
Setelah hampir setengah jam perjalanan akhirnya Nadia dan Alvin sudah sampai di taman kota. Taman kota saat ini cukup ramai, karna memang hari ini weekend jadi tak jarang untuk mengawali weekend orang-orang banyaknya menghabiskan waktu disana. Alvin langsung mencari yang cukup strategis yang dapat dijangkau dan tidak terlalu jauh dari keramaian.
“Loh Al”ucap Nadia bingung karna tiba-tiba saja Delon membuka pintu mobil buat Nadia.
“Selamat pagi nona”ucap Delon.
“Aku ajak Delon supaya ada teman lari, kamu kan janjinya cuma jalan aja ngk ikut lari”ucap Alvin yang paham arah kebingungan Nadia.
Sedangkan Nadia hanya diam pertanda paham. Setelah turun dari mobil Alvin dan Nadia cukup menjadi pusat perhatian para kaum hawa dan kaum Adam, Nadia yang cantik natural tanpa polesan make up, karna memang Nadia hanya mengosok gigi dan cuci muka saja. Ditambah Nadia hanya menggunakan celana pendek sehingga memperlihatkan kaki putih mulus Nadia hingga ke atas paha kurang lebih dua puluh senti meter dan sandal jepit sjaa dipadukan dengan hudi, penampilan yang sederhana tapi menjadi daya tarik untuk kaum lelaki. Di sampingnya Alvin yang tak kalah tampan, karna memang dari segi apapun Alvin tidak perlulah dipertanyakan lagi.
“Yuk”ucap Alvin sambil menyematkan tangan di kelima jari Nadia, sedangkan Delon hanya mengikuti saja dari belakang.
“Shit”guman Alvin ketika menyadari kaum laki-laki begitu memandang Nadia dengan penuh minat, ternyata oh ternyata Nadia memang celana yang cukup pendek dan bodohnya lagi Alvin baru menyadari hal itu.
“Besok-besok kalau keluar rumah jangan pakai celana pendek nad”peringat Alvin sambil terus mengayung kaki memutar taman kota, karna sebelum jogging lebih duluh Alvin pemanasan dengan jalan santai.
“Kenapa memang”ucap Nadia bingung.
“kakimj terlalu mulus untuk di pamerkan syang, itu hanya milik aku”bisik Alvin tepat ditelinga Nadia.
Setelah bebrapa meter melakukan jalan santai akhirnya alvin dan Delon memutuskan untuk berlari kecil.
“Kamu jalan aja nad, kalau capek berhenti iyh”ucap Alvin sambil mengelus pucuk kepala Nadia. “Ingat, jangan lari sayang. Bagian bawah kamu masih peri kan, pasti sakit kalau dibawah lari kan..?”bisik Alvin menggoda Nadia.
“Ihh apaan sih, sudah sana lari”kesal Nadia sambil mendorong tubuh Alvin. Jangan ditanya lagi seperti apa kondisi wajah, panas dan merah padam bercampur jadi satu.
“Kalau kamu capek langsung ke mobil iyh”ucap Alvin sambil mencium kening Nadia lalu segera berlari sebelum mendapatkan amukkan dari Nadia.
Jika Alvin dan Delon sudah berlari mengelilingi taman kota hampir lima putaran jangan tanya Nadia, bahkan berjalan mengelilingi satu putaran taman belum sama sekali. Sepuluh meter berjalan maka akan berhentin lima sampai sepuluh menit, begitu sampai seterusnya. Karna pada dasarnya Nadia termasuk manusia yang paling malas berolahraga, dalam sebulan Nadia bisa dihitung berpa kali berolahraga. Apalagi pagi-pagi begini harus berbaur dengan keramaian tidak hidup Nadia banget.
Jika weekend begini Nadia biasanya akan bermalas-malasan seperti ayam kedinginan, dan jika bosan maka Nadia akan ke cafe.
Ketika matahari mulai meninggi akhirnya Alvin dan Delon memutuskan untuk menyudahi jogging, lalu mereka mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Nadia ditengah-tengah keramaian, taman kota semakin siang bukan semakin sepi ini malah semakin ramai.
“dimana Nadia lon, apakah dia sudah di mobil kali”,ucap Alvin bingung.
“Ngk mungkin dia di mobil, kunci mobilkan smaa Lo”ucap Delon sambil membantu Alvin mencari Nadia.
“Itu Nadia Al”ucap Delon sambil menunjuk ke arah bawah pohon, dimana Nadia sedang duduk dibawah pohon. Melihat hal itu Alvin langsung melangkah kesana di ikuti Delon.
