Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
26. Perasaan yang Sama.


__ADS_3

Sejak pertengkarannya dengan Bella tiga hari lalu, Noah sempat tidak pulang ke apartemen dan memilih menginap di kediaman Tristan. Pria itu bermaksud menenangkan diri di sana.


Persahabatan yang terjalin selama belasan tahun membuat Noah tanpa ragu menceritakan masalahnya dengan Bella, pada pria itu.


"Aku tak ingin mendengar apa pun lagi. Malam ini kau harus pulang, Noah!" titah Tristan tegas.


"Tidak. Aku muak melihat wajah gadis j4l4ng itu!" sahut Noah kurang ajar.


"Dia bukan gadis j4l4ng, dan kau harusnya sadar siapa yang benar-benar bersalah di sini. Kalau saka kau mau memberinya nafkah, Bella tentu tidak akan bekerja sebagai penjaga kantin di kantormu, Bodoh!" sentak Tristan keras. Pria itu tampak tak suka dengan penghinaan yang terlontar dari mulut Noah. Dia sudah muak mendengar celotehan Noah yang terus menyalahkan Bella dan pernikahan yang terjadi di antara mereka.


"Jadi, kau kini lebih membela gadis itu?"


"Ya!" jawab Tristan tanpa pikir panjang. Helaan napas keluar dari mulut pria itu setelahnya. "Yang harus kau tahu, Noah, kesakitan Bella jauh berkali-kali lipat lebih besar dari pada dirimu. Apa lagi dengan kelakuan samp4hmu bersama Renatha."


...**********...


Kendati mereka baru saja bertengkar, Bella tetap tidak dapat menahan kekhawatirannya selama tiga hari ini.


Sudah dua hari gadis itu dengan setia menanti kedatangan Noah di pintu apartemen. Bella bahkan baru bisa terpejam dengan nyenyak pukul satu pagi, demi menunggu kepulangan sang suami.


Bella juga tidak tahu, apakah Noah berangkat ke kantor atau tidak.


"Sepertinya aku harus mengubungi Kak Tristan," gumam Bella. Biasanya satu-satunya orang yang tahu keadaan Noah selain keluarga adalah Tristan, sahabat baik Noah sendiri.


Baru saja Bella mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba pintu apartemen terbuka.


Bella bergegas lari ketika mendapati sosok Noah muncul dalam keadaan limbung.


"Kak!"


Noah mengangkat kepalanya dan menatap Bella datar. "Pergi," ucapnya parau.

__ADS_1


Bella tidak menjawab, gadis itu tetap bersikeras membantu memapah Noah, meski mendapat sedikit perlawanan.


"Jangan banyak bergerak, kau bisa jatuh," ujar Bella mengingatkan. Namun, Noah dengan keras mendorong gadis itu agar menjauh.


"Jangan berani menyentuhku, gadis sial!" umpatnya kasar. "Kau adalah gadis pembawa sial. Kehadiranmu membuat hidupku berantakan!" racau Noah.


"Memangnya kesalahan apa yang sudah kuperbuat, hingga menyebabkan Maria pergi bersama pria lain? Aku juga memiliki luka sendiri, dan kau tidak berhak melarang caraku menyembuhkan luka, walau harus berhubungan dengan wanita lain!" teriak Noah.


Bella terdiam mematung. Entah mengapa, bukannya marah mendengar pengakuan Noah, Bella justru merasa iba.


Selama ini Noah ternyata masih menyimpan luka atas pengkhianatan Maria, dan bersama Renatha lah Noah berusaha menyembuhkan lukanya.


Bella memahami kesakitan Noah. Gadis itu tak lagi memikirkan pertengkaran mereka.


Perlahan Bella berjalan kembali menghampiri Noah. Dengan gerakan selembut mungkin, Bella memeluk tubuh sang suami. Gadis itu bahkan mengelus lembut kepala Noah yang rebah di pundaknya.


Perasaan marah yang semula meletup bagai lahar panas, tiba-tiba teredam. Noah hendak meronta melepaskan diri, tetapi entah mengapa, tubuhnya enggan melepaskan pelukan hangat ini.


Detik itu pula Bella menyadari benar, bahwa keputusannya menerima pernikahan ini bukan hanya sekadar balas budi belaka.


