
Alvin yang memberikan peringatan ringan kepada Laura, lain halnya dengan Nadia. Setelah hampir satu jam berjalan, akhirnya mata kuliah hari ini sudah selesai. Waktu di kampus itu cukup baik, dosen datang tepat waktu dan keluar juga tepat waktu, sehingga di hari pertama Nadia cukup baik tentunya.
“Hay”ucap seseorang mendatangi meja Nadia.
“Hay juga”ucap Nadia mencoba untuk ramah.
“Perkenalkan nama gue Rio, ketua umum BEM dikampus ini”ucap Rio sambil mengulurkan tanganya ke hadapan Nadia.
“Gue udh kenalan kan tadi, jadi gue rasa ngk perluu lagi kenalan”ucap Nadia dingin tanpa menyambut tangan Rio.
Ternyata sikap dingin belum ada perubahan, padahal ia sudah berjanji untuk menjadi gadis yang tulen tentunya. Susahnya memang kalau sikap dingin berasal dari keturunan ini.
“Ohh iyh, Nadia iyh”ucap Rio kikuk.
“Seperti yang Lo tau”ucap Nadia dingin.
“Ternyata selerah Alvin sudah berubah, yang duluh menyukai gadis ramah dan tulen, sekarang sudah berubah jadi gadis cuek dan dingin. Tapi cantik sih, cantik banget malah”batin Rio melamun.
Memang duluh Alvin dan Rio merupakan satu sekolah, bahkan mereka merupakan sahabat dekat sekali. Tapi Rio yang mulai iri dengan Alvin, karna Alvin selalu yang nomor satu darinya baik di bidang apapun sehingga membuat Rio menghianati Alvin. Dengan begitu teganya Rio menghamili pacar Alvin waktu SMK dan Rio tidak mau tanggung jawab, sehingga perempuan itu depresi dan memilih bunuh diri. Sejak kejadian itulah Rio dan Alvin menjadi rival.
Bahkan kejadian itu tidak ada yang tau, hanya Alvin dan Rio saja. Karna Alvin berusaha menutupi berita itu dari media, meskipun pada saat itu berita hampir muncul di media, tapi dengan bantuan papanya, Alvin bisa menghapus berita itu. Alvin ingin pacarnya tenang di alam sana tanpa ada pemberitaan tentang kematiannya, meksipun berita itu memang benar seratus perempuan “depresi, seorang pelajaran memilih bunuh diri karna di perkosa teman dari pacarnya sendiri” begitu kira-kira isi dari berita itu.
Agak sulit dipercaya sebelum, karna mengingat kedekatann Alvin dan Rio sudah seperti saudara beda ibu sjaa
“Mau ke kantin..?bareng aja yuk”ucap Rio mencairkan suasana antara dirinya nadia.
“gue ngk lapar”ucap Nadia sambil menyalakan ponselnya.
“Nad.!!”ucap Alvin dari ambang pintu, sehingga memotong ucapan Rio yang hendak bertanya lagi kepada Nadia.
Sejenak Alvin menatap Rio dengan tatapan penuh kebencian.
“udah lama istirahat nya sayang”ucap Alvin sambil berjalan mendekati Nadia dan Rio.
“Baru beberapa menit”ucap Nadia menatap Alvin.
“maaf iyh aku datangnya telat, soalnya mampir ke kantor duluh tadi”ucap Alvin sambil mengelus rambut Nadia.
__ADS_1
“Yuk makan siang. Soalnya gue masih ada satu mata kuliah lagi”ucap Alvin sambil menarik tangan Nadia.
“Kalau masih ada mata kuliah gapain kamu jauh-jauh makan siang kesini. Aku bisa makan siang sendiri kok”ucap Nadia gugup dengan panggilan syaang dari mulut Alvin.
Entahlah, akhir-akhir ini detak jantung Nadia kurang stabil kalau berdekatan dengan Alvin. Sepertinya untuk menghindari percikkan cinta, Nadia harus membangun tembok yang lebih kuat lagi.
“Demi pacar aku apa sih ngk”ucap Alvin mengelus pipi Nadia.
“Kalau ngk ada kerjaan, ngk usah ganggu milik orang lain. Mungkin duluh gue bisa kecolongan, tapi sekarang. Jangan harap gue kasih cela sedikit pun”bisik Alvin sambil menepuk bahu Rio.
“Celanya bukan dari Lo tapi dari si cantik pacar Lo. Entahlah gue selalu tertarik dengan milik Lo. Menarik semua, apalagi yang satu ini. Dingin dan cuek, lebih menantang dari perkiraan”bisik Rio tersenyum licik.
“Jangan pernh Lo sentuh walaupun seujung rambut”bisik Alvin.
“Ngk bakal ku sentuh dan ngk bakal gue kejar, tapi gue dapat dan gue genggam”bisikk Rio membangkitkan emosi Alvin yang sudah di ubun-ubun
“Al, ayo. Katanya masih ada mata kuliah, kamu kenal dia”ucap Nadia yang sudah berdiri di ambang pintu.
