
Setelah perjalanan bebrpa menit akhirnya Nadia dan Alvin sudah sampai dirumah.
Hari ini tidak seperti biasanya, jika hari-hari lalu ketika pulang kerumah mereka akan di sambut oleh beberapa pelayan, tapi saat ini cukup berbeda. Tidak disambut pelayan, atau pun tidak disambut mamah ayu, tapi saat ini mereka disambut oleh orang yang berbeda dan tidak asing bagi Nadia.
“Lo”ucap Nadia dingin sedangkan Alvin hanya menatap sekilas lalu berjalan menuju lift.
“Hay nad, lama iyh kita ngk ketemu”ucap Rania basa-basi.
“Gapain kesini”ucap Nadia to the point’
“Gue kesini cuma mau kasih tau berita penting sama Lo, kalau..-_”
“Langsung intinya aja, ngk usah basa-basi”ucap Nadia memotong ucapan Rania.
“Papah Lo sakit nad, sekarang dia terbaring dirumah sakit. Kemarin sebenarnya sudah mulai stabil, tapi setelah mendengar berita tentang Lo di keluarkan dari kampus papah kembali drop lagi. Dan belum lagi kabar perusahaan yang rugi besar, Akibat pembangunan kapal dikota Surabaya gagal karna kebakaran”ucap Rania menatap Nadia.
“Lalu apa hubungannya smaa gue...?dia kan suami Lo, jadi itu urusan Lo lah. Jangan cuma menikmati hartanya Lo bisa tapi menjaga dia waktu sakit Lo ngk bisa”ucap Nadia dingin tanpa ada rasa khawatir sedikit pun yang tertoreh di wajahnya.
“Tapi dia papah Lo nad, papah kandung Lo. Kalian mengalir darah yang smaa”
“Sejak papah gue berhubungan dengan Lo, sejak saat itu juga gue ngk anggap dia sebagai papah gue lagi. Paham Lo”ucap Nadia dengan suara yang gemetar. Percayalah jika mulut nya bisa berkata demikian tapi hati berkata lain. Tak dapat di pungkiri jika saat ini hati benar-benar di hantui kekhawatiran dengan kondisi papahnya.
Tapi saat ini egonya terlalu tinggi sampai mulut mampu mengalahkan rasa khawatir di hati nya. Biar bagaimana pun hanya papah Bram yang Nadia miliki saat ini.
“Jaga mulut Lo Nadia. Ngk ada yang namanya mantan ayah atapun itu mantan anak, biar bagaimana pun beliau tetap ayah kandung Lo, kalau tidak ada beliau Lo ngk mungkin ada sampai saat ini nad, emng bisa cuma Tante Lisa yang membuat jadi anak..?pikirkan kata-kata gue nad, jangan sampai Lo menyesal kedepannya”ucap Rania mencoba menahan emosi, mungkin karna pengaruh dari hormon kehamilannya membuat emosinya cepat meledak tanpa pandang buluh.
“Lo ngk usah bawa-bawa mamah gue ran”ucap Nadia kesal.
“Lo udh dewasa nad, Lo udah bersuami gue harap pemikiran juga sudah dewasa. Ingat, tante Lisa juga ngk bakal senang melihat anak semata wayangnya membenci papah kandungnya sendiri”ucap Rania.
“Keluar dari sini ran, hidup hidup gue Lo ngk usah ikut campur. Mau gue benci sama papah gue itu urusan gue dan gue juga yang tanggung akibatnya jadi Lo ngk usah sok menasihati gue, jangan sok menjadi orang penting dalam hidup gue ran”bentak Nadia kesal.
“Lo terlalu ke kanak-kanakan Nadia”ucap Rania.
