Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
18. Nyaris.


__ADS_3

Dari jarak yang cukup dekat, Bella dapat melihat seorang wanita cantik yang duduk di mejanya. Bella berhenti sejenak untuk memastikan kembali topi dan masker yang dia gunakan sudah benar-benar menutupi seluruh wajahnya.


Setelah dua kali menarik napas, gadis itu pun kembali melanjutkan langkahnya.


"Permisi, emm ... Nona, saya ingin mengantarkan pesanan untuk Tuan Werner," ujar Bella begitu sampai di depan meja Celine.


Celine berdiri dari kursinya dan memandangi Bella penuh selidik. "Kau tampak sangat asing. Apa kau karyawan baru di sini?" tanya wanita itu.


Bella mengangguk canggung. "Iya, saya baru di sini."


Celine tersenyum maklum. "Tidak perlu canggung begitu, santai saja. Omong-omong, kenapa kau memakai topi dan masker di dalam ruangan? Aku jadi tidak bisa melihat wajahmu." Wanita itu berdiri dari kursinya dan mendekati Bella.


Bella refleks mundur selangkah. "S—saya sedang flu berat, Nona," jawabnya asal. "Ahh, tenang saja, saya bukan bagian memasak, jadi bisa dipastikan bahwa makanan untuk Tuan Werner sangat aman." Gadis itu buru-buru menambahkan kalimatnya saat melihat raut wajah Celine sedikit berubah.


"Oh, begitu. Oke, kau bisa langsung masuk ke dalam," titah Celine ramah.


Bella tersentak kaget. Bagaimana mungkin dia bisa mengantar makanan tersebut ke dalam. "S—saya pikir, saya hanya mengantar sampai sini saja, Nona," ujarnya takut-takut.


Celine langsung menggelengkan kepala. "Tidak, kau harus mengantarnya ke dalam, karena terkadang Tuan Werner harus mencicipi dulu makanan yang dipesannya, dan aku tidak mengerti bila ada sesuatu yang kurang." Sebaris senyum terpatri di wajah cantik sekretaris tersebut.


Jantung Bella semakin berdetak tak karuan. Tangannya yang sedang memegang food trolley bahkan sudah gemetaran.


"Ayo, silakan," Celine mengangguk pada Bella, seolah memberi isyarat padanya agar segera masuk ke dalam ruangan Noah.


Embusan napas terasa sangat berat bagi gadis itu. Dengan langkah seringan mungkin dia melangkah masuk ke dalam ruangan Noah.


Bella berdeham. "Pesanan Anda, Tuan," ucapnya dengan suara yang dibuat-buat serak, agar Noah tidak mengenali suaranya.


Noah yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya hanya mengangguk singkat.


Bella terdiam. Gadis itu tentu saja bingung akan arti anggukan kepala sang suami.


Sekali lagi gadis itu berdeham guna memancing perhatian Noah. Namun, tak ada tanggapan sama sekali dari pria itu.


Bella menggigit bibirnya gugup. Jantungnya tak mau berhenti berdebar. Saat ini, berada di ruangan Noah seperti sedang menunggu eksekusi saja.


"Tu—"

__ADS_1


"Kau karyawan baru?" tanya Noah sembari mengalihkan pandangannya dari laptop. Pria itu menatap Bella datar.


Hebat sekali mereka, dari ribuan karyawan yang bekerja di gedung ini mampu membedakan mana karyawan baru dan lama! Batin Bella.


"Iya, Tuan," jawab Bella gugup.


"Letakkan di atas meja itu." Noah menunjuk meja tamu yang berada persis di hadapannya. "Lain kali jika aku memesan makanan, tanya seniormu harus melakukan apa!" serunya kemudian.


Bella mengangguk malu, dan mulai menata makanan untuk Noah.


Setelah selesai, dia pun hendak pamit undur diri.


"Siapa yang menyuruhmu pergi?" Noah kembali membuka suaranya, saat Bella berpamitan.


"Emm, anu, Tuan—"


"Tunggu di sana!" Noah memotong perkataan Bella, lalu berdiri dari kursi kebesarannya. Pria itu kemudian menghampiri meja dan membuka makanan yang baru saja diantar Bella.


