Terjerat Cinta Kapten Kapal

Terjerat Cinta Kapten Kapal
Bab 7 TCKK


__ADS_3

Bab 7


Sudah tiga hari berlalu semenjak pertengkaran Nadia dan Bram, dan sejak saat itu juga Nadia tidak keluar kamar, tidak kuliah selama tiga hari karna ia lagi tidak mood untuk bertemu dengan orang banyak, makan pun ia meminta pelayan untuk mengantar ke kamar.


Sementara di kampus cukup banyak mahasiswa yang mencari-cari keberadaan Nadia, karna untuk pertama kalinya Nadia tidak masuk secara berturut-turut.


“Sin, Nadia kemana kok tiga hari ini ngk masuk sih”ucap salah satu mahasiswa yang merupakan kating.


“Nadia sedang sakit, aku juga sudah mengizinkan Nadia ke dosen, mungkin besok dia akan masuk lagi”ucap sindy berbohong, karna pada kenyataannya sindy tidak tau kemana Nadia pergi, karna dihubungin pun ponsel Nadia tidak aktif, bahkan akun media sosial Nadia tidak ada yang aktif.


Bahkan ketika sindy berkunjung ke rumah Nadia, pelayan mengatakan kalau Nadia sudah tidak pulang selama tiga hari belakang ini, sehingga mau tidak mau sindy langsung pulang dari rumah Nadia.


“Wah Nadia bisa sakit kah..?kukira manusia dingin dan cuek seperti Nadia tidak bisa sakit, apalagi mukanya yang datar itu”


“ngk usah ngadi-ngadi kamu, Nadia juga manusia jadi wajar kalau dia sakit”ucap sindy kesal, apakah segitu cueknya Nadia sehingga orang-orang beranggapan kalau Nadia manusia kuat.


“Nadia sakit..?sakit apa dia..?emang sakitnya sebegitu parahnya sampai tiga hari tidak sembuh-sembuh”batin Alvian yang kebetulan mendengar obralan sindy.


Alvin tidak khawatir tapi ia cukup penasaran seperti apa sakitnya Nadia, ingin rasanya ia bertanya kepada sindy, tapi gengsinya mengalahkan semuanya, apalagi ia dan sindy sangat jarang bertegur sapa bisa dikatakan tidak pernh bertegur sapa.


Alvin terus berpikir keras tentang keadaan Nadia, bahkan dosen yang mengajar tidak di perhatikan Alvin sedikit, bahkan sampai mata kuliah itu berakhir Alvin tidak mendengarkan sama sekali.


“Haah kenapa gue jadi mikirin gadis itu, mau seperti apa pun sakitnya emng gue pikirin, siapa dia berani menghantui pikiran ku”guman Alvian ketika dia sudah berada di kantin.


“Mikirin siapa Lo njir”ucap Bastian yang kebetulan sudah berdiri dibelakang Alvin.


“Emng gue mikirin apa..?”tanya Alvin balik.


“Kalau gue tau apa yang Lo pikirin ngk juga gue akan menanyakan sama Lo Bangs*k”ucap Bastian kesal.


“Iyh sudah, berarti gue ngk ada mikirin apa-apa”ucap Alvin tanpa rasa bersalah.


“Si anjir”ucap Bastian kesal.


“Ehh btw Nadia kok ngk pernh gue lihat dikampus iy..?biasanya di lalu lalang di kantin kalau jam segini”ucap Bastian sambil mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kantin.


“Mana gue tau, emng gue bapak mamanya, kalau pengeng tau sana Lo pergi kerumahnya”ucap Alvian kesal.


“Santai aja njir, gue kan cuma bertanya aja”ucap Bastian. “Kan kalian satu kelas”


Alvian tidak lagi menanggapi ucapan Bastian, tidak bisa di bohongin saat ini pikirin di penuh dengan keadaan Nadia, dia sudah berusaha sekeras mungkin untuk menghapus hal itu, tapi tetap saja tidak bisa.


“Bisa gila lama-lama kalau seperti ini terus”ucap Alvin sambil bangkit dari kursinya.


“mau kemana Lo..?”teriak Bastian.


“Gue mau ke kantor, ada meeting nanti siang”ucap Alvin dan melanjutkan langkah meninggalkan kantin, menurutnya tidak ada yang menarik di kantin.


Alvin memutuskan perginya ke kantor, tentang keadaan Nadia ia kan tanyakan ke asisten karna pada dasarnya mereka sudah mengirim orang mereka ke rumah Nadia.


