
Mendengar jawaban sang anak, Harold pun menanyakan alasannya untuk enggan pulang ke rumah.
"Aku hanya sedang merindukan tempat ini. Papa tahu, panti ini juga merupakan rumahku. Rumah yang tak pernah aku sambangi selama bertahun-tahun lamanya." Bella berusaha memberi alasan yang tidak mencurigakan. Dia tak mungkin mengatakan hal sebenarnya pada sang ayah saat ini.
Harold terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengalah. "Baiklah, Papa tak bisa memaksamu, sebab biar bagaimana pun, kau sudah dewasa. Namun, Papa harap, kau tidak terlalu lama berada di sini," ucapnya kemudian.
Bella menganggukkan kepalanya.
"Ingatlah, bahwa kami keluargamu, Bella, dan aku adalah ayahmu." Sambung pria itu.
Bella sontak memeluk Harold. "Aku selalu mengingatnya, karena aku sangat menyayangi Papa dan semua keluargaku." Air mata kembali menetes membasahi pipi Bella.
Mereka berpelukan selama beberapa saat, sebelum akhirnya, Harold dengan berjiwa besar pergi dan membiarkan Bella tetap tinggal di panti, sampai waktu yang tidak dapat diprediksi.
...**********...
Sejak pagi Jessica meluapkan kemarahannya pada siapa pun penghuni rumah yang dia temui, terutama Viola.
Terang saja wanita itu marah, sebab sang suami dengan keras kepala pergi ke panti untuk membujuk Bella pulang. Pria itu bahkan sama sekali tidak memerdulikan Noah yang menurutnya jauh lebih terluka.
Belum lagi mendengar semua laporan Martha soal Viola yang sempat terlihat wara-wiri di wilayah rumahnya dulu. Dia bahkan mengajak bicara salah seorang warga juga di sana.
Hal tersebut tentu saja memantik kebencian Jessica terhadap Viola lebih besar. Wanita itu sama sekali tidak menyangka, gadis muda yang hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga bisa begitu berani menyelidiki majikannya sendiri.
__ADS_1
Akan tetapi, Jessica tentu sudah memikirkan antisipasinya. Jadi, meski berada jauh di luar negeri menemanis sang suami, dia tetap dapat mengetahui kabar di sini melalui Martha dan beberapa orang suruhannya. Hal itu tak lain sebagai bentuk pertahanan diri, sekaligus berjaga-jaga dari orang macam Viola yang berusaha menguak keluarga, mau pun masa lalunya.
"Bersihkan yang benar, Dasar sampaahh!" hardik Jessica pada Viola yang sedang membersihkan dapur kotor rumahnya, seorang diri.
Ini adalah kali ketiga Jessica meminta Viola membersihkan sudut dapur, yang baginya terlihat masih kotor.
Viola tidak dapat melawan. Gadis itu terpaksa menuruti perintah Jessica, meski kini tangannya terasa kebas dan gatal. Maklum saja, Jessica meminta Viola membersihkan dapur menggunakan cairan khusus pembersih tanpa menggunakan sarung tangan.
"Sepertinya ini tidak bisa langsung bersih, Nyonya. Mungkin harus dilakukan dua sampai tiga kali lagi," ujar Viola.
"Kau mau membantah perintahku, hah!" hardik Jessica tepat di depan wajah Viola.
Viola refleks memejamkan mata, guna meminimalisir telinganya yang sedikit berdengung, karena ulah majikan iblisnya tersebut.
Martha tertawa mengejek. Dia bahkan secara terang-terangan berkata untuk tidak sekali-kali mencoba mencari gara-gara di belakang Jessica.
Viola yang mendengarnya tentu saja terkejut. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum sinis.
Firasat soal Jessica dan Martha yang mengetahui gerak-gerik gadis itu ternyata benar adanya. Viola tak perlu repot-repot menanyakan ulah siapa itu, sebab dia tahu benar itu adalah ulah iblis kedua, Martha.
"Siaal sekali wanita la4knat itu!" umpat Viola sembari sesekali mengaduh kesakitan.
Jessica yang masih diliputi hawa kemarahan, semakin menjadi, tatkala melihat kedatangan sang suami yang baru saja pulang dari panti. Namun, perasaannya berubah saat menyadari, bahwa Harold pulang sendirian.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, gadis itu tak akan mau pulang ke rumah. Dia sepertinya sadar diri dengan statusnya di sini," ucap Jessica sinis.
Harold yang dilanda banyak pikiran berusaha mengabaikan ocehan sang istri. Pria itu memilih naik ke lantai dua menuju ruang kerjanya.
Akan tetapi, Jessica yang tidak merasa puas malah berjalan menyusul sang suami.
"Urus lah perceraian mereka secepatnya, seperti yang kau katakan pada Noah, Sayang. Kau tak ingin, kan, melihat putramu terus-terusan menderita?" titah Jessica begitu sampai di ruang kerja Harold.
Harold yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa, sontak menoleh sinis ke arah sang istri.
"Mengapa kau begitu senang mereka bercerai, sedangkan kau tahu sendiri, Noah tidak menginginkannya!" seru pria itu dingin. "Walau Bella belum mau pulang ke rumah, tetapi aku tahu benar, dia memiliki pendapat yang sama dengan Noah." Sambung pria itu.
Mendengar hal tersebut, Jessica mengerutkan keningnya. "Jadi, maksudmu, ancaman soal perceraian hanyalah omong kosong belaka?"
Harold terdiam, enggan menjawab.
Jessica naik pitam. Dia pun mulai meneriaki Harold dan memintanya segera mengurus perceraian, atau kalau tidak, dia yang akan mengambil alih.
Harold yang tidak tahan akhirnya membentak Jessica balik. "Sadarkah kau, kebencianmu pada Bella sudah sangat keterlaluan! Aku selalu diam dan mencoba tidak mencampuri segala arahanmu soal Bella. Semua hal yang kau batasi pada Bella tak pernah kucampuri. Namun, lama-lama hal itu membuat batinku tersiksa, Jesse! Perasaan bersalah pada Nicholas dan Donna semakin hari terasa mencekik!" teriak Harold.
Jessica terkejut. Saking terkejutnya, dia bahkan tidak bisa membalas perkataan sang suami.
Harold beberapa kali terlihat menarik dan mengembuskan napasnya. Pria itu tengah berusaha mengontrol luapan emosinya. "Bella memang tidak meminta untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Aku lah yang mengambilnya di panti, dan aku lah yang mengucapkan janji pada kedua orang tuanya untuk membahagiakan Bella. Namun, ternyata semua yang kulakukan malah membuat hidup Bella tersiksa."
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Harold pergi meninggalkan Jessica.