Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
17. Kebencian Queen.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, ketika Noah terbangun dari tidurnya. Kendati masih merasa pusing, tetapi tubuh pria itu jauh lebih segar dibanding semalam ataupun hari-hari sebelumnya.


Perlahan Noah bangkit dan duduk di tepi ranjang. Pria itu hendak mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, sebelum kemudian menyadari ada segelas teh dan semangkuk bubur yang sudah mendingin. Tak hanya itu saja, tepat di dekat mangkuk bubur tersebut terdapat sekantong kecil obat dan secarik kertas catatan.


'Kuharap kau berkenan memakan bubur dan obat ini. Tenang saja bubur ini bukan buatanku. Aku membelinya pagi-pagi sekali sebelum pergi ke panti.


Maafkan aku karena telah meninggalkan rumah sejak kemarin. Di panti sedang butuh relawan dan aku mengajukan diri untuk membantu di sana selama beberapa waktu.


Noah meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah mini yang tersedia. Bella sungguh beruntung, sebab kondisi kesehatannya yang sedang kurang baik ini, membuat Noah tidak memiliki tenaga lebih untuk melampiaskan kemarahannya. Namun, kendati demikian, Noah tak boleh bersantai. Dia harus ke kantor sekarang juga.


Noah menatap dingin bubur yang dibeli Bella, lalu mengambilnya. Dia berniat membuang makanan tersebut ke toilet. Namun, gemuruh yang berasal dari perutnya membuat pria itu mengurungkan niat. Maklum saja, dia belum mengonsumsi apa pun sejak kemarin sore.


Meski terlihat enggan, Noah akhirnya terpaksa menyantap setengah porsi bubur tersebut, guna mengganjal perutnya yang kelaparan.


...**********...


Bella memang baru bekerja di sana selama dua hari, tetapi dia sudah mampu membuktikan kinerjanya dengan sangat baik di sana.


Kini gadis itu tak perlu lagi bimbingan Queen untuk mengerjakan kewajibannya, sebab dia sudah menghafal apa-apa saja yang harus dikerjakan di tempat tersebut.


Hal tersebut tentu saja membuat Willy, sang atasan, memuji Bella. Pria itu bahkan terang-terangan membandingkan kinerja Bella dengan Queen saat baru pertama kali bekerja di sana.


"Andai kau masuk ke sini lebih dulu, aku pasti akan memilihmu menjadi tangan kananku, Bella." Willy tertawa kecil. Nada bicara pria itu penuh dengan gurauan yang mungkin menurutnya bisa memancing tawa Bella mau pun Queen. Namun, kedua gadis itu hanya terdiam canggung.


Queen bahkan diam-diam menatap Bella dingin dan sinis. Bagaimana tidak, atasan sekaligus orang yang selama satu tahun ini dikaguminya, secara tiba-tiba mengatakan hal sedemikian menyakitkan tersebut.


Queen bukan setahun dua tahun bekerja di sana, dan seingatnya, Willy tak pernah memuja gadis itu seperti memuja Bella. Hal tersebut membuat kecemburuan dalam diri Queen tumbuh subur.


"Bella! Bisa tolong aku memindahkan makanan ini?" Dari jauh Emma meneriaki Bella, begitu melihat sang rekan bersama seniornya keluar dari ruangan Willy.

__ADS_1


"Ok!" Jawab Bella. "Aku permisi dulu, Queen," ujar gadis itu kemudian.


Queen hanya terdiam dan melenggang pergi tanpa memerdulikan perkataan Bella.


Sejak awal gadis itu memang tidak terlalu menyukai kepribadian Bella yang baik hati dan pekerja keras. Sebab bagi Queen, kedua hal tersebut hanya dimiliki karyawan-karyawan baru yang ingin cari muka pada atasan mereka, dan itulah yang baru saja dia tangkap dari sosok Bella.


Bella dengan senang hati membantu Emma meletakkan satu panci besar soup ke meja display. Tak lupa dia juga memeriksa camilan yang ada di sana.


