
Saat ini Nadia dan Alvin sudah berada di taman, dengan Nadia yang duduk di kursi roda sedang Alvin yang duduk di kursi taman di belakang Nadia.
Nadia menatap lurus kedepan, mengingat kembali masa-masa lalunya bersama Rania hingga pada titik terakhir pertemanan mereka hancur ketika Rania menikah dengan papahnya sendiri.
Sejak saat itu Nadia bertekad tidak akan pernh menerima Rania sebagai ibu tirinya apapun yang terjadi, hingga pada saat ini Rania sedang hamil yang ia ketahui pasti anak yang di kandung Rania adalah darah daging laki-laki lain.
“Nad, belajar jalan aja yuk, supaya Lo cepat keluar dari rumah sakit”ucap Alvin untuk menghilangkan keheningan.
“boleh”ucap Nadia.
Alvin langsung membantu Nadia berdiri dari kursinya, perlaha Nadia mulai melangkah kakinya, meskipun seluruh badan lumayan susah untuk di gerakan tapi Nadia berusaha untuk bisa berjaln kembali.
Bukan suatu yang susah buat Nadia, karna Nadia bukanlah pasien yang lumpuh melainkan Nadia hanya koma selama dua Minggu saja.
“Nad”ucap Rania menghentikan pergerakan Nadia dan Alvin yang sedang belajar berjalan.
Melihat Nadia tidak bergeming Alvin langsung menari kursi roda Nadia dan mendudukkan dirinya dikursinya.
“kenapa”ucap Nadia dingin tanpa menatap Rania.
“gue mau ngomng penting sama Lo”ucap Rania.
“gue mau istirahat”ucap Nadia menolak secara halus, karna menurutnya tidak ada hal yang perlu di bicarakan dengan Rania.
“Sampai kapan Lo menghindar nad, masalah ngk akan selesai kalau Lo menghindar terus”ucap Rania menahan Nadia yang hendak pergi.
“Sampai Lo sendiri yang meninggalkan bokap gue”ucap Nadia “Al gue mau masuk aja”
“nad, Alvin tolong beri gue waktu bicara smaa Nadia”ucap Rania menahan Alvin yang hendak mendorong kursi roda Nadia.
“sejak kapan gue halangin Lo buat berbicara dengan Nadia..?gue ngk hak untuk mengurusi masalah Lo dengan Nadia, karna menurut gue Nadia sudah cukup dewasa menghadapi masalah kalian”ucap Alvin menatap Rania.
“kalau kalian ingin berbicara, bicaralah”
__ADS_1
“Nad gue..-“
“Apalagi sih ran”ucap Nadia kesal memotong ucapan Rania.
“lo mau ngomong kalau Lo sedang hamil begitu..?Lo mau ngomong kalau Lo hamil dari laki-laki lain begitu..?Lo mau ngomong kalau Lo sudah berhasil menghianati bokap gue begitu..? gue udah tau Rania”,ucap Nadia menatap tajam Rania.
“bukan itu nad, gue cuma mau bilang sama lo, kalau Lo belum bisa menerima gue sebagai ibu tiri Lo setidak Lo menghargai bokap Lo. Asal Lo tau nad, selama Lo koma papah selalu menjaga Lo hampir setiap hari disaat alvin lagi kerja, papah Lo menunda semua pertemuan hanya demi menjaga Lo”ucap Rania tak kalah kesal.
“Gue ngk minta dia menjaga gue, lalu salah gue dimana hah..?dan satu yang perlu harus Lo tau, gue bukan belum menerima Lo tapi sampai kapan pun gue ngk bakal terima Lo sebagai ibu tiri gue, karna sampai detik ini hanya mamah Lisa yang menjadi ibu buat gue"
Biar pun Nadia di anggap sebagai anak nurhaka tapi kebenciannya terhadap Rania sudah mendarah daging. karna menurutnya Rania lah yang menyebabkan kehancuran keluarga Nadia. hancur tanpa sisa
“meskipun gue hamil sekarang, gue sedang hamil adik Lo nad”ucap Rania.
“mau gue perjelas perselingkuhan Lo di depan bokap gue..?Lo udah selingkuh masih berani menyebut anak itu adek gue..? benar-benar ngk punya otak Lo iyh, sebenarnya hidup Lo kurang apalagi sih..?kenapa Lo sampai mau menjadi istri kedua bokap gue”ucap Nadia tak habis pikir dan hal itu membuat Rania bungkam seribu bahasa, ia sampai melupakan kalau Nadia pernah memergoki dirinya bersama selingkuhan nya.