Uap panas dan aroma harum nan menggiurkan langsung menyergap hidung Bella, begitu Noah membuka tudung sajinya.


Bella tersenyum lembut melihat bagaimana Noah mengunyah makanan dengan penuh ketenangan. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melihat pria itu makan.


"Seingatku, seluruh karyawan dilarang memakai penutup kepala dan wajah saat sedang bekerja!"


Lamunan Bella seketika buyar, tatkala suara dingin Noah kembali menggema.


"S—saya sedang flu berat, Tuan. Mata saya juga sedang sakit, jadi saya tidak bisa terlalu lama terkena sinar lampu," jawab Bella sekenanya. Dia tak peduli kini Noah menatap gadis itu dengan raut aneh.


"Makanan ini aman, kan?" tanya Noah skeptis.


"Aman Tuan, aman! Saya tidak bekerja di bagian dapur dan saya tidak menyentuh makanan Tuan sama sekali!" seru Bella panik.


Noah terdiam sejenak. "Kalau begitu, kau boleh pergi," titahnya.


Raut kelegaan terlihat dari wajah Bella. "Terima kasih, saya permisi." Tanpa disuruh dua kali, gadis itu bergegas pergi setelah membungkukkan badannya dalam-dalam pada Noah. Namun, saat Bella sudah berada di ambang pintu, Noah kembali memanggil.


"Sepertinya aku pernah melihatmu. Matamu tampak sangat familiar."

__ADS_1


Mendengar perkataan yang meluncur dari mulut Noah, membuat sekujur tubuh Bella meremang.


Noah berdiri dari kursinya dan mulai mendekati Bella. "Coba buka topimu itu," ucapnya dingin.


Bella mundur selangkah sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Saya sedang sakit, Tuan," jawab gadis itu sambil berpura-pura batuk.


"Flu tidak akan membuatku mati!" seru Noah.


Pria itu berhenti tepat semeter di hadapan Bella. Dengan wajah menyelidik, dia mengangkat tangannya guna menggapai topi gadis itu.


Bella sontak memejamkan matanya ketakutan. Namun, saat Noah berhasil memegang topi Bella, tiba-tiba ponselnya berdering.


Noah bergegas melepaskan topi tersebut dan mengambil teleponnya. Sambil mengangkat sambungan telepon dari seseorang, pria itu memberi isyarat pada Bella untuk keluar dari ruangan.


Bella dengan cepat mendorong trolinya dan pergi dari sana. Jantung gadis itu nyaris saja berhenti berdetak.


"Ya Tuhan, aku takut sekali," gumam gadis itu hampir menangis. Tanpa pikir panjang, dia melesat meninggalkan lantai lima belas tersebut untuk kembali ke tempat kerjanya.


...**********...


"Oke, nanti malam aku akan datang," ucap Noah sebelum kemudian menutup sambungan teleponnya dari Tristan.


Sang sahabat rupanya mengajak Noah untuk pergi makan malam dengan salah seorang kliennya. Klien itulah yang menjadi incaran Noah agar mau bekerja sama dengan perusahaannya.


Noah hendak berjalan menuju meja tamu, untuk melanjutkan kembali acara makannya yang tertunda, tetapi mata pria itu tiba-tiba tertuju pada benda kecil berkilau yang tergeletak di lantai.


Ternyata sebuah bros mungil berbentuk bunga mawar —yang entah milik siapa—, teronggok di sebelah kaki kursi tamunya.


Dari luar saja Noah bisa pastikan, bahwa benda tersebut bukanlah benda mahal yang terbuat dari emas asli.


Noah meletakkan begitu saja bros tersebut di meja tamunya.


Sementara Bella yang baru saja kembali dari lantai lima belas, sontak dilanda kepanikan begitu menyadari bros kesayangan miliknya telah hilang.


Bros tersebut memang bukan merupakan bros mahal, tetapi itu adalah satu-satunya kenangan yang dia miliki bersama mendiang sang ibu. Sebab beliau lah yang membelikannya, sewaktu mereka berjalan-jalan mengunjungi festival kembang api dulu.


"Jangan hilang, jangan sampai hilang!" seru Bella hampir menangis.

__ADS_1


__ADS_2