“Sayang yuk balik, ini udah panas”ucap Alvin sambil menekan kata sayang, karna disana banyak kaum laki-laki yang terang-terangan menggoda Nadia, untung Nadia memasang wajah dingin dan jutek. Mungkin kalau Nadia memasang wajah ramah, pasti para lelaki itu semakin gencar menggoda Nadia.
“Cari makan duluh, lapar gue”rengek Nadia sambil mengulurkan tangannya kepada Alvin.
__ADS_1
“Iyh kita cari makan duluh yuk”ucap Alvin sambil membantu Nadia berdiri, sedangkan kaum laki-laki yang menatap Nadia sejak tadi memperlihatkan wajah kecewa, mereka pikir Nadia masih belum mempunyai kekasih.
Setelah berkeliling akhirnya mereka menemukan tukang bubur ayam, yang Alvin yakini itu enak dan higenis.
“Pak pesan tiga iyh”ucap Delon sedangkan Alvin dan Nadia mencari tempat duduk.
“Wah neng Nadia, akhirnya neng punya pacar juga iyh, kemarin-kemarin kesini datang sendiri. Sekalinya datang, ehh datangnya langsung bersama dua pria yang ganteng”
“Aduh pak masih ingat saya aja sih”ucap Nadia tersenyum manis.
“Ingat atuh neng, tapi mohon maaf nih neng utang neng yang dua minggu lalu belum dibayar neng”ucap si penjual mengingatkan untang Nadia dua Minggu lalu.
Uhukk uhukk uhukkk uhukkk
Mendengar hal itu tiba-tiba saja Nadia tersedak bubur ayam, padahal Nadia hanya memakan bubur ayam.
“Hati-hati nad”ucap Alvin sambil menyodorkan air minum kehadapan Nadia.
“Astaga pak, gapain diingatkan. Kan jadi malu pak”ucap Nadia malu bukann kepayang, pasalnya beberapa pengunjung menatap ke arah mereka, apalagi ke arah Nadia.
Sedangkan Alvin bukannnya marah ia malah gemas sendiri dengan tingkah laku Nadia. Nadia seorang penerus usaha keluarga Maharani mempunyai utang ke pedagang kelontong..?, seorang anak sultal dan istri sultan mempunyai untang. Benar-benar Nadia memang nih.
“Emang untangnya berapa pak..?”ucap Alvin menahan tawa.
“Iyh sudah, nanti samakan aja dengan bayaran yang kami pesan hari ini pak. Maaf pak istri saya memang begitu, pelit dan ngk mau rugi dia, sukanya makan yang gratisan aja”ucap Alvin bercanda.
“Oalah udah suami istri toh, ini suaminya dua orang”
“Ehh bukan pak, suami sya cuma dia aja kalau yang disampingnya asisten suami saya, ngk lucu dong pak kalau syaa punya dia suami”ucap Nadia kelagapan takuut si penjual bubur ayam malah salah paham.
"satu aja bingung bagaimana cara menghabiskan, bagaimana kalau dua"gerutu nadia.
Dan lagi-lagi Alvin hanya terkekeh geli melihat tingkah Nadia yang panik sendiri, gemas aja ngituh wajah Nadia ketika disangka mempunyai dua suami.
“Auh sakit sayang kok dicubit sih”pekik Alvin ketika Nadia tiba-tiba mencubit pinggang nya.
“Lagian siapa suruh ketawa, bilangin smaa bapaknya kalau suami gue cuma Lo, nanti bapaknya berpikir kalau gue punya suami dua”ucap Nadia kesal sendiri.
“iyh pak, saya suami Nadia, kalau yang ini asisten saya”ucap Alvin sambil memperkenalkan Delon.
Setelah selesai sarapan bubur, akhirnya Nadia dan Alvin meninggalkan tempat itu. Tak lupa mereka membayar utang Nadia berpaa minggu lalu, tak mungkin jika mereka kembali berutang kan, hanya Nadia syaa yang sanggup berutang padahal kartu kredit berjejer di dompetnya.
Memang prinsip Nadia selagi bisa berutang kenapa harus membayar, selagi masih bisa makan gratis kenapa harus mengeluarkan biaya. Orang kaya memang rata-rata begitu prinsipnya.
__ADS_1
Setelah bebrapa menit perjalanan akhirnya Nadia dan Alvin sampai dirumah, Alvin yang langsung naik ke kamar untuk membersihkan diri sedangkan Nadia rebahan di sofa sambil menonton televisi.
Kondisi rumah sudah cukup sepi, para pelayan sibuk dengan segala macam jenis list pekerjaan sedang papa Vino dan mama ayu sedang arisan keluarga.
“Nad bangun, kamu belum mandi Lo”ucap alvin sambil membangunkan Nadia.
