu keluar. Sambil merapatkan mantelnya demi menghalau hawa dingin yang semakin menusuk, pria itu menengadahkan kepalanya guna menatap langit sejenak.


Noah kemudian menatap sekeliling dan hanya menemukan hamparan saljur tanpa ada siapa pun sosok yang menunggu di luar sana.


Noah tersenyum tipis lalu kembali melangkah pelan menyusuri jalan. Namun, jantung pria itu nyaris lompat keluar, ketika sesosok tubuh mungil yang sangat dikenalnya berdiri tepat di hadapan pria itu.


...**********...


"Viola, ke mana Bella?" tanya Harold panik, sebab dia sama sekali tidak menemukan keberadaan sang putri di mana pun.


"Nona pergi seorang diri, Tuan. Katanya Nona sudah menemukan jawabannya. Entah, saya sendiri tidak mengerti apa maksud ucapan beliau," jawab Viola kebingungan.


Mendengar hal tersebut, Harold mengulas senyum teduhnya. Tak perlu ditelaah lebih jauh untuk mengerti apa yang diucapkan sang putri, dan Harold mendukung apa pun yang telah menjadi keputusannya.


...**********...


Meski tiga tahun telah berlalu, Noah masih dapat mengingat jelas setiap mili wajah Bella, gadis yang hingga saat ini berusaha dia lupakan. Saat pria itu telah yakin akan mampu melupakannya, sosok itu malah hadir dan berdiri di sana.


Sekuat mungkin Noah mengingat kembali hal-hal pahit yang telah dia lakukan kepada Bella demi menguatkan diri.


Hal tersebut rupanya cukup efektif, sebab Noah kini mampu mengangkat kakinya kembali. Pria itu berhasil melangkah melewati Bella tanpa suara.


"Penebusan dosamu di tempat ini masih belum cukup!"


Itu lah kalimat pertama yang keluar dari mulut Bella. Tak ada kesan kerinduan dari gadis itu. Nada bicaranya bahkan terdengar sangat dingin dan tidak bersahabat.


Noah menghentikan langkahnya. Mereka saling memunggungi satu sama lain.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Noah datar. Dia akan melakukan apa pun jika itu memang dapat memuaskan hati Bella lebih banyak.


Bella kemudian berbalik dan menatap punggung dingin Noah dengan tatapan tak terbaca. Gadis itu mengambil langkah menuju Noah dan berhenti tepat di hadapannya.


Tanpa Noah duga, sebuah taamparan keras dilayangkan Bella sekuat tenaga. Taamparan tersebut bahkan mampu membuat pijakan Noah goyah seketika. Sontak daaraah segar langsung mengalir dari sudut bibirnya yang terluka.


Noah tersenyum. Jika memang hal ini bisa membuat Bella puas, dia akan menerimanya dengan senang hati.


Noah memantapkan pijakannya lagi agar tidak terjerembab ke hamparan salju begitu mendapat serangan kedua. Namun, alih-alih pvkulan mau pun taamparan, Bella justru menarik kerah jaket Noah, hingga membuat pria itu tertunduk menghadapnya.

__ADS_1


Noah terkejut, sebab jarak wajah mereka sangat dekat. Dia bahkan bisa meraskaan embusan napas Bella.


"Jangan berani-beraninya pergi dan memilih menjalani hidup yang kau mau, sementara aku tersiksa di sini! Kau tak punya hak untuk melakukannya. Takdirmu adalah terkurung bersamaku. Penebusan dosamu berlaku seumur hidup, Noah Olsen Werner!" bisik Bella sinis.


Noah terdiam. Otaknya sibuk mencerna kalimat yang baru saja terlontar sinis dari mulut Bella.


"Aku ta—" Baru saja Noah ingin bertanya, tanpa disangka Bella malah mendaratkan ciumannya di bibir pria itu.


Mata Noah sontak terbelalak. Dia hendak mendorong Bella, tetapi pria itu malah mendapati air mata mengalir dari pelupuk mata sang gadis.


Detik itu juga, semua kekuatan yang Noah kumpulkan selama tiga tahun belakangan ini runtuh seketika.


Noah tak bisa membohongi dirinya lagi. Dia sangat mencintai Bella, dan selamanya perasaan tersebut tidak akan pernah berubah. Begitu pula dengan yang dirasakan Bella. Meski Noah telah banyak menyakiti dirinya, bukan berarti dia tidak bisa memaafkan pria itu.


Jika ditelisik lebih dalam, Noah lah yang sebenarnya paling tersakiti. Sejak awal lahir ke dunia, ia harus menjalani hidup penuh kepalsuan akibat keserakahan dan keegoisan Jessica, ibu kandungnya. Belum lagi beberapa hal lain yang tak mungkin terjabarkan.


Bella melepaskan ciumannya. Tatapan mata mereka kembali bertemu.


"Maafkan aku," ucap Noah.


"Jangan ada kata maaf lagi. Aku tahu benar selama tiga tahun ini kau pasti sudah melontarkan kata itu jutaan kali."


Noah tertawa kecil, sebab apa yang dikatakan Bella barusan adalah benar.


"Terima kasih."


Bella hendak menanggapi ucapan terima kasih Noah, tetapi pria itu malah membungkamnya dengan sebuah kecupan lembut.


Air mata turut mengalir membasahi pipi Noah. Dalam hati dia berjanji dengan mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk membahagiakan Bella dan keluarganya.


...THE END...


.


.


.


.


Terima kasih untuk kakak-kakak dan adik-adik oembaca yang sudah rela meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini.


Maaf apa bila di dalam cerita ini masih banyak kekurangan atau alur yang tidak tepat. Saya harap, kalian masih sudi membaca karya-karya yang lain.


Mohon untuk terus mendukung ya, Kakak-kakak dan adik-adik.

__ADS_1


Terima kasih. Salam cinta dari saya, penulis remahan. 😇❤️


__ADS_2