Terjerat Cinta Kapten Kapal

Terjerat Cinta Kapten Kapal
bab 52 bukan menantu tapi anak bungsu


__ADS_3

Hampir satu jam Nadia berada di makam itu, perlahan ia meninggalkan makam itu. Tapi baru beberapa makam ia lewati, mata fokus ke sebuah makam yang di yakini makam itu baru. Terlihat dari tanahnya yang belum kering sama seperti mamahnya


Tapi untuk saat ini, Nadia bukan fokus ke tanahnya yang masih basah, tapi ia lebih fokus ke batu nisan dan sebuah foto yang di pajang di bawah batu nisan. Perlahan tapi pasti, hanya melewati beberapa kuburan Nadia berjalan mendekati makam itu.


“Adrian Pratama binti vino pratama”guman Nadia nyaris tidak terdengar.


“dan ini siapa yang memajang foto gue disini”guman Nadia lagi “ini muka gue kan”ucap Nadia memastikan bahwa foto yang ia temukan itu adalah mirip mukanya.


“Oh iyh muka gue”ucap Nadia setelah menyamakan foto itu dengan foto di ponselnya.


“Maksudnya apa ini semua, dan Andrian ini siapa..? bisa-bisanya foto gue di pajang di kuburannya, kenal juga kagak”gerutu Nadia.


Berbagai hal-hal negatif mulai menghantui dirinya, tak hanya itu sebisa mungkin ia berpikir keras tentang siapa dan apa hubungannya dengan seorang yang bernama Adrian.


“Anying, bahkan gue baru pertama kalinya menyebut nama Adrian”ucap Nadia kesal. Karna sumpah demi apapun ia tidak mengenal sedikit pun tentang sosok Adrian di kehidupannya.


“Hay Adrian. Gue panggil apa iyh, om, mas, atau bapak. Ahhh apapun itu Adrian. Lo siapa di dalam hidup gue..?kenapa foto gue ada di kuburan Lo..?tapi Lo ngk berniat buat hantuin gue kan..?kenal Lo aja kagak gue”ucap Nadia sambil menatap batu nisan Adrian.


“Adrian Pratama binti vino Pratama dan Alvian Alfian Pratama. Sama-sama mempunyai marga Pratama, apa jangan-jangan..—“guman Nadia.


“Ngk mungkin Adrian ini ada hubungan sama Alvin”ucap Nadia sambil mengeleng kepala, sungguh entah kenapa pikirannya sampai sejauh ini.


“Apa mungkin Alvin yang pajang foto gue disini..?tapi apa hubungannya..?apa gue punya masa lalu bersama Adrian..?tapi ini semua tidak mungkin, rasanya tidak ada laki-laki dimasa lalu gue, mantan aja kagak punya gue”guman Nadia semakin pusing seratus delapan derajat putaran.


“Woy Adrian Lo siapa gue, kenapa foto gue ada disini”ucap Nadia kesal. Ia seperti orang gila yang berbicara kepada kuburan, karna Nadia saking pusing sendiri dengan fakta yang baru ia temukan. Ia bertanya dan ia juga yang menjawab, sungguh aneh tapi ia memang nyata adanya. Fotonya di pajang di makam yang bahkan Nadia tidak tau itu makam siapa.


“Kayaknya gue harus nanya Alvin deh, gue yakin Adrian ini ada hubungan dengan Alvin”guman Nadia.


“Adrian, apapun yang membuat Lo meninggal, jika memang itu berhubungan dengan gue, gue minta maaf iyh. Tapi jujur dari hati gue yang paling dalam, gue ngk kenal Lo sama sekali”ucap Nadia lalu meninggalkan kuburan itu, tak lupa ia membawa foto dirinya. Tanpa ia sadari bulu-bulu halus Nadia seketika berdiri, ia memang gadis barbar, tapi biar bagaimana pun kalau mendapati hal seperti ini ia juga takut bukan main.


Nadia langsung melajukan mobilnya meninggalkan area kuburan. Sesekali ia melihat ke arah belakang, takut-takut Arwan si Adrian mengikuti dirinya.


Setelah bebrpaa menit perjalanan Nadia sudah sampai dirumah, ternyata keadaan rumah masih sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang.


“Nona Nadia kok sudah pulang dari kampus”ucap pelayan.


“Iyh mba, dosen hari ini ngk masuk. Btw mamah kemana mba”


“Nyonya Ayu pergi ke kantor tuan mengantar makan siang sekalian arisan”

__ADS_1


Sedangkan nadia hanya ber o ria saja. Lalu melanjutkan langkah menuju kamar dirinya.