“gue tungguh Lo sampai meninggal bokap gue kalau Lo ngk mau kalau gue sendiri yang membongkar semua perselingkuhan Lo”ucap Nadia “Al gue mau kencin”
Karna Rania dan Nadia merupakan anak dan ibu tiri yang masih labil, apa lagi Rania dan Nadia satu umur, mungkin orang-orang di luaran sana tak menyangkal kalau Rania dan Nadia merupakan anak dan ibu tiri.
Tapi mau ngimana lagi, ini benar-benar nyata kalau Nadia satu umur dengan ibu tiri yang otomatis Alvin juga satu umur dengan mertuanya, cukup ribet sih hubungan ank, menantu dan mertua yang merupakan satu umur.
Tak terasa pasca sadar dari koma Nadia sudah satu minggu dirawat dirumah sakit, bahkan bekas sayatan di leher sudah hilang sesuai permintaan Alvin. Untuk saat ini Nadia sudah bisa pulang dari rumah sakit.
Selama dirumah sakit juga Alvin setia menemani Nadia, meskipun saat-saat kebersamaannya mereka selalu ada perdebatan yang tiada habis. Tapi untuk saat ini Alvin menikmati perdebatan mereka.
“Mau beli sesuatu kah sebelum sampai kerumah..?biar Lo ngk keluar-keluar lagi”ucap Alvin menatap Nadia sekilas.
“ngk, kita langsung pulang aja”ucap Nadia tanpa menatap Alvin
Setelah menempu perjalanan berpaa menit akhirnya Nadia dan Alvin sudah sampai di rumah, ternyata mamah ayu sudah menungguh mereka di depan pintu. Nadia dibantu Alvin turun dari mobil.
“Selamat datang kembali di rumah sayang, semoga kamu makin sehat supaya bisa melakukan aktivitas seperti biasa”ucap mamah ayu memeluk Nadia.
__ADS_1
“Maksih mah”ucap Nadia.
“Sama-sama sayng, kalau begitu kamu lanjut istirahat iyh, Al bantu Nadia naik ke kamar, pakai lift aja syang”ucap mamah ayu menatap alvian.
Alvian langsung membantu naik berjalan menuju lift, dengan begitu posesif Alvian memeluk erat pinggang Nadia, meskipun Nadia sedikit risih tapi mau ngimna lagi Alvin adalah manusia yang tidak bisa di bantah.
“Lo istirahat aja duluh, nanti pas makan malam baru turun”ucap Alvin sambil memperbaiki selimut Nadia.
“Lo mau kemana..?”celetuk Nadia.
Untuk pertama kalinya selama menikah Nadia bertanya perihal kemana Alvin pergi, padahal duluh nadia masa bodoh, mau Alvin pulang tidak pulangnya Nadia bodoh amat, bahkan terkesan tidak peduli.
“Ada angin apa dia nanya kemana gue pergi”batin Alvin menatap Nadia dengan intens.
“Al”ucap Nadia menyadarkan Alvin.
“Ahh iyh, gue mau ke kantor, iyh ke kantor”ucap Alvin dengan gugup.
“Lo ngk lupa kan hari ini Minggu, emang ada kantor yang buka hari ini..?”ucap Nadia menatap Alvin curiga.
“Iyh memang ngk ada, tapi tiba-tiba klien hari ini minta meeting, karna besok dia mau ke luar negeri, jadi dia minta bertemu sekarang”ucap Alvin berusaha menutupi ke gugupannya.
“Ooh begitu”ucap Nadia percaya.
“Lo istirahat aja, gue cuma sebentar aja kok. Atau siapa tau Lo mau nitip sesuatu mungkin..?nanti gue belikan pas mau pulang”ucap Alvin.
“Bakso mungkin”ucap Nadia.
“baik, istirahat iyh”ucap Alvin sambil mengelus pipi Nadia dengan lembut.
Alvin langsung keluar dari kamar, sedangkan Nadia mencoba untuk beristirahat walaupun sedikit sulit tapi dia tetap usaha.
Karna dalam pikiran Nadia saat ini ia harus cepat sembuh karna dia sudah tidak masuk kuliah dan cafenya sudah lama di tinggalkan.
__ADS_1