Terjerat Cinta Kapten Kapal

Terjerat Cinta Kapten Kapal
bab 40 TCKK (Nadia sadar)


__ADS_3

Ternyata di luar sudah banyak orang menunggu, dan lebih mengejutkan lagi ternyata orang tua Leon sudah berada disana,


Ketika keluar dari ruangan Nadia, Alvin menatap orang-orang dengan bergantian dan tatapan tertahan kepada orang tua Leon, ia menatap orang tua Leon dengan tatapan sulit di artikan.


“Alvin kami sebagai orang tua Leon ingin meminta maaf atas kejadian kepada Nadia, kami tidak tau kalau Leon akan bertindak sejauh itu. Leon berjanji hanya untuk menemui Nadia untuk terakhir kalinya”jelas papah Leon panjang lebar.


“Saya tidak butuh maaf om, jika dengan minta maaf bisa mengembalikan Nadia maka akan syaa terima maaf kalian”ucap Alvin seperti orang asing.


“Ini alasannya kenapa saya tidak pernah meminta maaf, karna syaa tau kata maaf tidak bisa mengembalikan semuanya, hanya lebih baik bertindak dari pada harus meminta maaf”


“saya pastikan Leon tidak bisa menatap matahari lagi, jika Leon melukai leher Nadia maka saya akan memisahkan leher Leon dengan kepalanya”ucap Leon tidak memperdulikan hubungan keluarga mereka.


“Alvin, Nadia itu hanya sepupumu, kenapa kamu sampai seheboh itu..? sedangkan Nadia masih hidup, lagian sebelum kamu mengenal Nadia, Leon sudah terlebih duluh mengenal dia bahkan mereka sempat bertunangan”ucap mamah Leon tak terima dengan ancaman Alvin.


“Cuma sepupu..?”ucap Alvin terkekeh geli, telinga cukup geli mendengar penuturan tantenya seakan nyawa Nadia itu hanya seekor nyamuk saja baginya.


“tapi pada kenyataannya Nadia Putri Maharani itu adalah istriku saya, anak anda hampir membunuh istri saya dan jangan harap saya bisa diam saja”ucap Alvin menekan setiap kata-kata nya.


“dan satu hal yang anda tau sebagai orang tua, seandainya Nadia bukan istri saya apakah Leon wajar melakukan hal itu..?sejahat-jahatnya manusia tidak sewajarnya mempermainkan nyawa orang lain”ucap Alvin kesal.


“Beruntung Nadia tidak jadi tunangan dengan anak anda, ternyata calon mertuanya seperti ini yang menganggap remeh nyawa orang lain”ucap Alvin tersenyum tipis tapi bermakna mengejek.


“Jangan ucapan kamu Alvin, saya ini Tante kamu, tidak seharusnya kamu berbicara seperti ini. Biar bagaimanapun Leon itu tetap menjadi sepupu mu apapun yang terjadi”ucap mamah Leon kesal.


“Persetanan dengan sepupu, siapapun yang menyentuh keluarga saya maka akan saya anggap sebagai musuh meskipun itu sepupu saya sendiri”ucap Alvin dengan suara dingin.


“Segitu cintanya kamu terhadap Nadia..?cihh perempuan seperti itu aja kamu junjung sampai setinggi itu..?apa istimewanya wanita itu”ucap mamah Leon kesal.


Memang sejak Nadia kabur dari acara pertunangan itu beberapa tahun lalu membuat mamah Leon membenci Nadia, ia menganggap Nadia sudah mempermainkan keluarga mereka. Jadi ketika pertemuan Leon dan Nadia di waktu itu ia hanya pura-pura saja supaya leom mempunyai semangat hidup.


“Jujur Tante, syaa memang belum mencintai Nadia. Tapi mau seperti apapun itu Nadia tetap istri saya, Nadia milik syaa, sudah sewajarnya saya melindungi dan membela dia. Dan siapapun yang menyentuh milik sya seujung rambut pun akan saya habisi meskipun itu keluarga sya sendiri, paham”ucap Alvin tak main-main dengan ucapannya.


