
“siapa Liam”ucap Alvin memecahkan keheningan yang terjadi.
“Ngk tau, cuma pas sekolah namanya itu banyak yang menyebut, tapi gue ngk pernh bertemu dia. Tadi baru bertemu”ucap Nadia menatap alvin.
“Tapi kok sepertinya dia sangat mengenal lo, nama lengkap Lo dia tau, nama bokap Lo dia tau juga, bahkan nama ibu tiri Lo dia tau. Emang kalian sudah sedekat itu..?”ucap Alvin tak puas dengan jawaban Nadia tentang Liam.
“Iyh mungkin dia sangat mengenal gue, tapi gue ngk kenal dia sama sekali. Sudahlah ngk usah terlalu di pikirin”ucap Nadia cuek, tak ambil pusing tentang Liam yang mengetahui tentang diri nya. Karna pada dasarnya ia sungguh tidak tertarik membahas Liam.
“nyaman cantik, jadi banyak yang suka”batin Alvin kesal, entah kenapa dia tidak suka dengan Liam yang mengetahui semua tentang Nadia.
Semenjak kejadian yang di alami Nadia dengan Leon, semenjak saat itu juga ia mulai posesif terhadap Nadia dan ia tidak suka jika ada laki-laki yang dekat-dekat dengan Nadia.
Tak terasa mobil Alvin sudah terparkir sempurna di depan cafe Nadia, mungkin karna mereka tadi sempat berdebat sehingga perjalanan yang hampir setengah jam menjadi tidak terasa.
“Mikirin apa”ucap Alvin yang melihat Nadia engga turun dari mobil.
“Ngk ada”ucap menatap Nadia sekilas.
“Sudah sampai, Lo ngk turun”ucap Alvin.
“Ahh sudah sampai, iyh sudah gue turun duluh”ucap Nadia lalu turun dari mobil di ikuti Alvin juga yang turun.
“Loh, Lo ngk kekantor.”ucap Nadia yang melihat Alvin juga turun dari mobil.
“agenda gue cuma meeting aja hari ini dan meeting kebetulan di cafe Lo. Jadi sambil menunggu waktunya gue mau istirahat di ruangan Lo sebentar”ucap Alvin sambil masuk ke dalam cafe.
“Ayo masuk”ucap Alvin sambil menarik tangan Nadia, menyematkan kelima jarinya di jari Nadia.
Sejenak Nadia menatap tangan Alvin yang menarik tangannya, ada rasa aman ketika tangan itu menarik tangannya, bahkan jantung berdegup cukup kencang. Karna jarang-jarang Alvin bersikap manis kepadanya.
Yang ada mereka selalu berdebat, Alvin yang keras kepala dan tidak mau mengalah dan Nadia yang keras kepala dan juga tidak mau mengalah, pernyatuan yang cukup seimbang pada zaman sekarang ini.
“Mau sampai kapan berdiri disitu Nadia”ucap Alvin karna melihat Nadia tidak bergerak meskipun sudah di tarik.
“Ahh iyh, ayo masuk”ucap Nadia tersadar dari lamunannya dan mengikuti Alvin dari belakang.
Mereka masuk ke dalam cafe di sambut oleh beberapa pelayan yang membuka pintu cafe.
“wah Nadia..?gapain Lo disini..?”ucap Laura dan siapa sangka ternyata selain pelayan yang menyambut mereka ternyata Laura juga menyambut mereka.
“Kalian gapain disini..?”ucap Nadia bingung sambil melepaskan genggaman tangan Alvin.
Tapi ketika genggaman itu terlepas Alvin malah menarik kembali tangan itu tanpa menghiraukan tatapan tajam Nadia.
__ADS_1
“itu nad, kita mengadakan reunian untuk angkatan kita”ucap sindy menatap Nadia dan Alvin.
“Ohh reunian, pantasan cafe lumayan sepi. Ternyata sudah di booking iyh”ucap Nadia menatap teman-temannya secara bergantian.
