
Ketika Nadia masuk ke kamar mandi Alvin melanjutkan tidurnya, karna memang rasa gantuk sangat menyerangnya sebab baru satu jam yang lalu ia bisa tidur.
Sedangkan Nadia setelah selesai sholat, ia langsung ke dapur dan berjalan menuju dapur. Entah angin apa Nadia ingin membuat sarapan buat Alvin tentunya.
“Pagi mba”ucap Nadia kepada beberapa pelayan yang sibuk di dapur.
“Pagi nona. Ada yang bisa kami bantu nona”
“Ngk ada mba. Saya cuma ingin membuat sarapan pagi ini”
“Tak perluh repot-repot nona, membuat sarapan itu sudah menjadi kewajiban kami. Sebaiknya nona kembali saja ke kamar, kami sudah biasa menghendel sarapan setiap harinya”
“Ngk masalah mba. Biar sarapan pagi ini Nadia yang buat”
“Nanti kami di marahi tuan Alvin nona, di rumah ini nona menantu”
“Justru syaa menantu mba, jadi sudh sewajarnya bangun pagi dan menyiapkan sarapan”
“Mamah sama papah biasanya suka makan nasi goreng di pagi hari kah”ucap nadia mengalihkan kekhawatiran pelayan.
“tuan sama nyonya biasa makan nasi kuning di pagi hari nona, sedangkan tuan Alvin biasa makan pakai beras merah”ucap pelayan.
“Berhubung saya tidak bisa membuat nasi kuning jadi mba aja yang buat. Kalau soal sarapan Alvin biar sya aja yang membuat”ucap Nadia lalu menyiapkan alat dan bahan-bahan yang di butuhkan.
Hampir setengah jam Nadia bertempur di dapur hanya membuat nasi goreng saja, maklumlah Nadia tidak mahir dalam memasak. Di dapur bukanlah bidangnya Nadia, tapi kalau ia di suruh ngurusi laporan maka Nadia mahir di bidang itu.
Karna sejak zaman SMK Nadia sudah bersahabat dengan berbagai macan jenis laporan, karna Nadia sendiri yang turun tangan mengelola laporan cafe yang sedang berkembang.
“Pagi mah”ucap nadia sambil meletakan mangkok berisi nasi goreng di atas meja.
“Pagi syang, kamu masak sayang..?”ucap mamah ayu sambil duduk di kursi.
“iyh mah, Nadia cuma bisa masak nasi goreng aja mah. Maaf iyh mah Nadia ngk ngerti masak nasi kuning”ucap Nadia tak enak hati.
__ADS_1
“Ngk papa syang, toh ada pelayan yang udah siapkan”ucap mamah ayu yang memahami. Karna menurutnya tidak semua wanita harus bisa memasak segala sesuatu nya.
“Pagi”ucap papah Vino sambil mencium pipi mamah ayu.
“Pagi mah pah”ucap Alvin sambil turun dari lantai dua lalu di duduk di samping Nadia.
“Pagi syaang, udah yuk kita langsung sarapan. Nadia ayo syang duduk”ucap mamah ayu.
Mamah ayu seperti biasa melayani suami terlebih dahulu baru mengambil bagian nya, kalau duluh ia melayani Adrian, Alvin duluh baru mengambil bagianya.
“Kakak mau nasi goreng kah”ucap Nadia menawarkan Alvin.
“Boleh”ucap Alvin dan Nadia pun langsung mengisi menu pagi ini dengan nasi goreng merah.
“Mau lauk apa”tanya Nadia
“ayam goreng aja”ucap Alvin.
Di rasa Nadia sudah selesai melayani Alvin, lalu mereka dalam diam. Hanya suara hentakan sendok yang saling bersautan.
“Iyh pah, itu Nadia yang buatkan. Khusus buat Alvin katanya pah”ucapp mamah ayu.
Mendengar hal itu sejenak Alvin menghentikan makannya dan menatap Nadia yang sedang menunduk. Padahal bukan pertma kalinya Alvin memakan masakkan Nadia, entah kenapa rasa kali cukup jauh berbeda di lidah dan hati Alvin.
“Jadi sarapan Alvin aja nih yang dimasakin. Papah mertua kamu ini ngk ngituh”ucap papah Vino.
