Terjerat Cinta Kapten Kapal

Terjerat Cinta Kapten Kapal
bab 39 TCKK (akibat makan malam )


__ADS_3

Alvin langsung membawa Nadia menuju rumah sakit, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan kendaraan lain yang mengklakson Alvin, berhubung waktu masih menunjukkan pukul sepuluh malam jadi jalanana masih ramai.


Aturan ke rumah sakit memakan waktu tiga puluh menit tapi dengan keahlian yang Alvin miliki ia bisa menempuh menjadi lima belas menit saja. Sungguh, ketika menyetir tadi Alvin baru menyadari kalau ia mempunyai keahlian menyetir dengan kecepatan tinggi.


Sampai dirumah sakit sudah ada bebrapa dokter dan juga suster yang menunggu kedatangan Alvin, semua itu diurus oleh Delon. Sehingga pihak rumah sakit bergerak cepat, berhubung keluarga besar Alvin merupakan sponsor terbesar dirumah sakit itu.


Tanpa menunggu lama Nadia sekarang sudah berada di ruang UGD, sedangkan Alvin hanya bisa mondar mandir di depan pintu ruangan Nadia. Bahkan Alvin sampai lupa menghubungi orang tua Nadia dan juga orang tuanya.


Tapi siapa sangka ternyata Delon sudah menghubungi mereka sehingga mereka saat ini sudah berada dirumah sakit.


“Kenapa bisa seperti ini Al..?”ucap mamah Ayu khawatir.


“Ngk tau mah, ketika Alvin sampai disnaa Leon sudah menodongkan pisau di leher Nadia, bahkan ia sudah melukai leher Nadia”ucap Alvin lirih, sungguh ia sangat khawatir dengan kondisi Nadia, apalagi ketika melihay luka sayatan dileher Nadia yang menurutnya cukup dalam, karna Leon bebrapa kali menggoreskan mata pisau itu ke leher Nadia.


“Apa belum ada kabar dari dokter”ucap Bram ikut berbicara, meskipun hubungan dengan Nadia sangat renggang apalagi pasca kematian Lisa tapi tetap saja Nadia adalah putri tunggalnya.


“Belum”ucap Alvin sambil menundukkan kepala.


Sedangkan papah vino hanya diam saja setelah menyadari kesalahannya yang memaksa Nadia untuk menemui Leon, ia tidak tau kalau Leon bermaksud menghabisi nyawa Nadia, entah apa maksud dari rencana Leon.


“Semua ini gara-gara papah, kalau saja papah tidak memaksa Nadia menemui Leon pasti kejadian itu tidak akan terjadi”ucap mamah ayu menyalahkan suaminya.


“Maaf mah, papah juga tidak tau kalau leon akan berbuat senekat itu, papah hanya berpikir kalau Leon ingin bertemu dengan Nadia untuk terakhir kalinya”ucap papah vino menyadari kesalahannya yang begitu mudahnya percaya kepada Leon


“Harus papah menghargai penolakann Nadia, Nadia sudah berusaha keras untuk menolak tapi papah lebih keras lagi menyuruh. Papah ngk lihat tadi Alvin dan Nadia berdebat.?”ucap nyonya ayu yang sangat murka.


“Omong kosong dengan persepupuan, ngk ada lagi sepupu antara Alvin dan juga Leon”ucap nyonya ayu menatap tajam papah vino.


“Mamah tidak boleh seperti itu, biar ngimna pun Leon dan Alvin itu sepupuan, mamah tidak bisa menyangkal itu”ucap papah vino tak terima, itu smaa saja ayu memutuskan tali hubungannya dengan papah Leon.


“Kalau Leon bisa nekat ingin membunuh Nadia maka saya juga bisa memutuskan tali persepupuan antara Alvin dan Leon”ucap mamah ayu tak mau di bantah.


“Sudah dong mah, pah jangan berdebat terus, Nadia di dalam sedang berjuang untuk membuka matanya”bentak alvin menahan tangisnya sambil menarik rambutnya frustasi. Hampir setengah jam dokter memeriksa Nadia tapi sampai sekarang belum keluar juga.


