TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Selangkah Lagi


__ADS_3

"Ada apa kalian berduaan di sini?" Tanya Elif yang entah dari mana sudah muncul di sana.


Neva dan Eldar menoleh dengan wajah yang sangat terkejut. Neva langsung pucat. Apakah Elif mendengar percakapan mereka? Batin Neva tak tenang.


"Berduaan apaan, mi? Ini kan di beranda. Memangnya kamu berduaan di kamar?" tanya Eldar sambil pura-pura tersenyum konyol.


"Lalu mengapa kalian saling berbisik dan bertatapan layaknya orang yang punya hubungan?" tanya Elif masih dengan tatapan yang tajam.


"Mami, aku dan Neva sudah kenal lama karena persiapan pernikahan ini. Kami jadi akrab apa salahnya sih?" Eldar menatap Neva. "Maafkan atas ketidaknyamanan ini ya? Selamat malam."


Neva mengangguk dan segera berlalu dari sana. Sedangkan Eldar menatap mamanya dengan rasa tak suka. "Mami memalukan saja. Yang pantas aku tanya itu adalah kedekatan mami dengan Erdogan. Mami punya hubungan dengan pria itu?"


"Maksud kamu apa, Eldar?"


"Kata para pelayan, lelaki itu sudah biasa datang ke sini. Saya juga pernah melihat mami di kawasan sebuah apartemen mewah. Ingat, mi, dia usianya lebih muda dari mami. Jangan salah mengambil keputusan yang akan merugikan mami sendiri. Saya juga periksa transaksi keuangan mami, banyak kali mami mengirim uang ke rekeningnya."


"Dia bekerja untuk mami."


"Kerja apa, mi?"


"Haruskah mami ceritakan padamu semua yang mami kerjakan?" Elif pura-pura marah dan segera meninggalkan putranya. Sedangkan Eldar merasa lega karena maminya tak lagi mengusik tentang keberadaan Neva.


Setelah Elif pergi, Eldar segera menelepon istrinya itu.


"Aku sudah otw, mas. Jangan khawatir, aku baik-baik saja."


"Tunggu aku, ya? Aku ke apartemen malam ini."


"Katanya mau nginap di rumah. Nanti mami Elif marah."

__ADS_1


"Mami pasti sekarang sudah ada di kamarnya."


"Hati-hati ya?"


"Ok, sayang." Eldar pun mengahiri panggilan telepon dan segera menuju ke dalam rumah. Keluarga Kintan sudah pulang, Gina dan suaminya juga sudah masuk ke kamar Gina.


Di kamar Elif.....


"Hallo sayang, kamu ada di mana? Aku sudah di dalam mobil." ujar Erdogan melalui sambungan telepon.


"Besok saja aku ambil hasilnya. Eldar sudah mencurigai hubungan kita. Esok siang aku ke apartemen mu ya?"


"Ok deh sayang. Aku pulang dulu ya? Selamat malam baby."


"Selamat malam." Elif pun mengahiri percakapannya dengan Erdogan. Hatinya bahagia karena Erdogan sangat perhatian padanya. Elif menyadari, dulu ia tak pernah mengenal masa pacaran. Ia dijodohkan dengan ayahnya Eldar sejak usianya 18. San diusia 19 tahun, ia sudah melahirkan Eldar. Untungnya dang suami mengijinkan dia meneruskan kuliahnya sampai di strata dua. Elif yang pintar dan energik, menyelesaikan kuliah nya dengan nilai yang sangat memuaskan. Ia bahkan ikut bergabung di perusahaan sang suami. Saat bergabung di sana, Elif akhirnya tahu kalau sekretaris sang suami adalah mantan pacarnya yang terpaksa harus putus karena mereka dijodohkan. Elif yang saat itu baru berusia 25 tahun menjadi mudah marah dan cemburu. Ia melakukan berbagai macam cara untuk menyingkirkan sang sekretaris walaupun sang suami sudah mengatakan bahwa mereka tak ada hubungan apa-apa lagi. Sekretaris itu tetap di pertahankan karena kinerja nya yang sangat bagus. Elif tak percaya. ia dapat merasakan ada bibit-bibit perselingkuhan di sana. Akhirnya sang sekretaris dipindah oleh ayah mertuanya ke kota Surabaya.


Dalam keadaan kalut, Elif ternyata hamil lagi. Hamil kedua yang ditandai dengan ngidam yang sangat berat membuat Elif harus masuk keluar rumah sakit. Ia terpaksa berhenti dari pekerjaannya dan konsentrasi dengan kehamilannya yang sempat mengalami pendarahan. Sang suami lebih perhatian pada Elif. Untuk sesaat Elif merasa tenang. Apalagi kelahiran Gina membuat sang suami lebih betah di rumah.


