Terjerat Cinta Kapten Kapal

Terjerat Cinta Kapten Kapal
bab 16 dukacita part 2


__ADS_3

Bab 16 TCKK


Nadia tidak lagi bertanya kepada Alvin, karna ia sudah tau kalau mereka akan kerumahnya, ketika mobil berhenti Nadia pun turun diikuti Alvin.


Deg


Ketika Nadia turun dari mobil jantungnya berhenti berdetak, pemandangan yang sangat sulit untuk diartikan.


Ada appa ini..?


Pertanyaan itu muncul di pikirannya, dengan bendera kuning berkibar di halaman rumah dan orang berpakaian putih berlalu lalang keluar masuk rumah nya ditambah banyaknya karangan bunga di sepanjang jalan menuju rumahnya.


Nadia membaca kata demi kata yang tertulis di karangan bunga itu, bahkan ia membaca berulang-ulang kali. Memastikan ia tidak salah paham.


Untuk beberapa saat Nadia cukup sulit mengartikan kata demi kata yang tertulis di papan itu, otaknya cukup sulit untuk di ajak berpikir.


“Turut berduka cita”lirih nadia dengan suara kecil bahkan nyaris tidak terdengar otaknya seakan berhenti bekerja untuk mendefinisikan turut berduka cita sjaa tidak mampu lagi. Untuk beberapa menit kedepan Nadia menutup matanya berharap ketika membuka semuanya hanya angin lalu saja bahkan ia berharap hanya mimpi belaka saja.


Ketika ia membuka matanya masih sama tidak ada yang berubah. Berarti ini tidak angin lalu atau mimpi sja, ini benar-benar terjadi.


“Mamah”guman Nadia ketika melihat nama lengkap mamahnya tertulis dengan begitu jelas di karangan bunga itu.


“Lo kuat nad, mamah Lisa udah ngk ada bersama kita”ucap Alvin berdiri disamping Nadia.


“Kita ngk salah rumah kan..?kalau pun salah tolong bawah gue dari sini gue ngk mau disini”lirih Nadia.


“Ngk nad, kita ngk salah rumah, ini rumah Lo, jangan pernh berpikir ini hanya mimpi nad”ucap Alvin mencoba menguatkan Nadia.


“Ngk!! Ini bohong kan,?mamah gue di Manado Al, mamah gue belum pulang”lirih Nadia dengan sangat pelan, bahkan saking pelanya tidak terdengar sama sekali.


“Ayo kita masuk, tinggal nunggu Lo aja lagi, soalnya sebentar lagi mamah akan dikebumikan”ucap Alvin memengang bahu Nadia membantu Nadia berjaln.


Tidak


Nadia saat ini lemas, bahkan untuk melangkah sjaa ia tidak sanggup, tulangnya seperti terpisah dari tubuhnya.


Perlahan dengan dibantu Alvin Nadia sudah sampai di ruang tamu, tempat mayat Lisa di baringkan, hanya tinggal menunggu Nadia saja Lisa akan segera di kebumikan.


“Mah”lirih Nadia sambil membuka kain putih penutup wajah Nadia.


“Al ini bukan mamah kan..?”lirih Nadia dengan tangan gemetar bahkan untuk mengangkat kain putih itu pun rasanya tidak sanggup.


“Bisa nad, gue mohon”ucap Alvin.


Sekarang Alvin hanya bisa menguatkan Nadia lagi dan lagi.


Ya Nadia kuat.


Nadia akan kuat, dia bisa menghadapi semua ini, ia mencoba supaya airnya matanya tidak keluar walaupun matanya sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Di hadapan mayat mamahnya Nadia hanya diam saja, bahkan untuk menangis pun ia tidak sanggup.


“maaf nona, mayat nyonya Lisa akan segera kebumikan”


“Mah tungguh Nadia iyh”ucap Nadia sambil mencium kening Lisa untuk terakhir kalinya.