“Bukan kah seharusnya seorang laki-laki menjunjung tinggi martabat wanitanya..?jadi tidak salah kan kalau saya junjung tinggi martabat Nadia..?karna yang sya tau harga diri seorang istri akan berharga bagaimana seorang suami menjunjung dan menghargainya"


“Apa istimewa Nadia..? Tante sendiri tanya kepada anak Tante, apa istimewanya Nadia sehingga dia tergila-gila dengan istri saya”ucap Alvin “mah titip Nadia”ucap Alvin lalu meninggalkan tempat itu.


Sedangkan mereka hanya diam menatap punggung Alvin yang semakin jauh dari pandangan mereka, dan mereka juga tidak menyalahkan ucapannya Alvin, klau harga diri seorang istri itu terlihat berharga bagaimana seorang suami memperlakukan dan begitu juga sebaliknya.


Waktu terus berganti, tak terasa Nadia sudah masuk hari keempat belas di rawat dirumah sakit dan belum ada perkembangan sedikit, meskipun Nadia sudah mendapatkan transfusi darah yang banyak tapi tetap saja tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kemajuan dari keadaan Nadia.


Dan selama itu juga Alvin selalu setia menjaga Nadia, dia terus bergantian menjaga Nadia bersama Bram.

__ADS_1


Alvin juga belum memberikan tindakan kepada Leon, ia hanya meminta Delon supaya mengurung Leon terlebih dahuluh, nanti setelah Nadia sadar mungkin Alvin akan turun tangan untuk mengurus Leon.


Seperti saat ini setelah pulang dari kantor Alvin langsung ke rumah sakit untuk menggantikan Bram menjaga Nadia, sedangkan mamah ayu akan mengantarkan baju ganti dan juga makan malam buat Alvin, jika mamah ayu direpotkan juga sama hal dengan papah vino, karna waktu Alvin cukup terbagi banyak, ke kantor, ke kampus dan menjaga Nadia, belum lagi mengurus cafe Nadia yang semakin berkembang pesat, sehingga papah vino harus mengambil alih setengah dari pekerjaan kantor.


“Nad, kapan sih loh sadar, emng ngk capek apa tidur muluh lo..?”ucap Alvin mengajak Nadia berbicara, meskipun ia tau kalau Nadia tidak akan merespon ucapannya.


“Nad, gue kangeng sama Lo, hidup gue sepi kalau ngk ada Lo, gue kangen mendengar omelan Lo yang tidak ada habis”ucap Alvin sendu, jujur ia kangeng dengan sosok Nadia yang cerewet kalau sedang bersamanya, dimana jika ia dan Nadia bertemu maka jatuhnya perdebatan yang ada, dari hal-hal kecil sekalipun mereka bisa berdebat hebat dan berakhir saling mendiami dua sampai tiga hari.


Tepat azan subuh berkumandang ternyata bertepatan juga Nadia membuka matanya secara perlahan. Perlahan Nadia melirik ke kanan dan ke kiri hanya ada sosok yang sedang tidur di sofa sja, yang ia tau kalau itu adalah Alvin.


Nadia kembali memejamkan matanya dan kembali membukanya, Nadia berulang-ulang kali melakukan hal itu agar ia yakin bahwa saat ini ia sudah kembali ke alam yang baru.


Nadia haus tapi hendak mengangkat tangannya, ia tidak punya tenaga sedikit pun, padahal tenggorokan benar-benar kering, bisa dibayangkan selama dua minggu tenggorokan itu tidak di aliri air.


“Al”lirih Nadia memanggil Alvin, meskipun dengan suara yang sangat pelan sekali.


Nadia memanggil Alvin tiga sampai empat tapi tidak ada sautan dari di empudu, seperti Alvin baru sjaa tertidur terlihat dari laptop yang di pangkuan dan meja yang berantakan, tak lupa segelas kopi yang sudah kosong.


Karna tidak ada sahutan dari Alvin, Nadia memutuskan untuk menahan sampai pagi, berharap ada perawat yang masuk. Karna mau bergerak pun Nadia sungguh tidak bisa, semua bagian tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Tak terasa pagi pun menyapa, matahari mulai meninggi, karna sebuah cahaya masuk menerawang ke kamar Nadia, perlahan mata Nadia terbuka, dan ia melihat ke arah sofa sudah kosong yang berarti Alvin sudah bangun.


