
Bab 21
Sampai di pelabuhan ternyata kapal sudah siap hendak berangkat, tinggal menunggu kedatangan Alvian saja.
Alviian turun dari mobil diikuti Nadia, ketika Nadia keluar cukup menjadi pusat perhatian para anak buah kapal, karna untuk pertama kalinya kapten mereka yaitu Alvin membawa seorang perempuan ikut berlayar bersmaa mereka.
“Gue berangkat duluh, Lo jaga diri baik-baik”ucap Alvin menatap Nadia.
“Baiklah, Lo juga hati-hati disna”ucap Nadia.
“Delon, Lo antar Nadia pulang duluh, gue titip kantor untuk satu Minggu kedepan”ucap alvin.
“Baik tuan”ucap Delon.
Alvin langsung naik ke kapal dan tak menunggu lama perlahan kapal besar itu mulai bergerak pertanda kapal itu akan segera berangkat. Nadia terus memandang kapal yang dikemudi Alvin hingga kapal itu benar-benar hilang dari pandangan.
Nadia tertegun ketika kapal itu mulai hilang dari pandangannya, rasa takut dan tidak rela datang secara bersamaan. Ia takut kalau kapal Alvin tidak bisa kembali lagi ke daratan mengingat ombak di tengah laut sangat menakutkan, di lain sisi entah dorongan apa hati seakan tidak rela jika Alvin meninggalkan dirinya untuk pergi berlayar, rasa sepi itu tiba-tiba menghinggapi hatinya.
“Begini rasanya jadi istri pelaut”batin Nadia.
“nona mari kita pulang, karna masih terlalu pagi jika berada diluar”ucap Delon menyadarkan Nadia dari lamunan.
“Iyh, kita pulang”ucap Nadia lalu berjalan menuju mobil diikuti Delon dari belakang.
Delon mengantar Nadia sampai ke apartemen memastikan istri dari tuannya benar-benar sampai dengan selama sampai di kamar apartemen.
Pagi ini Nadia memutuskan untuk masuk kuliah, tidak mungkin ia terus berduka dengan kematian mamahnya karna mau berduka selama apapun tidak akan berubah keadaan, ia hanya belajar mengiklaskan kepergian mamahnya dan mencoba menata hati kembali.
“Loh Delon gapain disini..?kamu ngk kekantor..?”tanya Nadia ketika melihat Delon sudah stay di depan lobby gedung apartemen.
“Saya akan mengantar anda ke kampus nona, ini sesuai perintah tuan Alvin”ucap Delon.
“Tapi saya bisa berangkat sendiri Lon, saya juga bisa bawa mobil kan”ucap Nadia menolak secara halus.
“Tapi mobil anda masih dirumah utama nona, tadi malam penjaga tidak sempat mengantar, mungkin nanti siang baru mereka bisa mengantar”ucap Delon” mari sya antar ke kampus saja”
Mau tidak mau Nadia harus berangkat bersama Delon, sebenarnya dia bisa saja memesan taksi online tapi berhubung Delon sudah berada di depan lobby akhirnya Nadia pun menurut, ia tau Delon pasti capeknya menjemput ke Apartemen, lagian tidak ada alasan Nadia untuk bersikap dingin kepada delon.
Nadia turun dari mobil dan langsung masuk ke kelas, karna jam pertama pagi ini akan segera dimulai. Dan benar saja ketika Nadia masuk ke dalam kelas bersamaan dengang Nadia yang masuk, jadi masih bisa di katakan Nadia belum telat masuk ke dalam kelas.
Perkuliahan pagi ini berjalan dengan begitu damai, dosen menjelaskan dengan begitu serius begitu juga mahasiswa mendengarkan dengan begitu serius.
Tak terasa pelajaran pertama berakhir dan jam pun menunjukan jam istirahat lalu di lanjutan dengan jam kedua, sambil menuju jam kedua dimulai mahasiswa mulai mencari kesibukan masing-masing.
__ADS_1
Nadia dan sindy memutuskan untuk pergi ke kantin, lebih tepatnya sindy yang merengek ingin segera ke kantin.
“nad”ucap Bastian mendatangi meja Nadia dan sindy.
“Kenapa..?”ucap Nadia dingin.
Ini yang Bastian takutkan jika ingin mendekati Nadia, sikap dingin Nadia itu seakan mematikan lawan secara perlahan yang membuat Bastian menelan salivanya dengan kasar.
“Gue boleh bicara berdua smaa Lo”ucap Bastian.
“Kalau ngk penting ngk usah deh”ucap nadia tanpa menatap Bastian.
“Buat Lo ini memang ngk penting, tapi buat gue ini cukup penting”ucap Bastian.
“Sok atuh ngomong dah”ucap Nadia cuek.
“Tapi bukan disini nad, kita ketaman belakang kampus yuk”ucap Bastian bernegosiasi dengan Nadia
“Sindy tungguh gue disini bentar, gue mau bicara sama dia duluh”ucap Nadia berdiri dari kursinya.
“Lo di depan aja”ucap Nadia meminta Bastian berjalan di depannya.
