Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
41. Pulanglah.


__ADS_3

Suara tamparan disertai teriakan seorang pria terdengar memenuhi apartemen mewah Noah.


Noah yang dalam posisi tidak siap, sontak terjerembab ke lantai, setelah sebelumnya membentur meja ruang tamu terlebih dulu.


Jessica menjerit ketakutan. Wanita itu dengan sigap menghampiri sang putra yang kini tampak tidak berdaya. "Harold, jangan melimpahkan semua kesalahan pada putramu! Gadis itu lah yang memilih pergi dari rumah ini!" teriak Jessica marah.


"Dia bukan 'gadis itu'. Dia Bella, putri sekaligus menantu kita. Menantu keluarga ini!" hardik Harold. "Kalau bukan karena kelakuannya, Bella pasti tidak akan pergi meninggalkan tempat ini!" sambung pria paruh baya itu penuh emosi.


Suasana di dalam apartemen semakin memanas. Harold yang semula berharap mendapatkan sambutan manis dari anak-anaknya, malah terkejut, tatkala mendengar, bahwa Bella, putri sekaligus menantu kesayangannya, ternyata sudah beberapa hari pergi meninggalkan apartemen Noah.


Harold tidak mengetahui pasti penyebab kepergian Bella, tetapi yang jelas dia tahu, bahwa itu semua karena kesalahan putra semata wayangnya.


"Jawab pertanyaanku, Noah. Apa yang telah kau lakukan pada istrimu, sampai dia kabur dari sini?" Harold kembali mengulangi pertanyaan yang sama. Namun, lagi-lagi Noah tidak menjawab.


Dia tak mungkin menceritakan insiden terakhir yang terjadi pada mereka berdua. Satu-satunya penyebab terbesar Bella memilih pergi dari sana.


"Noah!"


"Harold, cukup" teriak Jessica lagi. "Kau benar-benar keterlaluan. Tak bisakah sekali saja kau tidak membela gadis itu? Biar bagaimana pun, dia hanya orang lain di rumah ini. Putramu lah yang seharusnya mendapat pembelaan!" Setelah berkata demikian, Jessica memapah Noah menuju kamarnya.


"Aku akan membawanya kembali, Pa," ucap Noah lirih.


"Tak perlu. Papa yang akan membawanya pulang, sekaligus mengurus perceraian kalian. Akan lebih baik, bila kalian memang hidup terpisah!"

__ADS_1


Mendengar jawaban Harold, Noah sontak terbelalak. Dia pun dengan kasar melepas rangkulan Jessica dan berjalan menghampiri sang ayah.


"Aku tidak akan pernah menceraikannya, Pa!" jawab Noah tegas.


"Untuk apa? Agar bisa menyakiti Bella lebih dalam lagi?" Harold menatap tajam putra semata wayangnya.


Noah terdiam. Pria itu hendak mengatakan sesuatu, tetapi entah mengapa lidahnya kini terasa kelu.


"Bella sudah cukup hidup menderita sebagai anak yatim piatu. Dia tak perlu menambah penderitaannya dengan hidup bersama pria sepertimu. Ini semua salah Papa." Ada raut penuh penyesalan, ketika Harold mengatakan kalimat terakhir.


Noah menggelengkan kepalanya. Bukan ini yang dia inginkan. Meski pria itu belum benar-benar bisa mengetahui isi hatinya sendiri, tetapi yang jelas dia tak ingin berpisah dengan Bella.


Ada rasa sakit yang teramat menusuk, begitu mendengar kata perceraian dari mulut sang ayah.


Seperti yang sudah Noah duga, Jessica bukannya menengahi ketegangan di antara mereka, malah turut mengompori Noah untuk menerima keputusan Harold.


"Kau bisa mendapatkan wanita sempurna mana pun, Noah. Terlebih, saat ini kau adalah seorang pemimpin tertinggi Werner Company," ucap Jessica sembari sibuk mengobati luka sang putra.


"Aku tidak akan pernah menceraikannya, Ma!" jawab Noah tegas.


Jessica mengerutkan keningnya, tampak tak suka dengan jawaban Noah. "Bukankah kau tidak menginginkan pernikahan ini, Sayang? Ingat, dia hanya lah pengantin pengganti yang tidak kau inginkan!" serunya.


Noah seketika memasang tampang dingin. Pria itu kemudian menoleh ke arah Jessica sembari berkata sinis. "Sebenarnya ini semua adalah hal yang paling Mama inginkan bukan?"

__ADS_1


Jessica sontak berlaku gugup. Dia berusaha tidak terintimidasi tatapan dingin nan tajam Noah. "Mama akui, Mama memang membenci gadis itu. Namun, ini bukan soal keinginan Mama, Sayang. Ini soal keinginanmu! Bukankah sejak awal kau tidak menginginkan pernikahan ini terjadi?"


Noah mendecih. "Itu dulu!" Setelah berkata demikian, Noah memilih pergi meninggalkan Jessica seorang diri.


Jessica yang kesal melempar botol alkohol ke lantai hingga pecah.


...**********...


Seolah lupa dengan persembunyiannya, Bella berlari menghampiri Harold yang datang berkunjung ke panti.


Bella tak peduli lagi pada siapa pun yang tahu di mana dirinya berada, yang terpenting dia bisa meluapkan segala kerinduan yang tertahan pada salah seorang pria tercinta, yaitu sang ayah angkat sekaligus mertuanya sendiri.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Harold seraya menelisik kondisi Bella. "Mengapa tubuhmu kurus sekali sekarang?" sambungnya lirih.


"Aku baik, Pa. Bagaimana kabar Papa?" Bella tersenyum simpul.


"Tadinya Papa baik-baik saja, tapi mengetahui kau pergi, Papa tidak merasakan lagi demikian, Nak," jawab Harold jujur.


Bella tertunduk. "Maaf, Pa," ucap gadis itu dengan suara kecil.


"Pulanglah, Nak. Kalau kau enggan pulang ke apartemen, kau bisa pulang ke rumah bersama Papa," pinta pria itu kemudian.


Bella terdiam. Tak ada tempat yang aman baginya di mana pun, baik di apartemen mau pun di rumah.

__ADS_1


"Aku ... tidak bisa, Pa." Bella menatap nanar wajah sendu sang ayah.


__ADS_2