“Makaya Nadia, kamu jangan terlalu sibuk. supaya kamu tau kalau kita begadakan reunian”
“Padahal kamu ada di grup alumni loh, masak kamu ngk tau kalau kita mengadakan reunian”
“Ehh nad, siapa..?kok baru lihat”
“Woy, Lo belum jawab pertanyaan gue, Lo gapain disini”ucap Laura memotong pertanyaan teman-temannya.
“Dan ini tangan gapain juga harus pengangan, kayak mau menyebrang aja lagi”ucap Laura kesal sambil memisahkan pengangan tangan Nadia dan Alvin.
“Gue duluan keruangan Lo iyh, mau istirahat”ucap Alvin lalu pergi meninggalkan meja yang di booking oleh teman-teman Nadia. Dan hal itu sangat jelas di dengar oleh teman-teman Nadia terutama Laura.
“Iyh sudah teman-teman kalian lanjut aja duluh reunian nya, pesan sepuas kalian ngk usah bayar”ucap Nadia sambil memanggil pelayan.
“mereka semua ini teman-teman sya, tolong layani seperti pelayan VIP iyh”ucap Nadia.
“baik nyonya”
“Ngk sekalian gabung nad, kita jarang-jarang Lo bertemu kayak gini”
“Cie Nadia, sudah punya pacar aja nih. Mana pacarnya ganteng banget lagi, pasti pengusaha kan..?ngk nyangka Loh nad, Lo pacaran smaa Alvin, pewaris tunggal kekayaan Pratama grup lagi”
“Bentar lagi mau jadi Nyonya Pratama nih, jangan lupa traktiran nad, kayak tuh Alvin cinta banget deh sama Lo, kelihatan dari tatapannya”
“Ahh kalian bisa aja. Ayo nikmati hidangannya”ucap Nadia tersenyum menanggapi ucapan teman-temannya.
“Rania ayo makan, gapain diam aja..?makanannya di atas meja loh, di muka ku ngk ada makanan”ucap Nadia yang sadar karna sejak tadi Rania terus menatap dirinya, sedangkan sindy hanya menatap menatap kedua sahabat yang sekarang sudah menjadi anak dan ibu tiri secara bergantian.
“Kalau ngituh gue mulai kerja duluh”ucap Nadia meninggalkan meja tempat teman-temannya berkumpul.
Teman-teman Nadia tidak ada yang tau kalau Rania sekarang sudah menjadi ibu tiri Nadia. Mungkin jika mereka tau, antara Nadia yang malu atau Rania, apalagi untuk saat ini Rania sedang hamil, yang katanya itu akan menjadi adek Nadia.
Untuk saat ini Nadia tidak ambil pusing akan kandungan Rania, selagi Rania tidak merusak nama baik keluarganya, Nadia akan membiarkan Rania berkembang, meskipun Nadia tau pasti kalau anak dalam kandungan Rania bukannya darah daging papahnya.
Sedangkan Liam hanya diam saja menatap Nadia dan juga Alvin secara bergantian, tapi tatapan lebih fokus ke tautan tangan Alvin dan Nadia. Dari situ ia sudah bisa simpulkan kalau mereka ada hubunga.
“Ini yang bikin gue semakin penasaran sama Nadia. Anak orang kaya, dan anak tunggal tapi masih mau bekerja menjadi pelayan di cafe, gue yakin Nadia hanya mengisi waktu kosongnya saja, ngk mungkin Nadia kekurangan uang, gadis mandiri memang beda cara mengisi waktu kosong”batin Liam yang dimana ia cukup tau perusahaan-perusahaan yang di kelola oleh keluarga besarnya
Teman-teman Nadia taunya kalau Cafe itu bukan milik Nadia, karna duluh waktu Nadia mulai membuka usaha itu tidak ada yang tau kecuali Rania, sindy dan juga keluarganya.
