Terjerat Cinta Kapten Kapal

Terjerat Cinta Kapten Kapal
bab 26 TCKK


__ADS_3

Bab 26


Seperti ucapan Alvin semalam Nadia harus melakukan pekerjaan rumah layaknya seorang istri pada umumnya.


Jadi supaya tidak keteteran ketika azan subuh berkumandang Nadia langsung terjaga dari tidurnya, ia langsung sholat dan melakukan pekerjaan rumah, mulai dari membersihkan debu yang ada disetiap sudut apartemen, tak lupa ia juga mencuci pakaian dan juga memasak untuk sarapan pagi.


Meskipun Nadia tidak terlalu mahir dalam memasak tapi ia tetap terjung ke dapur, berbekal tutorial dari aplikasi merah di ponselnya akhirnya Nadia memutuskan untuk memasak nasi goreng dengan laut udang asam manis.


Setelah selesai berberes rumah dan memasak Nadia memutuskan untuk mandi, apartemen Alvin cukup besar untuk di tempati dua orang, jadi ia cukup lelah membersihkan apartemen sebesar itu seorang diri.


Selesai mandi dan berpakaian seragam kuliah Nadia pun berjaln menuju kamar Alvin untuk membangunkan seperti ucapan Alvin sebelumnya.


Sampai di kamar Alvin yang Nadia lihat hanya satu buah foto figuran yang cukup besar di tempel dinding.


Disana ada empat orang, yang tiga orang nya Nadia cukup kenal, yaitu mama Ayu, papa Vino dan juga Alvin tentunya, tapi yang menjadi pertanyaan siapa satu lagi yang ada di foto itu, sekilas Nadia seperti mengenal sosok itu, bukan mengenal tapi lebih tepatnya pernh beberapa kali bertemu tapi Nadia lupa dimana dan kapan.


Nadia cukup lama memandang figuran itu, dengan pikiran lebih fokus ke foto Adrian yang ada disebelah kanan.


“Udah selesai lihat fotonya, Lo masuk kekamar gue cuma mau lihat itu aja”ucap Alvin membuyarkan lamunan Nadia yang sedang melihat figuran itu.


“Ehh Lo udah bangun..?baru gue mau bangun”ucap Nadia kikuk.


“Mm”ucap Alvin lalu berjalan menuju kamar mandi.


Melihat Alvin berjalan menuju kamar mandi, Nadia memutuskan untuk merapikan tempat tidur Alvin lalu menyiapkan baju untuk Alvin.


Karna bingung, akhirnya Nadia menyiapkan seragam kampus Alvin dan baju kantor juga, karna ia tidak tau kemana duluh Alvin pagi ini.


Sambil menunggu Alvin keluar dari kamar mandi, Nadia berjaln menuju balkon kamar, sepertinya udara pagi ini cukup segar untuk dihirup.


Ehmm

__ADS_1


Alvin keluar dari kamar mandi dengan handuk dililitkan di pinggang sehingga memperlihatkan dada bidangnya yang putih mulus.


Dan dengan bodohnya Nadia refleks membalikkan badan, seketika wajah Nadia berupa menjadi merah bak kepiting rebus ketika melihat dada bidang Alvin. Untuk pertama kalinya ia melihat seorang laki-laki setengah telanjang yang notabennya laki-laki itu adalah suaminya sendiri.


“Lo udah selesai, baju Lo udah gue siapkan, kalau begitu gue keluar duluh”ucap Nadia gugup setengah mati.


“Siapa suruh Lo bisa pergi, pakaiankan baju gue”ucap Alvin menahan lengan Nadia dengan otomatis Nadia menabrak dada alvin


“Ma-maksudnya”ucap Nadia semakin gugup, pasalnya saat ini ia benar-benar menempel di dada Alvin bahkan ia merasakan tetesan air dari rambut Alvin.


“Emng ucapan ku kurang jelas..? pakaikan baju gue Nadia”bisik Alvin ditelinga Nadia.


“Lo kan bisa pakai sendiri, kenapa harus gue”ucap Nadia mendorong tubuh Alvin, karna ia cukup merinding mendengar bisikan Alvin..


“Kalau gue maunya Lo yang pakaikan, ngimana dong.?”ucap Alvin tersenyum licik.


“Ok gue pakaikan, tapi Lo pakai celana kecil Lo duluh”ucap Nadia kehabisan kata-kata.


