
Bab 13 TCKK
Seperginya sindy, Alvin langsung masuk ke dalam ruangan Nadia, ditatapnya Nadia dengan begitu lekat, meskipun wajahnya pucat tapi tetap saja Nadia terlihat begitu cantik.
“Nad...nad kenapa juga Lo bisa jadi kayak gini, kayak kurang kerjaan aja”guman Alvin menatap tubuh Nadia dengan tatapan sulit di artikan
“Mmmmm”
“Lo udah bangun”ucap Alvin mendekati tempat tidur Nadia.
“Mm”guman Nadia pelan.
“Lo mau apa..?dimana yang sakit..?”tanya Alvin.
“kepala gue cuma pusing aja”ucap nadia cuek.
Dan setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara keduanya, Nadia yang pusing bukan main ditambah lagi dengan kaki dan tanganya yang lumayan cyut-cyut.
Nadia ngk bodoh, meskipun ia tidak bertanya kepada Alvin dimana dia sekarang seperti kayak di film-film, tapi ia ingat seperti apa kejadian yang menimpahnya beberpa jam lalu, bahkan ia tidak lupa kata demi kata yang ia lontarkan kepada Rania waktu di parkiran tadi.
“Al”panggil Nadia menatap Alvin yang sedang duduk di sofa.
“Kenapa..?”ucap Alvin berjaln mendekati tempat tidur Nadia.
“Gue mau ke toilet, bisa bantu ngk”ucap nadia minta tolong kepada Alvin.
“Lo bisa berdiri ngk..?”ucap Alvin.
“Sepertinya bisa, cuma jalannya agak susah”ucap Nadia.
“Aku gendong aja , Lo pengang infusnya”ucap Alvin lalu menggendong tubuh mugil Nadia menuju kamar mandi.
“Kalau udah selsai teriak aja”ucap Alvin sambil menutup pintu kamar mandi.
Setelah selesai dari kamar mandi Alvin kembali mengendong tubuh naik ke atas ranjang, meletakkan tubuh mungil itu dengan hati-hati.
“Istirahat aja, besok kita baru pulang”ucap Alvin menatap Nadia “gue akan menjaga Lo disini malam ini”
Sedangkan Nadia hanya mengangguk lalu mencoba memejamkan matanya, ketika Alvin melihat Nadia sudah memejamkan matanya lalu ia berjaln menuju sofa dan membaringkan tubuh diatas sofa.
Alvin menjaga Nadia di rumah sakit bukan berarti Alvin sudah jatuh cinta kepada Nadia, hati tergerak hanya semata-mata Alvin yang mempunyai hati nurani aja, tidak ada perasaan sedikit pun, Alvin pastikan hal itu.
Sampai azan subuh berkumandang Nadia tidak bisa lagi masuk ke alam mimpi, matanya memang tertutup, tapi otak dan telinga masih tetap terjaga, bahkan saking terjaganya ia bisa tau berpa kali Alvin bergerak waktu tidur di sofa.
Pagi pun menyapa tapi Nadia tetap tidak bisa tidur, sambil menunggu dokter masuk Nadia mencoba untuk turun sendiri dari ranjang dan mulai berjaln sedikit demi sedikit.
Karna tidak mungkin ia memakai kursi roda ketika pulang nanti.
“Pagi nona Nadia”sapa dokter masuk keruangan Nadia, sedangkan Nadia hanya tersenyum sambil berjaln menuju ranjang dan dokter pun membantunya naik ke atas ranjang.
“Syukurlah, sepertinya keadaan nona Nadia sudah lebih baik, kalau sudah seperti ini saya tidak perluh memeriksa nona Nadia lagi, dan pagi ini juga bisa langsung pulang”ucap dokter karna melihat Nadia sudah bisa berjalan.
“Nanti akan ada suster yang mengantar kan resep obat, kalau begitu saya tinggal duluh”ucap dokter.
