
Bab 14
Akhirnya setelah terjadi perdebatan Nadia memutuskan untuk ikut dengan Alvin ke apartemenya, istilahnya mengikuti kata suami.
Ting tong
Nadia memperhatikan Alvin memencet bel apartemen berpaa kali, yang berarti ada yang menghuni apartemen ini selain dirinya, tapi siapa..?
Clekk
“Ehh Alvin, kenapa ngk kabarin duluh kalau mau kesini sayang..?”ucap seorang wanita membuka pintu, lalu hendak memeluk Alvin, tapi sebisa mungkin langsung menghindar.
“Sayang”beo Nadia dengan muka masam.
Ini salah satu alasan Nadia engga membuka hati kepada laki-laki, meskipun ia tidak mencintai Alvin tapi entah kenapa hatinya sedikit tersentil ketika melihat sosok yang membuka pintu apartemen. ia tidak bodoh, jika perempuan itu memanggil Alvin sayang maka hubungan mereka lebih dari seorang teman.
“Ini apartemen gue jadi wajar dong kalau gue kesini”ucap Alvin dingin.
Dibantu Alvin perlahan Nadia masuk ke ruangan itu, ia sama sekali tidak menghiraukan perempuan yang menatapnya heran.
“Al ini siapa..?gapain kamu bawa kesini.”ucap Anya.
“Siapa dia ngk penting buat lo kan..?”ucap Alvin dingin, lalu membantu Nadia duduk di sofa.
“Maksudnya apa sih Al, penting dong buat aku, kamu bawa wanita kesini dengan keadaan aku masih disini”uca Anya.
“Berarti kalau lo ngk ada disini bisa dong gue bawa wanita kesini..?iyh sudah lo pergi duluh dari dsini, gue mau bawa wanita lain kesini”ucap Alvin kalah telat dari Anya.
“Lagian kalau kamu bawa dia mau tidur dimana dia..?di apartemen ini hanya dia kamar aja Al”ucap Anya tak kehabisan kata-kata.
“Lalu apa yang kurang..?satu kamar buat Lo dan satu kamar buat kami, bereskan”ucap Alvin dingin.
“Maksud Lo kalian tidur satu kamar..?kamu ngk salah al, sejak kapan kamu mau berbagi kamar dengan orang lain..?aku aja yang udah lama disini tidak kamu izinkan masuk ke kamar kamu”ucap Anya tak terima dengan keputusan Alvin.
“Emng Lo punya hak apa larang gue..?lagian Lo siapa sih buat gue..?”ucap Alvin menatap Anya.
“Gue pacar Lo kalau Lo lupa”ucap Anya penuh percaya diri.
“Mantan pacar lebih tepatnya”ucap Alvin membantah.
“mantan pacar..?maksudnya apa..?kita sudah balikkan kalau kamu melupakan hal itu”ucap Anya menatap Alvin.
“Balikkan..?itu kan maunya kamu”ucap Alvin.
Sedangkan Nadia hanya menjadi pendengar setia di perdebatan Alvin dan juga Anya, rasanya ia tidak berhak ikut campur dalam perdebatan itu karna Nadia merasa ia hanya orang lain di antara mereka.
“Eh maaf nih, lebih baik gue pindah ke apartemen gue aja, digedung seblah aja kok”ucap Nadia menghentikan perdebatan mereka.
“Baguslah, itu lebih baik, Lo pindah aja ke apartemen lo lagian disini hanya duluan kamar”ucap Anya menatap sinis Nadia.
“Lo ngk berhak mengusir dia dari sini, gue yang membawa dia kesini dan hanya gue yang berhak mengusir dia dari sini”ucap Alvin menatap tajam anya.
“Ngk papa Al, gue pindah ke apartemen gue aja”ucap Nadia, ini merupakan kesempatan emas baginya jika pindah ke apartemen nya “permisi”
“Sekali aja Lo nurut apa kata suami bisa ngk”bisik Alvin ditelinga Nadia sambil menahan lengan gadis itu.
__ADS_1
“Lo ngk berhak menahan gue disini”ucap Nadia berusaha melepaskan tangan Alvin.
“Kalau Lo ngk nurut, malam ini gue minta hak gue, ngk ada penolakkan”bisik Alvin yang membuat Nadia bungkam Seketika.
Hak..?
