
"Bagaimana? Kalian sudah di bandara?" tanya Neva dengan suara pelan. Ia sengaja bangun pagi untuk mengetahui keberadaan anaknya. Neva menelpon dari balkon apartemen karena Eldar masih tidur di kamar.
"Sudah, Nev. Ini sudah di dalam pesawat. Tapi Ekel merajuk nih. Dia nggak mau bicara."
"Aku ubah ke panggilan Videocall ya?" Neva mengubah panggilannya menjadi panggilan Videocall, lalu ia meminta mengarahkan pada Ekel.
"Sayang, kita berpisah hanya sementara kok. Setelah itu kita akan ketemu lagi. Jangan merajuk ya....please....!"
Wajah Ekel yang tadinya ditekuk sekarang mulai berubah. Ia melirik sedikit ke arah layar ponsel lalu setelah itu kembali melipat kedua tangannya di dadanya.
"Ekel sayang, jangan gitu dong. Nanti mommy jemput lagi di sana ya? Hanya sementara nanti Ekel balik lagi. Ayo dong tersenyum. Mommy sedih kalau Ekel kayak gitu."
Ekel perlahan menengok ke arah layar ponsel. Melihat Neva yang hampir menangis, anak itu pun tersenyum. "Mommy, aku akan merindukanmu."
"Mommy juga sayang. Nanti kita akan selalu Videocall. Dengar-dengaran sama mommy Dona ya?"
"Bye mommy....!"
"Bye sayang...."
"Bicara dengan siapa, sayang? Kok ada suara anak kecil?"
Neva menoleh dengan kaget. Eldar sudah berdiri di belakangnya. "Eh, sayang. Aku anu..., anaknya Bu Lorry. Bos aku. Kamu sudah mandi ya?" Neva mendekat, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan memeluk Eldar.
"Iya."
"Harum." bisik Neva.
"Jangan goda aku sehingga aku akhirnya harus terlambat ya, sayang?"
Neva tertawa. Ia segera menggandeng tangan Eldar dan menuju ke meja makan. Ia sudah bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Jika aku sudah menikah dengan Kintan, pasti aku tak akan selalu menikmati sarapan buatanmu, sayang. Rasanya nggak mau menikah saja."
Neva meraih tangan Eldar. "Sayang, jangan terbeban. Aku akan membuat semuanya indah."
"Mana bisa dikatakan indah kalau aku harus membagi hatiku dengan yang lain?"
"Pokoknya mas kerja aja. Dan tunggu hari pernikahan itu dengan senang hati."
Eldar melihat kalau Neva sama sekali tak terbeban dengan pernikahannya. Apakah Neva tak mencintai aku lagi?
***********
__ADS_1
Elif menatap Erdogan dengan wajah kesal. "Bagaimana mungkin hasil tes itu bisa hilang?"
"Aku juga nggak tahu, sayang. Aku menyimpannya di dashboard mobil. Saat tadi pagi aku akan mengambilnya, hasil tes itu sudah hilang. Pada hal mobilku dalam keadaan terkunci."
"Pasti kamu sudah menjatuhkannya." Elif terlihat sangat kesal.
"Aku akan ke rumah sakit dan meminta hasil itu kembali."
Elif masih terlihat kesal. Ia duduk di atas sofa sambil melipat tangannya di dada. Ia pun ke dapur untuk meminum air putih agar suasana hatinya menjadi lebih baik.
Saat Elif akan meletakan gelas bekas minumnya di atas tempat cuci piring, mata Elif menatap arah ruang laundry dan terkejut melihat ada sebuah lingerie yang digantung di sana. Elif mendekat dan terkejut melihat bentuk gaun tidur yang sangat seksi itu. Ia merasa tak pernah memilikinya. Hati Elif langsung terbakar cemburu.
"Erdogan!" panggilnya sedikit berteriak.
Erdogan sedikit berlari dan menuju ke dapur. "Ada apa, sayang?"
"Baju tidur milik siapa itu?" tanya Elif dengan emosi yang siap meledak sambil menunjukan gaun tidur itu. "Siapa perempuan yang kau bawa ke sini?"
Erdogan terkejut karena ia tahu gaun itu adalah milik Kintan.
"Siapa?" teriak Elif semakin histeris melihat Erdogan hanya diam saja.
"Milik siapa ya?" Erdogan pura-pura menjadi bodoh. "Oh.....pasti milik istrinya Morry."
