
Bab 22
Sementara itu ditengah laut Alvin dibuat emosi ketika melihat video yang dikirimkan anak buah, Yap, sebuah camera yang mengintai kegiatan Nadia itu adalah orang suruhan Alvin.
Dan dapat dipastikan Alvin sudah tau tentang kejadian yang di alami Nadia saat ini.
“Ahhh Bangs*k”teriak Alvin menghempaskan barang-barang yang ada diatas meja, karna dikapal itu segaja di sediakan ruangan kerja sekaligus kamar buat Alvin.
Begitu juga dengan kru-kru kapal lain mereka disediakan kamar tidur tapi tidak dengan ruang kerja.
“Jadi mereka sudah resmi pacaran”guman Alvin sambil mengepal tanganya. secara logikanya mengatakan tidak masalah jika Nadia berpacaran dengan laki-laki lain, tapi mengapa hatinya berlawan, hatinya tidak terima jika Nadia berpacaran dengan laki-laki lain, jangankan berpacaran Nadia disentuh laki-laki pun Alvin tidak terima.
“Dari sekian banyaknya laki-laki yang menyukai Nadia kenapa salah satu dari laki-laki itu harus Bastian”guman Alvin sambil melihat kembali video dimana Bastian memeluk Nadia, meskipun pada saat itu Nadia tidak membalas pelukan Bastian.
Mood Alvin tiba-tiba hilang ketika melihat video yang dikirim anak buah, hari ini sudah cukup lelah bagi nya karna berlayar kali ini harus melawan ombak yang cukup besar dari biasanya.
Mungkin saking lelahnya Alvin pun tertidur dengan posisi duduk di kursinya, membiarkan video Bastian menyatakan perasaannya kepada Nadia berputar.
Tak terasa hingga menjelang pagi Alvin masih tidur di kursinya, goyangan kapal yang cukup terasa pun membangunkan Alvin.
“Sudah pagi ternyata”guman Alvin sambil bangkit dari kursinya lalu masuk ke kamar mandi.
“pasti mereka sedang pacaran”ucap Alvin ketika menghubungi nomor Nadia tapi tidak dapat angkat si empedu.
Alvin bisa membayangkan bagaimana Nadia dan Bastian berpacaran, bagaimna Bastin menjemput Nadia pagi ini kekampus dan mengajaknya makan siang dikantin.
“Indah iyh”guman Alvin sambil tersenyum penuh arti.
Entahlah mengetahui Nadia dan Bastian berpacaran dapat merusak mood alvin selama berlayar.
“Ada apa ini..?kenpaa gonjangan kapal sangat terasa”ucap Alvin kepada slaah satu anak buah kapal.
__ADS_1
“dari petunjuk yang ada tuan, sepertinya akan turun hujan disertai angin yang cukup kencang”
“Baiklah, lakukan pengamanan segera”ucap Alvin malas, biasanya kalau sedang terjadi hal seperti maka alvinlah yang paling antusias karna menurutnya cukup menantang ketika mengemudi kapal diwaktu ombak besar.
“Tuan kenapa..?sepertinya tidak bersemangat”
“Saya baik-baik sjaa, cuma mood saya sedang tidak baik”ucap Alvin.
Sedangkan kru kapal hanya mengangguk, mereka tau kalau Alvin sedang tidak mood maka mereka tidak akan mengganggunya.
Mengetahui Nadia dan Bastian sudah resmi pacaran Alvin tidak bisa berbuat apa-apa, mau pulang pun sungguh tidak bisa karna ia saat ini sedang berada ditengah laut.
Ia sadar kalau saat ini ia tidak bekerja di darat yang bisa seenaknya pulang dengan menggunakan pesawat.
Katanya Alvin berlayar hanya satu Minggu hanya omong kosong, nyata ia berlayar sampai dua Minggu lamanya, pembangunan yang ia kunjungi cukup mempunyai masalah yang cukup besar sehingga harus membuat Alvin turun tangan.