“Lon, Nadia tidak masuk selama tiga hari ini, kemana dia”ucap Alvin to the point’


“Tiga hari yang lalu nona Nadia dan tuan Bram bertengkar hebat di ruang kerjanya tuan, dan sejak saat itu nona Nadia tidak keluar kamar sama sekali”ucap Delon sambil meletakkan bebrapa berkas dihadapan Alvian.

__ADS_1


“Bertengkar perihal apa..?”ucap Alvin menghentikan gerakan tanganya lalu menatap Delon.


“Tidak tau tuan, soalnya orang kita tidak mendengar penyebab mereka bertengkar, saolnya mereka berdebat di ruang kerja, jadi orang kita tidak bisa terlalu jelas mendengar pertengkaran itu”ucap Delon menjelaskan informasi yang ia dapatkan.


“Aku ingin kau mempercepat rencana kita”ucap Alvin.


“Baik tuan, akan segera saya laksana”


“Aku mau 2*24 jam sudah selesai, Nadia sudah berada di genggaman ku”ucapi Alvin tak mau di bantah.


“Baik tuan”ucap Delon tegas, walaupun sejatinya dia ragu bisa menyelesaikan hal itu dalam waktu empat puluh delapan jam


Sedangkan Nadia, ia masih stey duduk di atas kasurnya, dengan kondisi kamar yang gelap gulita seperti tidak ada kehidupan Nadia benar-benar mengurung diri di kamar itu.


Menurutnya cuma kamar itu tempat berdiam diri, berkeluh kesah dalam diam, seakan dia mengadukan nasip pada dirinya sendiri.


Sesekali Nadia tersenyum miring ketika memikirkan nasipnya, sudah hampir dua tahun hubungannya dengan papahnya rengang, papahnya seakan tidak berniat memperbaiki hubungan mereka dan secara tiba-tiba papahnya akan menjodohkan dirinya dengan alibi kalah tender.


Hebat sekali ternyata dunia mempermaikan dirinya, hubungan keluarga hancur berantakan terlebih di hancurkan oleh sahabatnya sendiri, dan sekarang harus diperhadapkan dengan perjodohan, Nadia hanya bisa tersenyum getir ketika mengingat keadaan keluarganya dua tahun belakangan ini.


“Kenapa sih ngk sekalian aja aku mati, aku capek kayak gini terus”batin Nadia berteriak dalam hati.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Nadia dari masalah kelamnya.


“Nad, ini mama syang, mama bisa masukkan”teriak Lisa dari balik pintu.


“Masuk aja mah, pintunya ngk di kuncinya kok”teriak Nadia sambil menghapus air matanya.


“Asataga Nadia, kamu kenapa nak.?mata kamu kenapa bengkak kayak begini..?kamu sakit mata nak..?”ucap Lisa khawatir melihat kondisi Nadia yang cukup memprihatinkan.


“Kamu kenpaa nak, mama dengar kau berkelahi dengan papahmu, kenapa lagi nak..?kenpaa kau tidak mencoba memafaatkan papa mu.”


“Nadia capek mah, Nadia selalu berusaha untuk menerima keadaan tapi hati Nadia selalu menolak, ketika Nadia mencoba untuk berdamai dengan mereka maka rasa benci itu akan semakin besar ma”ucap Nadia.


“Berdamai dengan dirimu nak, maka semau itu akan mudah bagimu, cobalah untuk mengontrol dirimu nak, mulai dari sekarang, udah dua tahun kamu membenci papah mu emang ada yang berubah..?papah meninggalkan Rania ngk..?ngk kan!! Jadi jangan buang waktumu untuk hal-hal yang tidak berguna seperti sekarang ini”ucap Lisa menasehati Nadia.


“Kamu jarang makan, mengurung diri dikamar sampai tiga hari bahkan kamu tidak kuliah, coba deh kamu pikir selama tiga hari ini ada yang berubah ngk..?mama tau hati kamu semakin sakit kan”ucap Lisa lagi.


“Tapi papa mau jodohkan Nadia mah, Nadia ngk mau di jodohkan”ucap Nadia.


“Coba kamu terima nak, siapa tau dengan perjodohan ini bisa jalan kamu keluar dari masalah ini”ucap Lisa lalu ia meninggalkan Nadia yang terdiam setelah mendengar nasihat darinya.


“Hati mamah terbuat dari apa sih, kok bisa bertahan dengan papa walaupun sudah dimadu, apakah aku bisa sekuat mama nantinya, baru awal saja aku sudah serapuh ini”batin Nadia sambil menatap kepergian Lisa.


Nadia berpikir bahwa ia sudah menghabiskan waktunya selama tiga hari ini hanya untuk menangis, jadi ia mencoba untuk menata hatinya kembali.