"Sepupu aku, sayang. Mereka baru saja pulang dari bulan madu di Bali. Sempat tidur dua malam di sini. Memang ada beberapa baju mereka yang ketinggalan. Aku mana tahu kalau ada baju itu. Pakaian ku kan selalu di bawa ke laundry, sayang. Jadi aku nggak pernah ke ruangan ini."
Elif menatap Erdogan dengan tatapan yang tajam. "Kamu nggak bohong kan?"
"Aku nggak bohong, sayang." Erdogan mendekati Elif dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping perempuan itu. "Kita sudah lebih dari 4 tahun bersama. Masa sih kamu masih ragu padaku? Kamu adalah satu-satunya wanita yang mampu membuatku jatuh cinta. Aku bahkan ingin segera menikah denganmu."
"Kamu nggak menipu aku kan?"
"Sayang, aku mencintaimu. Kalau kamu bersedia, ayo kita menikah setelah akad nikah Eldar dan Kintan. Tunggu sebentar ya?" Erdogan berlari ke kamarnya dan kembali dengan sebuah kotak kecil di tangannya. Laki-laki itu berlutut di hadapan Elif sambil membuka kotak itu yang berisi cincin berlian itu. "Elif sayang, maukah kau menikah denganku?" tanya Erdogan.
Mata Elif langsung berkaca-kaca. "Erdogan sayang. Kau membuat aku tak bisa menolakmu."
Erdogan pun memasukan cincin itu ke jari manis Elif. Ia kemudian berdiri dan langsung memeluk wanita itu dengan erat. "Aku tak sabar ingin menjadikan kamu milikku, sayang."
"Aku mencintaimu, sayang." Kata Elif dengan luapan kebahagiaan.
Setelah pelukan itu terlepas, Erdogan langsung mencium Elif dengan penuh napsu membuat Elif tak mampu menolak hasrat yang Erdogan miliki.
***********
__ADS_1
Eldar menatap satu persatu foto yang diberikan oleh anak buahnya yang selama ini mengikuti Erdogan.
"Jika malam hari, Erdogan sering pergi ke pub dan berkencan dengan beberapa wanita. Menurut penjaga apartemennya, ada dua wanita yang sering mengunjungi Erdogan di sana. Yang pertama nyonya Elif dan yang kedua seorang perempuan muda. Sayangnya perempuan itu selalu datang menggunakan masker dan kacamata hitam. Seorang perempuan berkulit putih dengan rambut panjang sedikit bergelombang. Tingginya sekitar 170cm."
Mengapa ciri-ciri nya mengingatkan aku pada Kintan ya? Batin. Eldar.
"Tolong Carikan foto wanita itu. Aku ingin punya bukti Perselingkuhan Erdogan dengan perempuan itu sebelum aku menunjukan pada mamiku."
"Baik, tuan. Saya permisi."
Eldar menatap foto Erdogan dan para perempuan di sebuah club' malam. Aku tahu kamu hanya mengincar harta milik mamiku. Jangan mimpi ya, Erdogan
*********
"Kamu yakin ini rumahnya?" tanya Elif pada Erdogan saat Erdogan mengantarnya ke sebuah rumah mewah tempat Ekel berada.
"Iya, sayang. Aku sering lihat kalau Neva sering ke sini."
Elif membunyikan bel yang ada di tiang pagar. Hari ini setelah Erdogan kembali mendapatkan hasil DNA. Elif akan segera mengambil Ekel.
"Assalamualaikum!"
Tak lama kemudian , seorang satpam datang membukakan pintu.
"Maaf Nyonya, pemilik rumah sedang tak ada."
"Jangan bohong!"
"Rumah kosong. kalau nggak percaya silahkan diperiksa."
Elif masuk karena ia tak percaya.Rumah benar dalam keadaan kosong.
"Aku akan kembali. Ingat itu!" Elif langsung keluar dan segera mengajak Erdogan pergi.
"Aku harus mendapatkan anak itu. Dia cucuku." kata Elif dengan perasaan yang sulit untuk di jelaskan.
"Pelan-pelan saja sayang. Tugas kita sekarang adalah menyingkirkan Neva dulu sebelum mengambil anaknya." ujar Erdogan.
"Kalau begitu, segera cari orang untuk melenyapkan Neva."
************
Apa yang akan Elif melenyapkan Neva?
__ADS_1