
setelah selesai mengemasi barang-barang ku, Ferry membawaku kemana pulang ke rumahku.
"tapi fer bagaimana kerjaan ku yang disini?" tanyaku
"udah lupain aja. kapan kamu siap kamu bisa langsung memimpin perusahaan ayahmu, karena sekretaris ku sudah mengurus surat pengunduran dirimu" jawabnya
"a..apa ? sekretaris?" tanyaku heran karena setahuku Ferry tak punya sekretaris karena jabatannya tidak begitu tinggi diperusahaan
"oh iya aku lupa kamu kan belum tahu, setelah kami pindah ke kantor cabang, sebulan kemudian aku Risen dan mengganti kan papaku untuk memimpin perusahaan milik keluarga yaitu Thomas grup" jelasnya
"Thomas grup? itu kan salah satu perusahaan besar. jadi kamu anak dari Om Mario Thomas?" tanyaku kaget
"hehe iya. papaku Mario Thomas dan namaku Ferry Thomas" ucapnya sambil tersenyum
"jadi mengapa kau memilih menjadi karyawan di perusahaan kecil?" tanyaku lagi
"karena perusahaan yang tempat kita bekerja dulu merupakan anak cabang dari Thomas grup. jadi aku ingin melihat kinerja karyawan-karyawan papaku" jelasnya aku hanya mengangguk
"jadi kau sendiri mengapa tidak meneruskan perusahaan papamu? bukan kah AN group perusahaan yang besar juga?" tanyanya
"bagaimana kau tahu perusahaan papaku?" tanyaku
"kemarin ketika ada rapat kerja sama dengan AN group aku bertemu papamu dan ternyata beliau adalah CEO dari perusahaan tersebut sehingga aku tahu jika kamu pewaris satu-satunya dari AN group" jelasnya
__ADS_1
"yah begitulah fer. aku ingin berdiri sendiri tanpa campur tangan papaku, namun apa yang kudapat sekarang. lagi-lagi aku hampir diperkosa oleh lelaki bejat" ucapku dengan suara lemah
Aku tak tahu apa dosaku dimasa lalu, kenapa kisah cintaku selalu berakhir dengan sebuah pelecehan seksual.
"vei, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Ferry yang membuatku penasaran
"bertanya tentang apa fer" ucapku
"tentang leo" ucapnya dengan berhati-hati, aku hanya diam ketika mendengar nama Leo lagi
"bagaimana perasaan mu saat ini kepadanya? apakah kau masih mencintainya ?" tanya Ferry
"tidak fer. sudah lama aku melupakan nya, semenjak rayen muncul di kehidupan ku, leo benar-benar telah hilang dari hatiku" ucapku
"apa kau tak ingin tahu tentang kebenaran dia dan Sheila? tentang anaknya maksudku" ucap Ferry
"tapi vei bagaimanapun kau dan leo dulu pernah bersahabat. kau pasti lebih mengenalnya dari pada siapapun. apa kau yakin dulu dia melakukan itu dengan Sheila?" tanya Ferry
Pertanyaan Ferry kali ini membuatku kembali berpikir akan sikap leo. memang leo merupakan pria yang baik, dan setahuku Leo tidak akan melakukan hal itu namun kenyataannya Sheila sedang mengandung saat itu.
"aku mau tidur fer. aku tak ingin membahas yang sudah berlalu" ucapku mengelakkan pertanyaan Ferry
Aku menutup mataku dan diam sepanjang perjalanan menuju kota kelahiranku, kota yang penuh dengan kisah indah serta kota yang sudah lama kurindukan.
__ADS_1
Setelah pesawat kami take-off Ferry membangunkan ku, dan kami berjalan menuju mobil yang telah menunggu kami
"vei, kenalin ini sekretaris ku Rico" ucap Ferry
"hai nona Novelia saya Rico. senang bertemu dengan nona" sapa Rico
"senang bertemu dengan mu kembali Rico" balasku
Rico pun menjalankan mobil menuju rumahku, setelah sampai dirumah aku langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah yang begitu ku rindukan
"mama...... papa....." teriakku sambil menangis
"sayang... putri kecilku. bagaimana keadaan mu nak?" tanya papaku
"apa ada yang terluka sayang?" sambung mama
"aku baik-baik aja pa, ma. untung ada Ferry yang menolongku saat itu, kalau tidak mungkin aku tidak akan bertemu kalian lagi sekarang" ucapku sambil memeluk mereka sangat erat
"terimakasih Ferry sudah mau menjemput putri kecil om" ucap papaku
"mari kita makan malam bersama sebelum kamu pulang" ajak mamaku
"sama-sama om. maaf Tante masih ada kerjaan yang harus ku lakukan. sepertinya lain kali aku akan makan bersama kalian" ucap Ferry
__ADS_1
"baiklah. hati-hati dijalan nak Ferry" ucap papaku
Akupun makan malam bersama mama dan papaku, aku bercerita tentang apa yang kualami selama jauh dari mereka dan tentang semua perbuatan bejat rayen. aku menangis mengingat semua perbuatan rayen terhadapku, lalu mama menenangkan ku dan menemaniku tidur di kamarku