“Nadia, bersiaplah sebentar lagi asisten dari calon suamimu akan datang menjemput”ucap Bram ketika melihat Nadia masuk keruang makan.


“Mmm”ucap Nadia dingin, lalu ia kembali lagi ke kamarnya.


Seperti ucapan Bram sebelumnya bahwa Nadia akan di jemput oleh asisten calon suaminya, mau tidak mau Nadia pun bersiap.


“Apa betul dengan nona Nadia..?”ucap asistennya calon suami nya.

__ADS_1


“Ya”


“Mari tuan sudah menunggu”


“Saya naik mobil sendiri dan saya kan mengikuti mobilmu dari belakang”


“Tidak bisa nona, tuan meminta supaya sya menjemput anda”


“Iyh sudah syaa tidak jadi pergi, pulang ngih”


“Ehh jangan nona, baiklah kita naik mobil masing-masing”


Akhirnya Nadia naik mobil sendiri dan mengikuti mobil yang katanya asisten suaminya.


Berselang bebrapa menit akhirnya Nadia sampai disebuah restoran yang cukup mewah untuk kalangan mereka, Nadia keluar dari mobil ternyata asisten calon suaminya sudah menunggu dirinya di depan pintu masuk restoran.


“Dia ngk ada kerjaan lain kah selain berdiri di depan pintu seperti itu”batin Nadia.


Nadia di antar kesebuah ruangan VIP dan disana sudah ada seseorang yang menunggu dirinya.


“Kesan pertama mu membuat mood saya hancur, kamu telat sepuluh menit, kamu taukan saya tidak suka yang namanya menunggu”ucap Alvian menatap tajam Nadia.


Yap calon suami Nadia adalah Alvian dan yang menjemput Nadia adalah Delon asisten pribadi Alvian.


Betul saja belum sampai 48 jam perlahan tapi pasti Nadia sudah masuk ke dunia Alvian, memang kerja Delon tidak bisa diragukan lagi.


“Jalan macet dan saya tidak tau kalau anda tidak suka menunggu”ucap Nadia dingin lalu duduk dihadapan Alvin.


Sejujurnya Nadia tidak mengenal Alvin, meskipun Alvin merupakan mahasiswa baru di kelasnya tapi karna saking cuek Nadia tidak menyadari kalau yang berada dihadapannya sekarang adalah teman sekelasnya.


“Besok malam kita akan menikah, dan besok datanglah kerumahku bertemu dengan orang tua, nanti orangku akan menjemputmu”ucap Alvin tanpa basa-basi sedikit.


“Stop merasa kalau sya menyetujui perjodohan ini, justru syaa kesini hanya ingin membantalkan perjodohan ini, saya tidak peduli anda menang tender atau apalah, itu urusan anda dengan bram tuan...”ucap Nadia terhenti karna ia tidak tau siapa nama Alvin.


“Kenapa berhenti, tuan apa”ucap Alvin.


“iyh itu pokoknya, tuan apalah itu aku tidak tau siapa namamu”ucap Nadia kesal


“What kita satu kampus bahkan satu kelas bisa-bisanya dia ngk tau nama ku..?ini manusia asli atau manusia setengah dewa sih”pekik Alvin dalam hati, tak habis pikir dengan Nadia yang tidak tau siapa namanya.


“Saya tidak butuh persetujuan darimu tentang perjodohan ini, pokok besok datang kerumah berkenalann dengan orang tuaku dan malamnya kita menikah”ucap Alvin kesal dan tak mau dibantah.


“Ngk bisa seperti itu, saya tidak mau menikah dengan anda, siapa anda memaksa saya”ucap Nadia keberatan.


“Saya calon suamimu kalau kau melupakan hal itu”ucap Alvin tersenyum licik.


“Lon, kita pulang”ucap Alvin dingin lalu berdiri dari kursi.


“Woi saya belum selesai berbicara, anda tidak bisa seenaknya seperti itu”teriak Nadia kesal.


“Tapi sayangnya saya sudh selsai berbicara dan sampai bertemu di rumah”bisik Alvin di telinga Nadia yang membuat si empedu merinding.


“hah siapa sih itu manusia satu, heran masih ada orang seperti itu”ucap Nadia menghentakkan kakinya karna kesal.

__ADS_1


“Ini semua gara-gara papah, kok bisa perusahaan Maharani bisa kalah tender dengan manusia menyebalkan seperi itu”ucao Nadia kesal, lalu meninggalkan ruangan itu, bahkan beberapa menu makanan yang di pesan tidak tersentuh sedikit pun


__ADS_2