
Bab 32
Ketika jarum jam menunjukkan waktu makan siang, akhirnya Alvin menghentikan kegiatannya, lalu pandangan mengarah ke arah Nadia yang ia tau kalau Nadia sedang membaca majalah.
Perlahan tapi pasti Alvin berjalan mendekati Nadia dan mengambil majalah yang menutup wajah Nadia.
“CK tidur berkedok membaca majalah”guman Alvin mengeleng kepala tak habis pikir dengan tingkah lucu Nadia.
Sebenarnya Alvin tidak tega membangunkan Nadia, tapi mau ngimna lagi kalau tidak di bangunkan bisa-bisa Nadia melewati jam makan siang.
“Udah tidur kayak gini masih aja kelihatan cantik”guman Alvin menatap wajah Nadia sejenak.
Meskipun Nadia tidur dengan sedikit magap, tapi tidak mengurangi kecantikan Nadia.
Benar kata orang kalau sudah dasarnya cantik mau seperti apapun keadaan pasti bakal tetap cantik.
“Nad, bangun Lo makan siang duluh”ucap Alvin membangunkan Nadia.
“Nad, ayo kita makan duluh”ucap Alvin lagi.
Merasaa ada yang mengusik tidurnya, perlahan tapi pasti Nadia membuka matanya, dan ia mendapat Alvin berada disampingnya dengan muka datar.
“ngantuk banget gue Al”ucap Nadia kembali menutup matanya.
“Iyh tau, makaya kalau malam itu jangan suka kelayapan ngk jelas, sekarang Lo bangun dan makan, gue udah pesan tadi”ucap Alvin kesal karna Nadia kembali menutup matanya.
“Nanti”ucap Nadia tanpa membuka matanya.
“Nantinya kapan, ini sudah jam berpaa Nadia, ayo cepat bangun, gue mau ada rapat hari ini”oceh Alvin “muka aja cantik, tapi kalau dibangunin kayak kebo”
Karna tak mau mendengar ocehan Alvin, akhirnya Nadia membuka matanya dan menatap kesal Alvin yang mengganggu waktu tidurnya.
“Iyah bawel”ucap Nadia kesal.
“Nad, Lo cuci muka duluh, masak Lo makan dengan bekas ileran begitu”ucap Alvin kesal sambil menatap wajah bantal Nadia.
“Makan tinggal makan aja apa susahnya, ngk juga gue suruh Lo cium bekas ileran gue”ucap Nadia kesal.
Cup
“Sana cuci muka duluh”ucap Alvin setelah mencium sekilas bibir Nadia, yang membuat si empedu diam seketika dan berhenti mengoceh.
Dengan keadaan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya Nadia berjalan menuju kamar mandi.
“Tenang Nadia itu hanya kecupan, dan kecupan itu akan mengubah apapun”guman Nadia sambil menepuk-nepuk pipinya yang tiba-tiba panas.
“Anggap saja tidak terjadi apa-apa Nadia”ucap Nadia berbicara sendiri.
“Ini juga jantung ngk bisa diajak kompromi”ucap Nadia menyalahkan jantungnya tidak berhenti berdetak kencang, apalagi ketika ia mengingat kembali tindakan Alvin yang menciumnya secara tiba-tiba.
“Lo kenapa sih nad, ngk biasanya Lo seperti ini. Perasaan diluar snaa banyak lelaki yang secara terang-terangan menggoda Lo tapi ini jantung ngk bereaksi seperti ini”ucap Nadia kesal menatap pantulan dirinya di kaca, Nadia kesal sendiri karna lagi-lagi jantung belum bisa terlihat normal
__ADS_1
Setelah dirasa kegugupannya mulai normal akhirnya Nadia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar karna sudah mencuci mukanya.
“hampir aja gue mau antar makan Lo ke kamar mandi”ucap Alvin seperti tidak terjadi apa-apa, berbeda dengan Nadia yang kembali gugup ketika melihat bibir Alvin yang mengoceh.
