Tangisan Seorang Istri

Tangisan Seorang Istri
77


__ADS_3

melysa tak bisa berfikir lagi


ia buru buru mengeluarkan mobil dan menjemput suami nya dalam perjalanan melysa


berfikir sendiri siapa yang sakit


apa yang terjadi


hingga tampa melysa sadari


hampir menabrak tiang


sssssit melysa kaget setengah mati," ya allah hampir saja"


ucap melysa


tidak berapa lama tiba lah melysa di kantor suami nya


karna panik melysa tidak menyadari klo dia tidak memakai als kaki


semua staf kantor sudah mengenal melysa dengan baik


klo sudah panik ya begitu


"deny apa bapak ada??


tanya melysa pada salah satu karyawan rizwan


"ada buk "


melysa berlalu menuju ruangan suami nya


sebelum masuk melysa


tak lupa mengetuk pintu dulu


tok tok tok


"masuk, ma...,"


"ko tau mama yang datang ,"


"ya tau lah ma.


siapa lgi yang heboh coba


klo bukan istri papa,


coba mama lihat ke bawah


istri seorang direktur gak pakai alas kaki,"


he he he


melysa sejenak lupa kalau dia


sedang menjemput suami nya


oia ma.kenapa buru buru gitu??"


"oia pa sampai lupa mama


sintia menelpon


menyuruh kita ke rumah sakit sekarang "


"tapi kenapa ma ??


tia gak cerita apa apa tu,"


ucap melysa


"sebaik nya secepatnya kita


kesana siapa tau dia kecelakaan .ma".ucap rizwan


rizwan dan melysa mempercepat langkahnya


menuju mobil sepanjang perjalanan


mereka hanya diam


setelah menempuh perjalanan


kurang lebih 45 menit akhirnya


mereka pun sampai


di rumah sakit


dan sintia sudah menunggu nya di depan rumah sakit


melysa turun lebih dulu


sementara rizwan memarkir kan mobil nya


melysa langsung menghampiri


sintia..,


"kamu kenapa tia???


tanya melysa


"bukan aku mbak" ucap sintia


"lalu siapa?? "


tanya melysa


"AQira mbak perut nya keram "


"lalu riski dimana??


sintia tidak menjawab


hanya menggelengkan kepala nya,

__ADS_1


belum sempat melysa bertanya lagi rizwan sudah datang


dan bertanya.dan tentu saja


melysa dan sintia tidak bisa


berbohong lagi


"siapa yang sakit tia ???"


tanya rizwan


"aqira mas "jawab sintia gugup


"sakit apa?? dimana riski?"


"klo riski aku tidak tau


kalo aqira.....,"lagi lagi sintia gugup


karna dia tau klo rizwan sudah marah seperti apa


"jawab tia "ucap rizwan yang suara nya mulai meninggi


"jawab saja tia " ucap melysa tidak apa apa ko"


"perut nya keram mas"


"astaga di mana dia tia"


sesampainya di depan ruangan


aqira rizwan mulai panik seakan memori nya tentang


dewi kembali lgi


kenapa bisa begini ya allah


tidak lama kemudian


Rizwan sadar klo dia tidak boleh cengen begitu


"ayo ma..,"kemana pa ??"


"melihat aqira ma..."


"ayo pa kasihan dia sendiri


ayo tia ucap melysa


sentia ,melysa dan rozwan melangkah menuju ruangan tersebut sesampainya di sana rizwan benar benar syok


melihat kondisi


aqira dia seakan melihat sosok dewi di sana,


ya allah aku mohon selamat kan lah putri ku itu


batin rizwan sambil pejam kan mata.


di tempat lain


dia tidak tau bagaimana keadaan aqira


setelah hampir magrib baru lah


dia sadar klo


sudah satu hari dia tifak mendengar kabar dari aqira


tampa pikir I meraih ponsel


nya dan mencari nama yang akan di telpon nya


setelah di coba berulang ulang


tapi tetap tak ada jawaban


riski mulai hawatir


ayo lah sayang, jangan ngambek donk


batin riski


didalam kehawatiran nya tiba tiba riski memikir kan


sesuatu ."ya allah lindungilah


keluarga kecil ku"