Dan dengan sangat jelas Alvin mendengar kalimat itu keluar dari mulut Nadia, entah hatinya mengatakan tidak suka kalimat itu keluar dari mulut Nadia.


Kurang lebih lima belas akhirnya Alvin dan Nadia sampai di pemakaman umum, sebuah pemakam yang sangat luas yang dimana disnaa hanya orang-orang berada saja di kubur.


Alvin tetap stay berdiri disamping Nadia, walaupun mereka sering berdebat tapi saat ini sudah tugas Alvin menguatkan Nadia sebagai suami, apalagi mamah Nadia sudah Alvin anggap sebagai mamah kedua baginya meskipun hanya bertemu beberpa kali saja.


Sedangkan Bram dan Rania hanya diam saja mengikuti segala bentuk acara pemakaman, Bram tidak berkata banyak begitu juga dengan Rania.


Semua pelayat telah pulang tinggal lah keluarga Alvin dan Nadia saja yang tinggal disana.


Nadia mengusap pusaran Lisa, dimana namanya tertulis dengan jelas disana.


"kenapa..?"


Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Nadia, sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin tidak ada jawabannya.


“Mah kenapa..?kenapa secepat ini..?kenapa mama ngk bilang-bilang sama Nadia kalau mau pergi..?kalau mamah bilang setidaknya Nadia ikut sama mamah”ucap Nadia sendu.


“kamu ngk boleh berbicara seperti ini nak, semua sudah ada jalannya, semua manusia pastikan akan kembali ke penciptanya juga, ikhlas mamah sayang, berdoalah kepadanya, buatlah mamah bahagia disana dengan Nadia tersenyum selalu disini”ucap nyonya ayu menguatkan Nadia, ia tau bagaimana rasanya di tinggal smaa orang yang disayang.


Membuat mamahnya bahagia dengan tersenyum disini..?


Konyol sekali bukan.


Dengan kondisi saat ini apakah Nadia masih bisa tersenyum, mamah Lisa adalah satu alasan Nadia kenapa bertahan dirumah itu, mama Lisa adalah salah satu alasan Nadia melanjutkan hidup dan pendidikan.


Lalu sekarang sosok alasannya untuk bertahan telah pergi meninggalkan dirinya, ia bahkan tidak akan melihat senyum indah yang selalu terlukis di wajah Lisa, meskipun dua tahun lalu Bram menyakiti Lisa, tapi Lisa tetap mengukir senyuman itu ketika sedang bersama Nadia.


“Mah Nadia harus gapain sekarang..?hanya mama alasan Nadia untuk berjaln dan bertahan sejauh ini, bahkan Nadia tidak punya tujuan hidup mah”lirih Nadia.


“mah, tolong Nadia, jemput nadia mah, tunggu Nadia”lirih Nadia.


"Nadia mohon mah, jemput Nadia sekarang. Nadia ngk sanggup hidup tanpa arahan dari mamah, Nadia ngk tau mau berbuat apa mah. Nadia mau ikut mamah"tangis Nadia pecah sambil menggenggam erat tanah kuburan lisa.


“Lo ngk boleh berbicara seperti itu nad, mamah akan sedih disnaa mendengar ucapan lo, alasan Lo untuk tetap berjuang masih ada nad”ucap Alvin menyederkan kepala nadia dibahunya.


"ngk ada Al, ngk ada alasan gue buat hidup lagi, semua nya hancur tak tersisa"ucap Nadia di sela-sela tangisnya.


"kenapa al..?gue salah apa..?kenapa takdir mempermainkan gue sekeji ini.?bokap gue selingkuh, sahabat gue menghianati gue dan sekarang mamah gue di ambil Tuhan. kurang apa lagi Al, kenapa ngk sekalian aja gue diambil biar semuanya sempurna"ucap Nadia melemah.


“kita pulang sekrang, Lo harus istirahat”ucap Alvin membantu nadia berdiri.


“Jika suatu saat gue meninggal, gue mau dikubur sini, disamping mamah”ucap Nadia sambil menunjukkan lahan kosong disamping kuburan Lisa, yang ukurannya hanya dua belas kali dua belas meter saja.

