TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Harus Cerai


__ADS_3

Satu bogem mentah Gerry berikan di wajah tampan adiknya saat lelaki itu akhirnya muncul di rumah sakit.


"Kakak, kenapa memukul aku?" tanya Genald sambil memegang pipinya yang sakit. Gerry akan memukul lagi namun Tirta langsung menahan tangan putra sulungnya itu.


"Cukup, Ger. Untuk apa kita memukulnya? Bukankah dia sudah bukan anggota keluarga kita? Sebaiknya usir dia dari sini." kata Tirta dengan nada tenang namun sangat tegas membuat Genald terkejut.


"Mama, ada apa ini? Kenapa mama bicara seperti itu?" tanya Genald bingung.


"Nggak usah bersandiwara kamu. Papa jadi seperti itu karena kamu. Sekarang keluar kamu dari sini!" Gerry mendorong pundak adiknya dengan sangat keras. Genald menatap Neva yang sedang memeluk mama Tirta.


"Nev, ada apa?" tanya Genald.


Neva langsung memalingkan wajahnya. Rasanya dia enggan melihat wajah munafik Genald. Ia bahkan merasa jijik membayangkan liburan terakhir mereka yang ternyata penuh kepalsuan. Genald dengan sengaja membawa selingkuhannya ke sana. Untung saja Neva tak pernah mau ditiduri oleh Genald.


Merasa kesal, Genald akhirnya pulang ke apartemen. Ia sungguh merasa kesal karena tak diijinkan melihat papanya. Sekalipun Genald sangat bandel, namun ia sangat mencintai papanya.


Sesampai di apartemen Genald bermaksud akan tidur saja karena ia capek menghabiskan waktu beberapa jam di apartemen Silva. Perempuan itu memang selalu tak pernah puasa jika hanya satu ronde saja.


Saat Genald memutuskan untuk tidur, langkahnya terhenti melihat beberapa foto yang ada di atas meja ruang tamu.


Mata Genald langsung terbelalak saat melihat foto-foto kebersamaannya dengan Silva dan beberapa perempuan lainnya. Pasti Neva mengadu sama papa. Apakah Neva tak ingat kalau papa ada sakit jantungnya. Brengsek kau Neva. Kalau terjadi sesuatu dengan papaku, aku akan melenyapkan kamu juga.


Genald yang tadinya mengantuk karena menghabiskan beberapa jam di apartemen Silva, kini terlihat cemas. Wajahnya langsung pucat dan keringat dingin langsung membasahi wajahnya. Ancaman papanya kini terbayang di pelupuk matanya.


"Sial! Siapa yang mengambil semua foto ini?"


**********


"Ma, minum dulu." kata Neva sambil menyerahkan sebotol air mineral yang dibelinya dari kantin rumah sakit.


Istri Gerry menelepon untuk menayangkan keadaan papa mertuanya.


"Papa masih di ruang operasi. Kita belum tahu bagaimana hasilnya. Anak-anak sudah tidur? Ok. Hati-hati di rumah ya, sayang?"


Gerry menatap mamanya. Ia tahu kekhawatiran di wajah mamanya. Walaupun dulu papanya pernah sekali mengkhianati mamanya, namun hubungan mereka kembali menjadi baik dan mesra. Gerry bahkan tak pernah mendengar mereka mengungkit masalah itu.


Gerry juga senang melihat Neva yang setia menemani mamanya. Neva adalah gadis yang baik. Menantu pilihan yang selalu membuat keluarga itu bangga. Gerry sangat menyayangkan sikap Genald yang tak bisa bersikap baik pada Neva pada hal mereka baru satu tahun menikah.

__ADS_1


Akhirnya, setelah 3 jam menunggu, dokter pun keluar dari ruang operasi.


"Nyonya Tirta. Kami sudah berhasil melaksanakan operasi namun sayangnya, kondisi tuan Arya masih kritis."


Tirta menangis mendengar perkataan dokter.


"Sabar, ma. Kita serahkan semuanya pada Tuhan." kata Neva sambil memeluk Tirta.


"Neva, kamu harus cerai dari Genald. Apapun yang terjadi dengan papa, kalian harus berpisah. Apa yang Genald lakukan sungguh keterlaluan." ujar Tirta nampak emosi.


