
Bab 25
Masih ditempat dan waktu yang sama, Nadia bukannya kembali ke apartemen dia malah berjalan menuju roftop cafe tempat ia dan Alvin makan siang.
Nadia berdiri dan menatap lurus kedepan, sesekali ia menarik napas dan membuang secara kasar berulang kali ia melakukan hal itu berharap pikirannya dapat kembali normal.
Tidak
Meskipun sudah melakukan hal itu tetap saja adegan yang menjijikan yang di perankan Alvin dan kedua teman wanitanya tetap terlintas dalam benaknya.
Seumur hidup baru pertama kalinya Nadia melihat pemandangan semenjijikkan itu.
Apakah Nadia sakit hati..?tentu di merasa paling sakit, meskipun ia tidak mencintai Alvin tapi tetap saja harga dirinya telah di injak oleh suaminya sendiri.
Hampir satu jam Nadia berdiri di roftop tapi tetap saja tidak membuat hatinya tenang, ia akui kalau rasa sakit yang ia alami saat ini lebih dari ketika ia mengetahui hubungan Rania dan papahnya. Rasa sakit kali sangat sulit dijelaskan dan paling sakit.
Jika Nadia sedang menenangkan dirinya di roftop cafe maka berbeda dengan Alvin yang kembali berkutat dengan komputer dan dokumen yang ada dalam hadapannya.
Beberapa hari cuti ternyata membuat pekerjaannya kembali menumpuk.
“Selamat siang tuan, sebentar lagi kita akan mengadakan meeting”ucap Delon masuk ke ruangan Alvin.
“Dimana meetingnya”ucap Alvin tanpa menatap Delon.
“di perusahaan tuan, dilantai sepuluh”
“baiklah, btw Nadia sudah kembali ke apartemen”ucap Alvin.
“Belum tuan, nona Nadia belum kembali ke apartemen”
“Kemana dia..?”ucap Alvin menghentikan sejenak pekerjaan.
“sejak tadi siang nona Nadia belum keluar dari cafe itu tuan”
Sedangkan Alvin hanya mengangguk paham dan tidak begitu khawatir tentang keberadaan Nadia, karna Nadia bisa sjaa keluar dari satu tempat tanpa melewati kamera cctv, berhubung Nadia pernh kabur dari rumah tanpa jejak sedikit pun.
Karna sudah waktunya akhirnya Alvin berjalan menuju ruang rapat, ternyata disana sudah banyak menunggu dirinya.
Rapat di laksanakan dengan tertib semua keluhan setiap kepala devisi-devisi di dengarkan oleh Alvin dan Alvin begitu setia memberikan masukkan dari setiap keluhan mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa jam melaksanakan meeting bersama, akhirnya meeting pun selesai, semua peserta meeting meninggalkan ruangan tak terkecuali Alvin dan juga Delon.
“Lon kita langsung pulang”ucap Alvin sambil menyerahkan jas kepada Delon.
“Baik tuan”
“Sudah ada kabar dari Nadia”ucap Alvin lagi.
“belum tuan, sampai sekarang belum ada kabar, tapi beberapa jam yang lalu nona Nadia sudah meninggalkan cafe itu”
“kita pulang ke apartemen”ucap Alvin.
Delon terlebih dahulu mengantar Alvin ke apartemen.
Lagi dan lagi sampai di apartemen Alvin tidak menemukan Nadia, kamar itu masih sepi dan gelap dapat ia pastikan kalau Nadia belum kembali kerumah.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam barulah Nadia menunjukkan batang hidungnya di hadapan Alvin.
“Masih ingat pulang Lo”ucap Alvin menatap tajam Nadia. “Dari mana Lo”
“Darimana gue bukan urusan Lo, urus saja kedua wanita Lo”ucap Nadia cuek.
“Ohh Lo cemburu..?”ucap Alvin percaya diri.
“
“Lo memang istri yang ngk berguna Iyah, suami pulang kerja tuh disambut bukan suami kerja Lo juga ikut kelayapan”ucap Alvin mengoceh.
"kalau Lo tau gue istri yang tidak berguna lalu kenapa Lo masih memaksa gue buat jadi istri Lo..?ngk laku Lo..?perluh gue daftarkan diri Lo ke biro jodoh..?"ucap Nadia memandang remah Alvin.
"Suami..?”ucap nadia tersenyum getir
“Bahkan gue hampir lupa kalau gue udah punya suami, soalnya suami gue asik bermain sama kedua jalangnya”ucap Nadia lagi.