Perlahan tapi pasti kapal yang di kemudi Alvin bersandar ke pelabuhan, setelah dirasa kapal berhenti dengan sempurna Alvin pun turun dari kapal, ternyata Delon sudah menunggunya di pelabuhan.
“Sisanya kalian atur”ucap Alvin lalu turun dari kapal berjaln menuju mobil dimana Delon menunggu dirinya.
“Mmm”balas Alvin lalu masuk ke dalam mobil.
“Bagaimana perkembangan kantor disini”ucap Alvin menatap Delon.
“Semua laporan sudah syaa kirimkan ke email tuan”
“baiklah, kosongkan jadwalku dua hari kedepan”ucap Alvin sedangkan Delon hanya mengangguk.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Alvin sudah sampai depan gedung apartemen yang ia tempati bersama Nadia.
Entah mengapa ia berharap ketika masuk ke dalam kamar apartemen ia berharap ada Nadia yang menyambut kedatangan. Jika Nadia mau mengantarkan dirinya ke pelabuhan maka ia berharap Nadia akan menunggunya tiba.
__ADS_1
Atau mungkin karna lelah sehingga otakknya tidak bisa berpikir jernih tapi hatinya menginginkan hal itu.
Dan sepertinya takdir belum berpihak kepada Alvin karna pada kenyataannya ketika masuk ke apartemen tidak ada yang menunggunya bahkan lampu apartemen itu tidak menyala yang berarti tidak ada penghuninya.
“Kemana dia”guman Alvin sambil mencari skalar lampu.
Setelah lampu menyala alvin langsung berjaln menuju kamar yang ditempati Nadia dan sama aja kamar itu gelap tidak ada berpenghuni, ia tidak lagi menyalakan lampu kamar itu karna ia tau Nadia tidak ada di kamar.
“Lon dimana Nadia sampai jam segini belum pulang”guman Alvin sambil menekan nomor Nadia dan menghubungin gadis itu.
“Ck sial”guman Alvin karna nomor Nadia tidak aktif, bahkan terakhir melihat wa seminggu yang lalu.
“Masuk ke apartemen gue sekarang”ucap Alvin dari sambung telepon.
Untung saja Delon masih berada di lobby apartemen jadi tidak memakan waktu lama ia sudah sampai di apartemen Alvin.
“Dimana Nadia, kamu saya suruh untuk mengawasi tapi kenapa sampai jam segini Nadia belum kembali kerumah”ucap Alvin dingin menatap tajam delon.
“Maaf tuan, semenjak tuan berangkat berlayar nona Nadia tidak pernh tidur di apartemen, bahkan siangnya pun dia tidak pernh berkunjung kesini”
Deg
Mendengar Nadia tidak pernh pulang jantung alvin berhenti berdetak beberapa menit, sekarang pikiran negatif mulai di hantui dirinya.
Apakah selama ini Nadia menghabiskan waktu bersama Bastian..?apakah selama ini Nadia tidur bersama Bastian..? pertanyaan buruk itu melintas dalam benaknya mengingat setaunya Nadia dan Bastian baru saja pacaran.
“Lalu dimana Nadia, kenapa kamu bisa sampai kecolongan seperti ini”ucap Alvin semakin kesal karna jawaban yang diberikan Delon tidak memuaskan dirinya.
“Selama ini nona Nadia tidur di cafe tuan, dan malam ini pun nona Nadia tidur disnaa”
“Baiklah, kamu boleh keluar, besok pagi kita ke cafenya Nadia saja”ucap Alvin lega.
__ADS_1
Sebenarnya Alvin ingin marah karna ketika ia pulang Nadia tidak ada dirumah, tapi mau ngimna lagi, ia menikahi Nadia dengan tujuan tertentu, mereka berdua sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini, bahkan Alvin belum memberi nafkah terhadap Nadia.
Karna lelah Alvin pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, besok pagi ia akan mendatangi cafe Nadia.