
Suara tepuk tangan terdengar menggema dari para petinggi dan karyawan yang hadir di ruang meeting ini. Mereka memuji Noah yang lagi-lagi berhasil memimpin rapat dengan sangat baik. Tak hanya itu saja, dia juga berhasil memecahkan sedikit krisis pada proyek besar yang akan Werner Company kerjakan selama beberapa bulan kedepan, yaitu proyek pembuatan perangkat lunak pada ponsel pintar sebagai wujud perubahan masa depan.
Harold yang akan pensiun dua minggu lagi menyerahkan tugas besar tersebut, untuk dipimpin langsung Noah dengan bantuan Jimmy, ahli IT yang sudah mengabdi selama dua puluh tahun di Werner Company.
Apa lagi, berkat Noah jugalah mereka berhasil menarik beberapa investor besar dalam negeri.
Selain sibuk mengurus proyek yang juga merupakan proyek pertamanya sebagai pemimpin, Noah pun disibukkan dengan kepindahannya ke apartemen bersama Bella.
Sebenarnya, Bella lah yang lebih banyak mengurus kepindahan mereka dengan dibantu beberapa asisten rumah tangga, termasuk Viola.
Alih-alih merasa kecewa, gadis itu justru senang-senang saja sang suami tidak turut membantu, karena hal tersebut bisa membuat gerak-geriknya terasa canggung.
"Selamat, Nak." Harold berdiri dan memeluk tubuh putranya erat. Pria itu menepuk-nepuk punggung Noah penuh rasa bangga.
"Terima kasih, Pa," ucap Noah di sela-sela pelukan sang ayah.
Harold mengangguk. "Pastikan proyek yang kau pimpin sukses, Noah. Buktikan pada para petinggi yang masih meragukan dirimu, bahwa kau layak berdiri di Werner Company sebagai pemimpin."
Harold melepas pelukannya dan tersenyum. "Omong-omong, malam ini adalah malam terakhir kalian berada di rumah. Jadi, bagaimana kalau kita adakan makan malam keluarga di luar?" tanya sang ayah kemudian.
Noah terdiam sejenak. Andai saja dia bisa menolak tawaran sang ayah. "Baiklah."
"Oke, jangan pula terlambat, Nak!" pesan sang ayah sebelum kemudian keluar dari ruang meeting.
Noah menatap kepergian sang ayah dengan raut tak terbaca. Setelah beliau benar-benar pergi, Noah pun menyuruh Celine, sekretaris pribadinya, untuk membelikan sebuah gaun di salah satu butik milik kenalannya.
Dia tahu Bella tidak memiliki gaun yang pantas untuk dipakai, sementara satu-satunya gaun terindah yang dia miliki dirusak oleh Jessica.
"Gaun seperti apa yang Anda inginkan Tuan?" tanya Celine.
"Kau seorang wanita, aku memercayakan dirimu untuk memilih gaun terbaik untuk dipakai istriku malam nanti," jawab Noah.
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu." Celine membungkukkan badannya sedikit, lalu pergi meninggalkan Noah.
...**********...
__ADS_1
Bella menatap puas isi apartemennya yang kini sudah bersih dan rapi. Semua perabotan yang sudah ditata sedemikian rupa sesuai arahan Noah.
"Terima kasih bantuannya, Viola?" ucap Bella pada asisten rumah tangga sekaligus sahabat baiknya itu. Kini di dalam apartemen hanya tinggal mereka berdua saja. Sementara yang lainnya sudah kembali ke kediaman utama keluarga Werner atas perintah Martha.
Wanita itu benar-benar tidak membiarkan para juniornya membantu Bella dan Viola secara maksimal. Selama tiga hari membantu, ada saja ulah Martha menyuruh mereka untuk kembali lebih cepat.
Tak hanya Martha saja yang berusaha mencari gara-gara, Jessica juga sempat berbuat onar dengan memecahkan tiga pot bunga yang dibeli Bella dari uang tabungannya sendiri, ketika mampir ke sana kemarin.
Kendati sedih, Bella berusaha tidak mengambil pusing kejadian tersebut.
"Saya harap Anda bisa menjalani hidup lebih baik bersama Tuan Noah, Nyonya," ucap Viola tersenyum.
Bella mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
"Anda harus terbiasa mendengar panggilan itu mulai sekarang, Nyonya." Viola menekan akhir kalimatnya demi memberi penegasan pada Bella.
Bella sontak termenung. Selain memikirkan pesan Viola yang dirasa terlalu jauh dari harapan, dia juga memikirkan panggilan barunya yang kini tersemat.