__ADS_1


Apa Nadia sudah gila..?sudah memboking tempat kuburan dari sekarang..?sungguh Alvin benci kata-kata Nadia saat ini.


"stop berbicara konyol Nadia"bentak Alvin menatap tajam Nadia.


"gue tau Lo lagi hancur, tapi lo ngk boleh berbicara seperti itu, ingat Nadia omongan adalah doa"ucap Alvin menekan setiap kata-kata nya.


“Kamu ngk boleh berbicara seperti itu syang, kehidupan kamu masih panjang sayang, kami masih ada buat nadia, kamu bisa menggapap mamah seperti mamah Lisa”ucap nyonya ayu menarik Nadia ke dalam dekapannya.


Jika biasanya orang-orang akan menangis tapi tidak dengan Nadia, Hatinya memang menangis tapi matanya menolak untuk menangis.


Ketika berada di dalam mobil Nadia hanya diam saja, menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong, tak lupa wajah yang datar seperti triplek.


Ia bingung harus seperti apa, sakit, sedih, kecewa, marah menyatu menjadi satu, ingin rasanya ia berteriak tapi untuk membuka mulut sjaa ia tidak sanggup.


Nadia dibantu Alvin turun dari mobil, menuntun gadis itu masuk ke dalam kamarnya, Nadia berjalan seperti mayat hidup saja.


“Lo istirahat aja, gue mau bicara smaa Delon duluh”ucap Alvin sambil membantu Nadia berbaring di atas kasur.


Setelah memastikan Nadia istirahat Alvin keluar dari kamar dan mencari keberadaan Delon.


“Bagaimna..?apakah ada yang mencurigakan”ucap Alvin, ia mengambil kesimpulan bahwa kecelakaan yang dialami mamah Lisa ada unsur kesengajaan.


“Sepertinya tuan, dari info yang sya dpaatkan rem mobil yang bisa di gunakan nyonya Lisa blong, padahal satu hari sebelum kejadian itu baru saja mobilnya di servis berkala”ucap Delon.


“Sudah ku duga”guman Alvin.


“Lalu sopir yang membawa mobil kemana..?kenapa sya tidak melihat atau mendengar kabarnya”ucap Alvin


“Sopir pribadi nyinya Lisa meninggal ditempan tuan, dan sudah di kirim ke kampung halamannya”ucap Delon.


“Selidiki siapa yang ikut campur dengan kecelakaan itu, usahakan cuma kita berdua sjaa yang tau akan hal ini, biarlah mereka mengganggap ini kecelakaan murni”ucap Alvin.


“Baik tuan, kalau begitu syaa permisi duluh”ucap Delon mengundurkan diri.


Di ruang tamu ternyata mamah papahnya sedang berkumpul bersama Bram dan Rania, mau tak mau Alvin ikut gabung dengan mereka.


“Al, dimana Nadia nak”ucap nyonya ayu.


“Nadia dikamar mah, istirahat”ucap Alvin dingin dan tatapan mengarah kepada Rania.


“Ohh baiklah, sebaiknya kamu menginap disini duluh bebrpa hari kedepan, baru kalian pindah ke apartemen”ucap tuan vino.


“Baik pah, kalau begitu Alvin permisi ke kamar Nadia duluh”ucap Alvin sekilas ia masih menatap Rania.


Sedangkan Rania hanya menunduk sambil menggenggam erat tangan Bram.


Bram dan vino tidak banyak berkomunikasi, entah vino kurang srek dengan Bram yang begitu teganya menghianati istri dengan sahabat putrinya sendiri, apalagi sejak kematian Lisa Bram tidak ada menunjukkan rasa sedih sedikit pun.


Begitu juga dengan Ayu, bahkan ia engga menatap Rania walaupun wanita mudah itu adalah besannya sekarang, baginya hanya Lisa dan Bram saja besannya sebagai orang tua kandung Nadia.

__ADS_1


__ADS_2