
Rangga dan Dona duduk bersebelahan di gazebo yang ada di halaman belakang rumah Eldar. Sisa-sisa dekorasi perayaan ulang tahun Ekel masih digantung di sana dan belum dibersihkan.
Hari sudah semakin larut namun Dona telah kehilangan rasa kantuknya, demikian juga dengan Rangga.
Dari balkon kamarnya, Neva dapat melihat pasangan itu. Ia tahu kalau Dona sangat menyayangi EKel. Waktu Dona bahkan lebih banyak untuk Ekel dibandingkan dengan dirinya.
"Mas, bagaimana caranya aku harus membujuk Dona agar meneruskan kehamilannya?" tanya Neva saat ia merasakan kalau Eldar sedang memeluknya dari belakang.
"Biarkan Rangga yang menyelesaikan masalah diantara mereka, sayang. Kita akan ikut bicara kalau Rangga yang memintanya."
Neva mendongak kepalanya sambil menatap sang suami. "Menurut mas, apakah Ekel akan cemburu saat Dona lebih memperhatikan anaknya?"
"Aku nggak tahu, sayang. Namun menurutku, Ekel sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang kakak."
"Mungkin Dona saja yang ketakutan ya, sayang?" ujar Neva.
"Menurut kamu, Ekel anaknya posesif nggak?"
"Ya posesif lah. Ikut siapa juga kalau bukan bapaknya?" tanya Neva sedikit menyindir.
Eldar terkekeh. "Aku begitu ya?"
Neva memegang pipi suaminya. "Kamu ingat dulu waktu kita di Sidney? Berapa banyak pria yang hampir berkelahi dengan mu karena kamu nggak suka dengan cara mereka memandangku?"
"Kamu memang cantik, sih. Pantas saja banyak yang suka. Dan aku beruntung karena menjadi satu-satunya lelaki yang kau cintai."
Pasangan itu berciuman dengan sangat mesra.
"Bobo yuk! Biar saja Rangga dan Dona menyelesaikan masalah mereka." ajak Eldar.
"Beneran bobo?" tanya Neva dengan tatapan yang sedikit menggoda.
"Bobo setelah satu ronde."
Neva mencubit perut suaminya. "Dasar!" Namun ia tak menolak saat suaminya mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ranjang cinta mereka.
***********
"Sayang, kita pulang yuk!"
Dona menggeleng. "Aku mau di sini. Aku sudah janji sama Ekel akan tidur di sini."
"Baiklah. Tapi jangan duduk di sini. Kamu kan sedang hamil."
Dona menatap Rangga. "Ga, please. Jangan paksa aku untuk menerima kehamilan ini. Aku belum siap punya anak, Ga. Menikah saja karena dijebak oleh Neva."
"Tapi kita nggak mungkin membuangnya. Itu dosa, Na. Anak itu anugerah Tuhan. Dia akan datang kalau memang Tuhan sudah mengijinkan dia ada di rahim mu."
Doan melepaskan tangan Rangga yang memeluk pinggangnya. "Ga, aku nggak mau Ekel menjauhi aku karena aku menyayangi anak lain. Kamu tahu, sejak Ekel kecil, jika aku dan Neva memeluk anak bayi lain, Ekel akan selalu marah dan menangis."
__ADS_1
"Jadi, apakah karena itu lalu kamu akan mengorbankan anak kita?"
"Kamu kan tahu kalau aku sangat menyayangi EKel."
"Ya. Tapi kamu juga harus ingat, sekarang Ekel sudah berada dibawa asuhan kedua orang tuanya. Kamu sudah memiliki keluarga sendiri."
"Aku nggak suka kamu bicara seperti itu, Ga. Sebelum kamu masuk ke hidupku, aku sudah lebih dahulu memiliki Ekel." Dona terlihat emosi.
Rangga dengan kesal memukul tiang gazebo dengan tangan kanannya. Tak peduli dengan tangannya yang terluka. "Terserah kamu aja mau buat apa. Aku mau pulang !" ujar Rangga lalu segera meninggalkan Dona.
"Rangga! Kita belum selesai bicara!" Dona pun terlihat kesal karena Rangga meninggalkan dia. Namun laki-laki itu sama sekali tak membalikan badannya. Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil yang meninggalkan halaman rumah Eldar.
Dona menghentakkan kakinya kesal. Selama 6 bulan ini ia dekat dengan Rangga, mereka berdua jarang sekali bicara dari hati ke hati. Yang ada hanya aktifitas ranjang sebagaimana komitmen awal mereka menjalin hubungan. Sikap Rangga begitu manis dan baik padanya. Namun sekarang, Dona baru melihat sikap keras Rangga. Dan itu membuat terkejut. Seharusnya memang kami belum menikah.
*********
Entah jam berapa Dona tertidur. Yang pasti saat ini ia bangun saat jam sudah menunjukan pukul 10 pagi. Sekarang hari Sabtu dan Dona tahu kalau ia tak bekerja.
Perlahan Dona bangun karena kepalanya masih terasa pusing. Ia memeriksa ponselnya dan sama sekali tak ada pesan dari Rangga. Neva semakin kesal dibuatnya.
