
Willy masuk ke dalam ruangannya bersama Bella. Pria itu dengan ramah mengambilkan Bella segelas air minum.
"Terima kasih, Mr," ucap Bella canggung.
Willy mempersilakan gadis itu duduk di kursi tamu, sementara dia berdiri sembari melipat kedua tangannya. "Ada yang ingin kau jelaskan padaku soal kejadian barusan?" tanya pria itu sambil mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
Bella memegang gelasnya erat. Gadis itu tertunduk, tampak gamam harus menjawab pertanyaan sang atasan seperti apa.
"Hanya sedikit masalah di rumah dan aku minta maaf, karena sikapku kurang profesional." Gadis itu mulai buka suara.
Helaan napas keluar dari mulut Willy. "Kita semua memiliki masalah pribadi masing-masing, Bella, dan aku harap kau tahu bahwa tak ada satu orang pun di sini yang membawa masalah tersebut ke dalam pekerjaan." Willy mencoba memberi nasihat dengan penuh kehati-hatian, agar Bella tidak tersinggung. Biar bagaimanapun juga gadis itu masih baru di sini, dan dia tak ingin Bella merasa sedang dirundung.
"Dan untuk gelas-gelas yang kau pecahkan—"
"Aku mengerti, Mr. Willy. Anda boleh memotong gajiku sesuai kerugian yang ada." Bella meletakkan gelasnya di atas meja Willy dan berdiri. "Sekali lagi maafkan aku." Gadis itu membungkukkan badannya dalam-dalam.
Wily berjalan menghampiri Bella lalu menepuk pundaknya dua kali. "Bertahanlah," pesan pria itu.
...**********...
Celine tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya saat Noah berkata akan makan siang di kantin lantai satu hari ini. Wanita itu tahu benar akan maksud Noah sebenarnya, karena Noah tak pernah sekali pun menginjakkan kaki langsung di lantai satu. Pria itu hanya pernah beberapa kali makan di kantin lantai sepuluh yang memiliki jarak jauh lebih dekat dengan lantainya.
Suasana kantin cukup ramai ketika Noah tiba di sana. Para karyawan yang melihat kedatangannya serempak membungkukkan badannya dalam-dalam untuk memberi salam. Mereka yang tengah berbaris mengambil makanan bahkan berniat menepi, guna memberi ruang pada Noah terlebih dahulu.
"Kalian sudah datang duluan, jadi jangan sampai menunggu lagi."
"Terima kasi, Tuan Werner," ucap beberapa karyawan yang ada di sana.
"Anda bisa duduk dulu, Tuan, biar saya yang mengambilkan makanan." Celine menawarkan diri untuk membantu mengambilkan Noah makanan.
"Tidak perlu!" tolak Noah. Pria itu mengikuti Celine mengantri. Namun, wajah Noah membeku seketika, tatkala menyadari bahwa id-card-nya tidak memiliki akses pembayaran di kantin. Celine pun memindai id-card miliknya dua kali.
__ADS_1
"Besok bukakan untukku juga." Bukannya berterima kasih, pria itu malah meminta Celine untuk membuka akses pembayaran di kantin juga.
"Baik, Tuan," jawab Celine.
Sepanjang mengantri, Noah sibuk menatap satu persatu penjaga kantin. Dia tengah menelaah masing-masing wajah mereka, guna menerka-nerka kemiripannya dengan sang karyawan baru yang waktu itu memergoki dirinya. Namun, gadis itu sepertinya tidak ada.
Queen yang mengetahui kedatangan Noah heboh seketika. Dia meminta bawahannya untuk melayani Noah sebaik mungkin. "Jangan sampai ada yang melakukan kesalahan!" titah gadis itu.
"Queen, Bella ke mana? Seharusnya dia juga ikut melayani bersamaku dan Joanna," ujar Peter saat masuk ke dalam untuk mengisi kembali baki prasmanan yang telah kosong.
"Kalau kau kekurangan orang, minta yang lainnya saja, Bella sedang kusuruh untuk membersihkan gudang!" jawab Queen dingin.
Peter memahami benar kekesalan yang Queen rasakan, dan dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gadis di depannya ini.
"Oke!"
Sementara itu, hingga akhir antrian Noah sama sekali tidak dapat mengetahui mana karyawan baru tersebut.
