Teman Kecilku Jodohku

Teman Kecilku Jodohku
sisi lain dari rayen


__ADS_3

Setelah itu kami kembali ke hotel dan beristirahat. aku begitu lelah sehingga begitu sampai di hotel aku langsung tertidur pulas.


Besok paginya rayen membangunkan ku dan menyuruhku untuk bersiap-siap karena kami akan pulang.


setelah selesai bersiap-siap kami berangkat pulang. disepanjang perjalanan aku hanya tertidur karena tubuhku begitu lelah.


"sayang.. kita sudah sampai di lobi apartemen mu. bangunlah" ucap rayen


perlahan ku buka mataku dan benar saja ternyata kami sudah berada di lobi apartemen ku.


"kamu gak mampir dulu sayang?" tanyaku


"enggak sayang, aku ada meeting penting siang ini" ucap rayen


"baiklah hati-hati dijalan ya. bye" ucapku lalu ku kecup pipinya dan aku turun dari mobil dan berjalan menuju apartemen ku.


setelah sampai di dalam apartemenku aku langsung beristirahat hingga siang hari. aku terbangun karena perutku yang keroncongan. saat aku bangkit dari tidurku tiba-tiba ponselku berdering dan ku lihat panggilan masuk dari Ferry.


"halo fer. lama tidak menghubungi ku. apakah kau melupakan ku ?" tanyaku begitu aku mengangkat telponnya


"haha bagaimana mungkin aku melupakanmu. oh iya bagaimana kabarmu vei?" tanyanya


"aku baik-baik saja. kabarmu bagaimana?" tanyaku kembali


"tidak begitu baik" jawabnya


"apakah kau sedang sakit?" tanyaku panik

__ADS_1


"iya vei. hatiku sakit karena begitu merindukan mu. haha" ucap Ferry tertawa


"aku pun merindukanmu fer" jawabku


"bagaimana mungkin kamu mengatakan merindukan ku tapi tak pernah pulang ke kota ini" ucap Ferry yang membuatku terdiam.


Ferry benar, aku tak pernah kembali pulang hanya untuk sekedar bertemu mama dan papaku.


"aku masih begitu sibuk disini fer" ucapku berbohong


"benarkah? baiklah vei. oh iya sudah dulu ya aku ada kerjaan nih" ucapnya


"okelah. sukses selalu fer. bye" ucapku lalu ku akhiri panggilan telpon.


tok... tok... tok...


"sayang ada apa?" ucapku ketika melihat rayen yang begitu terburu-buru


"kamu dari mana aja sih? habis nelpon sama siapa?" ucap rayen dengan nada kesal


"nelpon?... oh itu tadi teman kantorku dulu" ucapku


"siapa? wanita atau pria?" ucap rayen


"pria" jawabku singkat


"berani-beraninya kau berbicara dengan pria lain. apa aku kurang membuatmu puas?" ucap rayen dan langsung menyerangku.

__ADS_1


rayen menidurkan ku di sofa dan ditindihnya tubuhku lalu menciumi ku secara paksa. kali ini ciuman rayen berbeda dari kemaren. air mataku terjatuh dan ku rasakan ketidak tulusan rayen saat mencium ku.


"hiks... hiks... ada apa rayen, mengapa kau begitu kasar?" tanyaku dengan Isak tangis


Rayen tidak menjawabku, begitu mendengar isakan tangis ku rayen berhenti menciumi ku secara paksa.


"maafkan aku sayang, tapi Ferry hanyalah teman lama ku. hubungan kami tidak lebih dari sekedar teman" ucapku dengan deru air mata


"maaf vei, aku pun tak mau melakukan nya begitu. tapi perlu kau ketahui aku tak suka kau bergaul dengan pria lain kecuali aku" ucap rayen lalu pergi meninggalkan apartemen ku.


<~~~~~~>


Tak terasa sudah 6 bulan aku berpacaran dengan rayen, namun semakin hari tingkah rayen semakin tak ku mengerti.


Tubuhku bagai candu bagi rayen, tak sehari pun ku lewatkan tanpa memuaskan nafsunya. walau aku masih tetap bisa menjaga keperawanan ku.


Setiap bertemu dengan ku rayen selalu mencumbui ku. rayen memintaku untuk selalu menggunakan rok ke kantor dan datang ke ruangannya saat makan siang, bukan untuk makan bersama namun untuk memuaskan nya dengan mencumbui tubuhku.


tak sampai disitu, saat pulang kantor pun rayen selalu mengelus-elus pahakj hingga daerah kewanitaan ku di lift tak peduli saat orang-orang rame didalam, aku selalu menahan desahanku yang diakibatkan oleh sentuhan rayen.


Sekarang aku merasa diriku begitu murah, beberapa kali aku menolak untuk dicumbui oleh rayen namun aku mendapatkan perlakuan kasar darinya, saat aku tak masuk bekerja dia akan datang ke apartemenku dan tak memberikan ku jeda istirahat.


beberapa kali rayen selalu memintaku menyerahkan mahkota berharga yang selalu ku jaga, namun aku selalu berhasil menolaknya.


pada suatu ketika Ferry pernah menemui ku di kantorku dan rayen mengetahuinya. saat rayen mengantarku pulang, disepanjang perjalanan dia selalu memakiku dan ketika sampai di apartemen ku dia langsung mencumbui ku dengan kasar.


"bagaimana aku mengakhirinya Tuhan?" ucapku ketika rayen telah pergi meninggalkan ku sendiri di kamar apartemen ku.

__ADS_1


__ADS_2