
Noah berdiri mematung seraya menatap Maria dingin. Ada banyak kebencian dan kekecewaan yang tersirat dari manik biru Noah.
Pria itu tak lagi menyimpan banyak cinta seperti dahulu.
"Bagaimana kabarmu, Noah?" Maria berusaha membangun percakapan layaknya kepada seorang teman. Namun, tampaknya Noah tidak menyambut dengan baik.
"Langsung saja. Aku tidak memiliki banyak waktu!" sahut Noah dingin.
Maria terdiam sejenak sembari memainkan kedua tangannya gugup. "Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan di acara pernikahan kita, Noah," ucap wanita itu.
"Aku benar-benar buta arah, tak mampu melihat ketulusan hati dari seorang pria baik seperti dirimu. Kuharap, kau mau memaafkan aku." Dengan memasang wajah memelas, Maria menatap Noah dan memegang tangannya.
Noah terkejut. Pria itu hendak melepaskan tangan Maria, tetapi Maria bersikeras menahan tangannya.
"Aku senang, kau akhirnya dapat menemukan pengganti diriku, Noah, tetapi aku sama sekali tidak mengira bahwa gadis itu adalah adik angkatmu sendiri," ucap Maria seraya mengulas senyum terbaik yang dia miliki.
__ADS_1
Noah hanya terdiam, merasa tak perlu menjawab segala hal yang baru saja terlontar dari mulut mantan calon istrinya tersebut.
Agak lama mereka dalam posisi demikian, hingga Noah akhirnya memutuskan lebih dulu untuk pergi. "Sudah tak ada lagi yang perlu kau katakan, bukan? Jadi ... permisi."
"Noah, tunggu!" sergah Maria. "Aku harap kita bisa memperbaiki semuanya. Maksudku, aku ingin kita menjalin hubungan baik sebagai teman."
Mendengar permintaan Maria, Noah menatap wanita itu dingin. Ingin sekali dia menyemburkan berbagai macam kata makian pada wanita itu, karena telah begitu tidak tahu malunya datang dan berkata demikian. Namun, mulutnya terasa kelu.
Entah mengapa, ada setitik bagian dalam hati pria itu yang masih meratap dalam duka atas kepergian sang kekasih, dan kini ratapan tersebut padam ketika di depan matanya berdiri sosok itu.
"Aku sadar akan sulit bagimu untuk melakukannya, tetapi izinkan aku untuk menebus semua, Noah!" Setetes air mata mengalir membasahi pipi Maria. Noah sama sekali tidak mengetahui akan arti air mata tersebut.
Maria mengepalkan kedua tangannya erat.
Sesampainya di dalam, Noah berniat langsung pergi menuju kamarnya di lantai atas. Namun, Bella yang sedang duduk di ruang televisi menegurnya.
__ADS_1
"Kak, kau baik-baik saja? Apa Maria sudah pulang?" tanya Bella ramah.
Noah berhenti melangkah. "Apa maksud pertanyaanmu?" pria itu malah balik bertanya.
Bella tentu saja mengerutkan keningnya. "Maksud yang bagaimana? Aku hanya ... kau tahu, aku—"
"Tak perlu sok peduli dengan keadaanku! Sikap lunak yang aku tunjukkan bukan untuk membebaskanmu bersikap layaknya seorang istri!" sentak Noah dingin.
"Aku tidak bermaksud demikian." Bella tertunduk takut. Dalam hati dia membenarkan sikap Noah yang hanya ingin memanas-manasi Maria, dengan mencium bibirnya di hadapan wanita itu.
"Ingat, peranmu di hidupku tak ubahnya seperti parasit!"
Setelah berkata demikian, Noah kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Bella seorang diri di sana.
Bella tertegun. Perkataan tajam Noah benar-benar melukai hatinya. Gadis itu merasa serba salah sendiri, padahal dia bukannya mau berlagak sok peduli, karena dia memang benar-benar memerdulikan sang suami.
__ADS_1
Kedatangan sang mantan calon istri pasti membuat pertahanan hati Noah sedikit goyah, sebab dia tahu, Noah masih merindukan Maria.
Sebesar apa pun Noah membenci wanita itu, sebesar itu pula lah kerinduan yang tersimpan dalam hatinya.