
"Sayang, tolong dong dasiku." ujar Eldar saat ia sudah selesai ganti pakaian.
Neva yang sedang membereskan meja makan menatap suaminya. "Biasanya, siapa yang merapihkan dasimu?" tanya Neva.
"Mami atau Rangga."
Tangan Neva dengan cekatan merapikan dasi Eldar sehingga terpasang dengan baik di lehernya.
"Sudah selesai."
"Terima kasih." Eldar mengecup pipi istrinya. "Berangkat bareng, yuk!"
"Tujuan kita berbeda, mas. Aku langsung ke lokasi pelaksanaan acara. Nanti mas terlambat tiba di kantor."
"Sebenarnya nggak masalah juga jika aku terlambat."
"Jangan dong. Bos harus jadi teladan."
Eldar memeluk Neva dengan sangat lembut. "Rasanya belum mau berpisah lama-lama denganmu. Namun malam ini mami mengajak makan malam di rumah."
"Pergilah. Aku nggak masalah, kok."
Eldar melepaskan pelukannya. Ia menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. "Kalau kamu larang aku untuk menikah dengan Kintan, aku akan setuju. Karena aku mau istriku itu hanya kamu."
"Jangan, mas. Nggak boleh. Kita sudah sepakat sejak awal."
Eldar mengecup dahi Neva. "Jaga kesehatan dengan baik, ya? Aku berangkat dulu."
"Aku 10 menit lagi. Menunggu mereka jemput dengan kendaraan perusahaan. Jadi hari ini aku tak membawa mobil."
Eldar pun meningkatkan Neva. Rangga sudah menunggunya di depan pintu.
"Tuan, kayaknya nona Kintan sedang memata-matai, tuan. Jadi berhati-hatilah jika mau pergi berdua dengan nona Neva." ujar Rangga saat keduanya sudah berada dalam mobil.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Salah satu anak buah kita mengatakan bahwa mereka melihat 2 orang lelaki yang setiap kali berjaga di dekat apartemen ini dan di kantor tuan. Dan mereka juga melihat kalau dua lelaki itu pernah berbicara dengan nona Kintan disebuah cafe."
Eldar nampak kesal. "Maunya dia apa sih? Aku semakin hilang rasa dengan Kintan."
"Terus rencana tuan ke depan, gimana?"
"Usahakan anak buah kita mengganggu anak buah Kintan dan dapatkan informasi jika mereka memang disuruh oleh Kintan sehingga aku punya alasan untuk menjauh darinya."
"Siap, tuan."
*********
"Duh, yang dari tadi senyum-senyum aja. Sudah dapat gebetan baru ya?" Goda Asti melihat Neva yang senyum manis saat memegang ponselnya.
"Apaan sih?" Neva pura-pura melotot ke arah Asti.
__ADS_1
"Kak, bukan hanya aku saja lho yang menilai. Ini kata semua team. Semenjak pulang liburan dari Malang, wajah kak Neva selalu berseri-seri. Biasanya kak Neva jika kerja sangat fokus. Namun kali ini tiap setengah jam pasti lihat hp nya."
"Masa sih?" Neva pura-pura bingung.
"Iya, kak."
"Aku biasa aja, kok."
"Cincinnya juga cantik lho. Kayak cincin pernikahan juga. Pada hal dulu cincin pernikahan kak Neva dengan mantannya nggak kayak gini kan? Apakah di Malang kak Neva sudah bertunangan?" Tanya Asti sambil melirik teman-temannya yang lain yang memang sedang menunggu jawaban.
Neva memandang teamnya sambil menggelengkan kepalanya. "Kalian kepo saja dengan urusan aku ya?"
"Karena kami tahu, kak Neva selama menikah sangat tersiksa. Kami juga tahu mantan suami kak Neva suka selingkuh. Makanya kami ingin kakak Neva bahagia. Dan itu kami lihat sejak tadi kak Neva datang." kata Bian mewakili teman-temannya.
"Terima kasih atas perhatiannya. Aku memang sudah tunangan di Malang." Neva terpaksa bohong karena ia memang lupa mencopot cincin pernikahannya.
"Oh em...Ji....beneran kan? Pantas saja wajah kakak kita ini berseri-seri sepanjang hari." Rivi, yang terkenal paling centil diantara mereka langsung bersorak gembira.
"Kok kami nggak diundang, kak? Setidaknya kami kan ingin memberikan dekorasi yang cantik. Terus mana tunangannya?" tanya Asti.
"Acaranya mendadak. Aku sendiri nggak tahu kalau ke sana itu langsung mau tunangan. Namun karena kata paman ku kalau aku seorang janda, jadi sebaiknya langsung diikat saja dengan tali pertunangan. Sekarang tunangan ku itu sedang tugas di Filipina. Makanya pernikahannya akan dilaksanakan kalau pekerjaannya di sana sudah selesai. Makanya, kalian penasaran aja ya melihat wajahnya karena aku ingin memberikan kejutan."