"Rasanya sedikit mengganjal ya?" kata Bella lirih.
Viola berjalan mendekati Bella dan memeluknya. "Saya harap Tuan Noah bisa melihat sosok Anda suatu saat nanti, Nyonya. Saya rasa keputusan Tuan Harold cukup baik," ujar gadis itu. Setidaknya, Jessica dan Martha tidak akan menyiksa Bella lagi.
Bella membalas pelukan Viola. "Terima kasih, Viola," ucap gadis cantik itu.
"Sama-sama, Nyonya." Viola melepas pelukannya pada Bella. "Ahh, dan jangan lupa, ada saya juga di sini." Sebaris senyum simpul terpatri di wajah Bella.
Atas perintah Harold, Viola memang diperkenankan membantu mengurus rumah Bella setiap dua kali dalam satu minggu. Jadi, Bella tidak akan sepenuhnya sendirian di apartemen mewah tersebut.
Setelah memastikan sekali lagi kerapihan apartemennya, mereka pun kembali ke kediaman Werner.
...**********...
Bella yang tengah sibuk merapikan kamar Noah yang kini telah kosong, tiba-tiba terkejut dengan kedatangan sang suami.
Tanpa basa-basi, pria itu melempar dua buah kotak berbeda ukuran ke atas ranjang.
__ADS_1
"Pakai itu, jangan membuatku malu!" seru Noah dingin seraya menatap tubuh Bella yang kini mengenakan dress murahan hadiah ulang tahun dari Viola.
"Sepuluh menit!"
Setelah mengucapkan hal demikian, Noah pun keluar dari dalam kamar meninggalkan Bella.
Sepeninggal Noah, Bella membuka satu kotak berukuran besar terlebih dahulu.
Wajah gadis itu sontak tercengang, tatkala mendapati sehelai gaun malam yang sangat mewah nan seksi. Tak hanya itu saja, sebuah clutch yang tak kalah mewah pun terdapat di sana.
Gaun malam berwarna biru tersebut memiliki belahan paha cukup tinggi. Bagian dada pada gaun itu pun terbilang sangat rendah. Hanya sehelai tali spaghetti yang akan diikat di leher sang pemakai, demi menahan gaun tersebut agar tetap berada di tubuhnya.
Belum memakainya saja wajah Bella sudah memerah. Maklum saja, seumur-umur dia tak pernah menggunakan gaun seperti itu.
Sementara itu, di dalam kotak lainnya Bella menemukan sepasang high heels berwarna senada dengan gaun dan clutch-nya.
Keraguan untuk memakainya sempat hinggap dalam benak Bella. Namun, memikirkan bagaimana Noah akan marah, membuat nyali gadis itu menciut juga. Lagi pula, acara makan malam tidak akan berlangsung lama.
Kendati Noah terpaksa membelinya karena tak ingin ada satu orang kampungan berdandan tak pantas di sana, tetap saja Bella harus menghargainya.
Setelah mengumpulkan sedikit keberanian, Bella pun dengan cepat mengganti dress sederhana miliknya dengan gaun tersebut.
"Lama sekali Bella! Sedang apa sih, dia?" ujar Jessica ketus. Dalam hati dia tertawa karena membayangkan bagaimana bingungnya gadis itu memilih gaun, sebab gaun satu-satunya yang terlihat pantas sudah dirusak beberapa waktu lalu.
Martha yang juga berada di sana, tak kalah senangnya mengetahui Bella tak kunjung datang. Terlebih, dia sempat melihat dress kuning norak yang dipakai Bella saat lewat di depan kamar Noah yang tidak tertutup.
"Panggil istrimu, Noah," pinta Harold pada sang putri.
Noah mengangguk. Baru saja dia melangkahkan kakinya guna menghampiri Bella, tiba-tiba sosok gadis itu sudah terlihat turun dari tangga.
Harold, Jessica, Martha, dan beberapa asisten rumah tangga yang berada di sana menatap kehadiran Bella dengan wajah tak percaya.
Bagaimana tidak, terbiasa melihat penampilan gadis sederhana gadis itu membuat mereka semua tercengang akan perubahannya malam ini, dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Demi mengimbangi gaun mahal nan mewah yang dia kenakan, Bella memang membubuhkan riasan ringan di wajahnya, dan menata sedikit rambutnya.
__ADS_1
Noah pun tak kalah terkejut. Pria itu bahkan tidak berkedip menatap sosok Bella yang sangat berbeda, hingga sang istri berhenti persis di hadapannya.