TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Hamil?


__ADS_3

Dua acara penting telah Neva selesaikan di bulan ini. Chanel YouTube juga semakin bertambah yang surcribe.


Ibu Lorry semakin senang karena perusahaannya semakin maju dan tentu saja semua itu karena tangan kanannya yang sangat berbakat yaitu Neva.


"Neva, bagaimana dengan persiapan pernikahan Gina Deksiano?" tanya Lorry.


"Hampir rampung, Bu. Kita memang sangat repot karena semua mereka minta kita yang kerjakan. Termasuk gaun pengantinnya. Gina akan menggunakan 3 gaun pengantin. Yang pertama saat akad, lalu resepsi siang dan resepsi malam."


"Dan mereka suka dengan konsep yang kau buat?"


"Ya. Calon suami Gina ingin resepsi siangnya dibuat ala-ala Turki.Ada tariannya segala. Untungnya ada perkumpulan orang Turki di sini jadi penarinya bisa aku dapatkan."


"Terus pernikahan kakaknya bagaimana?" tanya Lorry.


"Akan dilaksanakan setelah Gina menikah. Mungkin 3 bulanan gitu jaraknya."


"Jangan sampai batal ya? Yang aku dengar sih kalau tuan Eldar itu tak mencintai tunangannya. Apakah mungkin ada orang ketiga diantara mereka? Entahlah."


Akulah orang ketiga itu, Bu. Ingin rasanya Neva mengatakan kalimat itu. Namun kalimatnya langsung tertahan di tenggorokannya. Sungguh, Neva tak ingin di cap sebagai PHO (perusak hubungan orang).


Saat keluar dari ruangan ibu Lorry, Eldar meneleponnya.


"Sayang, aku sudah dekat dengan kantormu. Ayo pulang bareng. Aku tunggu di tempat parkir ya?"


"Mas, bagaimana kalau ada yang lihat?"


"Aku menggunakan mobil lain. Kacanya juga agak gelap. Jadi kamu jangan takut."


"Baiklah." Neva pun akhirnya setuju. Ia ke ruangannya dan segera mengambil tasnya. Setelah itu ia bergegas keluar kantor dan menunggu Eldar di tempat parkir yang jauh dari lobby.


"Mobil siapa, mas?" tanya Neva saat melihat kalau plastik pembungkus tempat duduknya belum dibuka.


"Lihat saja di STNK nya." Kata Eldar sambil mengeluarkan STNK dari dalam laci dasboard.


"Neva Viviani? Astaga mas, ini mobilku? Kamu yang membelikan?"


Eldar mengangguk. "Kamu suka?"


"Tapi mas, aku kan sudah punya mobil sendiri. Walaupun mobil itu aku beli second namun aku suka."


"Mobil itu harus disingkirkan, sayang. Maaf ya, Rangga sudah menjualnya. Uang hasil penjualannya sudah aku transfer ke rekeningmu."


"Kok di jual mas?"


"Karena Kintan sudah mencurigai aku. Dia juga pernah melihat mobilmu di rumah Ranggam Makanya mobil itu harus disingkirkan."


"Mas, bagaimana jika akhirnya Kintan tahu?"


"Kamu tenang saja, sayang. Rumah kita tak lama lagi akan selesai. Aku sudah menambah jumlah pekerjanya sehingga sebulan lagi sudah bisa ditempati."


"Baiklah."


Keduanya pun sampai di apartemen. Untung saja apartemen ini tak sembarang mobil bisa masuk ke basemen. Mobil para tamu harus di parkir di depan lobby.


"Aku masak ya, mas." kata Neva saat keduanya sudah berada di unit apartemen Neva.


"Aku bantu." kata Eldar. Ia sudah membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumahan. Kemeja lengan panjangnya sudah ia gulung sampai ke siku tangannya.

__ADS_1


"Mas, kamu mau apa? Biar aku saja."


"Aku sudah lapar, Ev. Kalau bantu kan kamu jadi lebih cepat masakanya."


Neva hanya menggelengkan kepalanya. Eldar kalau sudah berkeinginan sangat sulit untuk dibantah.


Satu jam kemudian, mereka akhirnya bisa makan bersama. Eldar makan dengan sangat banyak.


"Mas, biasanya kamu nggak mau makan banyak kalori kalau sudah malam. Nggak takut gendut? Nanti perut roti sobeknya hilang lho." goda Neva.


"Memangnya kalau perut aku sudah gendut, kamu nggak akan suka sama aku lagi?"


Neva tersenyum. "Suka kok, mas. Apapun adanya dirimu, aku tetap suka." Neva berdiri dari tempat duduk. Namun tiba-tiba saja ia menjadi pusing dan duduk lagi.


"Ada apa, sayang?"


'Aku merasa pusing, mas."


Eldar mendekati Neva. "Kamu sih, makannya sedikit." Ia langsung memegang bahu istrinya dan memberikan pijatan ringan di sana.


"Aku ambilkan minyak angin." kata Eldar lalu membuka kotak obat. "Nggak ada sayang."


"Aku mungkin terlambat makan saja, mas. Tadi makan siangnya sudah pukul 2."


Eldar membantu istrinya berdiri dan membawa Neva ke lantai dua untuk menuju ke kamar mereka.