“Diam Lo. Lo ngk pernh merasakan sakitnya jadi gue, Lo ngk pernh merasakan kecewanya jadi gue ketika papah gue sendiri selingkuh sama sahabat gue sendiri, sahabat yang gue anggap sebagai saudara gue sendiri. Yang Lo rasa kan adalah ngimna bahagia ketika Lo sudah menghancurkan keluarga gue tanpa sisa, bangga Lo telah menyandang marga Maharani di belakang nama Lo kan..?gue benci sama Lo ran, entah dibagian mana kesalahan gue smaa Lo sampai Lo tega menghancurkan keluarga gue”bentak Nadia kesal.
“Ok, gue slaah nad, gue minta maaf. Gue minta maaf telah menghancurkan keluarga Lo, gue khilaf nad”ucap Rania menatap Nadia.
__ADS_1
“Keluar Ran. Lo beruntung karna sampai saat ini gue ngk menyelidiki kematian mamah gue, karna gue yakin kematian mamah gue ada hubungan smaa Lo”ucap Nadia dan seketika itu juga wajah Rania berubah menjadi pucat, sepertinya ketika mendengar suara itu darah di wajah Rania hilang begitu saja.
Rania terlalu lancar berbicara kepada Nadia, sampai ia melupakan kebusukan yang ia tutupi selama ini tentang kematian mamah nadia yang memang ada sangkut pautnya sama dia.
“Ngk usah pucat begitu wajah Lo. Gue masih berperikemanusiaan, tapi ingat batasan lo nad”ucap Nadia yang menyadari wajah Rania yang pucat.
“lo tau kan arah pintu keluar..?”Ucap Nadia “mba antar tamu syaa keluar dari rumah ini”teriak Nadia karna melihat Rania yang hanya diam saja.
“Baik nona”ucap pelayan dan mencoba mengiring Rania menuju pintu keluar.
“Gue bisa sendiri”ucap Rania sambil mengambil tas selempang yang ada di atas sofa.
“Jangan sampai menyesal nad. Gue pergi”ucap Rania lalu pergi meninggalkan ruang tamu itu.
Seperginya Rania, air mata Nadia yang ditahan sejak tadi turun begitu saja, tangisnya pecah ketika mengingat dimana hancurnya keluarganya secara bertahap. Mulai dari papah selingkuh dan mamahnya murung setiap hari di kamar hingga pada akhirnya mamah meninggal dunia karna kecelakaan.
“Aaaaaaaa kenapa semua ini terjadi, kapan semua ini berakhir hik hik hik”teriak Nadia sambil menghempaskan vas bunga yang ada di atas meja.
Sejak kecil Nadia terlalu sayang kepada papahnya, sehingga ketika papahnya melakukan kesalahan yang fatal membuat rasa benci di hati Nadia mengludak dengan cepat. Nadia paling benci sama yang namanya perselingkuhan, itulah sebabnya Nadia tidak pernh menjaling hubungan dengan lawan jenis, ia terlalu takut jika pasangannya selingkuh. Karna ia sadar, hatinya tidak sekuat mamah Lisa yang bisa menjalani hubungan bercampur perselingkuhan.
“Hik hik hik Nadia harus bagaimana mana mah, Nadia khawatir sekaligus benci smaa papah”lirih nadia sambil menarik rambutnya frustasi.
Sedangkan pelayan hanya bisa melihat Nadia yang mengamuk tanpa ada yang berani memenangkan.
“Nadia”teriak Alvin sambil menuruni tangga.
“Hei hei nad. Lihat gue”ucap Alvin sambil menenangkan Nadia.
“Tarik napas lalu buang pelan-pelan, lakukan berulang kali”instruksi Alvin menenangkan Nadia.
“Gue capek Al”bukannya semakin tenang tangis Nadia malah pecah.
“Tenang nad, Lo harus kuat, ada gue disini”ucap Alvin lalu menarik Nadia kedalam dekapannya. “Lo jangan nangis, nanti masalah yang menghampiri Lo malah tertawa melihat Lo menangis seperti ini”ucap Alvin mengelus rambut Nadia.
Sepertinya Alvin lebih baik melihat Nadia yang cuek dan dingin dari pada Nadia yang terpuruk sepertinya ini. Hatinya terlalu sakit melihat keadaan Nadia sekarang ini.