Setelah mandi dan ganti pakaian, Dona pun keluar kamar. Nampak Neva, Eldar dan Ekel sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton sebuah film.
"Good morning mommy Dona. Are you ok?" tanya Ekel saat melihat Dona yang menghampiri mereka.
"Ya, sayang. Ekel sudah sarapan?" tanya Dona.
"Yes. Sarapan sama Daddy dan mommy Neva. Mommy Dona lama sekali bangunnya."
"Rangga belum bangun?" tanya Eldar.
Dona menggeleng. "Rangga nggak tidur di sini."
Neva dan Eldar hanya saling berpandangan tanpa berkomentar apapun lagi karena ada Ekel di sana.
"Mommy, baju yang diberikan oleh salah satu teman Daddy, kekecilan buat Ekel." kata Ekel pada Neva.
"Oh, kalau gitu kita berikan saja ke panti asuhan." Kata Neva karena memang begitulah yang selalu ia ajarkan untuk tahu memberi.
"Jangan. Simpan saja dulu, mommy. Siapa tahu Ekel punya adik. Kan teman-teman Ekel di sekolah banyak yang sudah punya adik. Mereka sering pakai baju kembar. Asyik deh kelihatannya."
Dona dan Neva saling berpandangan. "Ekel mau punya adik?" tanya Neva.
"Ya. Adik yang lahir dari perut mommy."
Neva tersenyum. "Kalau adik yang lahir dari perut mommy Dona, apakah Ekel juga mau?"
"Mau juga, dong. Semuanya kan akan jadi adik Ekel. Asyik ya dad, kalau punya dua adik sekaligus. Yang lahir dari perut mommy Dona dan yang lahir dari perut mommy Neva." kata Ekel sambil menatap Eldar.
"Ekel nggak akan cemburu? Kan kalau ada adik, maka perhatian kedua mommy akan lebih banyak ke adik bayi." tanya Eldar. Ia ingin melihat bagaimana reaksi anaknya.
__ADS_1
"Nggak. Kan sekarang sudah lebih banyak orang yang sayang Ekel. Ada Daddy, ada grandma Elif, ada aunty Gina."
Neva terharu mendengar jawaban putranya. "Sayang...., kamu ternyata sudah siap menjadi kakak."
Dona tak bisa menahan air matanya. Ketakutannya ternyata tak beralasan. Ekel justru ingin memiliki adik. "Aku pulang dulu, ya?" pamit Dona. Ia mencium Ekel sebelum akhirnya meninggalkan rumah itu.
Sesampainya di rumah mereka, Dona segera masuk ke kamar. Menemukan sang suami yang sedang memasukan baju-bajunya ke dalam koper.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Dona.
"Aku mau kembali ke rumahku."
"Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat untuk tinggal di sini?"
"Aku nggak bisa tinggal dengan seseorang yang tak menghargai apa yang sudah Tuhan berikan padanya." kata Rangga tanpa memandang Dona. Ia terus saja memasukan pakaiannya ke dalam koper.
"Kamu mau menyerah dengan hubungan kita?" tanya Dona sambil menangis.
"Bukan aku yang menyerah tapi kamu! Banyak pasangan di dunia ini yang merindukan anak. Namun tak juga mendapatkannya. Namun kita, sudah diberikan oleh Tuhan, eh malah disia-siakan."
Dona mendekati Rangga. Ia memeluk suaminya itu dari belakang. "Maafkan aku, sayang. Aku salah. Aku akan meneruskan kehamilan ini. Aku mau melahirkan anak kita."
Rangga melepaskan tangan Dona yang melingkar di perutnya. "Benarkah?" tanyanya setelah mereka saling berhadapan.
Dona mengangguk. Rangga langsung memeluknya dengan luapan kegembiraan. "Sayang ..." Rangga bahagia karena akhirnya mereka akan punya anak sendiri.
***********
"Bagaimana hasilnya?" tanya Eldar saat Neva keluar dari kamar mandi.
Neva membuang testpack itu ke tempat sampah. "Negatif, mas."
"Jangan putus asa, ya? Nanti kita berusaha lagi bulan depan." kata Eldar sambil meraih tangan Neva dan menggenggamnya erat.
"Aku kok merasa kalau aku nggak akan hamil lagi, mas. Usia kandungan Dona sekarang sudah memasuki bulan ke-7. Aku belum juga hamil. Apakah ada yang salah dengan diriku?"
"Jangan putus asa, sayang. Kan dokter sudah mengatakan kalau kita berdua sehat-sehat saja. Mungkin sebaiknya kamu berhenti kerja saja dan banyak beristirahat."
"Baiklah, mas. Aku akan bicara dengan ibu Lorry besok."
Eldar memeluk istrinya. Dia memang ingin mereka segera punya anak lagi. Namun Eldar pun hanya bisa pasrah pada kehendak Allah.
**********
Hallo semua
terima kasih sudah membaca kisah ini
semoga tetap saja ya
__ADS_1
nggak ada konflik lagi guys