“Kalau begitu nadia langsung ke kamar iyh mba”


“Silakan nona, apa perlu kami siapkan makan siang untuk nona..?atau sekedar cemilan..?


“Ngk usah mba, saya belum lapar, sya mau istirahat aja”


Nadia langsung naik ke kamar dan meletakkan foto yang ia temukan di kuburan itu di atas meja riasnya. Sejenak Nadia menatap dirinya di pantulan kaca riasnya lalu mencocok dengan foto yang ada ditangannya.


“Mirip kok, dan ini benar-benar gue”guman Nadia bingung. Sumpah demi apapun ia seperti orang bodoh yang mempunyai seribu pertanyaan tapi tidak ada jawaban sama sekali. Dan menurutnya itu hanyalah pertanyaan konyol dan yang membuatnya semakin bodoh adalah ketika ia begitu penasaran dengan pertanyaan itu.


“ngk mungkin kan ada orang lain yang berniat menyantet gue”ucap Nadia terkekeh geli. Tak habis pikir dengan hal tersebut.


Tak mau pusing sendiri, akhirnya memutuskan untuk mandi karna ia merasa badan seperti bau kuburan. Masalah di kampus belum selesai ditambah lagi masalah di kuburan itu, dan belum lagi ia menghadapi amukan dari mertuanya nantinya, sungguh kepala Nadia hampir mau pecah saja rasanya.


Tak terasa hari sudah mulai malam, dan akhirnya makan malam pun tiba. Dengan formasi yang lengkap Pratama family sudah berkumpul di meja makan. Dimeja makan hanya terjadi keheningan, hanya terdengar suara hentakan sendok saja.


“Nad, kenapa..?jujur papah kecewa sama kamu. Kamu punya masalah apa nak..?kenapa ngk cerita..?kenpa harus merokok..?kan kamu tau kampus pelayaran itu dilarang merokok apa lagi di area kampus”ucap papah Vino memecahkan keheningan setelah selesai makan.


“Maaf pah, maaf mah”ucap Nadia sambil menunduk kepala.


“Kita bicara di ruang tamu”ucap mamah ayu sambil mengikuti suaminya.


“Ayo”ucap Alvin hendak meraih tangan Nadia, tapi Nadia segera menghindar.


“Gue takut. Untuk pertama kalinya papah marah besar sama gue”ucap Nadia dengan nada penuh penyesalan. Kalau duluh jika ia melakukan kesalahan maka ending tidak akan seperti ini, Bram tak mau ambil pusing dengan kesalahan yang Nadia perbuat.


“Papah ngk marah, tapi papah cuma kecewa nad. Lo tenang aja, ada gue disini”ucap Alvin sambil mengusap pipi Nadia.


“Lo percaya sma gue nad, semua akan baik-baik aja. Ayo kita bicara di ruang tamu”ucap Alvin sambil mengengam tangan Nadia, menuntun gadis itu berjaln menuju ruang tamu.


Sampai di ruang tamu Nadia tidak berani menatap papah Vino dan mamah ayu, ia hanya mengarahkan pandangan ke bawah saja. Sumpah demi apapun ia seperti anak perawan yang ketahuan orang tuanya berpacaran, iyh meskipun sampai saat ini Nadia masih perawan.


“Ada masalah apa nad, coba kamu cerita sama kita syang. Kalau ada masalah itu diceritakan sayang, ada mamah yang siap mendengar keluhan kamu, ada Alvin suami kamu yang siap membantu kamu. Ada masalah itu ngk harus langsung merokok sayang”ucap mamah ayu membuka pembicaraan.


“Maaf mah, Nadia benar-benar khilaf. Nadia tidak tau kalau ada yang diam-diam mengambil foto Nadia”ucap Nadia sambil menunduk kepada dengan tangannya yang kuat mengenggam tangan Alvin.


“Sejak kapan kamu merokok nad, papah pikir ini bukan hanya sekali sjaa kamu merokok”ucap papah Vino.

__ADS_1


“Sejak SMK pah, tapi ngk sesering waktu kuliah”lirih Nadia. Mendengar hal itu papah Vino hanya menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar, ternyata Nadia sudah jauh ke kecanduan merokok.


“Kamu tau nad, selama ini papah ngk pernh anggap kamu sebagai menantu dirumah ini”ucap papah Vino menjeda ucapannya sambil menunggu reaksi ketiga manusia di hadapannya. Dan benar sjaa secara bersamaan mereka menatap dirinya dengan wajah-wajah bingung.


