
Setelah rumah sepi, Elif keluar dari kamarnya. Ia memeriksa CCTV yang ada di ruang kontrol yang ada di ruang kerja Eldar. Elif melihat kalau ada bibi Ning yang naik tangga bersama Neva. Ia tahu tadi bi Ning mengatakan kalau Neva menggunakan toilet yang ada di lantai dua karena yang di bawa panjang antrian. Setelah bi Ning turun, Neva tak juga turun. Sampai 40 menit berlalu, belum ada tanda-tanda Neva turun. Tak lama kemudian, terlihat Kintan yang naik. Kintan turun namun Neva belum juga turun.
"Mengapa Neva begitu lama ada di atas ya?" guman Elif. Sayangnya CCTV hanya mengarah ke tangga saja. Eldar tak mengijinkan dipasang CCTV di lantai dua karena menurutnya itu adalah bagian khusus keluarga.
Elif ingat, dibagikan dapur ada juga CCTV yang mengarah ke tangga. Saat ia memeriksa ke sana, nampak Eldar yang baik dan turun dari tangga itu. Waktunya hanya berbeda 5 menit dengan Neva yang turun dari tangga depan.
Mata Elif yang awas melihat ada perbedaan dari penampilan Eldar. Anaknya terlihat sedikit berkeringat dan rambutnya agak berantakan. Elif juga melihat penampilan Neva sebelum dan sesudah ia turun dari tangga.
"Adakah sesuatu yang terjadi di kamar Eldar?" Elif bergegas ke kamar putranya. Bi Ning memang sudah mengganti seprei nya. Kamar ini sudah bau harum karena ada pewangi ruangan yang diatur setiap 60 menit menyemprotkan wewangian di sini.
Apakah aku yang terlalu berpikiran sempit? Mengapa aku harus curiga pada Eldar dan Neva?
Elif akan keluar dari kamar putranya. Namun ia melihat kalau laci nakas Eldar terbuka sedikit. Ia bermaksud akan menutupnya namun matanya justru melihat ada cincin pertunangan Eldar yang ada di sana. Bukannya tadi Eldar menggunakan cincin?
Penasaran, Elif memutar kembali rekaman video saat pengajian yang sudah dikirim pihak studio ke nomor pribadinya. Ia melihat Eldar menggunakan cincin namun bentuknya berbeda dengan cincin pertunangannya. "Cincin apa yang Eldar pakai? Kenapa aku tak pernah melihatnya?"
Elif tahu kalau Eldar sebenarnya tak suka menggunakan perhiasan. Semua cincin yang Eldar punya adalah pemberian Elif.
Merasa pusing sendiri, Elif kemudian menelepon Erdogan.
"Hallo sayang, ada apa menelepon aku tengah malam begini? Kangen ya?" tanya Erdogan dengan suara yang menggoda.
"Kenapa tadi nggak datang?"
"Aku ada pekerjaan yang tak bisa ditunda. Kamu kan tahu bagaimana sibuknya seorang detektif swasta."
"Kamu nggak sedang bersama perempuan, kan?"
"Mana mungkin sih sayang? Aku ini selalu kesepian karena tak bisa bebas berhubungan denganmu. Kapan sih kamu akan menerima lamaran ku?"
"Er, kamu kan tahu kalau aku mencintaimu. Namun usia kita terpaut sangat jauh. Aku takut kalau anak-anak ku tak akan setuju."
"Anak-anak mu kan akan menikah. Kamu akan sendirian. Kamu butuh aku, sayang."
"Ya sudah, besok kita ketemu di apartemen mu ya?"
"Aku ingin kamu datang pagi sehingga aku bisa lama memadu kasih denganmu. Kamu tahu kan kalau aku selalu merindukan belaian mu. Kamu adalah wanita yang bisa memuaskan aku."
"Baiklah sayang. Jam 9 aku sudah otw ke apartemenmu."
Elif menatap wajahnya ke cermin. Teman-teman nya selalu mengatakan kalau wajah Elif seperti wanita berusia 20-an. Kulit Elif kencang tanpa ada keriput. Wajahnya yang glowing karena selalu mengadakan perawatan pada dokter kulit terkenal. Elif juga sangat menjaga kebugaran tubuhnya. Body gitar spanyol yang banyak membuat pria muda berpikir kalau wanita yang sudah berusia 50an ini adalah wanita yang belum memiliki anak-anak yang sudah siap untuk menikah. Bahkan Gina sering dianggap adik Elif dan bukan putrinya. Dan Elif sekarang justru jatuh cinta pada seorang detektif swasta yang disewanya untuk menyelidiki kehidupan putranya di Sidney. Erdogan yang juga pria keturunan Turki itu mampu meruntuhkan pertahanan Elif yang kesepian semenjak suaminya meninggal. Erdogan yang usianya 12 tahun lebih muda dari Elif.
**********
Neva menikmati perjalanan rahasianya dengan sang suami. Eldar datang pagi ini dari Batam. Ia ada rapat pemilik saham dan itu dihadiri oleh mami dan Gina.
Raoat dilaksanakan selama 2 jam lebih. Eldar sudah sangat merindukan Neva dan istrinya itu sudah menunggu dia pelabuhan. Mereka akan pergi dengan kapal milik Eldar ke kepulauan seribu untuk berlibur. Jumat siang ini mereka akan berangkat dan Minggu sore mereka akan kembali.
__ADS_1
"El, mami mau ngomong." ujar Elif sambil mengikuti langkah putranya ke dalam ruangan Eldar.
"Ada apa, mi?"
Elif menatap cincin yang Eldar menekan. "Mengapa kamu melepaskan cincin pertunanganmu dan menggunakan cincin lain? Cincin apa ini? Kayak cincin orang yang sudah menikah saja."