“Jangan buat suasana menjadi runyam begini, Alvin pusing mah pah”ucap Alvin dengan suara serak beriringan dengan air mata yang sudah jatuh.

__ADS_1


“nadia akan baik-baik aja nak, dia anak yang kuat”ucap nyonya ayu memeluk Alvin, berusaha memberikan ketenangan buat Alvin.


“Alvin takut mah, Alvin takut Nadia pergi. Luka dileher Nadia itu dalam mah, sudah banyak darah yang keluar”isak Alvin di pelukkan nyonya ayu.


Sedangkan papah vino hanya bisa menatap sendu punggung Alvin, untuk pertama kali ia melihat sisi lemah Alvin, untuk ke dua kali ia melihat Alvin menangis. Terakhir Alvin menangis ketika kematian Adrian saja.


Clek


“keluarga atas nama Nadia..?”ucap dokter membuka pintu.


“Saya suaminya dok.?bagimna keadaan istri saya..?”ucap Alvin menatap dokternya.


Sejenak dokter menarik napas panjang dan membuang secara kasar.


“Maaf tuan, nona Nadia koma”ucap dokter to the point’.


Duarrrrrrrr


Hanya kalimat sederhana yang keluar dari mulut dokter mampu membuat dunia Alvin seakan runtuh. Entahlah, tapi hati Alvin sakit ketika mendengar keadaan Nadia.


Dengan bersender di tembok perlahan tubuh Alvin merosok kebawah, ia tidak mencintai Nadia, tapi ia tidak terima dengan keadaan Nadia yang sedang koma, saat ini ia tidak lagi menyalahkan papahnya, tapi menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa menjaga Nadia. Seharusnya sebagai suami ia bisa sjaa melarang Nadia supaya tidak pergi menemui Leon.


“Luka dileher nona Nadia cukup dalam sehingga mengenai tulang leher bagian depan dan juga urat lehernya, dan nona Nadia kehilangan banyak darah sehingga kita butuh transfusi darah yang cukup banyak, sedangkan nona Nadia memiliki golongan darah AB dan golongan itu sedang kosong dirumah sakit ini. Kami juga sudah menghubungi pihak rumah sakit lain, tapi tidak ada yang tersedia, mungkin pihak keluarga ada yang mempunyai golongan yang sama..?”ucap dokter menatap anggota keluarga secara bergantian.


Mengenai pertanyaan itu Alvin, vino, Ayu, maupun Rania menatap Bram selaku ayah kandung Nadia, dan tatapan itu di jawab dengan gelengan oleh Bram.


“Hanya Lisa yang mempunyai golongan darah yang sama dengan Nadia”ucap Bram lirih.


“Mohon pihak keluarga membantu mencari golongan darah AB, karna kita butuh cepat kalau tidak kami tidak bisa menjamin nona Nadia selamat, kalau begitu syaa permisi duluh”ucap dokter meninggalkan tempat itu di ikuti oleh bebrpaa suster.


“Boleh kami menyenguk Nadia dok..?”tanya Bram lirih menghentikan langkah dokter itu


“Boleh, yang penting gantian”ucap dokter.


Saat ini yang masuk duluan adalah Alvin dan juga Bram, jika Bram sudah berjalan mendekati ranjang Nadia makan berbeda dengan Alvin yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Ia menatap lengkat tubuh Nadia yang terbaring lemah di atas tempat tidur, hanya di bantu beberapa alat kesehatan sehingga bisa membuat Nadia bertahan sampai detik ini meskipun keadaan sudah sangat di ujung tanduk.


“Nad, bangun sayang, buka mata kamu buat papah”lirih Bram menatap sendu wajah Nadia.


“maafkan papah nak, papah sudah mengecewakan putri kecil papah ini, maafkan papah karna tidak bisa menjaga Nadia, maaf kan papah karna papah merenggut masa mudah kamu”bisik Bram tak bisa menahan air matanya.