“Maksudnya Lo ngk terima sama wanita gue yang tadi..?”ucap Alvin menahan lengan Nadia yang hendak pergi.
"kalau gue punya tujuan tertentu yang belum tersampaikan ngk juga gue memperistri Lo"ucap Alvin menatap tajam Nadia.
“Istri mana yang terima kalau suaminya bermain ******..?coba deh Lo pikirin, seandainya gue jalan berduaan sama Bastian atau Delon Lo bisa terima ngk..?Lo pasti mikir kalau harga diri Lo sudah di injak-injak sebagai suami bukan..?”ucap Nadia menatap tajam Alvin.
__ADS_1
“Lo ngk terima kan..?sama seperti gue, kita memang menikah tanpa dasar cinta, gue ngk mencintai Lo dan Lo ngk akan mencintai ku, pernikahan kita hanya embel-embel kalah tender saja, tapi setidaknya kita saling menghargai lah, setidaknya Lo ngk bisa hargai gue dengan tulus setidak Lo bisa berpura-pura menghargai gue”ucap Nadia mengeluarkan semua unek-unek nya.
“Emang selama ini Lo pernah hargai gue sebagai suami Lo”ucap Alvin.
“Kalau gue ngk menghargai Lo ngk mungkin gue ada disini Al, kalau gue ngk menghargai bisa aja gue main ke club cari laki-laki yang lebih dari Lo”ucap Nadia.
“Dengan Lo pacaran smaa Bastian masih bisa Lo bilang menghargai gue..?”bentak Alvin menatap tajam Nadia.
“Lo tanya gih sama Bastian, gue sama dia pacaran atau tidak, gue seorang istri dan gue tau sampai dimana batasan gue”ucap Nadia yang membuat Alvin diam seketika.
Melihat Alvin yang kembali bungkam Nadia memutuskan untuk pergi dari hadapan Alvin berjaln menuju dapur, seperti ia butuh air dingin untuk menyugur tenggorokan yang habis berbicara cukup banyak.
“Nadia gue belum selesai berbicara, Lo mau kemana”teriak Alvin.
“Lo mau bicara apa lagi sih bukannya semua sudah jelas..?apa yang mau Lo bicarakan, Lo suami gue dan gue istri Lo, kita menikah karna perusahaan papah ku kalah tender dari perusahaan mu, apa kurang jelas”ucap Nadia malas.
“Apa Lo yakin gue menikahi cuma gara-gara itu, secara gue juga menang tender dari perusahaan papah ngk terlalu besar, bahkan dari sekian banyaknya cabang perusahaan papahmu bisa aja menganti kerugiannya, ngk harus menikah sama juga kan..?lagian ngk ada untungnya juga gue menikah sama Lo”ucap Alvin lagi dan lagi memberikan kode keras kepada Nadia.
“Maksud Lo apa..?bisa berbicara dengan jelas..?gue bukan dukun yang mengerti maksud dari setiap ucapan Lo, jangan bikin gue mati penasaran njir”ucap Nadia terpancing.
“Itu salah satunya tujuan gue menikahi Lo, membuat Lo mati secara perlahan seperti...-“ucap Alvin segaja menjeda ucapannya agar membuat Nadia semakin penasaran.
“Seperti apa..?”ucap Nadia penasaran.
Dan benar saja Nadia semakin dibuat mati penasaran dengan ucapan Alvin yang menggantung bak buah apel di pohonnya.
“Segitu penasaran Lo dengan tujuan gue menikahi Lo..?”ucap Alvin tersenyum penuh kemenangan.
Karna hitungan menit ia mampu membuat Nadia semakin penasaran dengan tujuan nya menikahi Nadia.
“Bangs*k”guman Nadia pelan menahan kekesalan.
“Ngk jelas”ucap Nadia meninggalkan Alvin.
“Mulai besok Lo harus membersihkan apartemen seorang diri, menyiapkan sarapan pagi dan menyiapkan seragam kuliah buat gue dan baju kantor buat gue”ucap Alvin yang lagi-lagi menghentikan langkah Nadia.
“Peraturan macam apa itu”ucap Nadia semakin kesal.
"ngk punya uang Lo buat sewa pembantu..?"
__ADS_1
“bersikap seperti istri pada umunya yang mengurus semua keperluan rumah dan keperluan suami”ucap Alvin lalu meninggalkan Nadia yang diam mematung.
Sedangkan Nadia hanya mematung menatap punggung Alvin, tak lupa dengan mulutnya yang terbuka lebar tak habis pikir dengan perintah Alvin kepadanya.