“Maaf iyh pah, Nadia ngk bisa masak nasi kuning. Nanti kalau Nadia coba takut ngk enak rasanya”ucap Nadia takut-takut.
“Apaan sih papah nih, Alvin kan suaminya Nadia, iyh Nadia wajib masakin Alvin lah. Papah kan cuma mertua lagian ada mamah yang jagonya masak nasi kuning”
“Pokok cuma Alvin yang bisa di layani Nadia pah”ucap Alvin.
Sedangkan mamah ayu dan papah Vino hanya mengeleng ketika Alvin mulai memperlihat sikap bucinnya. Berbeda dengan Nadia yang menjadi pendengar setia diantar perdebatan mereka.
__ADS_1
Jujur, ia cukup iri dengan canda tawa yang ada di keluarga Alvin. Karna sejak papahnya ketahuan selingkuh sejak saat itu juga kehangatan di keluarga hilang begitu sjaa.
Mamah Lisa yang sibuk mengurung diri sedangkan papah Bram yang jarang pulang semenjak ada mainan baru.
Tak terasa waktu terus berlalu, keempat anggota keluarga itu akhirnya berpisah di teras rumah, papah Vino yang akan pergi berlayar, beserta mamah ayu yang ikut mengantar suaminya ke pelabuhan, Alvin yang mengganti papahnya meeting, sedangkan Nadia akan berangkat ke kampus.
Setelah menempuh perjalanan beberpa jam akhirnya nadia sampai di kampus dan langsung turun dari mobil, tak lupa ia melepas jaketnya dan mengendong tas hitam di punggungnya.
“Nad”ucap Rania yang sejak tadi memang segaja menunggu Nadia.
Nadia tidak menjawab, melainkan ia menghentikan langkah dan berbalik menatap Rania dengan wajah datar.
“Papah masuk rumah sakit. Gue udah mencoba hubungin Lo, tapi nomor Lo ngk aktif”ucap Rania menatap Nadia.
“Itu kan suami Lo, iyh rawatlah. Gapain Lo cariin gue”ucap Nadia dingin.
“tapi dia cariin Lo terus nad, turunkan sikap egois Lo, saat ini papah Lo lagi sekarat Nadia. Kemarin sore dia jatuh di kamar mandi”ucap Rania menjelaskan kepada Nadia.
“Ohh ngk sampai lumpuh kan”ucap Nadia dingin.
“Gila Lo iyh nad, papah Lo lagi sekarat Lo malah nanya begitu. Jangan sampai Lo menjadi anak durhaka Nadia. Lo ngk sadar selama Lo dirumah sakit siapa yang jaga Lo, dasar anak ngk tau di untung Lo iyh”ucap Rania kesal.
“Iyh gue tau kalau selama dirumah sakit yang jagain gue tuh papah, tapi bukan kah itu sudah menjadi kewajiban sebagai seorang ayah. Lagian Lo sama gue apa bedanya sih ran, gue anak yang tidak tau di untung sedangkan Lo istri yang tidak tau di untung masih selingkuh dengan laki-laki lain”ucap Nadia membungkam mulut Rania.
“Miris gue sama Lo ran, Lo buka ************ Lo sama laki-laki lain dan Lo minta pertanggungjawaban kepada laki-laki lain juga. Gue salut sama skenario Lo”ucap Nadia tersenyum mengejek Rania.
“Nadia, gue belum selesai berbicara”teriak Rania menghentikan langkah nadia.
“Gila iyh, untuk pertama kalinya gue menemukan seorang anak yang masa bodoh saja ketika mengetahui orang tua nya sakit. Biar bagaimana pun mas Bram itu adalah papah kamu, bakal seperti apa reaksi Tante Lisa ketika mengetahui anaknya menjadi durhaka”teriak Rani lagi sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian.
“ck Lo ngk usah bawa-bawa almahum mamah gue ran, dia suami Lo urus aja sendiri”ucap Nadia kesal lalu melanjutkan langkah tanpa menghiraukan teriak Rania.
Sedangkan mahasiswa lain hanya mengeleng kepada dengan perdebatan Rania dan Nadia. Mereka belum tau banyak tentang Nadia dan Rania.
__ADS_1
“Lo terlalu lebay Nadia, Lo egois, Lo terlalu mementingkan diri Lo sendiri”batin Rania menatap punggung Nadia yang semakin jauh dari pandangannya.