“Meskipun kamu sudah menikah, tapi dimata papah kamu adalah bayi mungil yang baru lahir, kamu adalah semangat papah untuk hidup sayang, papah mohon bangun lah. Apakah kamu tidak rindu mencaci maki pria tua ini..?apakah kamu tidak rindu berbicara dingin dan cuek terhadap pria tua ini..?papah merindukan kamu nak, sikap dingin kamu, sikap cuek kamu, papah rindu nada suara ketus kamu bahkan papah rindu tatapan tajam kamu, semuanya papah rindu tentang kamu”ucap Bram menatap wajah Nadia yang sangat pucat sekali, sepertinya wajah itu tidak di alirin darah sedikit pun.


“Papah akan mencari kan darah yang cocok buat kamu, papah kan membuat kamu sembuh sayang”ucap Bram lagi.


“Papah menunggumu mencaci maki papah lagi, cepa sembuh sayang, papah merindukan mu”ucap Bram lalu mencium kening Nadia dengan begitu hangat.


Melihat Nadia, Bram bisa merasakan sosok Lisa di diri Nadia.


Bram langsung keluar dari kamar Nadia, sejenak Bram menatap Alvin yang juga menatap dirinya.


“Maaf telah menitipkan Nadia kepadamu, maaf juga telah membuatmu repot. Jika kamu sudah tidak sanggup dengan Nadia kembalikanlah di kerumah ku, aku siap menggantikan perusahaan ku yang kalah tender, aku ingin putri kecil kembali lagi”ucap Bram menatap Alvin dengan tatapan sulit di jelaskan.


“Nadia akan kembali kepada anda dan menjadi Nadia yang hangat dan perian jika anda siap meninggalkan Rania. Nadia tidak kecewa ketika anda memaksa dia menikah dengan saya, tapi yang Nadia kecewakan kenapa anda menikah dengan sahabatnya sendiri, hanya itu yang Nadia kecewakan dari anda”ucap Alvin dengan suara dingin.


“anda siap meninggalkan Rania maka Nadia siap kembali kepada anda. Saya juga akan melepaskan Nadia kembali kepada anda dengan syarat anda bisa melepaskan Rania”ucap Alvin yang membungkam Bram.


Dan pada kenyataannya ia tidak bisa meninggalkan Rania, apalagi saat ini Rania sedang mengandung anaknya. meskipun pada kenyataannya anak yang di kandung Rania bukanlah anaknya karna pertama kali ia menyentuh Rania sudh tidak perawan lagi, tapi Bram tidak mempermasalahkan itu. Yang penting Rania bersedia menemani hingga hari tuanya, sehingga sampai sekarang pun Bram tidak mencari tau siapa laki-laki pertama yang menyentuh rania.


Melihat Bram sudah keluar dari ruangan Nadia, Alvin pun berjalan mendekati Nadia, di lihatnya tubuh itu mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Semua tampak memutih seperti mayat yang siap di kuburkan, kelihatan sekali kalau dengan membutuhkan darah yang sangat banyak.


“gue janji akan membuat Leon merasakan lebih dari yang Lo rasakan, itu janji gue kepada Lo”ucap Alvin menekan setiap kata-kata nya.


Entahlah, di marah kepada Leon tapi menekan kata-kata itu terhadap Nadia.


“Bangunlah nad, gue yakin Lo gadis yang kuat, gue yakin Lo bisa melewati masa-masa ini. Gue akan mencari golongan darah itu sampai ke ujung dunia sekali pun jika itu bisa membuat mu membuka mata”ucap Alvin mengelus pipi Nadia.


Cup


Entah dorongan dari mana, sebelum meninggalkan ruangan itu Alvin lebih duluh mencium kening Nadia lalu menyatukan kening mereka. Seperti Alvin mencoba memberikan kekuatan kepada Nadia.

__ADS_1


Setelah Bram dan Alvin keluar dari ruangan nya, tak terasa kelopak mata Nadia mengeluarkan air matanya. Entalah itu pertanda apa, tapi percayalah saat ini Nadia memang belum ada niat untuk membuka matanya, sepertinya Nadia cukup nyaman dengan posisi ini, tanpa ia tau kalau banyak orang yang mengkhawatirkan keadaannya yang tak kunjung membuka mata.


Mungkin dengan posisi Nadia yang saat ini, ia bisa menghindari takdir yang begitu gencar mempermainkan dirinya.


__ADS_2