Eldar berusaha tak gugup. "Cincin pertunangan ku agak longgar. Dan cincin ini aku beli saat di Filipina. Aku merasa bentuknya sangat unik."
"Unik memang. Tapi kayak cincin pernikahan. Boleh mami lihat? Nampaknya bagus."
"Mami apaan sih?' Eldar tak mau Maminya mengeluarkan cincin itu dari jari manisnya. Bisa gawat jika Elif membaca ada nama Neva di sana.
Elif menatap putranya. "El, kamu tidak sedang menyembinyakan sesuatu kan? Apakah ada gadis lain? Kamu menyukai gadis lain?"
"Memangnya kenapa kalau ada gadis lain?" Eldar ingin melihat reaksi maminya.
"Kamu mengkhianati Kintan?"
"Bagaimana jika El ingin berpoligami?"
"Apa?" tanya Elif kaget. "El, berpoligami itu bukanlah hal yang mudah. Apa kamu pikir Kintan akan setuju?"
Eldar tersenyum. "Kakau Kintan tak setuju ya sudah, aku tak akan menikah dengannya." Eldar meraih kunci mobilnya dari atas meja kerjanya. "Aku mau pergi, mi. Ada acara dengan beberapa teman pengusahaku."
"Kamu nggak serius akan berpoligami kan, El?"
Eldar menatap mamanya. "Aku ini tipe pria setia, mi." ujar Eldar lalu segera meninggalkan ruangannya. Elif jadi geram dengan sikap anaknya. Ia pun bermaksud akan menemui kekasihnya kembali.
Setelah memasukan password di pintu masuk, Elif pun masuk ke sana. Ruang tamu nampak sepi.
"Erdogan!" panggilnya.
Erdogan yang baru saja memasuki lembah kenikmatan seorang wanita cantik di kamarnya langsung memisahkan dirinya dari sana.
"Elif. Cepat bangun!"
Perempuan itu pun dengan cepat turun dari tempat tidur dan segera berlari ke kamar mandi sambil membawa pakaiannya.
"Honey.....!"
Erdogan memakai celana boxernya dan merapihkan kamarnya secara cepat lali berjalan keluar kamar. "Baby?"
Elif langsung mendekati dan memeluk Erdogan yang hanya menggunakan boxer itu. "Kamu ngapain hampir telan*ang seperti ini?"
"Aku baru mau mandi lalu mendengar suaramu."
Elif mengendus leher Erdogan. "Kok wanginya beda?"
__ADS_1
"Masa sih?" Erdogan pura-pura bingung. "Oh tadi saat aku keluar ada sales yang menawarkan minyak wangi yang baru. Jadi aku cobain aja."
Elif duduk di sofa. Erdogan mendekat dan duduk di sampingnya. Ia menarik tubuh Elif agar duduk di pangkuannya. "Ada apa sayang?"
"Tolong awasi anakku. Aku merasa kalau ia sedang ada hubungan dengan orang lain."
"Baiklah." Erdogan yang hasratnya tadi belum kesampaian kini mulai mencium leher Elif. "Sayang, kau selalu membuat aku tak bisa tahan."
"Er, ini masih siang. Aku harus kembali ke kantor."
"Satu ronde saja ya." Erdogan langsung membaringkan tubuh Elif di atas sofa. Elif pun tak sanggup menolak pesona berondong nya ini. Ia pun siap melayani napsu sang kekasih.
Sementara itu di kamar, seorang gadis nampak kesal karena keinginannya untuk bercinta harus terganggu karena kedatangan Elif. "Dasar wanita tua genit!" geram perempuan itu. Suara percintaan mereka sampai terdengar di dalam kamar.
*********
Ada senyum bahagia di wajah Neva saat Eldar memeluknya dari belakang. Pria itu baru saja mandi setelah mereka menghabiskan waktu sepanjang siang di kamar villa ini.
Neva sudah mandi lebih dulu saat Eldar tertidur. Dan setelah ia membangunkan Eldar, cowok itu pun mandi dan kini menyusul Neva yang berdiri di balkon kamar mereka.
"Sunset nya cantik kan?" ujar Neva sambil menunjuk matahari yang hampir ditekan oleh laut.
"Tapi tak bisa melewati kecantikan istriku ini." kata Eldar lalu membalikan tubuh Neva. Keduanya kini saling berhadapan. "Ev, ayo terapi lagi."
"Terapi?"
"Aku tahu masalah yang ada di kandunganmu, sayang. Jangan tanya bagaimana aku tahu namun aku ingin kamu melanjutkan lagi pengobatannya."
Mata Neva jadi berkaca-kaca. "Maafkan aku, mas."
"Jangan minta maaf. Kita lupakan masa lalu dan menatap ke masa depan."
Neva memeluk Eldar. "Mas.....!"
Eldar mengeratkan pelukannya. Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah melepaskan kamu, Ev.
Saat keduanya sudah tidur bersama, ponsel Neva berbunyi. Ia bangun dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya.
"Hallo, ada apa?" tanya Neva setelah ia keluar dari kamar.
"Neva, aku di rumah. Kamu ada di mana?"
"Aku sedang liburan dengan Eldar. Ada apa?" tanya
Orang yang menelepon itu menyebutkan sesuatu yang membuat Neva terkejut. "Ya Tuhan. Aku harus bagaimana? Jika minta pulang besok, Eldar pasti akan tanya alasannya apa. Terus hasilnya gimana? Ya....baiklah. Kabari aku." Neva terduduk di atas sofa sambil menekan ponselnya ke dadanya. Ia galau. Pikirannya buntuh. Tanpa Neva sadari ada seseorang yang mendengar percakapan itu.
********
__ADS_1
Siapa yang bersama Erdogan?
Dan siapa yang menelepon Neva?