Dia lupa kalau saat ini tubuh, jiwa dan masa depan sudah tergantung sama Alvin, ia tidak bodoh, ia sangat paham hak yang di maksud oleh Alvin.
“Delon”ucap Alvin memanggil Delon yang masih setia berdiri di depan pintu
“Antar Nadia ke kamar saya”ucap alvin
Sdangkan Nadia hanya menurut saja ketika Delon mengantar ke lantai dua di apartemen itu.
“Lo, cuma mengantar aja, ngk usah di pengang”ucap Alvin ketika Delon hendak memengang pundak Nadia.
Alvin menatap Nadia dan Delon yang masuk ke dalam lift sampa lift itu benar-benar tertutup.
“Lo bisa seenaknya tinggal di apartemen gue sampai Lo bosan, tapi Lo ngk berhak ngatur-ngatur gue, siapa yang mau gue bawa kesini itu bukan urusan Lo, Lo disini tinggal gratis jadi jangan banyak tingkah paham”ucap Alvin menatap tajam anya.
“Al wajar dong aku keberatan kalau kamu bawa cewek lain kesini..?kamu ngk hargai aku sebagai pacar kamu”ucap Anya tak terima.
“lo pernh ngk hargai ke putusan gue..?sejak awal kita kenal sampai memutuskan pacaran Lo ngk pernh hargai keputusan gue, bahkan sampai kita putus pun Lo ngk pernh hargai keputusan gue, jadi wajar ngk gue hargai Lo..?”ucap Alvin.
“emng keputusan yang mana yang tidak aku hargai”ucap Anya.
“Kita putus”ucap Alvin enteng “kenapa..?buktikan kalau Lo hargai keputusan gue..?ngk bisa kan Lo”
“Perluh gue jelaskan berpaa kali gue minta putus sama Lo..?dan Lo ngk hargai keputusan gue kan..?ucap Alvin menatap Anya yang diam mematung.
“Khilaf sampai tidur dengan laki-laki lain begitu..?gue juga khilaf nyah, gue mau tidur sama perempuan itu malam ini”ucap Alvin lalu pergi meninggal Anya yang diam membisu, ia berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Anya hanya diam membisu, bingung harus berkata apa-apa, jika saja waktu bisa diputar mungkin dia tidak akan selingkuh dan berakhir tidur dengan laki-laki lain. Ia tidak menyangka ternyata Alvin sebegitu bencinya sama penghianat, tapi setiap mengingat hubungan mereka yang sudah cukup lama ia semakin bersemangat untuk memperjuangkan Alvin, apapun yang terjadi Alvin harus jadi miliknya kembali.
Mungkin melihat Alvin membawa perempuan lain malam ini ke kamarnya, Anya anggap kalau Alvin sedang balas dendam kepadanya, ia yakin Alvin dengan perempuan itu hanya patner ranjang saja.
“Delon”panggil Anya ketika melihat Delon keluar dari lift.
“Siapa perempuan itu..?kenapa Alvin membawanya ke dalam kamarnya”ucap Anya.
“Tanya saja sama tuan Alvin, biar lebih jelas”ucap delon dingin lalu pergi meninggalkan apartemen itu.
“Tuan dan asisten sama-sama dingin”guman Anya kesal lalu pergi ke kamarnya.
Jika Alvin benci kepada Anya maka Delon lebih benci kepada Anya, pasalnya gara-gara Anya selingkuh membuat Alvin berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam bahkan untuk melupakan Anya Alvin memutuskan untuk kuliah di luar kota.
Sementara di kamar Nadia dan Alvin kembali berdebat
“Masak kamar sebesar ini tidak ada sofa”ucap Nadia kesal.
“Ngk ada Nadia, buat apa sofa ada di ruangan ini, itu sungguh tidak penting buat gue”ucap Alvin dingin.
“Tapi gue tidur dimana..?”tanya Nadia, tidak mungkin mereka akan tidur satu kasur, padahal sebenarnya biasa saja jika mereka tidur satu kasur.
“Tidur di lantai, di lemari ada karpet”ucap Alvin, ia juga tidak mau berbagi kasur dengan Nadia.
__ADS_1
“Gue mau ke kampus, siapkan baju gue”ucap Alvin lalu pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Nadia hanya menatap kesal Alvin, lalu ia berjalan menuju balkon kamar, melihat pemandangan keramain kota dari balkon kamar.
