
Matahari sudah mulai meninggi, ketika Bella terbangun dari tidurnya di atas sofa. Begitu membuka mata, rasa sakit pada kepalanya sontak menyergap tak karuan.
Bella berusaha meredam sambil mengernyit menatap sekeliling ruangan yang masih tampak kosong dan gelap. Apa yang terjadi semalam? Mengapa dia bisa ada di sofa? Bukankah, sepertinya dia sedang merenungi nasib di balkon sambil menangis?
Rasa sakit di kepalanya, membuat gadis itu enggan berpikir lebih dalam. Dia pun memutuskan bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh diri.
Noah tiba di apartemen setelah melakukan kegiatan lari paginya. Tak lupa dia membawa serta satu bungkus makanan untuk sarapan.
Pria itu terkejut, ketika mendapati Bella sedang sibuk berkutat di dapur. Wajahnya tampak segar dengan rambut yang terurai basah. Namun, yang menjadi fokus perhatian Noah saat ini adalah bibir gadis itu.
Ingatan semalam sontak kembali berputar-putar di kepala Noah.
Noah memang membenci Bella. Sangat. Jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya kebencian Noah bermula dari kasih sayang berlebihan yang diberikan sang ayah kepada Bella. Noah merasa sangat terasingkan. Namun, yang paling membuat kebencian Noah bertahan hingga saat ini, adalah ketika Bella tiba-tiba membakar semua barang-barang peninggalan mendiang sang ibu tanpa sisa.
Bella berdalih bahwa dia hanya menjalankan tugas dari Jessica, padahal jelas-jelas ibu tirinya sedang tidak berada di rumah waktu itu.
Bukannya meminta maaf, Bella justru mengoceh dan membandingkan nasib dirinya yang jauh lebih menyedihkan dibanding Noah. Sejak saat itulah, Noah bersumpah tak akan pernah menganggap Bella sebagai adik, dan oleh karenanya, dia menutup mata pada sikap Jessica yang kerap kali menyiksa gadis itu.
Akan tetapi, kejadian semalam benar-benar membuat Noah tak habis pikir. Semua perkataan Bella dan tindakannya, membuat ketahanan diri Noah sempat goyah.
Beruntung pria itu dapat menyadarkan diri dan segera meninggalkan Bella teronggok sendirian di sofa ruang televisi.
"Kak!"
Lamunan Noah sontak buyar kala mendengar suara Bella yang memanggil dirinya. Bella menyodorkan piring kosong padanya sembari memulas senyum tipis. Berbeda sekali dengan apa yang dia lihat semalam.
"Kakak mau mengambil piring, kan?" Bella lagi-lagi bersuara. Gadis itu sepertinya benar-benar tidak mengingat apa pun.
Entah sadar atau tidak, bukannya membentak atau menolak, Noah justru menerima piring tersebut.
Bella terlihat senang. Ini adalah kali pertama sang suami menerima pemberiannya, kendati hanya sebuah piring. Tak ingin mengganggu gadis itu pun permisi melewati Noah untuk melanjutkan aktivitasnya.
...**********...
Biasanya di hari libur begini Noah akan menghabiskan waktu bersama Tristan sejak pagi buta, tetapi kali ini tidak demikian. Sebab sang sahabat sedang berada di luar kota guna menemui kliennya.
Noah terpaksa menghabiskan waktu di apartemen bersama Bella yang sejak tadi sibuk mondar-mandir mengerjakan sesuatu.
Ada saja yang dikerjakan gadis itu di sana, padahal menurutnya tidak perlu.
Hal itu jelas-jelas membuat Noah jengah karena harus melihat wajah Bella.
__ADS_1
"Bisa diam tidak!" bentak Noah pada Bella yang kini tengah mengelap pajangan di ruang televisi, hingga nyaris menghalangi pandangan Noah.
Maklum saja, sejak bekerja Bella tidak memiliki waktu untuk membersihkan apartemen. Dia juga sudah meminta Viola untuk tidak datang lagi ke sana, selain hanya saat dibutuhkan.
Bella sengaja melarang Viola agar kegiatan hariannya di apartemen tidak hilang begitu saja.
Bella yang terkejut segera meminta maaf dan menyingkir.
Sedetik kemudian, suara bell apartemen berbunyi. Bella segera menghampiri interkom untuk melihat siapa tamu yang bertandang ke sana.
Wajah gadis itu seketika panik, ketika mendapati sosok ayah angkat sekaligus ayah mertuanya berdiri di depan pintu.
"Kak, ada Papa datang!" pekik Bella pada Noah.
Noah sontak melompat. Matanya menatap nyalang pada penampilan Bella yang persis seperti asisten rumah tangga. Pria itu menunjuk Bella dan menyuruhnya untuk berganti pakaian.