"Di jodohkan oleh paman kak Neva?"
"Bukan. Dia mantan kekasihku."
"Wah, ceritanya cinta lama yang belum kelar nih?"
Saat jam istirahat makan siang, Eldar Videocall padanya. Neva pun menjauh dari teamnya lalu menerima panggilan itu.
"Hallo sayang, aku sudah merindukanmu." kata Eldar. Nampak ia berada dalam ruangannya.
"Aku juga, mas. Kamu sudah makan siang?"
"Belum. Inginnya makan sama kamu. Tapi pasti nggak bisa kan?"
"Nggak bisa, mas. Aku masih di lokasi. Acaranya kan besok. Jadi kami harus menyelesaikannya sore ini. Aku baru selesai makan."
Wajah Eldar terlihat cemberut. "Andai kamu ada di sini. Pasti ingin disuapi."
"Ih, mas...., manja banget."
"Kamu kan tahu sejak dulu aku kayak apa?"
"Ya sudah. Sekarang mas makan dulu ya? Jangan sampai terlambat makan dan sakit."
"Nggak sabar menunggu selesai makan malam agar segera memeluk kamu. Eh, malam ini pakai lingre merah yang aku beli saat di Bali ya?"
"Ih mas...., memangnya malam ini mau ambil jatah lagi?"
"Setiap malam. Sampai kamu akhirnya hamil."
__ADS_1
"Sudah ya, mas. Aku harus kerja. Bye...." Neva segera memutuskan sambungan telepon. Hatinya gelisah setiap kali Eldar bicara tentang anak.
*********
Elif nampak senang karena Kintan dan kedua orang tuanya datang untuk makan malam. Gina dan keluarga tunangan Gina juga datang.
"Jadi, kapan tepatnya El dan Kintan akan menikah?" tanya papa Kintan.
"Tanggalnya nanti ditentukan setelah Gina menikah saja." ujar Eldar.
"Namun persiapannya sudah dimulai dari sekarang. Gaun pengantinnya sudah mulai dijahit." kata Elif.
Kintan tersenyum senang. Ia memandang Eldar yang duduk di sampingnya. "Sayang, usahakan dari pernikahan Gina, jangan terlalu lama ya?" ujar Kintan.
Eldar hanya mengangguk. Kintan senang hari ini karena ia mendapatkan gaun dari Eldar. Kintan tak tahu kalau gaun itu di pilih oleh Neva untuknya.
"Sayang, makasi gaunnya ya? Aku suka." kata Kintan sambil memegang tangan Eldar.
"Baguslah kalau kamu suka." kata Eldar berusaha terlihat senang walaupun sebenarnya ia semakin gelisah karena ingin segera bertemu dengan Neva.
Di apartemennya, Neva pun segera bersiap untuk tidur. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Beberapa menit yang lalu, Eldar baru saja menelepon dan mengatakan bahwa kegiatan makan malam itu belum juga selesai.
Lingre merah yang Eldar inginkan sudah Neva pakai. Ia pun membaringkan tubuhnya dan langsung terlelap karena tubuhnya merasa lelah.
Menjekang tengah malam, Eldar masuk ke kamar Neva. Darahnya langsung berdesir melihat tubuh molek sang istri yang terlihat sangat menggoda karena tak ditutupi oleh selimut.
Eldar yang sudah memakai pakaian rumah pun segera naik ke atas ranjang. Ia memeluk Neva dari belakang dan langsung mencium leher istrinya itu. "Sayang ....!" bisik Eldar lembut.
Perlahan Neva membuka matanya saat dirasakan ada pelukan hangat itu.
"Mas, kamu sudah pulang?"
"Iya. Aku sangat merindukan kamu, sayang. Aku rindu dengan harum tubuhmu."
"Mas, geli ah ...!" Neva langsung membalikan tubuhnya namun begitu ia berbalik, Eldar dengan cepat langsung mencium bibirnya dan segera memberikan ciuman yang panas dan menggoda.
"Mas...., sayang...."
Eldar semakin dalam membawa istrinya pada pusaran gairah yang tak terbantahkan. Akhirnya mereka kembali berhubungan manis malam ini. Inilah salah satu manisnya pernikahan.
**********
Di sebuah ruangan hotel, seorang perempuan baru saja mengenakan pakaiannya. "Kamu mau pergi sekarang?" tanya lelaki yang masih berbaring di ata tempat tidur.
"Iya. Aku nggak boleh menginap di sini."
"Kau selalu menjadikan aku pelampiasan saja. Pada hal aku begitu memuja tubuhmu."
Perempuan itu tersenyum lalu ia kembali baik ke atas ranjang dan mencium bibir kekasih gelapnya itu.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1