Nadia asyik dengan lamunannya sampai ia tidak menyadari kalau Alvin sudah berdiri di belakangnya dengan handuk yang melingkari di pinggang sehingga memperlihatkan dada bidang nya.
“Nadia mana baju gue, gue suruh siapkan baju gue bukan malah melamun”ucap Alvin menyadarkan Nadia.
“Aaaa...Lo bisa ngk pakai baju di kamar mandi..?emng ngk malu..?disini bukan cuma Lo aja manusia”ucap Nadia kesal di campur rasa gugup.
“santai aja kali, kayak gue telanjang bulat aja lagi”ucap Alvin tanpa rasa bersalah.
“Tapi gue ngk biasa lihat kayak gini, bikin mata gue kotor aja lagi”ucap Nadia kesal.
“Makaya Lo harus terbiasa dengan hal seperti ini setiap hari, karna kita akan satu kamar bukan”ucap Alvin berjalan mendekati Nadia dan mengikis jarak diantar mereka.
“Lo munduran dikit, gue basah nanti”ucap Nadia gugup sambil mendorong tubuh Alvin.
“Kalau gue ngk mau Lo mau apa”ucap Alvin semakin mengikis jarak diantar mereka.
“Lo mundur”ucap Nadia menutup matanya dan mengarahkan pandangan ke samping.
Sungguh ia tidak pernah terbayang dengan posisi seperti ini dengan lawan jenis, apalagi ini Alvin, suaminya sendiri dan untuk pertama kali ia merasakan gugup yang sangat luar biasa ketika berhadapan dengan laki-laki, jantungnya seakan berhenti berdetak.
“Alvin Lo mundur sana”rengek Nadia seperti anak kecil.
Untuk pertama kalinya Nadia memperlihatkan sikap manjanya kepada orang lain, duluh yang mengetahui sikap manja Nadia hanya Bram dan Lisa saja selaku orang tuanya.
Alvin menekan salivanya dengan kasar ketika melihat dan mendengar sikap manjanya Nadia, suara yang lembut seperti anak kecil dan wajah yang sangat mengemaskan. Seketika hilang sudah Nadia yang dingin dan ketus.
“Bisa manja juga nih manusia datar”batin Alvin gemas, ingin rasanya ia mencium pipi gemas Nadia.
“Alvin munduran”rengek Nadia lagi sambil mendorong dada Alvin, tapi tidak membuat Alvin mengerak sedikit pun.
“siapkan baju gue, gue mau kekampus”ucap Alvin akhirnya mundur bebrapa langkah.
Ia tidak tahan melihat wajah gemas Nadia, kalau lama-lama berdekatan dengan Nadia bisa-bisa ia lepas kendali dan melahap Nadia. Mengingat Nadia sudah menjadi istrinya dan sudah sah jika ia meminta apa yang seharusnya jadi miliknya.
“Dari tadi kek, heran suka betul yang mepet-mepet”ucap Nadia dingin menatap Alvin kesal.
“Baju gue Nadia”ucap Alvin sambil membuka laptop memeriksa tugas dan email yang masuk.
“Baju iyh tinggal ambil di lemari apa susahnya sih, jangan seperti anak kecil deh”ucap Nadia kesal.
“Baju gue Nadia Putri Pratama”ucap Alvin menekan setiap kata-katanya.
“Iyh iyh, ini pertama dan terakhir kalinya gue mempersiapkan baju buat Lo, gue bukan pembantu Lo iyh”ucap Nadia kesal lalu berjalan menuju ruang ganti dan menyiapkan baju kuliah buat Alvin.
Ketika Alvin melihat Nadia keluar dari ruang ganti maka Alvin pun masuk ke ruang ganti untuk memakai dinas kuliahnya.
“atribut gue dimana”ucap Alvin kesal.
“Itu diatas meja, makaya lihat duluh baru nanya”ketus Nadia lalu kembali berjaln menuju balkon.
“gue pergi duluh, Lo jangan coba-coba keluar dari kamar ini, gue kunci pintu kamar aja biar Anya ngk boleh masuk kesini”ucap Alvin meninggalkan kamar lalu mengunci pintunya dari luar, ia tidak mendengarkan Nadia yang hendak protes.
__ADS_1