__ADS_1
“Maksih dok”ucap Nadia.
Lalu secara perlahan juga Nadia turun dari ranjangnya sambil menunggu Alvin bangun dari tidurnya.
“Lo udah bangun”ucap Alvin ketika sudah terbangun.
“mm”ucap Nadia.
“Astaga istri gue cuek amat dah”batin Alvin
“Mau kemana..?”ucap Nadia ketika melihat Alvin berdiri dari sofa.
“Gue mau ke kamar mandi sebentar, kenpa..?mau ikut..?”ucap Alvin.
“Ngk”ucap Nadia.
“Permisi nona, ini resep obat yang harus ditebus dan hari ini juga nona sudah bisa pulang”ucap suster memasuki ruangan Nadia bertepatan Alvin keluar dari kamar mandi.
“Apakah dia benar-benar sudah bisa pulang sus, kami ngk mau harus bolak-balik kerumah sakit”ucap Alvin.
“Sudah tuan”ucap suster.
Sedangkan Alvin hanya ber o ria saja, lalu berjaln menuju ranjang Nadia dan duduk disampingnya jadi otomatis Nadia mengeser sedikit tubuhnya memberi ruang kepada Alvin.
“Emang Lo ngk merasa ada yang sakit lagi kah..?uang gue masih cukup kok bayarin Lo nginap satu hari dsini, gue ngk sampai menjual satu mobil juga”ucao Alvin menatap Nadia.
“Ngk perlu, gue juga bisa kali membayar uang perawatan gue, emng Lo pikir gue ngk punya uang ngituh”ucap Nadia ketus.
“Iyh gue bayarin uang perawatan bukan berarti gratis sih, lagian gue juga suami Lo kan.?”ucap Alvin memandang remeh Nadia.
“Lo bisa jalan sendiri ngk..?”ucap Alvin mencoba membantu Nadia yang hendak turun dari tempat tidur.
“Gue bisa sendiri”ucap nadia ketus lalu menempis tangan Alvin.
“Tas sama laptop gue dimana..?”ucap Nadia menatap Alvin.
“Mungkin ketinggalan di mobilnya sindy”ucap Alvin.
“sindy..?jadi sindy tau kalau Lo ada disini”ucap Nadia terkejut.
“Taulah, bahkan sindy tau kalau gue sekarng suami Lo”ucap Alvin tanpa rasa bersalah sedikit pun “ayo cepat jalannya gue mau kekampus nih”
“Lo gila iyh, kenpa Lo kasih tau sindy kalau kita suami istri..?Lo punya otak apa ngimana sih”ucap Nadia kesal.
“Kenapa..?emang salh..?”ucap Alvin.
“menurut lo udah benar ngituh kalau sindy tau hubungan kita...?”ucap Nadia kesal karna melihat tingkah Alvin yang tidak ada tampang bersalahnya sedikit pun.
“jelaslah benar, lagian wajar kali kalau sindy tau hubungan kita, berarti hubungan kita masih normal”ucap Alvin lagi.
“Hubungan Lo aja sendiri, bukan hubungan kita”ucap Nadia “awas gue mau lewat”ucap Nadia kesal karna Alvin masih berdiri seperti tiang listri di depan pintu.
“udah jalan mencok-mencok begitu masih aja ketus kayak ngituh, udah sakit masih aja keras kepala”guman Alvin kesal.
__ADS_1
“Pantasan ngk ada laki-laki yang mau sama tuh manusia datar satu”ucap Alvin sambil berjalan mengikuti Nadia.
Padahal Alvin tidak tau dibalik sikap cuek dan dinginnya Nadia, terdapat banyak pria yang berlomba-lomba menaklukkan hati dinginya Nadia, justru mereka terasa tertantang dengan sikap dinginya Nadia.
