TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Masih Bisa Menghindar


__ADS_3

Eldar terkejut melihat Kintan yang datang. Ia bukannya takut pada Kintan, namun ia tak ingin Kintan melihatnya bersama Neva sebelum statusnya dengan Kintan jelas.


"Mengapa kamu bisa tahu aku ada di sini? Kamu sengaja mengikuti aku ya?" tanya Eldar tanpa menyembunyikan rasa tak sukanya atas kehadiran Kintan.


"Bukan begitu, sayang. Aku....!"


"Apa? Kamu sekarang mulai posesif dengan aku? Aku nggak mau seperti ini Kintan. Memangnya aku nggak boleh punya privasi? Aku merasa akhir-akhir kalau kamu dengan sengaja mengikuti aku?" Eldar sengaja meninggikan nada suaranya agar Neva yang ada di kamar mendengar suaranya.


"Bu...bukan begitu, El. Aku hanya merasa kalau kamu semakin jauh saja."


"Kintan, bukankah sudah aku katakan, beri aku waktu dengan semua kesibukanku ini. Kita belum menikah dan sikapmu sudah begini ke aku? Aku nggak suka!" Eldar semakin emosi. Sikapnya ini memang bukan dibuat-buat. Ia memang tak mau jika Kintan terlalu posesif dan ingin selalu tahu tentang Eldar.


Kintan kaget. Ia tak menyangka kalau Eldar akan semarah ini. Bukankah seharusnya ia yang datang dan marah-marah pada Eldar karena dengan sengaja membatalkan makan malam mereka.


"Aku hanya ingin tahu mengapa kamu membatalkan janji makan malam kita, El." Kintan hampir menangis.


"Dan kamu tak percaya dengan alasan yang aku berikan? Ya sudah kalau kamu memang tak percaya, sebaiknya kita akhiri saja pertunanganan ini." kata Eldar tegas membuat Kintan mau pingsan rasanya. Ia langsung meraih lengan Eldar dan memegangnya erat.


"El, jangan kayak gini. Maafkan aku. Aku nggak bermaksud membatasi ruang gerak mu. Aku hanya takut jika ada wanita lain. Jangan putuskan hubungan kita, sayang."


Eldar menarik napas panjang. Ia menatap Kintan. "Pergilah! Aku banyak pekerjaan hari ini."


"El, kamu mau memaafkan aku kan?" rengek Kintan.


"Ya. Tapi aku ingin sendiri saat ini. Bolehkan?"


"Tapi kita akan makan malam lagi jika kamu tak sibuk kan, El?"


"Ya. Kita akan makan malam dan akan bicara."


Kintan mencium pipi Eldar. "Baiklah aku pergi."


Eldar mengantarkan Kintan sampai di depan pintu. Kintan sempat melihat mobil putih itu. Ia memang tak mengenali mobil Neva karena selama kerja, Neva selalu menggunakan mobil perusahaan. Kintan memang sempat curiga dengan keberadaan mobil itu. Namun ia berpikir kalau itu adalah mobil Rangga.


Setelah memastikan Kintan sudah pergi, Eldar pun menutup pintu pagar dan kembali ke dalam rumah.


Neva sudah keluar dari kamar. Ia memang tadi sempat merasa tegang saat mendengar suara Kintan. Untung saja Rangga sudah mengirim pesan padanya dan meminta Neva agar jangan keluar dari kamar.


Rangga sendiri saat ini sudah berada di ruang kerja. Ia tak akan menganggu Eldar dan Neva.


"Kintan sudah pergi?" tanya Neva.


"Ya. Ayo kita sarapan!" ajak Eldar sambil menarik kursi makan untuk Neva duduk.

__ADS_1


"El, aku merasa nggak enak sama Kintan. Kasihan dia. Kenapa nggak bilang kalau kalian ada janji makan malam?" Ujar Neva setelah duduk.


"Aku akan meninggalkan janji makan malam ku sekalipun dengan presiden jika itu menyangkut keselamatan mu." Eldar duduk di samping Neva. "Kau tahu kalau aku akan melakukan apa saja untuk kamu."


Neva mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya. "El, Kintan sangat mencintaimu."


"Dan aku sangat mencintaimu."


"El, aku nggak mau menyakiti Kintan."


"Dan aku juga tak mau membuat kamu sakit hati dan menderita lagi."


"El, please....!"


Eldar meraih kedua tangan Neva. "Berhentilah memikirkan perasaan orang lain. Kapan kamu akan memikirkan perasaanmu sendiri?"


"El, jangan buat aku merasa bersalah pada orang lain. Lagi pula kalian kan sudah berhubungan....." Neva menghentikan kalimatnya saat mata Eldar melotot ke arahnya.


"Siapa yang mengatakan padamu tentang hubunganku dengan Kintan? Apakah Kintan?"


"Bu...bukan. Gita yang mengatakan kalau kalian sudah dekat dan sering tidur bersama. Aku kasihan jika kalian tak sampai menikah. Jangan biarkan pria lain akan menghina Kintan karena ia sudah tidur denganmu, El."


Eldar memejamkan matanya. Ia yakin kalau Kintan sudah bercerita dengan Neva.