Semenjak menikah dengan Eldar, Neva memang mengganti ranjangnya dengan yang baru. Semua interior yang ada di kamar juga Neva ganti agar bisa menghilang kesan Genald di kamar ini.


Saat Neva sudah berbaring, Eldar tiba-tiba ingat sesuatu. "Sayang, kita kan sudah sebulan menikah. Apakah kamu sudah datang bulan?"


Eldar tersenyum. Tangannya langsung berada di atas perut Neva. "Sayang, kamu hamil?" tanya Eldar.


"Hamil?"


"Pusing mendadak itu kan tanda-tanda orang hamil, Ev."


"Aku......!" Neva bingung. "Bagaimana mungkin bisa hamil?"


"Sayang, apa kamu lupa? Setiap malam kita bercinta nggak peduli secapek apa kita dengan pekerjaan kantor masing-masing. Tentu saja kamu bisa hamil. Bukankah sebelumnya kamu juga pernah hamil? Itukan sebagai bukti bahwa kita berdua nggak ada masalah kesuburan."


"Eh...tapi ....bisa saja aku terlambat datang bulan, mas."


Eldar menatap Neva sambil memicingkan matanya. "Sayang, kok kamu nampaknya nggak terlalu suka saat aku bilang kamu hamil? Memangnya kamu nggak ingin hamil lagi?"


"Bu...bukan, mas. Hanya saja, status diantara kita yang masih disembunyikan membuat aku sebenarnya belum siap untuk hamil."


"Justru dengan kamu hamil akan membuat aku semakin yakin kalau mami akan menerima kamu sebagai menantunya. Kamu kan tahu kalau mami sudah sangat ingin Daksiano ada penerusnya."


Neva berusaha menahan rasa di hatinya yang membuat ia sebenarnya ingin menangis. Ia tahu kalau ia sudah membohongi Eldar.


"Aku akan minta Rangga membelikan testpack dan setelah itu, kita akan melakukan tes besok pagi secara bersama. Sekarang kamu bobo aja ya, sayang?" Eldar membantu Neva mengganti baju kerjanya dengan daster rumahan berbahan kaos. Ia tahu kalau Neva lebih nyaman memakai itu.


Setelah itu, Eldar ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi, ia pun bergabung dengan Neva di atas ranjang sambil memeluk istrinya itu. Tak lama kemudian terdengar bunyi ponselnya. Ada panggilan dari Kintan.


"Hallo, Ki. Ada apa?" tanya Eldar. Suaranya sengaja dipelankan agar tak membangunkan Neva. Pada hal Neva sebenarnya belum tidur.


"Sayang di mana? Aku ingin ketemu."

__ADS_1


"Tadi siang kan kita sudah makan siang bersama."


Neva mengigit bibirnya. Mereka sudah ketemu rupanya. Makan siang lagi.


"Tapi aku ingin mengajak kamu nonton bioskop, El." terdengar suara Kintan yang nampak sangat berharap.


"Maaf, Ki. Aku capek sekali. Aku bahkan sudah di tempat tidur. Ingin segera tidur."


"Terus kapan dong kita keluar malam lagi? Atau aku ke apartemen kamu saja?"


"Jangan, Ki. Nggak enak di sini ada pacarnya Rangga."


"Kok kamu mau sih tinggal bareng Rangga. Kenapa nggak di rumah mami Elif saja? Kasihan kan di sana hanya ada mami dan Gina. Sebentar lagi Gina menikah."


"Kita bicara nanti ya? Sekarang aku benar-benar ngantuk." Eldar pun memutuskan sambungan telepon. Ia menarik napas panjang lalu kembali membaringkan tubuhnya dan memeluk Neva dari belakang. Boleh dikata, kalau ini adalah malam pertama mereka tak bercinta.


Jika pernikahan kami terus dirahasiakan, maka mas Eldar selalu akan menjadi suami yang suka berbohong. Ya Allah, apakah aku bisa menjalani pernikahan yang seperti ini?


**********


"Sayang, bangun. Rangga sudah membawa testpack nya." Eldar menepuk pipi Neva. Terlalu banyak berpikir membuat Neva sebenarnya tidur saat jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari.


"Jam berapa sekarang, mas?"


"Jam setengah tujuh."


Perlahan Neva bangun lalu menerima testpack yang diulurkan Eldar padanya. Sebenarnya ia tak suka melakukan tes ini karena ia memang sudah tahu hasilnya.


"Aku ke kamar mandi dulu ya, mas."


"Aku ikut ya, sayang."


"Mas, bagaimana aku bisa buang air kecil jika mas melihatnya?"


"Lho, aku kan sudah biasa bermain di sana. Bahkan itu sudah menjadi bagian favoritku untuk dicium."


Neva melotot. "Mas.....!"


.Eldar tertawa. Akhirnya ia membiarkan istrinya itu masuk ke kamar mandi sendiri.


"Eva ....., sayang, kok lama sekali sih?" Eldar mengetuk pintu kamar mandi.


"Mas, belum juga 5 menit."


Eldar berjalan mondar mandir di depan kamar mandi. Sungguh ia sudah sangat berharap agar Neva hamil.


Pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Neva keluar sambil membawa testpack di tangannya.


"Ev, bagaimana hasilnya?"


"Mas lihat sendiri saja." kata Neva sambil menyerahkan testpack itu ke tangan Eldar.


***********


Bagaimanakah hasilnya?


dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2