
Akhirnya Laura pergi meninggalkan dapur dan berjalan menuju tempat dimana teman-teman nya berada.
Mereka cukup banyak, karna yang reunian kali ini satu angkatan, dan tak sedikit di antara mereka yang mempertanyakan posisi Nadia di cafe itu, secara yang mereka tau kalau Nadia keturunan orang kaya. Jadi tidak etis rasanya jika Nadia harus bekerja sebagai pelayan lagi.
Dan dengan begitu bodohnya lagi mereka tidak menyadari nama cafe tempat mereka mengadakan reunian. Mereka terlalu fokus kepada Nadia dan juga kepada Alvin, yang dimana mereka juga tau kalau Nadia membangun tembok yang kuat untuk kaum laki-laki
Jika di lantai bawa teman-teman Nadia sedang berbagai cerita tentang kesibukan mereka saat ini, maka berbeda di ruangan Nadia yang lagi-lagi terjadi keheningan.
Nadia yang sibuk dengan pekerjaan berbda dengan Alvin yang sedang istirahat di sofa yang ada di ruangan ini.
“Al, kerja smaa antara perusahaan pak Bruno kok kamu tolak, kan lumayan tuh keuntungan nya”ucap Nadia karna selama Nadia koma dan pemulihan dirumah sakit alvinlah yang mengambil alih cafe Nadia.
Sedangkan Alvin yang mendengar pertanyaan Nadia, otomatis membuka matanya dan menatap Nadia.
“Hubungan perusahaan konstruksi apa smaa usaha cafe..?kalau mau menerima kerja itu harus mencari asal-usul perusahaannya, bekerja di bidang apa dan cabangnya dimana-mana”ucap Alvin sambil berjalan mendekati meja kerja Nadia.
“perusahan pak Bruno itu ngk ada cabang di kota ini, bahkan perusahaannya baru berdiri beberapa bulan lalu,emng Lo ngk curiga ada angin apa perusahaan yang bekerja di bidang konstruksi dan alat-alat berat mengajukan kerja sama dengan usaha cafe”ucap Alvin menatap intens Nadia, pasalnya ia sudah cukup berpengalaman dalam mengajukan dan menerima kerja sama antar perusahaan, dan tidak bisa sembarangan juga, kalau kita perusahaan kita sendiri yang akan menjadi taruhannya.
“Iyh sudah gue kebawah duluh, soalnya Delon udah menunggu dibawah”ucap Alvin menatap kebawah.
“Iyh sudah kebawah ngih”ucap Nadia cuek.
“Lo ngk mau kasih gue semangat ngituh, supaya meeting hari ini lancar, soalnya meeting hari ini perusahaan dari luar negeri loh”ucap Alvin menaik turunkan alis.
“isss apaan sih, sudah sana. Gue mau kerja”ucap Nadia menatap Alvin karna menurutnya Alvin smaa seperti laki-laki pengoda.
__ADS_1
“Ahh nad, ayolah. Lo kok ngk bisa di ajak romantis sih”rengek Alvin sambil berjalan mendekati kursi kebesaran Nadia.
“Aihhh, semangat Alvin, semoga meetingnya lancar”ucap Nadia tersenyum semanis mungkin.
“kayak ngituh aja”ucap Alvin tak terima.
“Trus Lo mau ngimna. Lo mau gue joget-joget di depan clien Lo”ucap Nadia kesal “sana nah, jangan dekat-dekat”
Karna saat ini dengan Nadia duduk di kursi sedangkan Alvin berjongkok di hadapan Nadia dengan kedua tangannya di letakkan di kedua paha Nadia, sehingga jarak mereka hanya beberpa centi saja.
“ck Al”ucap Nadia sambil menormalkan detak jantung yang tidak bisa di ajak kompromi.
“Nad”ucap Alvin sambil menunjuk bibirnya, bermaksud supaya Nadia menciumnya.
“Ngk usah ngadi-ngadi, sana keluar”ucap Nadia gugup, tak lupa dengan pipinya yang sudah merah seperti tomat di pasaran.
“Iyh sudah, gue tetap disini aja. Biar cliennya nunggu disna”ucap Alvin sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Nadia.