Ternyata semakin lama bukan lagi Nadia yang menonton televisi tapi televisi yang menonton Nadia, sudah hal yang lumrah bagi kalangan umum.
“Gue masih capek Al, ini kan weekend”ucap Nadia dengan suara malas.
“Iyh ini weekend, tapi kita harus pergi kerumah sakit buat jenguk papah kamu. Mau ngimana pun kamu harus jenguk papah kamu nad”ucap Alvin sambil mencoba membantu Nadia duduk meskipun mata Nadia masih setia terpejam.
“ ada suster disana lagian ada Rania juga kok”ucap Nadia yang memang sejak awal tidak ada niatan untuk menjenguk papahnya, bisa dibilang hati Nadia sudah mati buat papahnya.
“Mau mandi atau gue mandikan”ancam Alvin sambil mencium bibir Nadia sekilas.
“ihhh Alvin, Lo cium bibir gue”ucap Nadia setelah merasakan benda kenyal untuk menempel sekilas di bibirnya.
“Idih, jangankan bibir, dari ujung rambut sampai ujung kaki Lo itu milik gue nad. Lo ngk lupa kan tadi malam kita sudah melakukannya”ucap Alvin bingung melihat keterkejutan Nadia ketika ia mencium bibir nya, padahal tadi malam mereka sudah melakukan malam pertama yang artinya bukan hanya bibir saja yang sudah di cium Alvin, tapi semuanya sudah Alvin rasakan.
Dan Alvin ingat betul kalau mereka sama-sama sadar melakukan hal itu, bahkan Nadia mengangguk ketika Alvin meminta izin untuk mengambil haknya, Nadia memang manusia agak unit.
“Ahhh au ah, gue siap-siap duluh, Lo tungguh disini aja”ucap Nadia sambil meninggalkan Alvin. Nadia hampir saja melupakan kalau saat ini dirinya bukan lagi gadis tapi sudah wanita. Entah setiap mengingat kejadian semalaman itu Nadia selalu malu sendiri. Bingung aja ngituh, setan apa yang merasuki Nadia sehingga begitu mudah memenuhi permintaan Alvin.
Setelah beberapa saat akhirnya Nadia turun dari lantai atas, berjalan mendekati Alvin yang sedang menunggu diruang tamu, untuk saat ini Nadia hanya menggunakan dress di atas lutut dengan lengan minim, dipadukan dengan sepatu pancus.
“Ngk ada baju lain nad, harus banget iyh pakai dress begini”ucap Alvin sambil menatap penampilan Nadia dari atas hingga kebawah yang memperlihatkan setengah dari kulit putih mulus Nadia, mulai dari kaki sampai ke atas lutut terpampang jelas hingga pergelangan tangan hingga lengan tangan, tak ketinggalan leher putih mulus pun sangat terpampang nyata.
“kenapa memang, bagus aja kok ditubuh ku. Ngk ada yang salahkan”uca Nadia bingung.
“Ngk ada yang salah sih, cuman lain kali kalau mau pakai baju kayak gini bisanya cuman di hadapan ku aja”ucap Alvin sambil menyelipkan anak rambut Nadia.
“karna aku ngk suka milikku di lihat-lihat orang lain, yang bisa melihat tubuh indah mu cuma aku doang, suami kamu”ucap Alvin mencium kening Nadia.
“Dari ujung rambut sampai ujung kaki Lo itu milik gue saja, paham”ucap Alvin posesif. Setelah Alvin berhasil memiliki Nadia seutuhnya ia tidak akan membiarkan orang lain merebutnya apalagi ya menyentuhnya, pokok setiap sentuhan yang ada ditubuh Nadia harus dari tangannya sendiri. Alvin pikir Nadia terlalu cantik kalau tidak di posesifin.
“Yuk sayang”ucap Alvin sambil menarik tangan Nadia.
Meskipun Nadia belum membalas perasaan saat ini, tapi sebisa mungkin Alvin akan membuat Nadia cinta kepadanya, Alvin akan membuat Nadia terjerat dengan cintanya. Alvin percaya cepat atau lambat Nadia akan luluh kepadanya.
Padahal Nadia sendiri pun tidak tau seperti apa perasaan Alvin terhadapnya, pasalnya Alvin tidak pernah menyatakan perasaannya, Alvin hanya mengajak hidup normal seperti suami istri pada umumnya dan Nadia saat ini sedang berusaha melakukan hal itu. Menerima takdirnya saaat ini dan menerima Alvin suami.
Meskipun hatinya saat ini belum bisa mencintai Alvin, tapi tidak ada salah untuk mencoba menerima Alvin, toh ia juga tidak akan dirugikan dari segi apapun jika menerima Alvin sebagai suaminya.
__ADS_1