
POV Leo
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya aku sampai di new York.
aku tinggal di apartemen pribadi ku. ketika aku mengaktifkan kembali ponselku ku lihat begitu banyak pesan singkat dari Lia.
"ah sayang kau membuatku begitu merindukan mu" gumamku ketika membaca pesan singkat dari Lia.
Tak terasa sebulan telah berlalu, aku begitu sibuk dengan tugas-tugas ku disini sehingga waktuku tak pernah ku luangkan hanya untuk berkomunikasi dengan pacarku yang ada di tanah air. aku yakin pasti Lia sudah marah terhadap ku karena pesan singkatnya tak pernah ku balas.
Sekarang aku sedang berada disebuah restoran, aku sedang menunggu mitra kerjaku kami akan mengadakan rapat disini. aku mengirimi Lia pesan singkat agar dia tidak mengkhawatirkan aku.
"maaf sayang baru bisa kabarin kamu sekarang. kerjaan ku lagi banyak banget sekarang. I Miss you so much 😍"
setelah selesai rapat aku langsung kembali ke apartemen. ku ambil ponsel disaku ku dan menekan nomor seseorang yang sangat ku rindukan
"hallo sayang" sapaku begitu ku panggilan terhubung
"kamu kemana aja sih ?, aku kangen banget. kenapa gak pernah balas pesanku ? kamu jahat" ucap Lia dengan nada kesal
mendengar Lia yang terdengar sangat kesal kepadaku membuat aku berfikir keras untuk membujuknya
"aku kan kerja sayang. maaf ya jangan marah dong. atau gini aja sayang, aku batalin semua kerjaan aku yang disini terus aku pulang ke Indonesia" ucapku berpura-pura serius
"ih jangan lah. ya udah aku gak marah lagi, tapi setidaknya beri aku kabar mu sayang"
"iya sayang diusahakan" balasku cepat
sepanjang malam aku dan Lia mengobrol via telepon. banyak hal yang kami ceritakan, sesekali aku menggodanya.
Hari ini aku menghadiri acara pernikahan teman kerjaku. setelah aku memberikan ucapan selamat aku berjalan menuju tempat makanan untuk menikmatinya. namun tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutku sontak aku kaget dan menghempaskan tangan itu dengan kasar.
__ADS_1
"aw, kasar amat sih kamu leo. sakit tahu" ucap seseorang yang suaranya kukenali ku beranikan diri untuk berbalik dan ternyata dugaanku benar orang itu adalah Sheila
"bagaimana dia bisa berada disini" gumamku dalam hati
"memang kalau jodoh enggak kemana ya, buktinya kita selalu ketemu" ucap Sheila dengan penuh percaya diri
"maaf Sheila aku pergi dulu" ucapku agar terhindar darinya.
"sayang jangan pergi dong" rengek Sheila lalu memelukku. sontak semua mata tertuju pada kami berdua.
"jadi ini bro wanita mu, pantas saja kau menolak ku dekatkan dengan Erin sepupuku" sahut rayen yang sedari tadi berada disampingku
"Sheila apa-apa sih Lo, berhenti bertingkah rendahan seperti ini, dan jangan dekat-dekat sama gue. Lo lupa kalau gue udah punya velia" bentakku
"uh galak bener sih beb, jangan khawatir aku lebih hebat kok dari wanita kampung itu. kau akan lebih menikmati permainan ku sayang" ucapnya berusaha menggodaku
"lagian emang kamu yakin di sana dia tidak tidur dengan pria lain. atau mungkin saja dia selalu ditiduri pria yang berbeda tiap malam. ingat sayang dia itu sejak dulu murahan dan akan selalu begitu" sambungnya menghina Lia. hatiku begitu sakit mendengar penghinaan Sheila emosiku.
aku menampar Sheila lalu memakinya, malam ini Sheila sudah membuat emosiku memuncak.
<~~~~~~~~>
Sudah 4 bulan berlalu setelah kepergian Leo ke new York, dan selama 4 bulan ini aku dan leo sering bertengkar. leo semakin berbeda setiap harinya kadang dia marah-marah tanpa sebab.
sudah 1 Minggu kami tidak saling berkomunikasi, namun karena terlalu merindukannya aku menurunkan egoku dan ku ambil ponselku lalu aku menghubungi nomor telepon nya.
tuuttt... tuuttt... tuuttt
setelah beberapa kali ku hubungi akhirnya leo menerima panggilanku
__ADS_1
"ada apa?" tanya leo dengan nada cuek
"apa kabar sayang" jawabku dengan tenang
"baik. ada perlu apa Li? tolong jangan berbasa-basi aku lagi sibuk banget nih" ucapnya tanpa balik bertanya tentang kabarku
"baiklah. hati-hati disana ya. aku merindukan mu" ucapku namun tak dijawab oleh leo, dia langsung mengakhiri panggilan ku
"kenapa kamu seperti ini le? apa yang membuat mu berbeda?" gumamku
begitulah Leo dalam 1 bulan belakangan ini, dia selalu menanggapiku dengan cuek. lagi-lagi aku mengis hingga tertidur.
derttt.... derttt...
aku terbangun karena ponselku selalu bergetar, ku lihat panggilan dari Ferry
"halo fer"
"vei Lo dimana? kok belum ada dikantor. bentar lagi ad rapat penting" ucap Ferry mengagetkan ku
"mampus gue. udah dulu ya gue siap-siap dulu" jawabku lalu mengakhiri panggilan Ferry.
Dikantor...
"semalaman Lo ngapain aja sih kok bisa sampai telat bangun gitu" tanya Ferry saat kami sedang dalam perjalanan ke cafe untuk makan siang setelah selesai rapat.
"gak ada. cuman gak boleh tidur aja" ucapku tanpa menoleh
"vei, Lo nangis lagi ya semalam. tuh mata Lo sembab" ucap Ferry. aku hanya diam lalu menunduk.
setelah sampai di cafe aku menceritakan semua pada Ferry dan lagi-lagi aku menangis. entah sudah keberapa kalinya aku menangis didepan Ferry aku pun lupa karena hampir setiap kali aku bercerita tentang Leo aku selalu menangis.
__ADS_1