Elif hancur. Rumah tangganya menjadi kacau. Ia terus bertengkar dengan sang suami. Semua pengeluaran yang suami dijaga ketat oleh Elif. Ia bahkan ke Surabaya untuk melabrak sang sekretaris. Mereka berdua bertengkar sangat hebat sampai terjadi saling Jambak dan saling pukul. Tak ada lagi mertua yang biasa menolongnya. Elif menjadi wanita yang super posesif pada suaminya. Gina dan Eldar merasa terabaikan karena sang mami selalu mengikuti suaminya kemana saja sang suami pergi.


Sampai akhirnya, Elif mendengar bahwa sang sekretaris dan anaknya mengalami kecelakaan kereta api dan meninggal di tempat. Ayah Eldar terlihat sangat terpukul. Ia menjadi sangat pendiam. Hubungan ranjang mereka menjadi sangat dingin. Elif melampiaskan semuanya dengan bergaul dengan para ibu-ibu sosialita. Eldar yang sudah dewasa protes dengan semuanya. Ia merasa maminya terlalu egois dan papinya terlalu pasif. Akhirnya Eldar pergi dari rumah yang menurutnya seperti neraka.


Kecelakaan Eldar membuat hubungan mereka menjadi membaik. Mereka bahkan sempat pergi berbulan madu kedua kakinya keliling Eropa. Namun setelah itu ayah Eldar sakit. Ketika sakit itulah Elif sadar, kalau hati suaminya bukan miliknya. Dalam keadaan koma, sang suami menyemburkan nama mantan kekasihnya yang sudah meninggal. Elif kembali frustasi. Ia sering curhat pada detektif yang disewanya untuk menyelidiki kehidupan Eldar di Sidney. Erdogan yang perhatian, penuh kasih sayang, lembut dan menyayang membuat Elif jatuh hati. Tak peduli dengan usia Erdogan yang jauh lebih muda harinya. Elif seakan menemukan cinta yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari sang suami.


************


"Aku sudah booking tiket untuk kamu dan Ekel, Don. Pesawatnya akan berangkat jam 6 pagi. Nanti aku yang ijin ke sekolahnya Ekel. Anak buah paman akan menjemput kalian. Sembunyi di Filipina dulu ya?" ujar Elif dari telepon. Ia tak mau sampai ada orang yang mengikutinya jika ia ke rumah tempat Ekel tinggal.


"Nev, bagaimana kalau Ekel nggak mau?"

__ADS_1


"Bilang padanya aku akan menyusul ke sana kalau akad nikah Eldar sudah selesai. Ok?"


"Baiklah."


Neva pun menarik napas lega. Ia harus menyembunyikan anaknya dulu sebelum Elif menemukan anaknya. Ia harus membongkar perselingkuhan Kintan dan Erdogan dulu barulah ia akan berterus terang mengenai Ekel.


Selesai mengurus tiket Dona dan Ekel, Neva pun segera mandi dan ganti pakaian. Saat ia akan terlelap karena merasa lelah, Eldar akhirnya tiba di apartemen.


"Sayang.....!" panggil Eldar sambil melepaskan sepatunya, kemudian kemeja yang dikenakannya, lalu celana hitamnya, dan hanya menggunakan celana boxer ia naik ke atas ranjang.


"Mas, mami Elif tahu kalau mas pergi dari rumah?" tanya Elif lalu membaringkan kepalanya di lengan sang suami.


"Paling juga besok pagi tahu. Biar sajalah. Aku hanya ingin bersamamu. Kepalaku pusing memikirkan pernikahanku dengan Kintan yang tinggal dua Minggu lagi."


"Enak lho mas. Berikut akan punya dua istri. Pasti akan mengenakan."


"Sayang, aku bukan pria hidung belang yang bisa berhubungan dengan sembarangan wanita tanpa menggunakan perasaan. Saat aku menyentuh Kintan juga semuanya seperti bukan diriku. Selesai menyentuhnya aku merasakan penyesalan yang mendalam."


Neva mendongak dan menatap wajah tampan Eldar. "Selesai akad, mas akan tidur dengannya?"


"Aku nggak tahu, Ev. Pusing aku memikirkannya. Aku nggak mau membagi diriku dengan wanita lain."


Neva tersenyum. Ia merayap ke atas tubuh sang suami lalu mengecup bibir Eldar dengan gerakan sensual. "Hanya aku mas. Hanya aku satu-satunya wanita yang bisa memuaskan mu. Dan aku akan pastikan mas hanya akan bersamaku selamanya."


"Maksudnya?"


Neva kembali mencium sang suami dengan penuh gairah. Ia tak menjawab pertanyaan Eldar. Ia menggoda sang suami untuk mendaki tangga kenikmatan secara bersama. Neva yakin Eldar tak akan pernah berpaling darinya.


************

__ADS_1


Selamat menikmati kebersamaan dengan keluarga masing-masing.


Semoga suka dengan bab ini


__ADS_2