
Suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin membuat Neva dan Rangga yang duduk di depan ruangan itu saling berpandangan.
"Dia sudah lahir." kata Rangga dengan wajah yang begitu senang.
"Selamat ya, Rangga." Neva memeluk Rangga.
"Terima kasih, Neva." ujar Rangga bahagia. Neva memang sudah melarang Rangga untuk memanggilnya dengan sebutan nyonya. Neva ingin Rangga menganggapnya sebagai sahabat seperti dirinya dan Dona.
Pagi ini, saat Dona sedang bermain dengan Ekel, ia mengalami kontraksi yang sangat luar biasa. Rangga dan Neva segera membawanya ke rumah sakit sedangkan Eldar menemani Ekel di rumah karena memang anak-anak tak diijinkan masuk ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, dokter Mina yang menangani Dona keluar. "Bayinya perempuan. Sangat cantik. Bobotnya 3,2 kg. Tuan boleh melihatnya sedikit lagi."
"Istri saya?"
"Sehat. Dia wanita yang sangat kuat. Stelah dibersihkan, akan dibawa ke ruang perawatannya.
10 menit kemudian, sister membawa anak Dona yang baru saja dilahirkan. Rangga diberikan kesempatan untuk memeluk putrinya. Rambutnya hitam, seperti rambut Rangga, kulitnya masih terlihat berwarna pink. Namun Neva yakin kulitnya akan putih pucat seperti kulit Dona.
Neva segera mengambil gambar anak itu dan mengirimkannya pada Eldar. Ia yakin kalau Ekel sudah sangat penasaran dengan wajah anak dari Dona. Benar saja, setelah foto itu dikirim, Eldar langsung menghubunginya melalui panggilan Videocall.
"Hallo sayang.....!" Neva menyapa putranya.
"Ade Elinora mana, mommy?"
Dona memang sudah selalu mengatakan nama anaknya pada Ekel. Makanya ia sudah tahu nama anak itu.
"Sudah di bawa ke kamar bayi, sayang. Adenya harus bobo dulu. Nanti besok mommy foto lagi."
"Terus mommy Dona mana? Baik-baik aja kan?"
"Iya. Mommy Dona juga sementara istirahat. Jadi nggak boleh diganggu. Kalau mommy Dona dan adik Elinora sudah kembali ke rumah, kita akan mengunjunginya."
"Asyik.....!" Ekel nampak sangat senang. Di belakangnya Eldar juga ikut gembira.
"Sayang, aku nanti agak malam ya baru pulang. Kamu nggak akan keluar kan?" tanya Neva.
Eldar mengangguk. Ini hari Sabtu dan dia hampir selalu tak masuk walaupun sebagian pegawainya masuk walaupun hanya sampai jam 1 siang.
"Sampaikan ucapan selamat ya buat Rangga dan Dona."
__ADS_1
"Baiklah. Aku tutup dulu ya?" pamit Neva saat dilihatnya kalau Dona sudah didorong keluar dari ruang bersalin.
************
Rangga membelai wajah istrinya. "Kamu semakin cantik setelah menjadi ibu."
Dona mencibir. "Cantik apanya? Berat badanku naik sampai 9 kg. Pipi ku sudah tembem kayak gini."
Rangga tertawa melihat istrinya. "Sayang, aku justru suka dengan tubuhmu yang terlihat berisi seperti ini. Aku nggak keberatan. Kamu rela menjadi gemuk demi melahirkan anak kita. Dan dia sangat cantik." kata Rangga.
"Awas ya kalau kamu berani melirik gadis lain. Aku kabur ke Filipina sambil membawa Elinora."
Tawa Rangga semakin besar. "Mana mungkin sih aku berani selingkuh dari kamu. Aku yakin sebelum kamu bawa kabur Elinora, kamu sudah mematahkan tangan dan kakiku dulu."
Keduanya kini tertawa bersama. "Aku mencintaimu, sayang. Aku bersumpah demi apapun, aku tak akan pernah menukar kebahagiaan yang kumiliki sekarang. Aku merasa damai bersamamu. Kamu adalah kebahagiaan yang Tuhan berikan untukku." kata Rangga lalu mengecup dahi Dona dengan sangat lembut.
Neva yang baru saja akan masuk mengurungkan niatnya. Ia membiarkan momen bersama itu mereka nikmati. Kebahagiaan karena bisa dikaruniakan Tuhan anak dalam hidup mereka. Neva tanpa sadar mengusap perutnya sendiri. Air matanya jatuh. Apakah aku bisa hamil lagi ya Allah?
************
"Mas ....!" Sapa Neva sambil meraih tangan suaminya dan menciumnya lembut.
"Kok sepi, Ekel di mana?" tanya Eldar saat tak menemukan putranya itu ada di rumah. Biasanya ketika ia pulang kantor, putranya itu akan ikut menyambutnya.
"Kebetulan dong. Daddy dan mommy punya waktu banyak untuk bercinta weekend ini. Bagaimana kalau kita menginap di villa saja?"
"Boleh. Kita pergi besok?"