"Aku setuju, ma. Neva tak boleh selamanya tersiksa dengan semua kelakuan buruk Genald." Gerry mendukung perkataan mamanya.


"Ma, kita tunggu sampai keadaan papa membaik ya?" ujar Neva.


"Nggak, sayang. Besok, mama akan minta om Leo untuk mengurus perceraian kalian. Mama mau lihat, sampai dimana Genald dapat bertahan dalam kemiskinan." kata Tirta sambil menyebutkan nama pengacara keluarga mereka.


Neva hanya bisa mengangguk. Ia memang tak ingin lagi meneruskan pernikahannya dengan Genald.


*********


Sudah 4 hari tuan Arya berada di ruang perawatan intensif. Belum ada tanda-tanda ia akan sadar.


Di dalam ruangannya, Genald nampak kesal. Ia tak bisa mengunjungi papanya. Ia juga perlu tahu keadaan papanya.


"Permisi, tuan!"


Genald menatap salah satu Office boy yang berdiri di depan ruangannya. "Ada apa?"


"Ada surat buat, tuan." lalu ia menyerahkan surat pengantar itu. Genald terkejut saat menyadari bahwa itu surat dari pengadilan agama. Setelah office boy itu pergi, Genald pun membuka suara itu. Inikan surat panggilan dari pengadilan agama? Astaga, Neva menggugat cerai diriku? Bagaimana mungkin? Apa yang harus aku lakukan?


Sementara itu, di ruangan kerja Eldar, nampak pria keturunan Turki itu tersenyum mendapatkan kabar dari Rangga. "Neva menggugat cerai Genald? Akhirnya, pintar juga Neva akhirnya mengambil keputusan."


"Pengacara tuan Arya yang melakukannya atas perintah nyonya Tirta."


"Tak sabar menunggu putusan itu terjadi dan aku akan segera menjadikan Neva milikku."


"Dan Nona Kintan? Aku dengar kalau ia sudah memesan gaun pengantin."

__ADS_1


"Aku akan bicara dengannya. Aku juga tak mau kalau ia terlalu berharap."


*********


"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah." Tirta menangis saat melihat Arya yang kini membuka matanya.


Tangannya langsung memegang tangan suaminya dan mencium punggung tangan lelaki yang sangat dicintainya itu.


"Pa, terima kasih mau berjuang untuk kembali bersama ku."


Arya tersenyum. "Ma, Neva.....!"


"Tenang, pa. Leo sementara mengurus perceraian mereka."


Arya tersenyum lega. Sekalipun ia merasa masih sangat lemah namun ia bersyukur istrinya cepat bergerak dan melakukan apa yang sebenarnya dia mau.


"Neva tetap anak kita." kata Arya lemah.


"Tentu saja. Papa cepat sembuh ya." Tirta mengecup dahi suaminya. Ia sungguh bahagia karena Arya telah kembali lagi bersamanya.


************


"Sayang .....!" Genald yang baru pulang kerja, tersenyum mendapati Neva yang sedang berada di apartemen mereka.


"Besok sidang pertamanya, mas. Aku harap kamu datang dan menerima perceraian ini." kata Neva tegas.


"Aku nggak mau bercerai, Nev. Aku mencintaimu!" kata Genald sambil berlutut di hadapan Neva yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Pernyataan cintamu tak ada gunanya lagi. Aku tetap akan cerai darimu, mas."


Genald meraih kedua tangan Neva. "Kau adalah milikku. Aku tak mau melepaskan kamu, Nev. Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi." mohon Genald.


"Kesempatan itu sudah tak ada mas. Aku menyerah dengan semua yang kau lakukan padaku. Aku ingin pergi dan mencari kebahagiaan ku sendiri ."


"Sayang, aku mohon padamu."


"Maaf, mas. Tak ada lagi kesempatan bagimu " Neva menarik tangannya dari genggaman Genald. Ia kemudian meninggalkan kamarnya dan menuju ke kamar tamu. Hatinya sudah bulat untuk pergi dari kehidupan Genald.

__ADS_1


***********


Maaf ya, episode ini agak pendek. Emak lagi kurang enak badan guys.


__ADS_2