
Setelah pulang ke hotel aku langsung menghubungi pihak perusahaan memberitahukan bahwa aku akan pulang besok.
Didalam kamar hotel aku selalu menangis, sekujur tubuhku begitu lemas, ingin aku memaki diriku sendiri yang tak mampu menjaga seseorang yang ku sayang.
Ku bereskan barang-barang ku dengan isakan yang tak kunjung berhenti. sesekali aku
memandang ponselku dan berharap leo menghubungiku dan memberikan klarifikasi bahwa semua ini hanyalah bohong. namun ponselku tak kunjung berdering.
"bagaimana aku bisa menerima ini semua leo, bagaimana hatiku yang sudah berantakan ini" ucapku diiringi dengan isakan tangis
"kau begitu tega le, kau tega terhadap ku"
derttt... derttt...
__ADS_1
ponselku bergetar dan kulihat nomor tak dikenal, dengan hati yang berat ku angkat.
"hai velia" ucap Sheila
"ada apa lagi Lo hubungin gue"
"haha gue cuman mastiin Lo gak konyol dengan bunuh diri di negara orang. oh iya gue juga turut prihatin sama Lo, kasihan banget ya. tapi Lo pantes sih dapatin nya, karena apa karena Lo R E N D A H A N. gak pantes sama leo, wanita murahan akan selalu murahan" ucap Sheila dengan menekankan kata rendahan lalu mematikan panggilan nya.
Hatiku semakin hancur mendengar ucap Sheila. Ingin aku memaki maki nya namun tak mampu ku lakukan.
"maafin aku Lia, aku tak melakukannya. percayalah" bisiknya saat memelukku, aku hanya diam tanpa berniat membalas pelukannya.
"Lia percayalah, aku tak akan melakukan hal seperti itu terhadap wanita yang belum kunikahi"
__ADS_1
"cukup leo, jangan menjadi seorang pecundang yang hanya menikmati enaknya dan tidak mau bertanggungjawab" ucapku sambil mendorong tubuh leo agar terlepas dari pelukannya
"aku tak berbohong Lia, aku pun tak tahu apa yang terjadi. tiba-tiba aku terbangun sudah berada didalam satu kamar dengan Sheila" ucap Leo namun aku langsung menampar nya.
"sudah cukup. aku tak ingin bertemu dengan mu lagi, dan kisah kita sudah usai." ucapku dengan isakan tangis yang tak mampu ku sembunyikan lagi lalu aku memasukki taksi dan pergi ke bandara.
Selama dalam pesawat isakan ku tetap tak berhenti, membuat wanita separuh tua yang berada disampingku menatapi ku dan bertanya kepada ku, lalu aku menceritakan semua kisahku dan leo kepada wanita tersebut.
"sabar nak, dalam sebuah hubungan akan ada hal yang selalu menggodai kita. Apalagi saat jarak memisahkan, namun kembali lagi kepada diri mu, jika benar kau telah lama mengenal dia kau akan lebih bisa memahami nya dan tanyakan hatimu apakah berpisah memang sudah menjadi keputusan yang tepat saat ini" ucapnya sambil mengelus lenganku
"Bagaimana aku dapat mempertahankan hubungan ini jika ada wanita lain yang sedang mengandung anaknya" jawabku jujur yang sedari tadi kucoba sembunyikan.
"nak, zaman sekarang kita tidak dapat mempercayai segala hal dengan muda. apa kalian sudah coba tes DNA? bisa saja pacarmu sedang dijebak saat itu." jelasnya namun aku hanya diam dengan isakan tangis yang sudah mulai tak tertahankan
__ADS_1
"maafkan saya nak jika karena perkataan saya kamu semakin sedih. namun percayalah sesuatu yang indah sedang dipersiapkan oleh yang maha kuasa atasmu, jangan lupa selalu bawa nama pria itu dalam doa mu. Jika benar dia sudah mengkhianati mu Tuhan akan membuat kamu dengan cepat melupakannya, namun jika dia tidak melakukan hal itu dan memang kalian ditakdirkan bersama sejauh apapun kau pergi dan mencoba melupakan semua tentang dia Tuhan akan semakin mendekatkan kalian agar dapat hidup bersama" jelasnya dengan menggenggam tanganku
Setelah sampai di Indonesia aku langsung menuju rumahku dan beristirahat didalam kamar pribadiku. Aku termenung dan mencoba mengingat-ingat kembali ucapan wanita paruh baya tersebut.