
Martha berusaha menenangkan hati Jessica yang tengah panas. Dia tak ingin kemarahan Jessica menjadi boomerang bagi mereka berdua.
Akan tetapi, bukannya mereda, kemarahan Jessica malah semakin bertambah begitu melihat Viola. Jessica dengan kasar menarik kasar tangan gadis itu menuju gudang belakang rumah dan menyiksanya. Dia bahkan menghina Viola kasar.
"Sebenarnya berapa gajimu, hingga kau berani menguntitku, gadis siaaalaan!" teriak Jessica murka.
Martha seketika panik. Bukankah mereka berdua sudah berjanji untuk berpura-pura tidak tahu, jika Viola menggali informasi. Namun, sepertinya Jessica tidak peduli soal itu lagi
Wanita itu butuh pelampiasan, dan biasanya dia akan melampiaskan kemarahannya pada Bella.
Viola meringkuk sembari melindungi kepalanya dari teenda ngan Jessica. Kendati tubuhnya kini kesakitan, gadis itu sama sekali tidak menangis, agar Jessica tidak menganggap dirinya lemah.
"Nyonya, stop, Nyonya! Ada Tuan di rumah. Nanti beliau bisa curiga jika melihat Viola!" Martha berusaha menghentikan kebringasan majikan wanitanya itu. Namun, Jessica malah berontak.
"Aku tak peduli! Kalau perlu, aku akan membvnvhnya sekarang juga!" teriak Jessica penuh emosi.
Martha yang ketakutan akan omongan Jessica, buru-buru menahan tubuhnya, dan meminta Viola untuk pergi dari sana.
Viola pun menurut. Tak ingin mati konyol meninggalkan majikan sekaligus sahabatnya, Bella, dia bergegas bangkit dan melarikan diri dari gudang.
Begitu Viola pergi, Martha melepaskan tubuh Jessica. "Baaji ngaan! Kenapa kau malah menolongnya!" hardik wanita itu.
"Saya bukan sedang membela gadis itu. Justru saya sedang menolong Anda, Nyonya! Bagaimana jadinya kalau Tuan Harold tahu, Anda menyiksa seseorang!" Martha yang tidak tahan turut naik pitam. Dia berusaha meyakinkan Jessica untuk menahan diri sejenak.
Wanita itu juga memberi nasihat untuk membiarkan Harold membawa Bella pulang ke rumah ini.
Lama kelamaan kemarahan Jessica pun mereda. Martha segera membawa Jessica keluar dari rumah untuk menghibur diri.
__ADS_1
...**********...
Beberapa hari kemudian.
Bella luar biasa panik mendapati kabar dari Oliver, supir pribadi keluarga Werner, yang datang ke panti, bahwa sang ayah kini tengah sakit keras.
Oliver memohon pada Bella untuk pulang ke rumah demi menemui sang ayah.
Tanpa menaruh kecurigaan, Bella langsung mengiyakan ajakan Oliver. "Aku akan membereskan pakaian-pakaian dulu, Oliver!" seru gadis itu.
"Tidak perlu, Nona. Tak ada waktu!" cegah Oliver.
Tanpa pikir panjang Bella menganggukkan kepalanya. Dia pun pamit pada seluruh penghuni panti dan berkata akan kembali lagi dalam waktu beberapa hari.
"Berhati-hati lah, Nak. Jangan lupa untuk menghubungi kami. Semoga ayahmu dalam keadaan baik-baik saja," ucap Madame Caroline.
Di sepanjang perjalanan, Bella terlihat panik dan gelisah. Sementara Oliver beberapa kali mengintip dirinya melalui kaca spion dengan raut wajah tak terbaca.
Begitu mobil memasuki kawasan rumah keluarga Werner, kerinduan Bella membuncah. Rasanya sudah lama sekali dia tidak menginjakkan kakinya ke tempat ini. Kendati pergerakannya di rumah ini dibatasi, tetapi tetap saja dia memiliki banyak kenangan yang tak mungkin dilupakan.
Tak lama, mobil Oliver berhenti di depan pelataran rumah, bersebelahan dengan mobil Noah.
Sebisa mungkin, Bella mengontrol emosinya agar tidak terbawa suasana. Sebab, baru melihat mobilnya saja, kerinduan pada Noah sudah kembali hadir.
Viola menyambut kedatangan Bella dengan penuh keharuan. Dia memeluk tubuh sang sahabat sekaligus majikannya tersebut, seraya menangis sesenggukkan.
"Saya benar-benar mengkhawatirkanmu, Nyonya," ucap Viola parau.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Viola." Bella membalas pelukan erat Viola.
"Bagaimana keadaan ayahku? Semua baik-baik saja, kan?" tanya gadis itu, begitu mereka saling melepaskan pelukan.
Mendengar pertanyaan yang diajukan Bella, Viola terdiam. Dia melirik sedikit ke arah Oliver, yang kini memilih pergi meninggalkan tempat.
Pria kaku itu pasti mengatakan hal yang dramatis, sampai Bella rela pulang ke rumah.
"Saya tak tahu harus menjawab apa. Sebaiknya Nyonya lihat sendiri, dan saya sarankan untuk mengontrol emosi Anda terlebih dahulu."
Bella sontak mengerutkan keningnya. Saat dia hendak menanyakan lebih lanjut, Viola sudah membawanya ke dalam rumah.
Begitu menginjakkan kakinya di kamar pribadi sang ayah yang dalam keadaan terbuka, Bella bisa melihat seluruh keluarganya tengah berkumpul di sana.
Bella berusaha tidak melihat ke arah Noah yang kini sedang menatapnya penuh kerinduan.
"Bella, kau pulang?" Harold bangkit dari ranjang dan berjalan menghampiri sang putri. Pria itu kemudian memeluk erat tubuhnya.
"Pa, Oliver bilang kalau Papa sedang sakit keras. Apa benar?" tanya Bella seraya menelisik keadaan Harold yang tampak baik-baik saja.
"Oliver berlebihan. Tekanan darah Papa hanya sempat naik, Nak. Namun, kau tak perlu khawatir. Semua baik-baik saja." Harold baru saja berkilah. Pria itu sebenarnya memang membohongi Bella, agar sang putri kesayangannya mau pulang ke rumah.
Bella terdiam sejenak. Dia tahu, sang ayah ternyata hanya berpura-pura sakit. Namun, dia tak mungkin memarahi beliau. Bella mencoba mengerti, bahwa apa yang Harold lakukan semata-mata sebagai bentuk kasih sayangnya.
"Syukurlah, Pa," ujar Bella tersenyum. Gadis itu kemudian menegur Jessica yang tak sudi memandangnya. Namun, gadis itu sama sekali enggan menyapa Noah.
Noah terlihat kecewa.
__ADS_1
Melihat ketegangan di antara mereka, Harold pun meminta keduanya untuk saling berbicara. Dia bahkan menyuruh semua orang pergi dari kamar, untuk memberikan Noah dan Bella privasi.