“Tapi papah sudah menganggap kamu seperti anak bungsu dirumah ini. Anak perempuan kami, bagi papah kamu bukan istri Alvin tapi bagi papah kamu adalah adiknya Alvin. Makaya papah selalu mengingat Alvin supaya tidak menyakiti kamu terlalu jauh nad, karna papah smaa mamah syang sekali smaa kamu”ucap papah Vino sehingga membuat mereka lega. Terutama Alvin, ia pikir dengan Nadia melakukan kesalahan seperti ini papahnya akan memaksa nya meninggalkan Nadia.


“Sudah lah, papah harap ini kesalahan kamu yang pertama dan yang terakhir kalinya nad. Mulailah hidup normal, kamu punya masa depan yang panjang dan kamu punya cafe yang harus kamu kembangkan dan kamu juga punya suami yang perlu kamu layani nak. Berusaha untuk membuka hati dan menerima kalau kamu saat ini sudah menikah”ucap papah Vino.


“Papah harap kamu tidak mengecewakan papah sama mamah kedepannya lagi. Ingat di belakang nama kamu ada Pratama nak, kamu bagian dari keluarga ini, bukan hanya sekedar menantu tapi kamu adalah anak perempuan kami”ucap papah Vino menaruh harapan penuh kepada Nadia.


“Maksih pah, mah. Nadia janji ini yang terakhir kalinya, Nadia ngk bakal merokok lagi”ucap Nadia.


“sama-sama sayang, kedepannya jangan terlalu cuek dan dingin sayang, perhatikan orang-orang disekitar kamu. Ngk semua orang itu sama, mulai lah membuka hati dan diri untuk orang lain”ucap mamah ayu yang cukup prihatin dengan kemajuan hubungan Nadia dan Alvin. Dimana Nadia yang begitu menutup diri dari Alvin.


“Iyh mah, Nadia akan coba”ucap Nadia.


“rencana kedepannya untuk Nadia apa Al, papah ngk mau dia berhenti kuliah. Kalau ngk bisa ke pelayaran ke kampus biasa aja”ucap papah Vino menatap Alvin.


“alvin sudah mendaftarkan Nadia ke salah satu kampus swasta disini pah, dan untuk kedepannya Alvin yang akan mengantar jemput Nadia, sekalian memantau Nadia juga. Takut nanti Nadia berbuat ulah lagi pah. Mungkin mulai besok Nadia akan masuk kuliah”ucap Alvin menatap Nadia.


“Bagus. Papah suka dengan cara kerja kamu yang cepat seperti itu, pokoknya setiap harinya kamu pastikan Nadia sampai ke kelas dan pulang kerumah. Papah mau kamu mengantar Nadia sampai kemeja di kelasnya, kalau perlu pulang kuliah kamu bawah saja Nadia ke kantor. Soalnya cafenya Nadia, biar orang papah yang mengurus”ucap papah Vino tak mau di bantah.


“apa ngk terlalu berlebihan pah”ucap mamah ayu.


“Sebenarnya itu sudah berlebihan sayang, tapi aku ngk mau sampai kecolongan untuk kedua kali. Cukup yang terakhir kalinya Nadia menyentuh barang jahanap itu, pokoknya Nadia harus bisa belajar hidup normal, menjadi wanita yang anggung”ucap papah Vino.


“Gadis pah, Nadia masih gadis, Masih tersegel”ucap Alvin membenarkan ucapan vino.


“Aukkkk, sakit nad, gapain Lo injak kaki gue sih”ucap Alvin menatap Nadia.


“pikir aja sendiri”ucap Nadia kesal.


“apa yang mau dipikirkan. Emng benar kan..?Lo masih perawan..?gue belum buka sengel Lo”ucap Alvin belum menyadari ucapannya.


“Auh ahh, pah mah, Nadia masuk kamar duluh”ucap Nadia kesal lalu meninggalkan ruangan tamu itu.


“Alvin salah ngomong iyh”ucap Alvin bingung.


“Salahlah, makaya kalau ngomong itu di filter. Mau Nadia perawan kek, mau segel kek itu kan privasi kalian”ucap mamah ayu gemas sendiri.

__ADS_1


“Astaga Alvin”ucap Alvin sambil menepuk jidatnya setelah menyadari ucapannya, lalu ia berjlan menyusul Nadia.


__ADS_2