"No. Kita pergi sekarang. Aku mandi, kamu siapkan pakaian kita. Jangan terlalu banyak, ya? Karena aku pikir, kita akan lebih banyak tanpa busana di sana."
"Dasar." Neva menepuk perut suaminya dengan gemas. Ia sangat yakin kalau Eldar akan mewujudkan apa yang dikatakannya itu.
2 hari di villa membuat Neva dan Eldar memiliki banyak waktu berdua. Neva memang sudah berhenti bekerja dan dia memilih fokus mengurus tanamannya di rumah.
"Sayang, kemarin aku ketemu dengan mamanya Kintan." kata Eldar sambil memeluk Neva. Mereka baru saja melewati sesi bercinta di dalam kolam dan kini sementara menikmati kopi panas buatan Neva. Villa ini memang dikelilingi pagar yang tinggi dan penjaga villa sudah pergi semenjak Eldar dan Neva datang.
Neva menatap suaminya. "Di mana?"
"Di supermarket saat aku membeli susunya Ekel. Dia bersama seorang anak laki-laki berusia hampir satu tahun. Katanya itu anak Kintan dan Erdogan."
__ADS_1
"Kita bahkan sudah melupakan tentang Kintan. Ternyata ia sudah melahirkan."
"Mamanya cerita kalau Kintan tak ingin mamanya berkunjung sambil membawa anaknya. Kintan hanya melihat anaknya dari foto dan video yang mamanya tunjukan."
"Semoga saja ia sudah berubah ya? Kehadiran seorang anak memang sanggup mengubah banyak hal."
Eldar memegang tangan Neva. "Aku sudah sangat bahagia seandainya memang kita hanya memiliki Ekel. Jangan terbeban untuk memberikan Ekel adik. Ia sudah cukup senang memiliki Elinora."
Neva mengangguk.
"Mas, bagaimana dengan mami Elif. Setiap mami datang, mas hanya diam saja. Nggak mau diajak bicara."
Eldar tertunduk. "Aku sayang mami, Ev. Hanya saja luka yang aku rasakan saat tahu mami dengan sengaja memisahkan kita rasanya belum juga sembuh. Karena perbuatan mami, aku melewati masa-masa kehamilanmu. Aku juga melewati tahun-tahun emas pertumbuhan Ekel. Papi meninggal tanpa mengenal Ekel."
"Mas, semua jalan hidup kita sudah diatur oleh Allah. Sekarang bukan saatnya kita saling menyalahkan. Mami juga kelihatannya sudah menyesal."
Eldar mencium pipi istrinya. Ia sendiri tak mengerti dengan hatinya. Entah mengapa begitu sulit ia memaafkan wanita yang sudah melahirkannya itu. Eldar memang tak pernah melarang mami Elif ketemu Ekel. Ia bahkan pernah mengijinkan saat Elif mengajak Ekel liburan ke Bali. Namun, mulutnya selalu terkunci setiap kali berhadapan dengan maminya. Eldar tak tahu, kapan ia bisa berbicara dengan maminya lagi.
Gina sudah melahirkan 2 minggu lebih dulu dari Dona. Anaknya berjenis kelamin laki-laki. Gina untuk sementara tinggal dengan maminya karena ia belum punya pengalaman mengurus anak. Elif nampak semakin bahagia dengan kelahiran anak Gina. Hanya saja, ia rindu dengan anak sulungnya. Rindu saat Eldar bermanja-manja dan berbicara dengannya.
**********
Eldar berlari memasuki rumah sakit tempat Neva dirawat. Ia terkejut saat mendapatkan telepon dari sang sopir kalau Neva pingsan saat menjemput Ekel di sekolah. Ekel sendiri sudah bersama dengan Omanya. Sedangkan Neva dijaga oleh sang sopir di rumah sakit.
Saat Eldar membuka pintu perawatan Neva, nampak suster baru saja selesai memeriksa suhu badan Neva.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Eldar tanpa menyembunyikan kekuatirannya.
"Tenang, mas. Aku baik-baik saja." ujar Neva. Suster yang memeriksa Neva pun keluar kamar, meninggalkan Neva dan Eldar.
"Tapi kenapa sampai bisa dirawat di sini?" tanya Eldar sambil menunjuk selang infus yang ada di tangan Neva.
"Kata dokter aku baik-baik saja, mas. Hanya saja aku harus istirahat. Karena aku sedang hamil."
"Hamil?" tanya Eldar hampir tak percaya.
"Iya. Kata dokter sudah 7 minggu. Aku sendiri nggak sadar kalau sudah terlambat haid. Allah menjawab doa-doa kita."
Eldar langsung mencium dahi istrinya. Ia memang tak pernah menuntut agar Neva hamil lagi karena ia tahu Neva sangat terbeban ingin punya anak lagi. "Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah." ucap Eldar. Ia pun langsung sujud ke lantai sebagai tanda syukur di berikan kepercayaan untuk menjadi orang tua lagi.
__ADS_1
***********"
Hai guys Senin nanti novel terbaru emak sudah up ya....