Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
36. Keputusan Terbaik Saat Ini.


__ADS_3

Suasana di dalam apartemen masih sangat sepi, ketika Noah turun dari kamarnya. Jika biasanya, Bella sudah sibuk dengan kegiatan berbenah rumah, kali ini tidak demikian.


Jangankan berbenah, batang hidung gadis itu saja tidak terlihat. Noah sontak mengernyitkan keningnya. Dalam hatinya, dia mengira bahwa Bella sengaja berangkat kerja pagi-pagi sekali demi menghindari dirinya.


Tak ingin memikirkan hal tersebut, Noah pun kembali ke atas untuk bersiap-siap pergi ke kantor.


Akan tetapi perkiraan Noah ternyata salah. Sebab, saat pria itu datang ke kantin untuk makan siang, dia tidak mendapati sosok Bella di mana pun.


"Bella katanya tidak masuk tanpa keterangan, Tuan." Celine yang baru saja kembali dari pantry, segera memberitahu Noah. Pria itu memang meminta sang sekretaris untuk pergi menanyakan keberadaan Bella. Dia tak peduli bila orang kantin akan menggosipkan mereka berdua lagi.


Mendengar jawaban Celine, Noah mendadak tidak nafsu makan. Kepalanya uring-uringan memikirkan di mana Bella dan apa yang membuatnya menghilang seperti ini? Namun, Noah tiba-tiba tersentak kala menyadari alasan Bella pergi.


Noah sontak berdiri sembari menggebrak meja, hingga para pengunjung kantin terkejut. Tanpa berkata apa-apa, dia pergi meninggalkan kantin tersebut.


...**********...


Bella menatap bangunan besar di hadapannya dengan mata nanar. Sejuta kerinduan hadir melingkupi diri gadis itu, kala ingatan masa kecilnya mulai bergerilya memenuhi kepala.

__ADS_1


Setelah berpikir semalaman, akhirnya Bella memutuskan untuk menenangkan diri dengan menjauh dari Noah. Sementara satu-satunya tempat yang terlintas di benak Bella saat ini, hanya lah panti asuhan tempat kedua orang tuanya menitipkan gadis itu dulu.


Tak ada yang berubah dari panti asuhan tersebut, selain hanya cat dindingnya yang tampak baru. Dia juga bisa melihat beberapa anak yang sedang asik bermain di halaman panti.


Bella melangkah canggung menuju panti dan membuka pagarnya.


Melihat kedatangan orang asing, beberapa anak seusia balita bergegas lari menjauh, sementara bebera anak lain yang usianya lebih besar menghampiri Bella guna menanyakan keperluannya.


"Apa Madame Caroline ada?" tanya Bella ramah.


"Ada." Jawab salah seorang anak yang kira-kira berusia sepuluh tahun. "Kakak ingin menemui Madame? Biar kami antar," sambung anak lain.


"Kakak Arabella?"


Bella menoleh. Seingat Bella, sejak dulu hanya satu orang yang memanggil namanya lengkap seperti itu.


"Beatrice!" seru Bella. Keduanya lantas berpelukan erat demi melepas kerinduan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, sudah lama sekali kita tidak bertemu!" seru Beatrice setelah mereka saling melepaskan pelukan.


Beatrice merupakan anak panti di angkatan Bella. Dia bersama dua anak lainnya yang juga Bella kenal, ternyata mengabdikan diri mengurus panti, meski telah memiliki hidup masing-masing.


"Madame sedang jalan-jalan bersama Callista. Sekarang beliau lebih banyak menghabiskan waktu di atas kursi roda," jawab Beatrice, saat Bella menanyakan kabar sang pemilik panti.


Bella menatap Beatrice dengan raut bersalah. "Maafkan aku yang tidak pernah lagi datang ke sini," ucapnya menyesal. Dia bahkan tak ingat kapan terakhir kali datang berkunjung.


"Tidak apa-apa, Kak," jawab Beatrice maklum. Namun, mata gadis itu tiba-tiba tertuju pada satu buah koper besar yang dibawa Bella. "Ada apa, Kak? Kudengar, kau sudah menikah?" tanya wanita itu.


"Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, dan aku tak tahu lagi harus ke mana."


Mendapati mata Bella yang sudah basah, Beatrice pun menggenggam tangannya. "Biar bagaimana pun, rumah ini adalah rumahmu. Kau bebas datang dan pergi, Kak."


"Terima kasih," ucap Bella lirih.


"Kebetulan di sini ada kamar kosong, kau bisa memakainya."

__ADS_1


Bella sekali lagi menatap Beatrice dengan penuh rasa terima kasih. Wanita itu sama sekali tidak mendesak Bella untuk cerita. Dia bahkan dengan ramah mempersilakan Bella untuk tinggal selama apa pun di sana.


Tak lupa, setelah mengantar Bella ke kamar tamu, Beatrice juga mengenalkan dirinya pada dua puluh anak panti yang ada di sana.


__ADS_2