“sekarang kita kekamar supaya Lo istirahat”ucap Alvin ketika merasa Nadia mulai tenang. Alvin langsung mengendong Nadia dan berjaln menuju kamar.
__ADS_1
“Tolong di bereskan semuanya, dan pastikan papah dan mamah tidak mengetahui kekacauan ini”
“Lo mandi duluh habis tuh istirahat”ucap Alvin sambil mendirikan Nadia di depan ruangan mandi.
“Gue lagi malas mandi, gue mau langsung istirahat saja”ucap Nadia lemas.
“Lo mandi sendiri atau gue yang mandikan”ucap alvin kembali kesal apalagi ketika mengingat kebiasaan buruk Nadia yang sering mandi sekali dalam sehari.
“Mesum Lo”ucap Nadia tak kalah kesal, ternyata semudah itu Nadia melupakan kesedihannya.
“Sudah sana masuk, mesum sama istri sendiri tuh ngk dosa”ucap Alvin sambil mendorong tubuh Nadia menuju kamar mandi.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Nadia sudah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk yang menutupi sebagian dari tubuhnya. Nadia tidak sempat membawa baju ganti ke kamar mandi karna Alvin langsung mendorong dirinya tadi, bahkan handuknya pun Alvin yang mengambil tadi.
“Kemana dia”guman Nadia sambil berjalan menuju meja rias dan mengambil alat pengering rambut.
“Kamu udah mulai menggoda ku nad”bisik Alvin tepat ditelinga Nadia sambil memeluk Nadia dari belakang.
Shitttt
Dengan begitu santai Nadia mengerikan rambutnya tanpa menyadari penampilan saat ini yang hanya menggunakan handuk untuk menutup tubuh polosnya, sehingga tubuhnya hanya tertutup mulai dari dada sampai paha saja.
Nadia melupakan kalau di kamar ini ada manusia yang si paling buaya. Kalau sudah seperti ini Nadia bingung harus berbuat apa, apalagi saat ini Alvin sudah memeluk nya dari belakang. Memang untuk pertama kalinya Nadia tidak membawa baju ganti ke kamar mandi.
“Mau apa”ucap Nadia sambil menutupi kegugupannya.
“Mau kamu nad, aku minta hak sebagai suami boleh”bisik Alvin dengan suara serak. Sama hal dengan Nadia, Alvin juga melupakan respon tubuhnya ketika berdekatan dengan Nadia, alhasil saat ini ia harus kembali menahan sesuatu yang bergejolak di bawah sana. Syukur-syukur Nadia mau melayani saat ini, kalau tidak, mau tidak mau Alvin harus kembali membuang bibit premium sekarang.
“Hak apaan”ucap Nadia pura-pura tidak tau, bisa bahaya kalau Alvin benaran meminta hak yang ada di kepala Nadia saat ini.
“Aku tau kamu ngk bodoh Nadia”ucap Alvin sambil membalikkan badan Nadia sehingga untuk beberapa saat tatapan mereka saling bertemu.
“please nad, aku sudah ngk tahan lagi. Aku janji bakal main pelan-pelan”suara parau Alvin tepat di depan wajah Nadia.
“Tapi gue belum siap Al, gue takut”lirih Nadia sambil meremas ujung handuknya.
“Apa yang Lo takutkan..?gue suami Lo nad”ucap Alvin
__ADS_1
“Kata orang-orang kalau pas awal tuh rasanya sakit Al. Gue ngk kuat”lirih Nadia hampir mau menangis, ini slaah satu yang ditakutkan Nadia selama ini, yaitu melewati malam pertama.
“Sakitnya cuma sebentar aja kok nad, please nad ini permintaan pertama gue smaa Lo setelah resmi jadi suami Lo. Dosa loh nolak suami”ucap Alvin membujuk Nadia, Alvin bertekad kalau malam ini ia akan memiliki Nadia seutuhnya.