Riski pun buru buru


keluar kantor ,menuju parkiran


mobil, dengan perasaan tak menentu Riski membawa mobil


kecepatan tinggi


sehingga tidak butuh waktu lama untuk riski sampai di kediaman andere


karna perasaan takut kalau sandara melakukan sesuatu


tampa salam Riski pun masuk saja menuju kamar utama yaitu kamar mereka Riski dan aqira


sesampainya di kamar Riski


memanggil aqira


"sayang kamu di mana ??"


berulang kali riski


memanggil aqira namun yang di panggil tak kunjung kelihatan


riski semangkin panik tampa pikir panjang riski berjalan menuju kamar mertuanya


tok tok tok

__ADS_1


riski mengetuk pintu dengan keras membuat si ular betina bangkit dari tidur sore nya


"siapa sih ?"


"sandara bangun. dimana kau sembunyikan aqira??"


ucap riski dengan amarah nya


mengdengar suara riski


yang keras terdengar di seluruh rumah karna marah ,


akhir nya pembantu rumah andere keluar dari dapur


"den...,non aqira di rumaj sakit "


"tapi kenapa bik ? apa yang terjadi? tanya riski


semangkin hawatir


"tadi siang non aqira mengalami keram den, "


"kenapa bibik tidak menelpon saya, "


"non Aqira melarang saya


menghubungi aden"


"oya..., bibik nurut saja gitu.


bagaimana kalau anak dan istri saya kenapa napa bik ,


lain kali jangan mengulangi kesalahan ini lagi bik "


"maka nya jadi suami siaga donk istri sakit suami malah kelayapan


benar benar gak bertanggung jawab jadi suami"


ucap sandara yang menyindir riski,"


beruntung Riski cepat sadar bahwa tidak ada guna nya melawan ular saat ini


"den sebaik nya aden cepat telpon non sintia,"


"kenapa sintia bik ??"


"non Aqira menelpon non sintia"


,"oh tidak....,tamat lah riwayat ku


kalau sampai papa


tau kalau Aqira sakit aku gak ada, di sisi nya maka habis lah aku, sayang kenapa harus sintia sih, kenapa gak menelpon mas aja,


perasaan Riski jadi tidak karuan


aku harus menghadapi kemarahan papa,apa pun yang terjadi ,


"bik aku pergi dulu


Aslamualaikum "


"waalaikumsalam den hati hati


di jalan jangan ngebut ngebut


ya nak "ucap pembantu rumah


aqira yang memang sudah seumuran nenek nya


riski pun berlalu meninggal rumah, menuju rumah sakit


di mana di sana ada aqira sedang di rawat


sedangkan rizwan masih kelihatan syok


sintia dan melysa tidak berani


bertanya karna rizwan kelihatan nya sedih sekali


tepat jam 7 malam Riski tiba di rumah sakit setelah


menemui dokter keluarga mereka,


setelah mendengar kan


penjelasan dokter


bahwa Aqira hanya sedikit setres akibat perdebatan nya


tadi pagi ada rasa bersalah di hati Riski ,


walaupun begitu Riski tak kan lolos dari kemarahan rizwan


dengan langkah pasrah Riski menemui kedua orang tua nya


"Aslamualaikum "


"waalaikum salam" jawab rizwan tampa melihat siapa yang memberikan salam


setelah beberapa saat baru lah dia sadar kalau itu ada lah suara putra nya Riski


"barani sekali kau memperlihatkan


wajah mu di hadapan papa .?


"Riski minta maaf ,pa"


"apa kau tau betapa takut nya papa ,"


"iya pa. riski ngerti ko


jangan hawatir pa, ma Aqira


baik baik saja ko dia hanya setres "


"benar kah keram nya tidak serius nak?? "tanya rizwan

__ADS_1


iya pa riski serius ko


sekarang papa sama mama dan sintia bisa istrahat,


__ADS_2