“Bibir itu tadi menempel di bibir gue, sumpah bibir gue sudah ngk suci lagi”batin Nadia menatap Alvin.
“ieeee malah bengong”ucap Alvin menarik tangan Nadia supaya duduk di sofa.
“Siapkan makan buat gue, gue mau meeting”ucap Alvin.
“Ahhh iyh makan iyh, bentar gue siapin”ucap Nadia gugup sambil menyiapkan makanan buat Alvin.
Akhirnya Alvin dan Nadia makan siang bersama di kantor, dengan Alvin yang makan dengan tenang, berbeda dengan Nadia yang kembali gugup ketika matanya menangkap bibir Alvin yang mengunyah makanan.
“mohon maaf tuan, meeting sebentar lagi akan di mulai, Mereka sudah menunggu diruang rapat”ucap Delon masuk keruangan Alvin.
“Baiklah, lima menit lagi saya kesana”ucap Alvin lalu merapikan kemejanya.
“Nad, tolong pasangkan dasi gue dong”ucap Alvin yang memang ketika makan tadi ia segaja membuka lilitan dasi di lehernya.
“Hah”ucap Nadia bingung.
“Tolong pasangkan dari gue, Lo bisa pasang dasi kan..?”ucap Alvin menatap Nadia curiga.
“Bi-bisa”ucap Nadia gugup sambil mengambil alih dasi yang ada ditangan Nadia.
“Lo tunggu disini aja, gue rapat hanya sebentar kok”ucap Alvin lalu berjalan meninggalkan ruangan.
Setelah dirasa cukup rapi, Nadia membuka ponselnya dan memeriksa bebrapa laporan email yang masuk mengenai perkembangan cafenya.
Yang katanya meeting hanya sebentar ternyata hanya omong kosong belakang, buktinya hampir satu jam Nadia menunggu Alvin di ruangan, tapi Alvin belum juga menunjukkan batang hidungnya. Karna bosan Nadia memutuskan untuk keluar dari ruangan alvin
“Permisi, party disebelah mana iyh..?”ucap Nadia kepada salah satu karyawan yang kebetulan lewat dari depan ruangan Alvin.
“Karyawan baru iyh..?”
“Bukan mba, saya tidak bekerja disini”ucap Nadia kikuk.
“santai aja kali, saya melihat kamu kok tadi berjaln di belakang tuan Alvin dan juga tuan Delon”
“Party disebelah sana, lurus baru belok kiri, kalau kamu ngk nyaman di party itu ada juga kok party dibawah, karna setiap lantai di gedung disiapkan partynya”
“baik mba, terimaksih”ucap Nadia kikuk, lalu berjalan menuju party.
Setelah selsai membuatkan teh, Nadia langsung kembali ke ruangan Alvin, berharap Alvin sudah berada disana karna menunggu Alvin cukup membuat jenggah.
Clek
“Permisi”ucap Nadia kikuk karna ternyata di ruangan itu bukan cuma Alvin saja.
Merasa diperhatikan Nadia langsung berjalan menuju sofa tempat ia duduk tadi.
__ADS_1
“Nadia..?kamu Nadia kan..?”ucap seorang pria paru baya yang merupakan tamu Alvin.
“Hah”ucap Nadia bingung.
“Kamu ngk ingat sama saya..?saya papahnya Leon”ucap papah Leon.
“Hah, Hay om ngimana kabarnya”ucap Nadia ramah.
“Seperti yang kamu lihat, kalau kamu sendiri ngimna kabarnya”ucap papah Leon.
“alhamdulilah, sehat om”ucap Nadia.
“Luar biasa sekali iyh, semenjak kamu kabur dari pertunangan itu selama satu tahun, kamu semakin cantik, makin dewasa lagi, om tidak meragukan kecantikan yang natural ini nak”ucap papah Leon memuji Nadia yang memang semakin cantik.
“Ahh iyh om makasih pujiannya”ucap Nadia
masam.