"Tapi bagaimana pun kamu bersamanya, El. Kamu nggak boleh membiarkan dia begitu saja."


Eldar menyudahi sarapannya. Neva pun melakukan hal yang sama. Eldar memutar kursi yang Neva duduki agar keduanya kini berhadapan. "Eva, aku mencintaimu. Aku tak bisa menikah dengan Kintan karena aku memang tak mencintai nya. Bukankah akan lebih menyakitkan jika Kintan menderita setelah menikah dengan aku? Aku ingin menikah dengan kamu, Ev."


"El, jangan sakiti Kintan. Kau harus menikah dengannya. Orang tuamu pasti akan sangat kecewa padamu."


"Lalu kamu akan membuat hidupku tak bahagia karena menikah dengan wanita yang tak aku cintai?"


"Tapi Kintan sangat mencintai kamu, El. Kamu pasti akan bahagia dengannya."


"Aku akan menikah dengan Kintan, asalkan kamu mau menikah denganku."


"Itu ide yang gila, El. Kintan pasti nggak mau dipoligami dan aku juga nggak mau."


Eldar melepaskan tangan Neva. "Ya sudah. Aku tak bisa menikah denganmu, aku juga tak mau menikah dengan Kintan. Biar saja kita bertiga menderita."


Neva menatap Eldar yang sudah masuk ke dalam kamar. Ia ingin protes namun Neva sadar kalau ia hampir terlambat ke lokasi pelaksanaan kegiatan.


"Neva melihat ada paper bag di atas meja. Saat ia melihatnya, ternyata itu adalah pakaian wanita. Neva yakin itu baju untuknya. Ia kemudian mencari kamar yang lain untuk ganti pakaian.

__ADS_1


**********


"Pakai mobil ini." kata Eldar saat mereka keluar dan seorang laki-laki baru saja mengantarkan mobil yang lain.


Neva terkejut. "Kenapa mobil ini, El?"


"Karena mobilmu untuk sementara akan dipakai oleh salah satu anak buahku. Kita akan melihat apakah kamu akan diikuti lagi atau tidak." jawab Eldar.


"Tapi ini kan mobil baru, El."


"Memang. Mobil ini terdaftar atas nama perusahaan ku. Jadi kamu aman untuk mengendarainya. Mobil ini memiliki sistem keamanan yang lebih canggih dari mobilmu." kata Eldar lalu membuka pintunya. "Masuklah. Aku dan Rangga akan naik mobilku."


Sedikit ragu, Neva pun masuk ke dalam mobil. Ia segera pergi karena memang ibu Lorry sudah meneleponnya.


Saat ketiga mobil itu meninggalkan halaman rumah Rangga, seorang lelaki yang sejak tadi mengintai di sana segera mengirim pesan pada seseorang.


********


Neva terkejut melihat nyonya Elif yang datang menemuinya di kantor.


"Nyonya Elif, ada apa?"


"Aku ingin tahu bagaimana perkembangan persiapan acara anak-anak ku." kata Elif dengan gaya elegan dan sedikit angkuh, ia duduk di hadapan Neva. Ia kagum melihat interior yang ada di ruangan kerja Neva. Desain ruangannya juga sangat bagus.


"Untuk nona Gina, sudah sekitar 45% rampung. Namun untuk tuan Eldar, baru gaun pengantinnya saja. Soalnya konsepnya seperti apa, tuan Eldar belum memberi tahu."


Elif nampak kesal. "Aku bingung dengan anak sulung ku itu. Dia selalu ingin menunda pernikahannya. Aku sampai pusing dibuatnya. Kasihan sama Kintan yang begitu mencintainya."


"Mungkin karena tuan Eldar orangnya sangat sibuk dengan pekerjaannya."


"Mungkin saja. Pokoknya aku ingin agar kalian persiapkan saja konsep seperti yang aku bilang waktu itu. Aku pikir Eldar sudah berbicara dengan kalian. Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu." Elif berdiri. Matanya memandang sebuah lambang universitas yang ada di meja Neva. "Siapa lulusan universitas Sidney?"


"Aku."


"Oh ya? Apakah kamu sebelumnya tidak pernah mengenal Eldar? Anakku itu sebelumnya adalah ketua perhimpunan mahasiswa Indonesia di Sidney."


"Eh ....., aku sebenarnya tak pernah ikut organisasi mahasiswa karena fokusku adalah belajar agar beasiswa ku tak dicopot."


"Oh ....begitu ya?" Elif merasa heran dengan penjelasan Neva. Namun perempuan itu tak mau menggali informasi lebih dalam lagi karena ia tahu bahwa itu bukan urusannya. Ia pun pamit pergi. Tapi saat berada dalam mobil, Elif kembali mengingat, dimana ia pernah melihat Neva? Ia kemudian menghubungi seseorang.


"Hallo, apakah kamu masih menyimpan foto-foto anakku dengan pacarnya di Sidney waktu itu? Kirimkan pada ku ya? Aku memerlukannya sekarang." Elif pun meminta sopirnya untuk segera menjalankan mobilnya sementara ia terus mengingat di mana pernah melihat Neva.


Berhasilkah Elif mengetahui kalau Neva adalah mantan pacar Eldar?

__ADS_1


__ADS_2