__ADS_1
Bahkan sejak SMK Nadia membuka usaha itu, ia mampu menutupi dari masyarakat umum kalau dia pemilik dari cafe itu.
“Ehh Lo belum jawab pertanyaan gue, gapain Lo disini. Udah jatuh miskin Lo, sampai harus kerja disini”ucap Laura kesal.
“Segitu penasaran nya Lo sampai mendatangi gue kedapur..?lagian gue disini apa urusannya sama Lo”ucap Nadia tersenyum sinis.
Karna ketika Nadia hendak berjalan menuju ruangannya, sebentar ia mampir duluh ke dapur untuk mengecek persediaan bahan-bahan makanan dan hendak menyuruh beberapa karyawan untuk belanja, berhubung teman-temannya mengadakan reunian di cafenya, jadi pasti persediaan di dapur akan kurang.
“ngk usah banyak ngomong, tinggal jawab aja pertanyaan gue. Dan Lo gapain kesini sama Alvin”ucap Laura kesal.
“Sebenarnya Lo udah tau jawabannya, kalau gue ke cafe dan sekarang berdiri dapur berarti gapain”
“Jadi Lo kerja disini”ucap Laura tersenyum mengejek Nadia.
“masih perlu gue jawab..?”ucap Nadia tak kalah kesal.
“Hahaha ternyata Lo udah jatuh miskin..?kasihan amat Lo, ohhh iyh dirumah gue lagi butuh pembantu, kalau Lo mau uang tambahan Lo bisa kerja disana, gue gaji dua kali lipat dari gaji Lo disini”ucap Laura dengan begitu bangga diri.
“Boleh tuh, kebetulan gue lagi butuh banyak uang nih. Iyh taulah gue kan udah jatuh miskin”ucap Nadia tersenyum menatap Laura.
“Oooh iyh gaji gue disini lima ratus juga sebulan, jadi Lo harus gaji gue satu milyar, Lo sanggup..?”ucap Nadia yang membuat Laura menganga tak percaya dengan gaji Nadia.
“Cafe sekecil ini sanggup mengaji Lo lima ratus juta..?sehebat apa Lo kinerja Lo disini”ucap Laura menutupi keterkejutan nya.
“Ck kalau Lo ngk sanggup bilang aja, ngk usah mempertanyakan kinerja gue”ucap Nadia tersenyum sinis.
“sombong banget sih Lo, palingan Lo cuma pelayan aja disini”ucap Laura.
“cuma pelayan tapi di gaji lima ratus juta, emng Lo mampu dapat gaji lima ratus juta setiap bulan..?yang ada Lo menghabiskan uang kali”ucap Nadia.
“Lo ngk usah menghina apa pekerjaan orang dan apa profesi orang lain, kalau Lo masih minta uang jajan sama orang tua Lo. Harusnya lo bersyukur udah terlahir kaya”ucap Nadia kesal.
“Dea, list bahan-bahan yang hampir habis dan segera belanja”ucap Nadia.
“Baik Nyonya”
“Kalau Lo masih betah berdiri disini, sekalian tuh cucian piring banyak”ucap Nadia lalu meninggal ruang dapur.
Sedangkan Laura hanya menatap punggung Nadia dengan sangat kesal, karna semua pertanyaan yang ada di otak nya tidak ada terjawab sedikit pun.
Apalagi ia melihat Nadia datang bersama Alvin, semakin membuat rasa penasaran semakin besar, antara hubungan nadia dan Alvin. Secara ia sudah cukup lama menganggumi Alvin tapi belum bisa tergapai, jangan tergapai, berbicara dengan Alvin pun masih bisa di hitung jari berpa kali.
Karna semakin ia mengejar Alvin, maka Alvin semakin menjauh darinya, bahkan Alvin membangun tembok yang kuat untuk Laura, bukan hanya untuk Laura, tapi untuk perempuan-perempuan lainnya.
__ADS_1