Nadia dan Bastian saat ini sudah berada di taman belakang kampus, disana cukup sepi hanya ada dua sampai tiga orang saja mahasiswa yang berlalu lalang.
“Kenapa”ucap Nadia cuek membuka pembicaraan.
“Gue suka smaa Lo nad”ucap Bastian langsung to the point’
Mendengar ucapan Bastian Nadia hanya tersenyum miring, lucu aja ngituh kalau Bastian menyukai dirinya padahal ia sudah membangun tembok yang cukup kuat.
“Lo sadar ngk lagi suka sama siapa..?”ucap Nadia.
“Gue sadar nad, gue suka sama Lo nad, gue mau kita pacaran, gue udh suka sama Lo sejak lama nad”ucap Bastian sungguh-sungguh.
“Makasih Lo udah suka smaa gue bas, mungkin Lo adalah laki-laki pertama yang menyatakan perasaannya sama gue, tapi maaf bas maaf banget gue ngk bisa terima perasaan Lo”ucap Nadia tegas tanpa ada keraguan.
“Kenapa nad..?aku kurang apa”ucap Bastian.
“Lo ngk ada kurangnya bas, Lo sangat sempurna bas, Cuma gue aja merasa ngk pantas buat Lo, masih banyak perempuan diluaran sana yang mau sama Lo, Lo jangan berharap banyak gue”ucap Nadia menatap Bastian.
“Maaf bas, gue duluan soalnya masih ada kelas”ucap Nadia sambil berdiri.
“kenapa kita ngk coba pacaran duluh NAD, kasih gue waktu buat masuk ke hati Lo”ucap Bastian memeluk Nadia dari belakang. “Gue mau isi hati Lo nad”
__ADS_1
“Bas, ngk ada hati yang harus Lo isi, karna hati gue ngk layak buat diisi, hati gue udh tertutup untuk hal semacam itu”ucap Nadia mencoba melepaskan pelukkan Bastian.
“Gue mohon nad, berikan gue kesempatan untuk membuka hati Lo yang tertutup, gue ngk akan menyakiti Lo nad gue syang smaa Lo”lirih Bastian.
“Gue ngk bisa bas, tolong jangan buat gue semakin merasa bersalah karna ngk bisa balas perasaan Lo, gue ngk mau Lo sakit hati”lirih Nadia melepaskan pelukkannya.
“Kasih gue alasan kenpa Lo nolak gue nad, apa sesulit ini masuk ke dalam hati Lo”ucap Bastian membalikkan tubuh Nadia menghadap dirinya.
“banyak bas, banyak alasan gue kenpaa gue nolak laki-laki yang datang sama gue, mungkin ngk akan selesai jika gue ceritain smaa Lo”ucap Nadia.
“Gue benci sama laki-laki bas, gue trauma sama laki-laki, karna laki-laki yang gue anggap sebagai pelindung gue ternyata menghianati gue bas, Lo ngk bakal ngerti itu semua”ucap Nadia berteriak dalam hati.
“Apa nad”ucap Bastian lagi.
“Sampai saat ini gue ngk tau harus laki-laki seperti apa yang harus gue percaya”hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Nadia yang membuat Bastian bingung seribu bahasa. Otakknya ngk bisa mencerna ucapan Nadia.
“Gue bisa peluk Lo”ucap Bastian menatap
sendu Nadia.
“Tertentu”ucap Nadia menerima pelukkan Bastian.
Nadia dan Bastian memang tidak saling mengenal begitu dekat, Nadia tau Bastian karna ia sering melihat Bastian lalu lalang di kantin, bahkan ia tau nama Bastian karna ada mahasiswa lain yang menyebut Bastian dan Bastian sendiri yang menyahut.
Sedangkan Bastian cukup mengenal Nadia cukup jauh, sama seperti Adrian yang mencintai Nadia dalam diam, Cuma bedanya Adrian tidak berani mengungkapkan perasaannya dan berakhir dengan bunuh diri sedangkan Bastian mengungkapkan walaupun hanya penolakkan yang ia terima.
Tanpa mereka sadari satu camera merekam adegan mereka berpelukkan.
“gue masuk kelas duluh”ucap Nadia melepaskan pelukkan Bastian.
“Nad”ucap Bastian sendu.
“Jangan Lo habiskan waktu Lo hanya sesuatu yang tidak mungkin Lo bisa gapai bas, sampai kapan pun kita tidak bisa bersama, karna gue ngk pernh cinta sama Lo”ucap nadia sebelum benar-benar pergi dari taman itu.
Bastian hanya menatap sendu punggung Nadia, sebenarnya ini yang ia takutkan jika mengungkapkan perasaannya kepada Nadia, sesulit ini untuk mendapatkan Nadia..? ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.
Tak mau larut dalam kesedihan akhrinya Bastian memutuskan untuk pergi dari taman itu, sejenak ia memandang sekeliling taman.
Taman itu adalah saksi bisu dimana Nadia menolak perasaannya yang selama ini ia pendap.
“Gue ngk bakal datang lagi ketaman ini, terlalu sakit buat gue ketika mengingat taman ini lagi”batin Bastian.
Setelah kepergian Nadia mau pun Bastian taman kembali sepi
__ADS_1