
Bella berjalan terseok-seok memasuki apartemennya yang masih kosong dan gelap. Tak ada jejak mau pun tanda dari satu penghuni lain yang tinggal bersamanya di sana, padahal jelas-jelas dia sengaja pulang melewati jadwal biasanya.
Satu hal yang terpikirkan di benak Bella hanya satu, Noah sedang bersama wanita bersurai merah itu. Wanita yang datang menghancurkan angan-angan Bella untuk membuat Noah berbalik arah padanya.
Dadanya kini terasa sesak nan menyakitkan. Entah sudah berapa banyak air mata yang mengalir sejak dia meninggalkan ruangan Noah tadi.
Tangannya yang masih gemetaran menggeser pelan pintu gudang, yang berada persis di sebelah laundry room. Bella tidak memiliki kamar di apartemen tersebut, jadi sebagai gantinya, dia sering menggunakan gudang untuk sekedar menyembunyikan diri dari kesakitan yang selalu singgah menghantam hidupnya.
Bella berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkannya, tetapi semakin dia melupakan, bayangan Noah bersama wanita itu justru semakin kuat menghentak batinnya dan memenuhi isi seluruh kepalanya.
Apa yang harus dia lakukan? Pergi dari sini? Bella tidak yakin, sebab seumur hidup dia tak pernah diajarkan hidup melewati batas aman. Jangankan melewati, dikenalkan pada dunia saja tak pernah.
Siapa yang Bella kenal di luar keluarga inti Werner? Tidak ada. Keluarga mendiang orang tuanya pun dia sudah lupa.
Bella tertawa kecil, kala merenungi dirinya yang kian hari kian malang.
...**********...
Noah baru saja tiba di apartemennya nyaris tengah malam, setelah menghabiskan waktunya di bar bersama Tristan.
Kejadian di kantor hari ini membuat pikiran pria itu benar-benar kusut.
Terang saja, meski karyawan kantin tersebut sudah berjanji akan tutup mulut dan tidak akan menyebarkan berita soal dirinya, tetapi tetap saja Noah merasa khawatir. Apa lagi bila berita itu sampai ke telinga sang ayah, Harold. Bisa-bisa karirnya yang baru memuncak hancur begitu saja.
Noah mengakui dirinya salah melangkah. Seharusnya dia mendengarkan nasihat Noah untuk tidak mencari pelampiasan, agar bisa melupakan Maria. Alih-alih melupakan, justru Noah menambah masalah baru.
__ADS_1
Noah berkali-kali meminta Celine untuk mencari tahu identitas karyawan itu, tetapi Celine tidak bersedia.
Wanita itu dengan segala kerendahan hati meminta Noah untuk tidak melakukan apa pun pada si karyawan, sebab dia yakin gadis itu tidak akan buka mulut.
Entahlah, Celine hanya mengikuti feeling-nya saja.
Noah sontak mengernyitkan dahinya, tatkala mendapati jendela balkon apartemen dalam kondisi terbuka.
Dari jarak yang cukup jauh, Noah dapat melihat sosok Bella yang sedang berdiri di balkon.
Ya, dia tak salah lihat, Bella benar-benar berdiri di atas balkon sembari menangis sesenggukan!
"Hei!" pekik Noah sambil berlari menghampiri Bella. Dalam sekejap pria itu berhasil menarik tubuh Bella agar turun dari sana.
"Kau gila!" pekik Noah. Masalah satu belum selesai, tak mungkin dia harus memiliki masalah satu lagi, terlebih jika itu menyangkut dengan nyawa.
Noah tersentak kala mencium aroma alkohol dari mulut Bella. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling balkon dan menemukan sebotol air mineral berwarna kecoklatan.
Sembari memegangi Bella yang tengah sibuk mengoceh, Noah mengambil botol tersebut dan menciumnya. Benar saja dugaannya, minuman itu adalah minuman beralkohol miliknya.
Dia lah yang telah memasukkan minuman alkohol tersebut ke dalam botol air mineral, dan Bella pasti mengira itu adalah air teh biasa.
"Ini apartemenku, dan kau mabuk. Sekarang, ikut aku ke dalam! Memalukan!" Noah balas membentak sembari menarik kasar tangan Bella.
"Tidak mau!" Bella yang terlihat sempoyongan menyentak tangan Noah, dan dengan kurang ajar menunjuk hidung pria itu, hingga membuatnya terkejut.
__ADS_1
"Oh, jadi kau pemilik apartemen ini?" ujar Bella. "Siapa namamu? Noah! Iya Noah, namamu Noah, kan?"
"Jangan bertingkah bodoh!" seru Noah dingin.
"Ahh, aku juga mempunyai suami bernama sama denganmu!" seru gadis itu kemudian. "Tak kusangka, selain namanya yang mirip, kelakuannya pun sama. Bahkan wajah kalian sangat identik." Bella terdiam sesaat. "Sayangnya, Noah yang aku punya gemar sekali menyiksa dan menyakitiku."
Noah yang tengah menahan kekesalannya kini terdiam mematung setelah mendengar ucapan Bella.
"Tapi ... tapi, kau tahu tidak, meski dia selalu berlaku jahat, anehnya aku tetap peduli padanya, loh!" Sambung Bella. "Bahkan aku pernah menaruh hati pada pria itu ketika kami masih berusia remaja." Tawa kecil keluar dari bibir Bella, sebelum kemudian dia menutup mulutnya sendiri sambil terbelalak.
"Ya Tuhan, aku terlalu banyak bicara! Janji jangan beritahu dia ya?" Sambil mendekati wajah Noah, dia meletakkan telunjuknya di bibir pria itu.
Noah yang tersadar dari lamunannya lantas bergegas menarik kembali tangan Bella, guna mengajaknya masuk ke dalam.
Begitu keduanya tiba di ruang televisi, tiba-tiba suara tangis Bella terdengar menyayat hati. Noah berbalik dan menemukan gadis itu tengah memandanginya dengan raut penuh kekecewaan.
"Kau suamiku," ucapnya lirih.
Noah bergeming seraya mengerutkan keningnya.
"Bisakah kau melihatku sebagaimana aku melihatmu, Noah?" tanya gadis itu dengan raut sendu.
Noah tak ingat lagi bagaimana reaksinya, saat Bella dengan wajah sedih berjalan mendekat dan mendaratkan ciumannya lembut pada bibir pria itu.
Sekujur tubuh Noah kini layaknya tersengat listrik ribuan voltase, tatkala Bella berusaha membuka mulut pria itu agar bisa mencecapnya lebih dalam.
__ADS_1
Noah tentu saja terkejut dan hendak melepaskan diri, tetapi entah mengapa, tubuhnya tak mampu melakukan perintah yang dia mau.
Entah lewat campur tangannya atau bukan, pria itu membiarkan Bella melakukan hal tersebut.