“Kalau boleh om tau kemana kamu kabur Nadia, anak buah mencari keberadaan mu tidak menemukannya, kami seperti ditelan bumi saja”ucap papah Leon duduk di samping Nadia.
Sejenak Nadia diam, ia bingung harus menceritakan mulai dari mana dan berbicara seperti apa supaya papah Leon tidak tersinggung.
Memang ketika Nadia kabur dari pertunangan dirinya dengan Leon itu adalah hal ternekat yang pernh Nadia lakukan seumur hidupnya. Sedangkan Alvin mencoba menjadi pendengar yang baik antara obralan Nadia dan juga papah Leon yang notabennya Leon adalah sepupunya sendiri.
Alvin masih mencerna kata-kata yang sering muncul pertunangan dan kabur.
“Saya menetap satu tahun di Amerika serikat om”cicit nadia sambil menundukkan kepala.
“Apa om bisa tau alasan kamu kabur dari pertunangan itu..?perluh kamu tau setelah kejadian itu Leon berubah menjadi sosok yang dingin, bahkan sampai sekarang Leon masih mencintai kamu terbukti dari ia yang memajang foto-foto mu di kamar dan ruang kerjanya”ucap papah Leon sendu apalagi ketika mengingat keadaan Leon saat ini, sungguh benar-benar jauh dari jangkauanya.
Sejenak Nadia menatap Alvin lalu menarik napasnya panjang, sungguh selama ini ia selalu mencoba menghilangkan kejadian itu dalam hidupnya. Sedangkan Alvin hanya menatap Nadia dingin dan datar, setelah mendengar ucapan omnya, Alvin cukup paham apa yang terjadi di masa lalu.
“Mohon maaf sebelumnya om, ketika saya lulus SMK dan di paksa langsung bertunangan pada saat itu juga yang langsung kabur ke Amerika, syaa menetap disana selama setahun dan setelah kembali ke Indonesia untuk melanjutkan studi saya. Alasan saya kabur dari pertunangan itu karna saya tidak mau memulai hubungan dengan kesepakatan bisnis om, saya masih terlalu mudah dan saya tidak mau terikat dengan hal apapapun”
“saya baru bertemu dengan Leon baru bebrap kali dan langsung di tuntun untuk bertunangan, saya tidak mencintai Leon om dan syaa juga tidak mau Leon berharap lebih kepada saya. Semua ini terlalu cepat buat saya”ucap Nadia.
“Tapi Leon sangat mencintai kamu nak, bahkan sebelum kamu mengenal Leon, dia sudah lebih duluh mencintai kamu dalam diam, bahkan sampai sekarang Leon masih memakai cincin pertunangan kalian”
“Karna Leon yakin kalau kamu akan kembali ke pelukan, kalau boleh om meminta berkunjung kerumah, temui Leon, dia pasti sangat merindukan mu”ucap papah Leon mengucap kepala Nadia.
Ia cukup menyayangkan tindakan Nadia yang kabur dari pertunangannya dengan Leon beberapa tahun lalu.
“Nadia tidak bisa janji om, karna Nadia tidak sebebas seperti duluh lagi”ucap Nadia apa adanya.
“Tidak mengapa nak, pintu rumah om akan selalu terbuka buat kamu, tapi cepat atau lambat om berharap kamu bisa berkunjung. Om juga minta maaf karna ketika pemakaman Lisa om dan keluarga tidak bisa hadir”ucap papah Leon.
“Ngk papa om, Nadia paham kesibukkan om”
“Kalau begitu om pamit duluh, Al berkunjung kerumah, sekali-kali bermainlah bersama Leon supaya dia tidak gila kerja, salam juga buat papahmu, kapan-kapan om akan main kerumah kalian”ucap papah Leon lalu meninggalkan ruangan kerja Alvin.
“Nadia, om tungguh dirumah”ucap papah Leon sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Sedangkan Nadia hanya mengangguk sambil tersenyum.