Alhasil demi menghilangkan rasa penasarannya, Noah pun bertanya pada salah seorang karyawan laki-laki di sana, yaitu Peter.
Peter yang baru saja memberikan sekotak susu di atas nampan Noah sontak terperangah. "Ada apa Tuan? Apa ada sesuatu yang salah?" tanyanya panik.
"Tidak. Saya hanya ingin menanyakan karyawan baru, yang sempat mengantar makanan ke ruangan saya."
Raut penuh kelegaan terpancar di wajah Peter begitu mendengar penjelasan Noah. "Oh, karyawan itu. Ada apa Tuan?" tanyanya.
"Siapa namanya? Aku tak sempat bertanya, jadi untuk jaga-jaga saja jika suatu saat dia mengantar makanan lagi," kilah Noah memberi alasan.
"Ahh, begitu rupanya." Peter mengangguk-anggukan kepalanya. "Namanya Bella, Tuan. Dia dan seorang lainnya memang baru bekerja di sini. Saya harap mereka bisa bersikap baik pada Anda dikemudian hari," sambung pria muda itu seraya membungkukkan badannya sekilas.
Noah terdiam. Wajahnya samar-samar terlihat kesal mendengar jawaban Peter.
__ADS_1
Mengapa gadis bernama Bella begitu mengesalkan! Pria itu membatin.
...**********...
Bella sedang sibuk mengganti air pel-nya, ketika Emma datang menghampiri gadis itu. Dia dengan antusias bercerita pada Bella, bahwa pemimpin perusahaan mereka, Noah Olsen Werner, tengah makan siang di kantin.
Bella yang mendengar hal tersebut sontak saja terkejut. Beruntung hari ini dia bertugas membersihkan gudang.
"Kau tahu, kata Peter, beliau tak pernah menginjakkan kakinya di kantin ini, loh, dan sekalinya datang ke sini, coba tebak siapa orang pertama yang dicarinya?" kata Emma.
"Dia mencari seseorang?" Bella balik bertanya. Entah mengapa, hatinya tiba-tiba merasa sedikit ketakutan.
"Kau! Dia mencarimu, Bella! Dia mencari gadis yang mengantar makanan ke ruangannya waktu itu!" jawab Emma heboh.
Bella terkejut. Noah pasti telah mengetahui namanya. Dia harap, pria itu hanya menyadari kesamaan nama antara istri dan penjaga kantin saja.
"Lalu?" tanya Bella penasaran.
Emma terdiam seraya mengendikan bahu. "Tidak ada. Hanya itu saja." Jawabnya kemudian. "Yah, setidaknya dia mengenalmu, Bella. Sayang, dia sudah menikah, kalau belum, orang-orang pasti berpikir dia menyukai dirimu."
Bella meringis.
"Ahh, atau jangan-jangan dia hanya berdalih saja, padahal yang sebenarnya dia memang menyukaimu, Bella. Bisa saja kan, kau dijadikan istri kedua olehnya?" Tawa kecil meluncur dari bibir Emma yang ceplas-ceplos.
"Sembarangan!" Bella memajukan bibirnya, seolah kesal.
"Haha ... aku hanya bercanda. Ya sudah, aku tak ingin mengganggumu lebih lama lagi. Aku ke depan dulu ya, nanti tanduk Queen bisa keluar!" bisik Emma diakhir kalimatnya.
Bella mengangguk sembari tertawa kecil.
Setelah selesai mengganti air pel-nya, Bella kembali ke gudang belakang. Namun, rasa penasaran membuat gadis itu berjalan ke depan untuk melihat melihat Noah.
__ADS_1
Berdalih mengambil minum, gadis itu mengintip dari balik pintu dapur. Matanya menelisik ke sekeliling meja kantin dan menemukan Noah sedang duduk bersama dia orang lainnya. Bella mengenali salah satunya sebagai sekretaris pribadi pria itu.
Senyum di wajah cantik Bella mengembang seketika. Rasanya sudah lama sekali dia tidak benar-benar melihat Noah menikmati makanannya, sembari mengobrol ringan. Namun, sedetik kemudian, tatapannya berubah sendu, tatkala menyadari sang suami tak pernah tersenyum selepas itu saat sedang bersama dirinya.