
Hari ini aku akan berangkat ke new York, perusahaan mengutusku untuk pergi ke new York untuk menender sebuah proyek. aku sengaja tidak memberitahukan kedatangan ku kepada leo. aku ingin memberikan nya sebuah kejutan. saat ini aku sedang berada di dalam perjalanan menuju bandara diantarkan oleh Ferry.
"apa tak sebaiknya kau memberitahu Leo vei?" tanya Ferry
"aku ingin memberikan surprise fer. setelah selesai melaksanakan tugas aku akan segera menemui nya" ucapku tegas.
"baiklah terserah kau saja, tapi ingat kau harus memanfaatkan waktumu yang hanya 2 Minggu disana untuk melepas rindu"
"pasti" jawabku cepat
Rasa rinduku semakin bergejolak ingin bertemu dengan sang penawar rindu.
rasanya aku ingin cepat-cepat sampai dan menemui leo.
setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya aku sampai di new York, aku langsung pergi ke hotel yang telah disediakan oleh kantorku.
"tunggu aku sayang, aku akan menemui mu sebentar lagi" gumamku dalam hati
saat aku sedang berbaring di ranjang ponselku bergetar
derttt.... derttt....
__ADS_1
"halo fer" sapaku
"gimana udah sampai di hotel" tanya Ferry dari negara yang berbeda
"sudah"
"baiklah selamat menjalankan tugas" ucap Ferry lalu panggilan kami berakhir.
Akhirnya setelah berada di new York selama 5 hari, urusan kantorku selesai. selanjutnya aku akan menemui sang penawar rinduku kekasih hatiku.
Aku berkeliling di kota dan memasuki sebuah cafe untuk makan siang, aku berencana akan menemui leo esok hari. ketika aku melihat sekeliling untuk menemukan meja kosong, pandanganku berhenti pada sebuah meja yang ditempati oleh pria dan wanita yang, mereka bercanda dan wanita itu menyandarkan kepalanya pada bahu si pria. begitu romantis nya. ku pandangi mereka dan tiba-tiba
degh...
"Leo" ucapku gemetar
sontak leo berbalik dan menghadap ke arahku. "oh Tuhan kenapa semua menjadi seperti ini, dosa apa yang ku lakukan dimasa lalu hingga aku harus selalu dikhianati seperti ini" ucapku dalam hati, air mataku tak dapat ku bendung lagi.
"Li.. Lia.. ka.. kamu nga... ngapain disini" tanya leo dengan gugup
"jadi begini yang kau lakukan saat jauh dariku. pantas saja kau berubah akhir-akhir ini" ucapku dengan air mata yang membasahi pipiku
__ADS_1
"Lia aku bisa jelasin, kamu tenang dulu ya. kita ngobrol dulu" ucap leo sambil menahanku yang hendak pergi meninggalkan mereka
"jelasin apa lagi? semua sudah jelas le. gak ada yang bisa kita obrolin lagi" ucapku namun Leo mendudukkan ku dikursi disampingnya
"Lia aku dan Sheila hanya teman gak lebih. aku sayang sama kamu, aku mencintaimu Lia" ucap leo sambil memegang tanganku namun ku tepis tangannya. aku hendak menjawab namun kali ini Sheila angkat bicara
"Leo kamu jahat, kemarin kamu bilang juga begitu kepadaku, dan vei Lo harus tahu sekarang gue sedang mengandung anak leo"
brukk...
betapa terkejutnya aku mendengar perkataan Sheila barusan. hatiku hancur tak bersisa. air mataku semakin deras keluar dari mata. aku memandang ke arah leo seolah ingin meminta penjelasan namun Leo hanya tertunduk dan tak menyangkal perkataan Sheila. Tindakan Leo yang tak berani memandangku membuat hatiku terguncang.
"leo apakah yang dikatakan Sheila benar" tanyaku dengan lemah
"jika Lo gak percaya gue ada buktinya" ucap Sheila lalu mengambil beberapa foto dari dalam tasnya dan ketika aku melihat foto itu aku tak dapat berkata apa-apa lagi, dalam foto itu terlihat bahwa leo dan Sheila sedang berada dalam kamar yang sama tanpa busana.
"leo... pandang aku le... pandang mataku... tolong katakan itu tak benar ku mohon leo... ku mohon..." ucapku yang masih berharap ini semua hanya kabar hoax yang dibuat-buat oleh Sheila.
Leo hanya mengangguk pelan, dan anggukan nya semakin membuatku hancur. kali ini leo benar-benar keterlaluan, saat aku selalu menjaga hatiku dan selalu setia menanti kepulangan nya ternyata dia sudah akan memiliki anak hasil dari hubungan gelapnya dengan Sheila.
aku benar-benar hancur, semua yang telah ku lakukan dibalas seperti ini oleh leo. Pada saat itu juga aku langsung memutuskan semua hubungan ku terhadap Frans Leonardo.
__ADS_1
new York yang tadinya ku harapkan menjadi saksi dari sebuah kebahagiaanku yang akan bertemu dengan sang pujaan hatiku, seseorang yang selama ini ku rindukan. namun kenyataannya new York menjadi saksi dari kehancuran dan kandasnya cintaku.