“Ngk terlalu kenal sih, cuma kecoak di masa lalu sayang”ucap Alvin mendekati Nadia.
Sedangkan Rio hanya menatap ke arah pintu ruangan dengan tatapan sangat sulit diartikan.
Sampai di kantin, Alvin bukannya makan tapi ia malah mengaduk-aduk bakso yang ada di hadapannya. Mungkin jika itu seorang manusia sudah pusing tujuh turunan.
“ngk bakal gue sentuh dan ngk bakal gue kejar, tapi gue dapat dan gue genggam”kata-kata selalu terngiang-ngiang dalam benaknya. Lalu otaknya kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu, dimana dengan begitu bejadnya seorang Rio memperkosa pacarnya dan lebih biadab lagi ketika Rio tidak mau bertanggung jawab, dan perkosaan itu keluar dari mulut Rio tepat di pusaran pacarnya. Dari situ ia tau begitu bejadnya seorng Rio.
Engga
Sumpah demi apapun ia tidak akan memberikan cela sedikit pun untuk Rio menyentuh Nadia. Ia tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya disebabkan oleh orang yang sama.
“Siapa gue bodyguard dua orang, yang bisa di berjaga dari jarak jauh, pastikan dia bisa keluar masuk di kampus ******”ucap Alvin dari sambung telepon.
“Kenapa Lo cari bodyguard..?buat siapa.?”tanya Nadia bingung.
Sejenak Alvin menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar, kelihatan sekali kalau saat ini wajah penuh dengan ketakutan yang berlebihan “buat Lo, supaya ada yang ngawasin Lo selama dikampus”
“segitu ngk percayanya Lo sama gue..? sampai-sampai Lo harus menyewa bodyguard”ucap Nadia salah paham.
__ADS_1
“Gue percaya smaa kamu nad, karna kamu sudah berjanji di hadapan papah dan aku percaya kamu ngk bakal kecewakam aku, mamah, dan papah. Cuma aku ngk percaya smaa orang-orang disekitar kamu, aku ngk mau kecolongan untuk kedua kalinya”ucap Alvin mencoba memberikan pemahaman.
“Maksudnya ngimana..?emng orang-orang di sekitar gue kenapa..? maksud nya kecolongan kenapa”ucap Nadia semakin bingung.
“Jangan dekat-dekat dengan Rio, dia orangnya berbahaya”ucap Alvin menatap Nadia.
“lo kenal dengan Rio..? Gue baru tadi bertemu dengan dia dan dia yang dekati gue”ucap Nadia.
“Ngk terlalu kenal, Cuma dari segi tatapannya gue tau, kalau dia bukan orang baik-baik”ucap Alvin.
“Pokoknya kali ini aja gue minta tolong sama Lo, jaga jarak dengan Rio. Karna gue ngk mau kehilangan milik gue untuk kedua kalinya dari orang yang smaa”ucap Alvin sambil memegang tangan Nadia.
“Ta...”
“Panjang ceritanya nad, dan bukan saatnya Lo tau itu. Pokoknya jangan dekat-dekat dengan dia”ucap Alvin dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.
“Baiklah. Gue bakal jaga jarak sama dia, tapi kalau dia semakin dekatin gue, gue ngk urus iyh”ucap Nadia
“Gue percaya smaa Lo”ucap Alvin.
“Habiskan makanmu, gue antar lagi ke kelas”
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya makan siang yang di pesan Nadia habis. Dan Alvin langsung mengantar Nadia kembali ke kelas.
Ketika sampai di kelas, Alvin masih melihat Rio duduk tepat di meja Nadia waktu ia tinggal tadi, tidak bergerak sama sekali. Sepertinya Rio memang segaja menunggu dia dan Nadia kembali ke kelas.
“Lo masih ada kelas ngk sih nad..?kalau ngk ada kita balik aja yuk”ucap Alvin khawatir.
“Dari jadwal yang gue lihat sih masih ada, lagian ngk mungkin dong hari pertama gue bolos”ucap Nadia.
“lo kembali ke kampus aja, percaya smaa gue Al, gue bisa jaga diri kok. Kayak Lo baru kenal gue aja sih”ucap Nadia yang mengerti ke khawatiran Alvin.
“tapi nad, gue..—“
“Percaya sma gue Al, gue bukan cewek selemah itu. Gue bisa jaga diri sendiri”ucap Nadia memotong ucapan Alvin.
“Iyh. Nanti gue jemput, pokoknya jangan keluar kelas sebelum gue datang ke kelas Lo, paham”ucap Alvin sambil mengelus pucuk rambut Nadia.
__ADS_1
Seperginya Alvin dari depan kelas Nadia, tak lama kemudian dosen yang mengajar untuk mata kuliah kedua pun masuk, begitu juga dengan Rio, ketika melihat dosen masuk, ia langsung kembali ke mejanya. Sehingga tidak membuat Nadia harus mendebat duluh dengan Rio.