Ada perasaan lain yang hinggap di diri gadis itu. Perasaan yang hadir pada masa remajanya dulu. Perasaan yang Bella pikir sudah hilang tak berbekas.


...**********...


Bella tampak sedikit bersemangat menjalani hari-harinya di tempat kerja. Dengan cekatan dia mampu menyelesaikan seluruh tugas dalam waktu kurang dari biasanya.


Tak hanya itu saja, Bella dengan ramah menawarkan bantuan pada Emma dan Joanna yang tampak kesulitan mengerjakan tugas mereka. Gadis itu bahkan terlihat jauh lebih tegar menghadapi bentakan Queen, yang selalu saja berusaha menemukan kesalahan kecil pada setiap pekerjaannya.


Apa lagi kalau bukan karena Noah? Meski hubungan mereka masih sangat dingin, tetapi berkat bantuan Tristan, Bella akhirnya mendapatkan izin untuk tetap bekerja di sana.


Kendati berbagai persyaratan harus Bella setujui, gadis itu sama sekali tidak keberatan. Baginya, bekerja sama saja dengan menghirup udara bebas. Dia tak perlu lagi terkurung dalam istana megah seperti dulu.

__ADS_1


Berkat bantuan dan nasihat Tristan juga lah, Noah berkenan memberikan uang belanja untuk sekadar mengisi kulkas mereka yang sering kosong. Bella tak perlu lagi merasa risau. Dia bisa kembali menabung seperti dulu.


"Bella, tolong kemari sebentar!"


Bella baru saja selesai menata baki prasmanan di depan, ketika Peter tiba-tiba meminta tolong padanya untuk membawa dispenser kaca sendirian.


"Kau bisa membawanya, kan, Bella? Aku yang akan membawa isinya," ujar Peter.


Bella meringis. "Aku tak yakin bisa, Pet," jawab gadis itu jujur.


"Kau pasti bisa. Ini hanya dispenser kaca kosong. Kau bawa dispenser ini dan aku akan membawa isinya, dengan begitu kita tak perlu bolak-balik lagi. Oke!" seru Peter meyakinkan Bella.


Bella terdiam sejenak. "Bagaimana kalau kita bertukar saja? Aku yang bawa airnya dan kau yang bawa dispensernya," tawar gadis itu.


Peter terdiam sejenak, sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. "Ok, tetapi dispenser itu jauh lebih ringan dibanding isinya. Apa kau yakin?" tanya pria muda itu ragu.


Bella mengangguk mantap. Kejadian beberapa waktu lalu membuat gadis itu lebih banyak bersikap hati-hati, ketika berhubungan dengan benda pecah belah. Dia tentu tak ingin memecahkan barang kantin untuk kedua kalinya.


"Baiklah." Peter memberikan troli yang hendak dia bawa kepada Bella, sementara pria muda itu mengangkat dispenser kaca berukuran cukup besar.


Perlahan Bella melangkah keluar dari dapur menuju tempat display. Sudah ada beberapa karyawan yang datang ke tempat tersebut, beberapa di antaranya terlihat asik bergurau satu sama lain sambil menunggu makanan siap. Mereka sama sekali tidak menyadari posisinya yang menghalangi kedatangan Bella dan Peter.


"Permisi, permisi!" seru Bella dengan langkah tertatih. Dia sempat berhasil melewati salah seorang karyawan yang sedang sibuk melihat ponsel, tetapi tidak dengan tiga karyawan yang sedang bergurau tersebut.


Hal yang Bella takutkan pun terjadi. Salah seorang dari tiga karyawan tersebut tanpa sengaja menyenggol troli Bella, hingga menyebabkan isi dari minuman yang dia bawa tumpah berhamburan di lantai.


Tak hanya itu saja, Bella juga sempat menabrak Peter yang berjalan di belakang gadis itu. Namun, Peter dengan sigap menghindar demi menyelamatkan dispenser yang dibawanya.


Bella pun tersungkur di lantai dengan cukup keras.


Orang-orang yang sedang berada di kantin sontak berteriak, beberapa di antaranya menolong gadis itu.

__ADS_1


Queen keluar dengan wajah marah. Bukannya membantu Bella bangun, gadis itu malah menghardiknya keras.


__ADS_2