Karna merasa risih, akhirnya nadia memberanikan diri untuk memengang kedua pipi Alvin. Ia dapat melihat dengan jelas wajah tampan Alvin tanpa cela.
Kadang ia berpikir, mengidap apa duluh mamah ayu hingga melahirkan anak setampan Alvin. Nadia tidak bisa berbohong kalau Alvin benar-benar laki-laki tampan.
Cup
“Udah sana keluar”ucap Nadia memaling wajahnya.
__ADS_1
Awalnya seperti mendapat angin segar karna Alvin berpikir kalau Nadia akan menciumnya di bibir. Tapi ternyata, angin segar itu tidak sampai pada tujuan karna Nadia mencium di bagian pipi.
Awalnya Alvin kecewa. Tapi, setelah di pikir-pikir lagi ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka, karna perlahan Nadia sudah membuka cela untuk dirinya.
Sejati Alvin sudah bertekad untuk memulai hubungan yang baik dengan Nadia, hubungan yang mempunyai tujuan kedepannya. Bukan hanya sekedar hidup bersama dan mempunyai keturunan. Tapi, plenning Alvin sudah jauh kedepan.
Dan oleh sebab itu, Alvin akan memulai dari dirinya, belajar mencintai Nadia. Anggap saja dia menelan ludahnya sendiri, karna duluh bertekad tidak akan menerima Nadia istri seutuhnya karna mengingat tujuan awal Alvin menikahi Nadia tentunya.
Alvin juga berencana, setelah hubungannya bersama Nadia masuk ke tahap serius dan Nadia mulai menerima posisinya sebagai kepala rumah tangga. Perlahan ia akan membawa Nadia ke makam Adrian. Ia ingin mengatakan kepada Adrian bahwa ia telah menerima Nadia sebagai istrinya begitu juga sebaliknya Nadia.
“Iyh udh, gue meeting duluh”ucap Alvin sambil berdiri dan mengacak rambut Nadia dengan gemas.
“Aku kenapa..?kenapa pas berdekatan dengan Alvin kok rasanya gugup sekali, padahal awal-awal aku tidak merasa gugup. Dan apa itu tadi.?aku mencium pipi Alvin, mau taruh dimana muka ku nanti”ucap Nadia sambil menutup wajah menggunakan map di atas meja.
“Tenang nad, itu cuma cium di pipi. Alvin tidak akan meminta lebih”ucap Nadia lagi.
Tanpa ia sadari ternyata Alvin masih menguping ucapannya. Mendengar hal itu, Alvin tersenyum manis, ternyata bukan hanya dia saja yang merasakan hal itu, baik dia maupun Nadia sama-sama merasakan hal yang sama.
“Tuan dimana, clien sudah menunggu sejak tadi. Mau syaa jemput kah ke ruangan nona Nadia. Sejak tadi clien sudah mengoceh tidak jelas syaa pusing”pesan dari Delon, yang sudah kesemutan menunggu Alvin yang katanya tadi sudah otw dari ruangan Nadia, tapi entah otw kemana Delon sendiri biingung.
“Dasar asisten laknat. Ngk bisa banget lihat tuannya senang sedikit pun”maki Alvin setelah pesan singkat dari Delon.
Alvin pun berjalan menuju ruang VIP yang telah di tentukan. Sama hal dengan Nadia, setelah di rasa jantung mulai normal dan pekerjaan sudah selesai, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan untuk menemui teman-temannya yang sedang mengadakan reunian.
Sebenarnya Nadia malas kalau sudah berkumpul-kumpul semacam ini, karna sejati Nadia adalah perempuan yang tidak suka nongkrong sana-sini, jadi ketika pulang sekolah Nadia akan langsung pulang kerumah, jika pun ingin nongkrong maka sindy dan Rania yang akan datang kerumahnya.
__ADS_1
Mungkin karna Rania sering nongkrong dirumah Nadia, sehingga ia menyalakan gunakan hal itu, dan terjadi perselingkuhan antar Rania dan juga papahnya Nadia. Dan hal itu membuat persahabatan Rani dan Nadia langsung putus pada saat itu juga.