
Tristan tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, tatkala mendapati sederetan foto-foto yang tertata rapi dalam sebuah album foto tua.
Ada tiga album foto berisi potret seorang bayi perempuan cantik yang diadopsi keluarga Gladwin. Foto-foto tersebut tersusun rapi sesuai masa pertumbuhan si bayi.
Tristan membuka satu persatu album foto dan melihatnya perlahan. Semula, pria itu sama sekali tidak dapat mengenali foto-foto yang berada di dua album sebelumnya, sampai tiba-tiba, saat membuka satu album terakhir, sekujur tubuh Tristan mendadak meremang.
Bagaimana tidak, di sana lah terpampang jelas beberapa foto Bella saat kecil. Foto yang sama dengan yang pernah dia lihat di dinding rumah keluarga Werner. Terlebih, nama yang diberikan keluarga Gladwin sama persis dengan nama Bella. Perbedaan hanya ada pada nama belakang keluarga mereka saja.
Demi membenarkan keyakinannya, Tristan pun menanyakan keberadaan anak tersebut.
"Tidak ada satu pun orang yang menyetujui kehadiran Arabella di keluarga ini. Sebab, mereka memiliki peraturan mutlak soal keturunan asli pewaris keluarga. Jadi, setelah Tuan Nicholas dan Nyonya Donna meninggal, saya terpaksa menitipkan gadis malang itu di sebuah panti asuhan." Sambil berurai air mata, Elizabeth mengatakan hal yang selama ini dia ketahui.
"Butuh waktu bagi saya sampai benar-benar bisa pergi menemui Arabella. Namun, saat saya ke sana, Arabella ternyata sudah diadopsi oleh keluarga baru, dan dari yang saya tahu, keluarga itu merupakan sahabat baik Tuan Nicholas."
Mendengar semua penjelasan Elizabeth, Tristan tak bisa lagi menepis kenyataan yang ada, bahwa Bella memang putri kandung Harold dan Zara yang sebenarnya.
__ADS_1
Detik itu juga, Tristan menelepon Noah, setelah sebelumnya pamit pada Elizabeth. Tak lupa, pria itu meminta beberapa lembar foto Bella saat bayi dan berjanji akan mengembalikannya lagi.
...**********...
Noah terbangun di atas ranjang rumah sakit. Pria itu mengembuskan napasnya, tatkala menyadari bahwa dirinya ternyata tidak sadarkan diri.
Dibantu Tristan yang baru saja tiba di rumah sakit, Harold segera menghampiri sang putra. "Noah, kau baik-baik saja?" tanya Harold khawatir.
Noah menoleh ke arah sang ayah dan mengangguk. Pria itu pun berusaha bangkit dari posisinya.
Menyadari kehadiran Tristan, ingatan Noah kembali pada kabar soal Bella. Noah menoleh menatap Tristan dengan pandangan yang sulit dibaca.
Tanpa sepengetahuan Harold, Tristan menggelengkan menggelengkan kepalanya sekali.
Bertahun-tahun mengenal Tristan, membuat Noah tahu benar beberapa gestur tubuh pria itu, termasuk yang satu ini.
__ADS_1
Tristan sudah pasti belum mengatakan apa pun pada Harold soal kebenaran Bella. Sahabatnya tersebut pasti ingin agar Noah yang mengatakan semua sendiri pada sang ayah.
Masalahnya, apa Noah sanggup melihat reaksi Harold? Bagaimana kalau pria paruh baya itu tiba-tiba berubah membencinya, karena tahu bahwa selama ini Noah selalu memusuhi Bella?
Harold tak pernah benar-benar menghakimi dirinya, meski tahu dia tak pernah menyukai Bella. Namun, setelah tahu bahwa Bella merupakan putrinya, apa pun bisa Harold lakukan.
Rasa takut tiba-tiba membelenggu diri Noah. Sejenak pria itu berlaku seperti seorang peng3cvt rendahan.
"Pa," panggil Noah dengan nada sedikit bergetar.
"Iya, Nak. Apa ada sesuatu yang kau butuhkan? Biar Papa panggilkan perawat. Kau cukup beristirahat saja ya? Tubuhmu tidak dalam kondisi yang cukup baik."
Mendengar kalimat penuh kasih sayang yang terlontar dari mulut Harold, mata Noah mendadak basah. Hatinya nyeri memikirkan betapa penuh kasih sayang yang Harold berikan, sedangkan Bella harus mengalami hal sebaliknya selama belasan tahun tinggal bersama mereka.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan." Sesaat setelah mengatakan hal demikian, setetes air mata mengalir membasahi pipi Noah.
__ADS_1