Setiap hari camilan yang disediakan kantin untuk orang kantor berbeda-beda, dan kali ini mereka menyiapkan buah apel dan jelly dingin.


Bella menata apel-apel dan jelly tersebut dengan baik di tempatnya. Tepat setelah selesai menata, beberapa karyawan mulai berdatangan untuk menikmati makan siang. Mereka dengan rapi berbaris setelah memindai id card. Dari pemindaian itulah, setiap bulan pihak perusahaan akan memotong gaji karyawan sebagai pembayaran.


Bella bersama Emma dan Joanna mulai melayani para karyawan. Mereka dengan sabar meletakkan satu persatu makanan beserta lauk pauk dan camilan di atas nampan masing-masing.


...**********...


"Anda seharusnya beristirahat saja di rumah, Tuan." Lagi-lagi Celine tak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari kondisi Noah. Meski sudah lebih baik, tetap saja pria itu masih terlihat belum sepenuhnya pulih.


Celine terdiam sejenak. "Kalau begitu, lebih baik Anda makan siang di sini saja Tuan.",


Noah mengangguk tanpa minat.


"Saya akan menghubungi restoran terdek—"


"Kantin saja. Pesan makanan di kantin untukku. Aku ingin pasta," ujar Noah memotong pembicaraan Celine.


"Baik Tuan." Celine undur diri meninggalkan ruangan Noah. Wanita itu bergegas menghubungi kedua kantin tersebut.


...**********...

__ADS_1


Bella baru saja hendak beristirahat di kursi plastik yang terletak di dapur, ketika Willy tiba-tiba menginterupsinya.


"Bella, bersiaplah!" seru Willy bersemangat.


Bella mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Ada apa Mr. Willy?" tanya gadis itu penasaran.


"Lima menit lagi antar makanan ke lantai lima belas, tempat dimana Tuan Noah Werner berada," jawab Willy.


Bella terkejut bukan kepalang. Keringat dingin sebiji jagung mengalir di pelipis gadis itu.


Bagaimana tidak, jika dia sampai mengantar makanan ke sana, bisa-bisa Noah akan mengetahui kebohongannya soal menjadi relawan di panti, dan Bella tidak bisa membayangkan seberapa besar kemurkaan yang Noah lampiaskan kepadanya.


Sebisa mungkin Bella harus menolak perintah tersebut.


"Anu, apa tidak bisa diganti saja Tuan? Aku merasa sangat canggung dan tidak terbiasa. Aku takut akan melakukan kesalahan!" sergah Bella panik.


"No, Bella! Kau harus melakukannya. Setiap karyawan akan senang mendapat giliran ke sana, sebab Tuan Noah Werner belum tentu sebulan sekali memesan makanan dari kantin. Jadi, ini merupakan kesempatan bagus untukmu!" kata Willy antusias. Pria itu berjalan mendekati Bella dan menepuk pundaknya.


"Tak perlu gugup, lakukan saja seperti biasa." Sebaris senyum terpatri di wajah Willy.


Bella mematung sembari membalas senyuman Willy kaku. Dalam hati gadis itu berharap bisa kabur dari sana detik itu juga.


Seperti yang dikatakan Willy sebelumnya, tepat lima menit kemudian Emma memberikan sekotak makanan mewah kepada Bella.


"Kau beruntung bisa mengantar makanan ke sana, Bella." Senada dengan sang atasan, Emma juga merasa sangat senang dan antusias.


Bella meringis. "Kau salah Emma, aku bukan orang yang cukup banyak memiliki keberuntungan. Justru hari ini adalah hari tersial dalam hidupnya.


Bella dengan canggung menerima kotak makanan tersebut dan pergi meninggalkan kantin. Di sepanjang perjalanan menuju tempat Noah, gadis itu terus memikirkan skenario paling tepat agar Noah tidak menyadari kehadiran dirinya.

__ADS_1


Jantung Bella semakin berdetak keras, saat lift berhenti tepat di lantai lima belas. Bella keluar perlahan menunju satu-satunya ruangan terbesar yang ada di lantai tersebut.


__ADS_2