“Nad,.?”ucap Alvin terkejut ketika melihat Nadia sudah membuka matanya.


“Lo sudah sadar..?bentar gue panggil dokter duluh”ucap Alvin sambil memencet tombol hijau di atas kepala Nadia.


Tak lama setelah itu dokter dan dua orang perawat langsung berlari ke ruangan Nadia dengan wajah panik.


“Selamat pagi tuan ada yang bisa kami bantu”ucap dokter tergesa-gesa masuk ke ruangan Nadia.


“Istri syaa sudah sadar dok, tolong di periksa”ucap Alvin lalu memberikan ruang kepada dokter.


Lalu dokter memeriksa keadaan Nadia setelah dua minggu koma.


“Apa yang ada rasakan nona”


“Seluruh badan syaa tidak bisa di gerakan dok, syaa tidak bisa mengangkat tangan saya sendiri”


“Baiklah, itu hal biasa bagi pasien yang baru sadar dari koma, karna anda hampir dua minggu koma jadi otomatis pengerakan badan anda juga berhenti selama dua Minggu juga”


“Sampai kapan dok”ucap Alvin yang sejak tadi diam saja.

__ADS_1


“Tergantung nona Nadia tuan, kalau nona Nadia sering mengerakkan tubuh maka secepatnya akan pulih kembali, mungkin nanti bisa di bantu dari pihak keluarga untuk belajar berjalan dan lain sebagainya”


“Kalau luka di leher bagaimana nona..?apakah anda masih merasakan sakit..?”


“Ngk dok, ngk terasa apa-apa lagi”


“Syukurlah, bekas jahitannya cepat kering, sepertinya obatnya cepat bekerja”ucap dokter bernapas lega, “sebelum anda keluar dari rumah sakit, mungkin nanti kita akan melakukan perawatan untuk menghilangkan bekas jahitan di leher anda”


“Lakukan yang terbaik dok, pokoknya syaa mau leher istri saya kembali seperti duluh lagi, saya bersedia membayar berapa pun biaya nya”ucap Alvin tak mau di bantah.


“Akan kami usahakan tuan, kami akan melakukan beberapa perawatan kulit terbaik di rumah sakit ini, dan nanti salah satu dokter kulit disini yang akan memandu”


Sedangkan Alvin hanya mengangguk lalu mendekati ranjang Nadia setelah dokter keluar.


“lo butuh apa nad, gue bantu”


“Aku cuma mau minum aja Al”ucap Nadia


Alvin langsung memberikan Nadia minum melalui sedotan.


“Mau gapain nad..?”ucap Alvin karna melihat Nadia mencoba menggerakkan tubuhnya.


“Aku mau duduk, punggungku sudah pegal sekali”ucap Nadia.


“Ngomong nad, Lo masih sakit jangan banyak tingkah, apa susahnya tinggal minta tolong aja”ucap Alvin kembali mengajak Nadia berdebat, memang mereka kalau sudah bertemu yang ada hanya berdebat saja.


“Iyh gud takut merepotkan lo, lagian gue bisa sendiri juga”ucap Nadia tak mau kalah.


“Selama koma lo gapain aja sih, kok makin kesini Lo makin suka ngegas. Udah sakit juga masih aja gengsian”ucap Alvin sambil menaikan tempat tidur Nadia, supaya Nadia bisa duduk otomatis.


“Iyh sudah sih, tinggal bantu aja apa susahnya”ketus Nadia.


“Untung istri”ucap Alvin lalu menyentil jidat Nadia.


“Sakit Al, baru juga gue sadar”rengek Nadia kesal.


“Ngk usah manja, Leon hampir potong leher Lo, Lo masih hidup juga kok iyh meskipun Lo udah sekarat”ucap Alvin meledek Nadia. Sedangkan Nadia hanya memanyunkan bibirnya kesal.


Cup


“Biasa aja bibirnya, ngk usah di manyung-manyungkan kayak gituh”ucap Alvin setelah mencium bibir Nadia.

__ADS_1


__ADS_2