“kenapa di pakai disini, kan ada ruang ganti”cicit Nadia menutup wajah dengan kedua tangannya lalu membalikkan badannya.


Setelah Alvin selesai memakai CD, Nadia pun memakaiankan baju Alvin persis seperti seorang ibu yang memakai anaknya baju.


“Kenapa..?”ucap Alvin menatap intens wajah Nadia yang merak bak kepiting rebus.


“Apanya..?”tanya Nadia balik.


“lo gugup..? jangan bilang ini pertama kalinya Lo melihat dada laki-laki”ucap Alvin menebak.


“Udah tau nanya lagi, setengah mati gue menahan gugup nih, lagian pakai baju sendiri ngk bisa”oceh Nadia sambil merapikan dasi Alvin.


“Udah”ucap Nadia bernapas sedikit lega.

__ADS_1


“Berarti dada gue dong yang pertama Lo lihat”bisik Alvin lagi-lagi menahan lengan Nadia


“Lepas Al, gue mau sarapan udah siang ini”ucap Nadia kikuk, pasalnya sejak tadi cukup membuat senam jantung ketika berdekatan dengan Alvin, apalagi jarak mereka hanya beberapa senti saja.


“Gue ngk tau apakah gue beruntung karna yang pertama Lo lihat adalah dada gue, tapi Lo tenang aja, karna yang pertama melihat dada gue seperti ini Lo juga kok, jadi kita impas”ucap Alvin bukanya melepaskan Alvin malah gencar menggoda Nadia.


“Apaan sih, kalau ngomong itu ngk usah ngelantur”ucap Nadia kesal mencoba mendorong tubuh Alvin tapi tidak berhasil.


“Alvin lepas nah, gue ngk nyaman kayak gini”rengek Nadia akhirnya mengeluarkan sisinya manjanya.


Ini nih yang paling Alvin benci, dimana ia paling lemah ketika melihat wajah mengemaskan Nadia. Tak mau melewati batasnya akhirnya Alvin melepaskan Nadia.


Seperti biasa Alvin dan Nadia berangkat dengan mobil masing-masing, jika Nadia berangkat ke kampus maka berbeda dengan Alvin yang berangkat menuju kantor, berhubung ada rapat bulanan mau tidak mau Alvin harus izin duluh kekampus.


Jika Alvin memimpin rapat dengan kondusif maka berbeda dengan Nadia yang sedang berada di kampus, mata kuliah Nadia hari kurang kondusif. Ia di keluarkan oleh dosen pengajar karna ketahuan ketiduran jadi Nadia di hukum membersih gedung serbaguna yang ada di kampus tak lupa juga gedung autorium.


“Lagian Lo kenapa juga bisa ketiduran nad, begadang Lo sama Alvin”ucap sindy menatap Nadia.


“Maksudnya”ucap Nadia bingung.


“Kan siapa tau Lo sama Alvin begadang bikin keponakan sama gue”ucap sindy memperjelas.


“kalau ngomng itu iyh bok di saring sin, jauhnya pikiranmu kesana”ucap Nadia tak habis pikir dengan pemikiran sindy yang sudah melampaui batas.


“Habisnya tumben kamu ketiduran di kelas, untung ngk ada Alvin, coba kalau ada Alvin kan bisa bikin malu sampai ke ubun-ubun”ucap sindy tanpa rasa bersalah.


“Bisa kalau kita lagi berdua tuh jangan ada Alvin di antara obralan kita, obat tidur gue habis jadi gue ngk bisa tidur, akhirnya tidur jam lima subuh”ucap Nadia kesal.


“Udah berpaa kali gue bilang smaa Lo nad, usahakan tidur itu tanpa bantuan obat tidur, sampai kapan Lo harus bergantung sama obat tidur terus nad, hampir dua tahun Lo minum obat tidur terus dan hampir dua tahun Lo minum-minum terus, belum lagi Lo yang selalu minum obat penenang, sampai kapan hidup kayak gini terus nad, ayolah Lo harus bangkit belajar untuk menerima kenyataan nad”oceh sindy mengomeli Nadia.


“gue ngk bisa sin, gue udah ketergantungan sama obat itu”ucap Nadia malas, udah beribu-ribu kali sindy mengingat Nadia tentang hal itu.

__ADS_1


Sedangkan sindy hanya menarik napas panjang melihat sikap Nadia.


__ADS_2