Bella menurut. Selagi dia berganti pakaian di kamar mandi, Noah bergegas membukakan pintu.
"Mana Bella?" tanya Harold tanpa basa-basi. Matanya menelisik ke dalam rumah sang putra.
"Sedang mandi, Pa," jawab Noah asal.
Noah menahan diri untuk tidak terlihat gugup. "Iya, dia baru saja selesai mencuci pakaian, dan aku membantunya sedikit," dustanya.
Mendengar hal tersebut, Harold mengembangkan senyumnya. Dia pun masuk ke dalam bersama Noah.
"Mama tidak ikut?" tanya Noah, tatkala menyadari hanya sang ayah yang datang seorang diri.
"Tidak. Dia sedang ada janji dan katanya akan menyusul ke sini." Jawab Harold. Pria itu menatap sekeliling apartemen Noah seolah sedang mencari sesuatu.
"Kenapa Pa?" tanya Noah penasaran.
"Kalian sudah berminggu-minggu tinggal di apartemen, tetapi rasanya tempat ini seolah seperti baru saja," jawab Harold.
Noah terdiam sejenak, seolah mencari jawaban yang tepat.
"Mungkin karena Kak Noah banyak pekerjaan, dan aku sedang sibuk membantu panti, Pa." Noah bernapas lega, ketika Bella keluar dari kamar mandi sembari menjawab pertanyaan Harold. Gadis itu memeluk sang ayah dan mencium pipinya.
"Panti? Panti mana?" tanya Harold.
"Panti tempat tinggalku dulu. Mereka kekurangan orang dan aku menawarkan diri membantu di sana selama beberapa saat." Bella tersenyum lalu menawarkan minum pada sang ayah.
__ADS_1
"Kau tidak lelah, Nak?" Harold tampak tidak senang dengan berita tersebut, tetapi Bella meyakinkan dirinya bahwa dia baik-baik saja, dan bisa memegang kendali semuanya.
Demi mengalihkan pembicaraan, Bella mulai mengajak sang ayah berbincang soal kegiatan hari-hari pria itu setelah pensiun.
"Ahh, Papa ke sini memang ingin mengatakan sesuatu."
Noah dan Bella saling melempar pandangan. "Apa itu Pa?" tanya Noah.
"Papa berniat menghabiskan tahun di Gargania."
Mendengar jawaban Harold, senyum Bella tiba-tiba menghilang.
...**********...
Seorang wanita berpenampilan glamour terlihat turun dari mobil mewahnya, yang terparkir persis di sebuah rumah besar nan kumuh.
Jika dilihat dari luar, rumah tersebut tampak seperti tidak berpenghuni. Namun, Jessica dengan santai membuka pintu pagar dan masuk ke dalamnya.
Seolah sudah terbiasa, tanpa permisi Jessica membuka pintu depan rumah tersebut,
"Halo, Jessica sayang!" seru seorang wanita tua yang langsung menyambut kedatangannya dengan sangat antusias. Kedua tangan ringkih wanita tua itu bahkan memeluk Jessica seerat mungkin.
Jessica tampak tidak membalas. Dia malah memasang tampang dingin sembari berusaha melepaskan pelukan si wanita.
"Ow, kau selalu saja bersikap seperti ini pada ibumu, Nak," kata wanita tersebut sambil memamerkan gigi-giginya yang sedikit menguning.
Jessica tidak menjawab. Dia malah mengeluarkan segepok uang yang tersimpan rapi di dalam amplop coklat, dan melemparnya ke atas meja kecil di belakang wanita tersebut.
"Gunakan itu untuk membersihkan halaman rumah juga. Sudah kukatakan berulang kali untuk melakukannya bukan?" ujar Jessica dingin.
Wanita itu mengeluarkan tawa terkikik yang cukup menyeramkan. "Bukankah lebih baik seperti ini Jess, agar orang-orang tak tahu bahwa aku sebenarnya masih hidup."
Jessica bergeming tidak berniat menjawab. Wanita itu malah bersiap-siap pergi meninggalkan tempat setelah dirasa urusannya telah selesai.
"Jess, bagaimana keadaan menantu dan cucuku?" tanya wanita tua itu, tatkala Jessica sudah berada di ambang pintu rumah.
"Andai saja aku bisa menemui mereka, pasti akan sangat menyenangkan bukan?" Sambungnya.
Jessica melirik sinis ke arah sang wanita sembari berkata, "jangan bermimpi, dan ingat, dia bukan cucumu!"
Tawa wanita itu sontak menggelegar seiring langkah kaki Jessica.
__ADS_1