Mungkin saat itu takdir berpihak kepada Alvin dia bisa mendapat Nadia bahkan menikahi Nadia tanpa harus berjuang tenaga sedikit pun, hanya menggunakan uang sedikit saja
Alvin sudah bisa mengenggam Nadia.
Hanya mengenggam saja, namun hati Nadia belum bisa Alvin taklukkan dan karna memang sejak awal Alvin tidak berniat juga menaklukkan hati Nadia, tidak tau kalau nantinya antara Nadia yang menjerat hati Alvin atau Alvin yang menjerat Nadia.
Alvin berjalan dibelakang Nadia tanpa berniat membantu Nadia berjaln sedikit pun, toh Nadia juga tidak meminta tolong kepadanya.
“Mari nona biar saya bantu”ucap Delon hendak membantu Nadia masuk ke mobil.
“Lon ngk usah, biar aku aja yang bantu Nadia masuk”ucap Alvin menghalangi Delon yang hendak memengang lengan Nadia.
Alvin membantu Nadia masuk kedalam mobil, tak lupa Alvin melindungi kepala supaya tidak terkena pembatas mobil, Alvin juga membantu Nadia memasang sabut pengaman.
“Aduh kok jantung gue jadi kayak gini iyh, apa jangan-jangan gue menderita sakit jantung”batin Alvin ketika jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.
Karna wajah Alvin saat ini sangat dekat dengan Nadia, bahkan wajah mereka hanya berjarak beberpa senti saja, sehingga Alvin bisa melihat dengan begitu jelas wajah putih mulus Nadia bahkan ia juga melihat dengan begitu jelas leher jenjang Nadia yang putih mulus.
“Ternyata dia cantik kalau dilihat dengan jarak dekat”batin Alvin mengakui kecantikkan Nadia yang begitu natural.
Jika Alvin merasakan debaran terhadap jantung maka berbeda dengan Nadia, ia bahkan tidak merasakan apapun ketika posisi mereka seperti ini, bahkan Nadia hanya memasang wajah datar saja.
Delon langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
“Lon langsung ke apartemen iyh”ucap Alvin sambil fokus ke tablet Android yang di hadapan nya.
“Gue mau pulang kerumahku aja, soalnya aku ingin bertemu papah ada yang mau aku omongin sama papah”ucap Nadia.
“Lo lupa kalau papah Lo lagi berlayar, mau bicara sama siapa Lo..?sama tembok..?”ucap Alvin “lon langsung ke apartemen aja”
“Kenapa ngk kerumah mamah Ayu aja”ucap Nadia lagi.
“kalau mamah lihat kondisi kayak gini emang Lo bisa jawab..?mau bohong lagi Lo.?”ucap Alvin kesal karna Nadia cukup keras kepala.
“tapi gue ngk mau satu apartemen sama Lo”ucap Nadia masih kekeh.
“Trus Lo mau dimna..?mau ke apartemen lo aja”ucap Alvin masih mencoba sabar.
“antar ke apartemen gue aja, dan Lo ngk usah ikut ke apartemen gue”ucap Nadia ketus.
“Lah kenapa..?gue suami Lo jadi wajar dong kalau gue ikut ke apartemen lo”ucap Alvin kesal.
“Tapi Lo juga punya apartemen”ucap Nadia tak mau kalah.
“Ingat status Lo Nadia, Lo istri gue jadi sudah sewajibnya dimana gue tinggal Lo juga tinggal disana, mau gue perjelas lagi seperti apa status Lo sekarang..?”ucap Alvin menekan setiap kata-kata nya.
“Delon ke apartemen gue aja”ucap Alvin tak mau dibantah.
“Gue ngk butuh pendapat Lo Nadia Putri Pratama”ucap Alvin memotong ucapan Nadia yang hendak protes.
__ADS_1
Jika Alvin menyebut nama lengkap Nadia dengan mengikutkan nama besar keluarganya maka pertanda kemarahan Alvin sudah sampai tingkat ubun-ubun.